My Culun CEO

My Culun CEO
Ketika Cintaku Diuji



Pagi ini, Nathan menyiapkan hati untuk bisa melakukan rencana yang sudah disusunnya bersama Boy semalam. Nathan akan mendekati Marina dan mengorek masa lalu gadis itu.


Sebenarnya masih ada keraguan dalam diri Nathan untuk melakukan rencana ini. Tapi dirinya juga diliputi rasa bersalah yang dalam karena dulu sempat menyakiti hati Marisa. Ia tak menyangka jika perlakuan sekecil itu mampu menyakiti hati orang lain.


Terkadang secara tidak sadar kita memang banyak menyakiti hati orang lain. Perbuatan sekecil apapun, ternyata bisa membuat dampak yang begitu besar untuk orang lain. Nathan menyesali itu.


Kini Nathan sudah berada di ruangan kerja milik Marina. Ruangan gadis itu bisa dibilang rapi dan tertata. Semua berkas ia susun rapi di dalam rak. Lalu alat tulis kantor juga disusun rapi di sebuah wadah yang berwarna soft pink. Nathan baru menyadari jika Marina menyukai warna-warna yang lembut. Ya, ia ingat dulu sepertinya Marisa juga menyukai warna yang lembut.


"Nathan?"


Suara Marina membuat Nathan kembali ke masa sekarang.


"Eh, Marina? Kau sudah datang?"


"Hmm, ada apa? Tumben pagi-pagi kamu ada di ruangan aku."


"Umm, begini..." Nathan mencari alasan yang bagus agar Marina tidak curiga.


"Kau tahu kan, aku sangat suka dengan kinerjamu. Jadi, aku ingin kau membantuku untuk menangani proyek bersama dengan AJ Grup."


Marina berbinar senang. "Sure! Dengan senang hati, Nate. By the way, bukankah itu adalah perusahaan milik kakaknya Sheila?"


Nathan menggaruk tengkuknya. "Iya, itu milik Rangga Adi Putra. Makanya aku ingin menyerahkan proyek ini pada orang yang berkompeten dalam bidang ini." Nathan berharap semoga saja Marina mau menyetujui permintaan dirinya.


"Yeah, tentu saja. Aku sangat bersemangat untuk memulai proyek yang baru. Terima kasih karena kau percaya padaku, Nate," balas Marina dengan mengusap dada bidang Nathan.


Nathan sedikit risih dengan sentuhan Marina. Namun apa boleh buat. Ia harus bisa melakukan ini hingga semua rencananya berhasil.


...💟💟💟...


Siang itu, Sheila sengaja berkutat di dapur hanya untuk menyiapkan makan siang untuk Nathan. Ia sangat bersemangat memasak untuk sang kekasih.


"Ehem! Masak apa, Shei? Kayaknya enak nih!" goda Sandra pada putrinya.


"Cuma masak steak salmon aja kok, Ma. Mama mau juga? Nanti aku buatkan juga," Ucap Sheila sambil meringis.


"Tidak. Kamu bawakan saja untuk Nak Nathan. Dia pasti senang karena kamu membuatkan makan siang untuknya."


Sheila tersipu malu. Kini baik keluarganya maupun keluarga Nathan sudah tahu jika dirinya dan Nathan sudah berbaikan. Ya, walaupun butuh waktu untuk bisa meyakinkan hati.


Sheila menata makanan didalam kotak makan yang akan ia bawa ke kantor Nathan. Ia berpamitan pada ayah dan ibunya.


Melihat putrinya kembali ceria, membuat kondisi kesehatan Adi Jaya semakin membaik. Adi Jaya dan Sandra tersenyum penuh syukur melihat kebahagiaan putrinya.


"Semoga hubungan mereka langgeng ya, Ma. Dan secepatnya mereka menikah. Papa sudah tidak sabar pengen gendong cucu lagi," harap Adi Jaya.


"Iya, Pa. Semoga saja. Kita serahkan semua pada mereka saja. Jangan memaksanya."


Satu jam kemudian, Sheila tiba di gedung Avicenna Grup. Ia menghubungi Nathan namun pria itu tidak menjawab panggilan darinya.


Akhirnya Sheila memutuskan untuk masuk saja menuju ruangan Nathan. Tak disangka saat Sheila hampir tiba di ruangan Nathan, ia berpapasan dengan Marina.


Entah kenapa Sheila malas meladeni Marina. Namun ternyata Marina mencegah langkah Sheila.


"Mau kemana kamu?" tanya Marina.


"Aku mau ke ruang kerja kekasihku!" ketus Sheila.


"Cih, kekasih? Kamu yakin jika Nathan benar-benar menganggapmu sebagai kekasihnya?"


"Sudahlah! Aku tidak mau berdebat denganmu!" Sheila mulai jengah. Ia memilih melanjutkan langkahnya.


Lagi-lagi Marina mencekal lengan Sheila.


"Berani sekali kau bermain denganku? Kau tidak tahu siapa aku, dan ada kisah apa antara aku dan Nathan!"


Sheila mengernyitkan dahi. "Aku tidak mau tahu kisah masa lalumu dengan Nathan atau dengan siapapun. Yang penting sekarang Nathan adalah kekasihku! Permisi! Aku harus pergi!"


"Kau!" Marina juga mulai kesal.


"Ada apa ini?" Nathan tiba-tiba datang dan melerai kedua gadis itu.


"Hai, Nate. Aku bawakan makan siang untukmu. Kamu pasti belum makan kan?" ucap Sheila berbinar senang.


Nathan menatap paper bag yang di bawa Sheila sekilas.


"Tapi maaf, Shei. Aku akan makan siang dengan Marina," jawab Nathan.


Seketika tubuh Sheila mematung. Ia tak percaya jika Nathan akan menolak dirinya.


