My Culun CEO

My Culun CEO
#180 - Kita Adalah Keluarga



Pagi hari itu di kediaman Devan Avicenna. Mira dan Karel duduk bersama dalam satu meja makan. Mereka saling diam dan tak ada yang mereka bicarakan selama sarapan pagi berlangsung.


Mira melihat gelagat aneh dalam diri putranya. Setelah pengumuman hubungan Giga dan Carissa, Mira merasa jika Karel menjadi murung dan tak bicara apapun.


Mira menyudahi sarapannya. Ia menatap putranya yang dengan malas menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Sayang, apa kau yakin jika yang dikatakan Carissa semalam adalah serius?" Mira tersenyum sinis.


"Bagaimana mungkin dia memilih Giga yang culun itu? Dia tidak apa-apanya jika dibandingkan denganmu. Jadi, jangan bersedih. Masih banyak waktu untuk..."


"Aku ada kuliah pagi hari ini. Aku berangkat dulu. Bye, Ma!" Karel beranjak dari duduknya dan mencium pipi Mira sebelum pergi.


Mira menghela napas. "Malangnya putraku." Mira berpikir sejenak.


"Aku harus memastikan jika putraku juga bahagia dengan kehidupannya. Aku harus melakukan sesuatu."


Di tempat berbeda, Giga baru saja tiba di sekolahnya. Giga berjalan menyusuri lorong bangunan sekolah untuk menuju kelasnya.


Secara tiba-tiba Giga dikejutkan dengan kehadiran Carissa yang ada di hadapannya.


"Carissa?" Giga mengernyit.


"Hai, Bang," sapa Carissa.


"Kau ada disini?"


"Tentu saja. Aku kan sekolah disini juga."


"Sejak kapan?" Giga makin mengernyit.


"Aku memutuskan pindah sekolah agar bisa bertemu dengan abang setiap hari. Bukankah kita adalah pasangan?"


Giga menghela napasnya. "Carissa, aku..."


"Sudahlah! Ayo aku antar ke kelas abang! Sebentar lagi abang akan ujian akhir kan? Aku akan menemani abang belajar agar abang lulus dengan nilai sempurna." Carissa melingkarkan tangannya ke lengan Giga dan berjalan bersama.


"Carissa, kita ada di sekolah. Tolong jangan seperti ini!" Giga menepis tangan Carissa.


"Abang!"


"Carissa! Mengertilah! Meski nenekku adalah ketua yayasan disini, tapi aku tetaplah seorang murid disini. Bukankah kita harus menjaga sikap kita?"


Carissa mulai memahami kata-kata Giga. "Baiklah. Maafkan aku, Bang. Tapi, saat jam istirahat nanti. Tolong temui aku ya, Bang. Kalau begitu aku akan kembali ke kelasku dulu."


Carissa melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Giga.


#


#


#


-Gedung Avintech-


Mira mendapatkan laporan jika saham perusahaannya menurun drastis. Bahkan para investor mulai menarik diri setelah kepergian suaminya, Devan Avicenna.


Mira yang sebelumnya tidak pernah mempelajari bisnis, selama beberapa tahun terakhir terus belajar dan mengembangkan sayapnya demi menghidupi dirinya dan Karel. Namun ternyata melakukan bisnis tak semudah yang ia bayangkan.


Lima belas tahun berlalu dan rasanya masih begitu sulit untuknya menyamai kerajaan bisnis yang dimiliki Avicenna Grup. Mira memijat keningnya pelan. Akankah perjuangannya selama ini akan hancur begitu saja?


"Nyonya..." Hendra memanggil Mira lirih karena tahu bagaimana perasaan wanita itu sekarang.


"Hendra, aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membiarkan perusahaan ini hancur begitu saja. Hanya ini satu-satunya peninggalan Mas Devan. Aku tidak bisa membiarkan perusahaan ini bangkrut, Hendra!"


"Emh, Nyonya. Sebenarnya saya memiliki ide. Tapi, saya tidak tahu apakah nyonya mau menerimanya atau tidak."


Mira menatap Hendra. Asisten suaminya ini sudah bekerja sangat lama dengannya. Pastinya ia memiliki solusi yang bagus untuk masalah perusahaan.


"Katakan! Bukankah aku selalu mendengarkan apa yang kau katakan?" ucap Mira.


"Sebaiknya nyonya berkonsultasi dengan tuan Nathan Avicenna. Hanya itu satu-satunya cara agar nyonya bisa mempertahankan perusahaan ini."


Mira mendelik mendengar ucapan Hendra. Selama ini Mira memang berpura baik di depan Nathan dan Sheila. Tapi ia tak mengira jika harus melakukan hal ini juga.


