My Culun CEO

My Culun CEO
#1 2 9 - Let's Finish It!



Vicky menatap jalanan di depannya sambil sesekali melirik kearah Freya yang duduk disampingnya. Sebenarnya ia tidak ingin ikut campur urusan antara nonanya dan Damian, tapi melihat kini ekspresi wajah Freya yang berubah sendu, membuat Vicky tidak tega.


"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya Vicky kemudian.


"Iya, aku baik-baik saja."


Freya kembali ke moodnya yang semula. "Bang, bagaimana kalau kita makan di warteg aja?"


"Heh?! Nona yakin?" Vicky mengernyit.


"Yakin lah! Jangan hanya kini aku jadi nona kaya, maka aku akan melupakan jati diriku. Tidak, Bang. Aku tetaplah sosok yang dulu. Kalian yang sudah mengajarkan aku untuk tetap menjadi gadis yang baik." Freya mengulas senyumnya.


"Baiklah kalau nona memaksa!" Vicky melajukan mobilnya menuju ke sebauh warteg langganannya.


Sementara itu, Damian mengendarai mobilnya dengan emosi yang tertahan. Sungguh ia masih tidak rela jika harus melihat Freya bersama dengan pria lain meski itu hanya pengawalnya saja.


Dering ponsel Damian membuatnya harus menekan tombol hijau di layar monitor mobilnya.


"Halo!" jawab Damian dingin.


"Kami sudah menemukan orang itu, Tuan."


"Benarkah? Bagus! Bawa dia ke markas! Aku akan segera kesana."


Damian mematikan sambungan telepon. "Baiklah! Kita akan mengakhiri semuanya hari ini!"


Damian menginjak pedal gas lebih dalam. Ia sudah tak sabar ingin membongkar kebusukan orang yang sudah memfitnah Freya.


Damian tiba di sebuah gudang tua yang ia sebut sebagai markas dari anak buahnya. Ia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam gudang.


Beberapa orang menyapa Damian. Dan ternyata sudah ada Josh disana.


Damian tersenyum pada Josh. "Kerja bagus, Josh!"  Ia menepuk bahu Josh.


Damian menatap tajam seorang pria yang diikat di kursi.


"Ckckck, jadi kau yang sudah memfitnah Vania, hah? Kau adalah si brengsek yang membuat Vania membenciku!" teriak Damian.


Damian menarik kerah baju pria itu. "Katakan siapa yang menyuruhmu?!"


"Tidak tahu, Tuan."


"Wah, kau mau bermain-main denganku, hah?!"


Sosok Damian yang lain kini mulai muncul. Josh memalingkan wajah ketika dengan brutalnya Damian memukuli pria itu. Sisi menyeramkan Damian muncul jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Ketika sudah dirasa cukup, Josh melerai Damian untuk berhenti.


"Hentikan, Tuan! Dia bisa mati. Jika dia mati, dia tidak akan bicara!"


Damian mengatur napasnya. Ia mengusap peluh yang mengalir dari pelipisnya.


"Huft! Masih belum mau mengaku juga, huh? Bawa wanita itu masuk!" perintah Damian.


Pria yang sudah babak belur itu membelalakkan mata ketika melihat adik perempuannya di seret paksa oleh beberapa anak buah Damian.


"A-apa yang akan kau lakukan, Tuan?" ucap pria itu terbata.


"Kau harus lihat dengan mata kepalamu sendiri, saat adik tersayangmu itu di jamah oleh anak buahku disini."


"Apa?!" Pria itu tidak bisa berkutik lagi ketika para anak buah Damian mulai membuat adiknya berteriak histeris.


"Hentikan!" teriak pria itu dengan susah payah.


Sebenarnya Damian hanya menggertak saja. Ia menyuruh anak buahnya untuk berhenti.


"Aku akan katakan siapa pelakunya!"


Damian tersenyum menyeringai. Tanpa ia suruh ternyata pria itu bersedia mengaku.


"Dia adalah ... nona Sitta..."


Damian menggeram kesal. Ia segera keluar dari gudang itu dan kembali berkendara.


#


#


#


Sitta berjalan dengan kesal menuju ke arah Damian yang baru saja memasuki gedung Ford Company.


"Damian! Dari mana saja kau? Aku menghubungi ponselmu dan kau tidak menjawabnya!" kesal Sitta.


Damian hanya tersenyum menyeringai. Ia bahkan sudah muak untuk melihat wajah Sitta.


Tiba-tiba beberapa orang pria datang dan menghampiri Sitta. Dua pria memegangi kedua lengan Sitta.


"Siapa kalian? Berani sekali menyentuhku! Lepaskan!" berontak Sitta.


Wajah Nita mulai pucat ketika melihat Sitta di seret pergi dari sana. Dan ia bisa memastikan jika Sitta tidak akan bisa lolos kali ini.


Damian sudah menghubungi ayah Sitta dan membuat pria paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk mengasingkan Sitta ke tempat yang jauh agar menyesali semua perbuatannya.


