My Culun CEO

My Culun CEO
Pria yang Hangat (2)



Langkah Sheila seakan terasa berat ketika keluar dari kantin dan kembali menuju ke ruangannya. Ia terus tertunduk lesu memikirkan banyak hal.


Sungguh ia tak pernah merasakan hidupnya mulai serumit ini. Maksudnya mungkin setelah merasakan yang namanya jatuh cinta.


Dulu kehidupan Sheila terasa sempurna karena selalu dimanja dan diperhatikan oleh orang di sekelilingnya. Ia belum memikirkan jatuh cinta hingga akhirnya ia bertemu dengan Tarjo yang berhasil menembus dinding hatinya dengan semua keluguan dan kesederhanaannya.


DUG!


Langkah Sheila terhenti. Kotak makan yang ada ditangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Ia menabrak seseorang karena sedari tadi ia terus menunduk dan tak memperhatikan jalan.


Sheila mengangkat wajahnya dan melihat Nathan ada di depannya. Pria itu berjongkok dan mengambil kotak makan yang terjatuh itu.


Nathan kembali menatap Sheila. "Jadi, kamu baru memakan sandwichmu siang ini?" tanya Nathan dengan suara tenangnya.


Sheila mengangguk pelan. Nathan berdecak pelan dan menatap Sheila yang terus menunduk. Rasanya Sheila malas menatap bos setengah-setengahnya.


"Shei, aku membawakan sandwich ini untuk sarapan pagi. Bukan untuk makan siang."


"Tadi pagi aku udah makan sereal. Siapa juga yang menyuruhmu untuk membuat sandwich?"


Nathan menghela napas. "Kamu hanya makan sereal untuk sarapan, lalu siang hanya makan sandwich? Pantas saja tubuhmu bertambah kurus. Ayo kita makan di kantin!"


Nathan memegang pergelangan tangan Sheila dan akan membawanya pergi. Namun Sheila menolak.


"Tunggu! Ini di kantor! Apa kamu lupa dengan perjanjian kita?" ucap Sheila.


Nathan melepaskan tangannya. "Baiklah. Kalau begitu makan saja di ruanganku. Aku akan minta OB untuk membawakan makan siangku."


"Tapi..."


Sheila tak bisa menolak karena Nathan kembali menarik tangannya dan membawanya masuk ke ruangan Nathan. Ia meminta Sheila untuk duduk di sofa.


Gadis itu hanya menurut dan duduk di sofa dengan tenang. Nathan menghubungi pihak kantin dan memesan menu untuk makan siangnya dan Sheila.


Setelah menutup telepon, Nathan duduk di samping Sheila. Gadis itu masih menunduk dan tak ingin menatap Nathan. Ia hanya diam meski tahu jika Nathan terus memperhatikannya.


"Aku serius, Shei. Kamu bertambah kurus sejak bekerja disini. Apa aku terlalu membebanimu dengan banyak pekerjaan?"


"Eh?" Sheila tak mengerti kenapa Nathan bicara seperti ini padanya. Dan sejak kapan Nathan peduli dengan berat badannya?


"Maaf ya."


Sheila masih tak paham kenapa bosnya malah meminta maaf. Ini seperti bukan Nathan yang ia kenal.


"Eh?" Sheila melongo karena permintaan maaf Nathan.


Melihat wajah lucu Sheila membuat Nathan bergerak maju dan membuat sentuhan berdurasi lima detik.


Ya, hanya lima detik saja dan itu sukses membuat mata Sheila membola. Nathan beranjak dari duduknya karena mendengar suara ketukan di pintu ruangannya.


Sheila memegangi bibirnya yang baru saja disentuh Nathan selama lima detik. Ia menetralkan degup jantungnya yang kian nyata.


Nathan kembali duduk dengan membawa dua kotak makanan.


"Aku memesan salmon teriyaki. Kamu tidak alergi dengan ikan kan?" tanya Nathan.


Sheila menggeleng pelan. Ia masih merasa canggung dengan sikap Nathan yang berubah-ubah. Nathan mengambil sumpit dan memberikannya pada Sheila.


"Pak, aku masih kenyang. Tadi aku sudah makan sandwich dan..."


Satu suapan masuk kedalam mulut Sheila. Sheila tahu jika Nathan tak suka dibantah. Dengan susah payah Sheila mengunyah makanannya.


Nathan terlihat sangat lahap memakan menu makan siangnya. "Hmm, ini sangat enak!" ucap Nathan dengan mulut penuh makanan.


Sheila menarik sudut bibirnya sedikit karena melihat Nathan yang terlihat seperti manusia. Ups! Memangnya selama ini Nathan tidak terlihat seperti manusia? Ada-ada saja Sheila ini, hihihi.