"Oh gitu ya." Raut wajah Sheila berubah masam.


Nathan menatap Sheila. "Kumohon percayalah padaku, Shei. Dan tolong jangan membenciku. Aku akan jelaskan semuanya nanti," batin Nathan.


Sheila tertunduk lesu. Rasanya semua kebahagiaan di hatinya telah luruh.


"Ayo, Nate. Bukankah kita akan makan siang?" ajak Marina dengan menarik lengan Nathan.


"Maaf, Shei. Kalau begitu, aku pergi dulu! Oh ya, makanannya kamu letakkan saja di mejaku."


Nathan pergi dengan Marina meninggalkan Sheila yang masih mematung.


"Shei!" Suara Harvey membuat Sheila mendongak.


"Kamu mau ketemu dengan tuan Nathan?" tanya Harvey.


Sheila menggelengkan kepalanya.


"Bungkusan apa itu, Shei?"


"Ini! Buat kamu aja!" Sheila menyerahkan paper bag itu kepada Harvey kemudian berlalu.


Sheila berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Tidak ada gunanya dia menangis.


Sementara itu, Harvey masih bingung dengan situasi yang terjadi. Ia melirik paper bag pemberian Sheila.


Namun sedetik kemudian ponselnya bergetar.


"Halo, Tuan Nat..."


"Jangan berani menyentuh makanan yang dibawakan Sheila atau kau kupecat! Cepat letakkan itu di meja saya!"


Panggilan berakhir. Harvey menghela napas. Gagal lah dia makan siang enak buatan Sheila, hihihi.


...💟💟💟...


Sheila yang masih kesal pada Nathan memutuskan untuk menemui Naina. Hanya bersama sahabatnya ini Sheila merasa lebih tenang.


Naina tak bisa menolak Sheila meski ini masih di jam bekerjanya. Ia meminta Sheila untuk menunggu di rumahnya saja. Tapi, Sheila tidak mau. Alhasil, Sheila menunggu di kantin kantor Naina.


Wajah Sheila muram dan tak ada kecerahan seperti biasa. Naina tahu pasti ada yang tidak beres. Baru kemarin Sheila bercerita jika hubungannya dengan Nathan sudah terjalin kembali, sekarang Sheila datang dengan wajah cemberut.


"Seharusnya kamu dengar dulu penjelasan dari tuan Nathan. Jangan langsung menyimpulkan, Shei," ucap Naina ketika mereka sudah berada di rumah Naina.


Sheila merebahkan tubuhnya di kasur Naina. "Tapi dia gak bilang apapun, Na. Dia hanya bilang maaf. Menyebalkan!"


"Ya sudah, sebaiknya kamu hubungi dia dan minta penjelasan padanya."


"Gak mau! Malas ah!"


Naina menghela napas. Jika sahabatnya ini sudah berkata tidak, akan sangat sulit untuk membujuknya.


"Na, aku mau menginap disini ya!" pinta Sheila dengan wajah memelas.


Naina memutar bola matanya. "Terserah kamu saja, Nona Sheila."


...💟💟💟...


Kekesalan Nathan memuncak karena Sheila tidak mau menjawab panggilan darinya. Bahkan kini ponsel Sheila sudah tidak aktif. Nathan makin murka.


Ia pulang ke apartemen dengan perasaan tak tenang. Ia menatap paper bag yang ia bawa dari kantor tadi. Ia membuka kotak makanan yang dibawakan Sheila siang tadi.


Nathan tersenyum. "Maafkan aku, sayangku. Aku akan menjelaskan padamu sekarang juga, tapi kenapa kamu tidak menjawab teleponmu. Kamu pasti marah padaku ya!"


Nathan berbicara pada makanan yang dimasak oleh Sheila. Ia memakannya dengan penuh rasa bahagia.


"Hmm, ini enak sekali. Andai saja tadi aku memakannya bersamamu!"


Usai menyantap makan malamnya, Nathan kembali menghubungi Sheila. Ponselnya sudah aktif. Tapi masih tidak dijawab oleh Sheila.


"ARGH! Kenapa kau tidak menjawabnya, Shei? Harusnya kau percaya padaku! Harusnya kau mendengarkan apa yang akan kukatakan!"


Nathan mulai frustasi. Ia ingin menghubungi Sandra, tapi ia takut jika Sandra berpikir yang tidak-tidak.


Karena tak mau terus memikirkan Sheila, Nathan malah pergi ke klub malam yang ada disamping apartemennya. Dengan menyesap sedikit wine, Nathan merasa lebih baik.


Dari kejauhan, ada sosok Choky yang selalu mengawasi gerak gerik Nathan sesuai dengan arahan Boy. Choky melihat sosok yang tak asing mulai mendekati Nathan.


"Itu kan... Nona Marina!"


Choky meraih ponselnya dan akan menghubungi Boy. Ia ingin melapor jika Nathan sedang bersama Marina.


Matanya masih tertuju kepada Nathan yang sepertinya mulai mabuk.


"Halo, Tuan Boy."


"Ada apa, Choky?"


"Saya melihat Tuan Nathan sedang bersama Nona Marina!"


"Oh ya? Dimana mereka?"


"Mereka ada di klub Miracle, Tuan. Tapi tadi..."


Mata Choky membulat sempurna. Sosok yang sedari tadi ia awasi tiba-tiba menghilang.


"Halo, Choky! Ada apa?"


"Halo, Tuan. Tuan Nathan menghilang!"


"Hah?! Apa? Menghilang?!"


#bersambung


Sabar ya genks, ujian cinta baru dimulai, hehehe.


Kira2 apa yah rencana si Mar Mar itu? 😰


Apakah rencananya berhasil?


...***...


Mampir juga di karya emak yg lain ya genks 👇👇👇👇