
Rachella menyapa sahabatnya yang tinggal di Paris bernama Jasmine. Mereka bercipika cipiki sambil mengobrol ringan. Rachella sengaja menemui Jasmine karena ingin sekedar bernostalgia dan reuni kecil dengannya.
Sementara Damian, ia hanya diam dan terus menunduk. Kini ia merasa takut jika Rachella bisa mengenalinya meski sudah menyamar.
Teman Rachella bercerita jika pemilik kedai surabi juga orang Indonesia. Tentu saja Rachella sudah bisa menebak karena nama makanannya memang khas Indonesia. Rachella memperhatikan pria penjual surabi yang dengan cekatan membolak balikkan adonan. Karena penasaran, Rachella pun mendekat dan memperhatikan Damian.
"Silakan, Nona!" Damian menyajikan surabi yang sudah matang ke hadapan Rachella.
"Hmm, baunya harum. Aku sudah lama tidak kembali ke tanah air. Jadi, ini mungkin bisa mengobati kerinduanku pada tanah air," sahut Rachella.
Damian membungkuk dan kembali memasak. Rachella membawa pesanannya ke mejanya bersama Jasmine.
Damian bernapas lega karena Rachella tidak mengenalinya. Tapi jika Freya yang datang ... pasti gadis itu bisa mengenali Damian dalam sekali lihat.
Ia menghembuskan napas kasar. Satu tahun ini Damian tidak pernah melupakan Freya. Gadis itu selalu bersarang di hatinya meski takdir seolah kini sedang mempermainkan perasaan mereka.
Tak terasa waktu cepat bergulir. Malam kembali menyapa. Damian menutup kedai surabi miliknya dan bersiap kembali ke rumah.
Hari libur ini Damian mendapat cukup pendapatan dari penjualan surabi hari ini. Meski tidak seberapa, tapi sebisa mungkin Damian menghargai hasil kerja kerasnya selama seharian ini.
Tiba di rumahnya, Damian mendengar tawa riang dari suara yang tak asing di telinganya. Damian menghampiri sumber suara itu yang berasal dari kakeknya dan...
"Rachella?" Damian terkejut dengan kedatangan gadis itu ke rumahnya.
"Hai, Dam. Kakek bilang kau tetap bekerja meskipun di hari libur." Rachella tetap menyapa Damian ramah meski wajah pria itu sudah memerah menandakan ia tidak suka dengan kehadiran Rachella.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Damian dingin. Joseph menatap Damian dan meminta cucunya agar bersikap baik kepada Rachella.
"Aku sedang berlibur ke Paris. Tidak ada salahnya kan aku berkunjung ke rumahmu. Lagipula aku juga merindukan kakekmu dan om Jonathan." Rachella berusaha menyunggingkan senyum terbaiknya meski hatinya tercabik ketika melihat Damian masih saja dingin padanya.
"Emh, baiklah. Kalian silakan bicara berdua. Kakek akan istirahat di kamar." Joseph merasa harus meninggalkan cucunya bersama Rachella agar lebih leluasa dalam bicara.
"Aku lelah, aku ingin istirahat!" ucap Damian tanpa berbasa basi. Ia segera melenggang pergi menuju kamarnya.
Tak habis akal, Rachella mengekori Damian. Dulu saat mereka masih remaja, Rachella sering bertandang ke kamar Damian. Maka sekarang pun tak ada salahnya jika mereka satu kamar berdua.
"Mau apa kau ikut kesini?" Damian hendak menutup pintu kamarnya namun Rachella menahannya.
"Dam, please! Bisa tidak jangan bicara ketus padaku begini? Aku janji tidak akan mengganggumu!" Rachella memohon.
"Baiklah, silakan masuk!"
Rachella berbinar senang dan langsung nyelonong masuk ke kamar Damian. Rachella langsung merebahkan diri di sofa.
"Ck, kau ini!" gumam Damian.
"Jangan hiraukan aku. Anggap saja aku tak ada," ucap Rachella santai lalu memainkan ponselnya.
Damian tidak lagi menggubris Rachella. Ia tahu seperti apa keras kepalanya Rachella. Ia memilih pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Dua puluh menit kemudian, Damian keluar dari kamar ganti dan tak mendapati Rachella di sofa. Ternyata gadis itu sedang berada di balkon kamar Damian.
Mau tak mau Damian menghampiri Rachella yang sedang menikmati angin malam musim panas kota Paris.
"Berapa lama kau liburan disini?" tanya Damian untuk mencairkan suasana.
"Emh, mungkin sekitar dua minggu. Apa kau mau menemaniku liburan?"
"Tidak! Aku sibuk bekerja," jawab Damian santai.
Rachella mencebik. Ia menyilangkan tangannya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Freya? Apa kalian LDR?"
Damian diam. Ia memilih untuk tidak menjawab.
"Oke! Kalau begitu aku bisa..."
"Tidak! Tidak bisa!"
"Cih, aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku!" kesal Rachella.
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan!" Damian menunjuk kepala Rachella. "Otakmu ini apa tidak ada isi yang lain, huh?"