Nita langsung beringsut memeluk kaki Damian.


"Tuan, maafkan saya. Saya bersalah! Tapi saya janji tidak akan melakukannya lagi! Tuan boleh menghukum saya, tapi jangan pecat saya, Tuan!" pinta Nita dengan terisak.


Damian muak dan lelah dengan semuanya. Ia menatap Josh yang juga sudah tiba di kantor.


"Josh, kau urus dia!" ucap Damian kemudian berlalu.


Josh menatap Nita yang masih bersimpuh di lantai. "Bangunlah! Tuan Damian tidak akan memaafkanmu jika kau bersikap seperti ini."


"Tidak! Aku harus terus memohon hingga dia memaafkanku!" kukuh Nita.


"Jangan keras kepala! Apa kau tidak lihat semua orang melihatmu?"


"Katakan aku harus melakukan apa?" tanya Nita dengan putus asa. "Aku harus tetap bekerja disini, Tuan Josh! Aku masih punya ibu dan adik yang harus kubiayai."


"Itu bukan urusanku!"


"Apa aku harus meminta maaf pada Vania? Ah bukan, nona Freya?"


"Mungkin saja begitu. Mungkin dengan begitu akan mengurangi kekesalan tuan Damian." Josh ikut beranjak meninggalkan Nita yang masih terduduk lemas di lantai.


#


#


#


Damian kembali ke rumah dan hanya berdiam diri hingga malam mulai larut. Banyak hal yang dia pikirkan sekarang.


Meski Damian sudah merasa lega karena kini Sitta sudah disingkirkan, tapi ada hal yang masih mengganjal di hatinya yaitu tentang Freya. Hatinya kembali kesal ketika mengingat tentang Freya dan pengawalnya.


Damian meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Edo.


"Mari kita selesaikan semuanya!"


Di tempat berbeda, Edo tersenyum seringai membaca pesan yang di kirim Damian. Edo yang masih berada di ruang kerjanya, memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan bersiap menemui Damian.


Edo mengambil kunci motor dan keluar rumah mengendarai motor. Freya yang masih belum terlelap, melihat kakaknya keluar rumah dengan mengendarai motor.


"Bang Edo? Mau kemana dia malam-malam begini?" gumam Freya.


Di tempat berbeda, Damian sedang menunggu kedatangan Edo di sebuah jalanan besar yang lengang dan sepi. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh Damian. Ia merasa harus mengakhiri semua konflik yang terjadi diantara dirinya dan Edo.


Beberapa saat kemudian, Edo datang dengan motornya dan menghampiri Damian. Edo turun dari motor dan bicara berhadapan dengan Damian.


"Ada apa? Apa belum cukup kau mengacaukan hidup adikku?" geram Edo.


"Kenapa kau menjadikan pria kriminal itu sebagai pengawal Freya? Kaulah yang sudah mengacaukan hidup Freya!"


"Cih, bahkan Vicky lebih baik darimu. Dia bisa menjaga Freya lebih baik dari dirimu!"


"Begitukah? Jadi, kau tidak memberiku kesempatan?" tanya Damian dengan senyuman getir.


"Kesempatanmu sudah habis, Damian. Lagipula, meski aku memberimu kesempatan, Freya sendiri yang tidak ingin bertemu denganmu. Jadi, jangan menyalahkan siapapun. Salahkan saja dirimu sendiri." tegas Edo.


"Baiklah. Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya malam ini."


Edo mengernyit bingung.


"Ayo kita balapan!" ajak Damian.


Edo menggeleng pelan dan tersenyum. "Apa kau ingin mengulang masa lalu?"


Damian menatap Edo tajam. "Iya, aku ingin mengulang masa lalu. Kau bersedia?"


Edo menghela napas. "Baiklah. Kali ini kau tidak akan menang, Damian."


Edo dan Damian bersiap untuk memulai balapan. Mereka sudah siap menaiki motor masing-masing. Damian menghitung mundur dan...


Kedua motor itu melaju dengan kecepatan tinggi. Posisi sementara Damian masih unggul dari Edo. Namun Edo ternyata bisa membalikkan keadaan.


Edo berhasil menyalip motor Damian. Dua pria dewasa itu secara gila-gilaan melakukan balapan di jalan raya.


Damian yang berada di belakang, tidak menerima kekalahannya. Ia segera mempercepat laju motornya agar bisa menyalip Edo. Namun ternyata motor Damian mengalami oleng dan menabrak motor Edo yang ada di depannya.


BRUAK!


Suara hantaman dua kuda besi itu membuat para penunggangnya juga ikut terhempas ke aspal jalan.


"ARGH!" Suara teriakan dua pria yang terlempar ke jalan menggema di malam yang sunyi itu.


Beberapa pengguna jalan yang melihat kecelakaan dua pengendara motor itu, segera memanggil ambulans. Mereka juga memeriksa kondisi dua pria yang terlibat kecelakaan itu yang sudah tak sadarkan diri.