Nathan menghabiskan makanannya dalam waktu yang singkat. Ia meminum jus alpukat yang juga ia pesan untuk Sheila.


Nathan mengelap bibirnya dengan tisu. Entah kenapa Sheila menelan ludah ketika Nathan melakukannya.


"Astaga, Shei! Otakmu pasti sudah tidak beres!" batin Sheila meronta.


"Cepat habiskan! Kamu harus makan yang banyak. Jangan sampai papa dan mamamu mengira jika aku menyiksamu disini!"


Sheila hanya diam sambil menelan makanannya.


Nathan mengangguk. "Soal keluargamu yang akan datang makan malam di rumahku?"


Sheila mengangguk pelan. "Sebenarnya..."


Kalimat Sheila terjeda karena getaran ponsel Nathan yang ada di atas meja. Pria itu bangkit dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Ya, aku akan segera kesana."


Nathan menatap Sheila yang masih duduk di sofa. "Aku harus pergi. Ada rapat diluar."


Sheila kembali mengangguk. Nathan melirik jam tangannya.


"Pukul enam nanti aku akan menjemputmu disini. Jadi, bersiaplah!" Nathan menghampiri Sheila dan mengangkat dagu gadis itu.


Sebuah kecupan ia daratkan di kening Sheila. Mata gadis itu terpejam merasakan lembutnya bibir Nathan yang menyentuh kulitnya.


Nathan keluar dari ruangannya menyisakan Sheila yang masih diam mematung. Deru napasnya berusaha ia pelankan.


"Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya berubah? Apa aku juga harus berubah?" tanya Sheila dengan memegangi dadanya.


...💟...


...💟...


...💟...


Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa jika jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Sheila menguap pelan setelah meregangkan otot-ototnya.


Sheila menatap layar ponselnya yang menghitam. Sedari tadi ia mengirim pesan pada Tarjo namun tak terkirim. Bahkan sejak kemarin ia belum bertemu dengan kekasihnya itu.


Sheila menghela napas berat. Satu ketukan di pintu membuatnya terlonjak kaget. Sheila segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu.


"Permisi, saya dari Shelomita Butik ingin mengirimkan ini untuk Mbak Sheila dari Tuan Nathan," ucap seorang gadis pengantar.


Sheila mengangguk paham dan menerima paper bag dari tangan gadis itu. Sheila mencoba mengingat nama Shelomita. Seingatnya itu adalah nama saudara sepupu Nathan.


"Ah, iya. Terima kasih," ucap Sheila.


"Kalau begitu saya permisi."


Gadis itu pergi dan Sheila kembali ke mejanya. Ponselnya berbunyi dan ada sebuah pesan masuk dari Nathan.


..."Pakai gaun itu untuk malam nanti. Kalau kamu ingin mandi, kamu bisa pakai kamar mandi di kamar pribadiku. Kode kuncinya adalah tanggal pertunangan kita."...


Sheila mendekap ponselnya di dada. "Kenapa Nathan melakukan ini?"


Sebuah pesan kembali masuk. Itu adalah Harvey.


..."Shei, aku sudah kirimkan email tentang perjanjian kerjasama hari ini. Tolong urus dan besok harus sudah ditandatangani oleh Tuan Nathan."...


Sheila mendesah kasar. Sisa satu jam lagi sebelum waktu kerjanya berakhir. Ia segera duduk di kursi kebesarannya dan mengerjakan apa yang Harvey perintahkan.


...💟...


...💟...


...💟...


Pukul enam petang, Nathan kembali ke kantor Avicenna Grup. Ia menunggu di lobi depan gedung Avicenna Grup. Ia menghubungi nomor ponsel Sheila.


Berkali kali memanggil namun tak juga dijawab oleh gadis itu. Nathan mulai kesal. Ia memutuskan masuk ke area parkiran dan menuju ke ruangannya dengan lift khusus CEO.


Suara langkah kaki cepat dan berat menggema di lorong yang sudah sepi itu. Nathan masih menghubungi nomor Sheila hingga dirinya tiba di ruangannya. Ia melihat ponsel Sheila tergeletak diatas meja.


Matanya membola melihat layar ponsel Sheila yang menyala. Tertera nama 'Gumpalan Es' disana.


"Apa?! Dia memberiku nama 'Gumpalan Es' di ponselnya!" Nathan tak terima dengan panggilan Sheila terhadapnya.


Langkah kaki yang lebar membawa Nathan pada kamar pribadinya yang terbuka. Ia segera masuk dan mengedarkan pandangan.


"Sheila!"


...💟💟💟...