"Jadi, aku harus meminta bantuan Nathan? Begitu?" tanya Mira memastikan.


"Iya, Nyonya. Hanya dia saja yang bisa membantu nyonya."


Mira berdecih. Ia tak menyangka jika harus menurunkan ego dan meminta bantuan Nathan.


"Ini laporan perusahaan bulan ini." Hendra menyerahkan sebuah map kepada Mira.


Mira membuka map dan membaca satu persatu lembaran kertas yang ada disana.


#


#


#


Malam harinya, Mira mengajak Karel untuk berkunjung ke rumah utama keluarga Avicenna. Roy dan Lian juga Nathan dan Sheila menyambut baik kedatangan Mira dan putranya.


"Sering-seringlah berkunjung kemari, Mira. Kita ini kan keluarga. Kakekku dan kakek ayah mertuamu adalah kakak beradik," ucap Roy.


"Benar. Kalian adalah keluarga kami juga. Jangan sungkan ya!" timpal Lian.


Mira nampak salah tingkah. Ia hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Terima kasih karena paman dan bibi mau menerima kami disini. Maksud kedatangan kami disini adalah..." Mira mengambil map dari dalam tasnya.


"Paman, tolong aku!" Mira menyodorkan map kearah Roy.


Roy membukanya dan membacanya sekilas. Roy menganggukkan kepala.


"Masalah ini serahkan saja kepada Nathan. Ini Nak!" Roy menyerahkan map kepada Nathan.


Nathan dengan dahi yang berkerut mulai memahami situasi yang sedang terjadi.


"Perusahaan kak Mira sedang tidak baik-baik saja. Apa kakak butuh bantuanku?" ucap Nathan.


Mira tersenyum kecut. "Hmm, begitulah, Nathan. Apa kau ... bisa membantuku?" ucap Mira dengan susah payah.


"Tentu saja, Kak. Kita adalah keluarga. Dan keluarga harus saling membantu, bukan? Kak Mira tenang saja. Aku akan mengurus semuanya."


Secercah senyum terbit di bibir Mira. "Terima kasih banyak, Nathan. Aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kalian."


"Sheila sudah menyiapkan makan malam. Sebaiknya kita makan malam saja dulu," ajak Lian.


Mira hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Di dalam kamar, Giga sedang membaca buku pelajarannya ketika sebuah ketukan di pintu mengejutkannya. Giga beranjak dari duduknya dan membuka pintu.


Giga melihat Karel berdiri di balik pintu.


"Hai," sapa Karel.


"Oh, kamu. Kupikir siapa," jawab Giga datar.


"Aku boleh masuk?" tanya Karel.


"Iya, silakan."


Giga kembali masuk dan duduk di meja belajarnya.


"Kau sedang apa?" tanya Karel lagi.


"Belajar. Sebentar lagi ujian akhir. Aku harus mendapat nilai sempurna."


Karel tertawa sinis. "Aku akan memberimu hadiah jika kau melampaui nilaiku tahun lalu."


Giga mengernyit. "Aku tak tertarik. Aku memiliki standar nilaiku sendiri tanpa harus dibandingkan dengan orang lain."


Karel menggeleng pelan. "Apa kau akan terus begini? Kejadian itu sudah berlalu lima tahun lalu."


Giga menggebrak mejanya. "Apa maksudmu bicara begitu?"


Karel menyeringai. Ia menyilangkan tangannya di depan dada.


"Kau sudah membuat Carissa menjadi gadis bodoh dengan terus mengejarmu. Apa kau sadar kau sudah menyakitinya?"


"Dia sendiri yang menginginkannya. Kenapa kau harus peduli?"


"Kau!" Karel terbawa emosi. Bicara dengan Giga memang hanya membuang tenaganya saja. Entah hatinya sudah mati atau hanya menutupi rasa takutnya saja.


"Aku kemari karena om Nathan memanggilmu untuk makan malam. Kalau begitu aku permisi!"


Tak ingin terus berdebat, Karel memilih untuk pergi keluar kamar Giga. Dia hanya menyampaikan apa yang Nathan minta.


Giga menghela napas. Ia merutuki dirinya sendiri yang sudah berkata kasar kepada Karel. Padahal pria itu lebih tua setahun darinya.


Giga melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. Ia sudah tak bisa fokus lagi untuk belajar. Giga memilih keluar kamar dan menyapa semua orang yang ada di meja makan.


"Ya, kami semua adalah keluarga. Aku tidak boleh lupa hal itu. Meski aku tidak menyukai tante Mira dan Karel, tapi mereka adalah keluargaku. Aku harus menghormati mereka seperti ayah dan bunda menghormati mereka," batin Giga.


#bersambung