Rachella menepis tangan Damian. "Damian Ford!" pekik Rachella.
Rachella mendengus kesal.
"Aku akan tetap menunggunya meski dia terus menolakku. Aku rela jadi bujangan seumur hidup."
"Hei, Damian Ford!" Rachella makin kesal.
Damian menatap Rachella dan memegangi kedua bahu gadis itu.
"Carilah pria yang mencintaimu, bukan yang kau cintai. Mengerti?"
Damian kembali ke posisi semula dan menatap indahnya langit kota Paris. Sementara Rachella hanya diam sebab kembali harus menelan pil pahit. Usahanya untuk mendapatkan hati Damian tidak akan pernah berhasil karena selalu ada Freya disana. Baik dulu maupun sekarang.
#
#
#
Dua tahun kemudian...
Freya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia sangat kesal setelah mendapat telepon dari Aisha mengenai demo yang terjadi di dalam kantornya. Satu orang klien yang kecewa dengan pekerjaan Freya kini menuntut ganti rugi dan juga mengerahkan massa untuk menyerbu kantor Ya Consultant.
Freya yang baru saja keluar dari apartemen harus membatalkan janji temu dengan kliennya karena harus mengurus kerusuhan yang sedang terjadi.
"Brengsek! Laki-laki tua bangka itu memang sengaja melakukan ini padaku! Awas saja jika kau berani macam-macam di kantorku!" ucap Freya dengan menggebu. Hatinya sedang panas karena ulah satu kliennya ini.
Freya memarkirkan asal mobilnya di depan gedung kantor Ya Consultant. Ia memijat pelipisnya karena melihat banyaknya orang berkumpul di depan kantornya dan menyerukan kata-kata makian dan hujatan.
"Astaga! Apa-apaan ini?!"
Freya melewati kerumunan orang dengan berteriak keras.
"Minggir! Saya mau lewat!" teriak Freya dengan kilatan amarah di matanya.
Sontak orang-orang yang adalah pendemo bayaran itu terdiam karena melihat si pemilik kantor sudah datang.
"DIAM SEMUANYA!" teriak Freya.
Freya mengatur napasnya yang memburu. Matanya nyalang menatap pria paruh baya yang memimpin para kerumunan itu.
"Apa maksud Anda melakukan demo di depan kantorku?" tanya Freya berusaha tenang.
Pria paruh baya itu hanya tersenyum seringai lalu memberi kode kepada para pendemo untuk kembali berorasi.
"Tutup kantor Ya Consultant! Bubarkan saja perusahaan penipu!" teriak puluhan orang yang ada disana.
Freya hanya bisa melongo melihat mereka yang begitu patuh dengan perintah si tua bangka ini.
"Aku bilang DIAM!" Freya kembali berteriak.
"Dengar Tuan Yassar! Usaha Anda bangkrut bukan karena kesalahan saya! Saya hanya berusaha membantu Anda untuk menemukan solusi keuangan Anda, bukan untuk membantu usaha Anda. Harusnya Anda yang lebih selektif dalam memilih pegawai di perusahaan Anda. Jangan menyalahkan saya!" tegas Freya membela diri dan perusahaannya.
"Tapi saya menjalankan semua yang Nona katakan. Apakah itu artinya Nona berbohong?" sergah Yassar.
"Apa katamu?! Berbohong?" Freya menggeleng pelan.
"Kalian semua yang ada disini! Jika usaha Anda gagal dalam suatu bidang, apakah itu adalah kesalahan seorang konsultan? Kalian yang merasa pintar silakan jawab!" teriak Freya lagi. Kesabarannya sudah habis sekarang.
Ini adalah ujian terberat selama dirinya melakoni pekerjaan ini. Hanya Yassar saja klien yang menurutnya sangat rewel dan banyak maunya.
"Silakan jawab! Kenapa kalian semua diam?" seru Freya lagi.
"Tentu saja bukan!" Sebuah suara membuat semua orang yang ada disana menoleh kearahnya.
"Dalam berbisnis banyak faktor yang mendasari untung dan rugi. Dan tidak semua usaha harus mendapatkan untung. Ada kalanya kita harus mengalami kerugian terlebih dahulu sebelum meraih keuntungan. Alasan bapak menyalahkan perusahaan ini tidaklah dibenarkan."
Penjelasan orang itu membuat Freya tertegun di tempatnya. Freya sangat mengenali suara itu. Freya sangat mengenali sosok itu meski saat ini ... penampilannya sudah berubah.
"Aku bertemu lagi dengannya. Orang yang tidak pernah kulupakan selama tiga tahun ini. Orang yang selalu aku cintai. Aku bertemu lagi dengannya di waktu yang tidak tepat. Di waktu yang sangat memalukan untukku. Tidak! Aku tidak bisa bertemu dengannya sekarang!"
Freya memilih langkah seribu dan meninggalkan kerumunan itu. Hatinya sangat berdebar karena bertemu lagi dengan cinta yang tak pernah ia lupakan.
"Freya!" Sosok yang adalah Damian itu mengejar langkah Freya yang kembali menghindar darinya.