My Culun CEO

My Culun CEO
#171 - Ikatan Batin



...Masa Sekarang...


"Sheila!" pekik Nathan dan terbangun dari tidurnya. Ia mengatur napasnya yang terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya.


Lian segera mendatangi kamar putra bungsunya ketika mendengar teriakan Nathan. Lian duduk di tepi ranjang dengan mengusap punggung Nathan.


"Sayang, ada apa Nak? Kenapa kau berteriak?" tanya Lian sendu.


Tak lama Boy dan Roy juga ikut masuk ke dalam kamar Nathan.


"Ma..." Nathan menatap Lian dengan mata yang digenangi air mata.


"Apa kau mimpi buruk?" tanya Lian merangkum wajah putranya.


"Sheila, Ma. Sheila!" ucap Nathan dengan suara bergetar.


Lian menatap Roy dan Boy. "Sayang, mama tahu ini berat untukmu. Tapi..."


"Sheila masih hidup, Ma! Sheila masih hidup!" seru Nathan.


"Nak, jangan seperti ini. Kau harus mengikhlaskan istrimu. Bukankah kemarin kau baru saja..."


"Tidak! Itu bukan Sheila. Aku yakin Sheila masih hidup. Dia ... memanggil namaku, Ma. Dia masih hidup. Aku menggenggam tangannya. Aku yakin itu dia, Ma!" racau Nathan tak terkendali.


"Sayang, kau hanya bermimpi. Tenanglah! Boy, tolong lakukan sesuatu!" Lian tak dapat menahan tangisnya lagi. Hatinya begitu pilu melihat putra kesayangannya harus mengalami hal berat seperti ini. Kehilangan seseorang yang sangat dia cintai di saat kebahagiaan sedang menghampiri mereka. Pastinya semua ini tidak mudah untuk Nathan.


#


#


#


Boy berdiskusi dengan Roy mengenai tindakan apa yang harus dilakukan terhadap Nathan. Sudah satu minggu Nathan terus meracau jika Sheila masih hidup.


"Kita harus bagaimana, Pa?" tanya Boy.


"Kita minta tolong Liam untuk datang kemari. Dia harus memeriksa kondisi Nathan," putus Roy.


"Baik, Pah."


Boy menghubungi Liam dan meminta dokter muda itu untuk datang. Liam yang adalah sahabat Nathan waktu di sekolah dulu, tentu saja tidak keberatan untuk membantu pria itu. Ditambah selama ini Nathan adalah pasiennya.


Liam meminta waktu sendiri untuk bisa memeriksa Nathan. Liam melihat tak ada keanehan yang terjadi dengan Nathan. Kondisinya baik. Bahkan sangat baik.


Liam sendiri heran kenapa malah keluarganya menganggap jika Nathan tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Kau yakin Nathan baik-baik saja?" tanya Roy mencoba meyakinkan dirinya.


"Iya, Paman. Kondisi Nathan sangat baik. Dan mimpi itu ... sepertinya itu bukan hanya sekedar mimpi. Bisa saja itu adalah sebuah pesan."


Boy dan Roy saling pandang. "Pesan? Pesan apa maksudmu?"


"Dua orang yang saling mencintai memiliki ikatan batin yang cukup kuat. Mungkin terdengar tidak masuk akal bagi sebagian orang. Tapi untukku, itu bisa saja terjadi," jelas Liam.


"Jadi, maksudmu ... bisa saja Sheila benar-benar masih hidup?" tanya Boy.


Liam mengangguk.


"Tapi itu tidak mungkin. Aku sendiri yang memeriksa dan memastikannya. Denyut nadi dan jantungnya sudah tidak ada. Dan kami sudah menguburkan jasadnya seminggu yang lalu," tutur Boy.


"Ini hanya teoriku saja. Terserah kalian mau percaya atau tidak. Aku bicara begini bukan karena aku adalah sahabat Nathan. Tapi aku bicara berdasar fakta. Kondisi Nathan sangat baik. Dan mimpi itu ... bisa saja adalah telepati yang dilakukan oleh dua orang yang sedang berjauhan. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku pamit, Paman." Liam membungkukkan badan sopan kemudian berlalu.


Sejenak Boy terdiam dalam pikirannya. Kecerdasan otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Liam. Boy mengepalkan tangan. Boy segera berlari menyusul Liam.


"Tunggu, Liam!" panggil Boy.


Liam yang akan masuk ke dalam mobilnya segera berbalik dan menatap Boy.


"Ada apa, Kak?" tanya Liam.


Liam tersenyum.


"Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membantu Nathan," lanjut Boy.


"Selidiki semua ini secara diam-diam. Pertama kita bongkar dulu makam Sheila. Kita harus lihat apakah benar Sheila terkubur disana."


"Hah?!" Boy sedikit tidak mengerti dengan pemikiran Liam. Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Sheila memang sudah meninggal atau belum.


#


#


#


Keesokan harinya, Nathan bersama dengan Boy mendatangi makam Sheila. Nathan juga membawa beberapa orang untuk menggali makam Sheila.


Nathan harap-harap cemas menantikan apa yang akan terjadi dengan penggalian makam ini. Boy dengan segala kekuasaannya meminta agar kabar ini jangan sampai terendus oleh media ataupun khalayak umum. Boy harus memeriksa semuanya dengan hati-hati.


"Tunggu!" seru Nathan ketika makam sudah berhasil di gali. Peti mati yang berisikan tubuh Sheila sudah siap untuk dibuka.


"Ada apa, Nate?" tanya Boy.


"Kak, aku takut kalau..." Nathan mulai ragu dengan instingnya. Padahal kemarin ia sangat yakin jika apa yang dialaminya bukan hanya sekedar mimpi.


"Kau ragu jika tubuh Sheila masih tetap ada disini dan tidak bernapas?" tanya Boy.


Nathan memijat pelipisnya. Ia berpikir sejenak untuk melakukan langkah selanjutnya.


"Baiklah! Cepat buka petinya!" titah Nathan.


Beberapa pekerja membuka peti yang sudah terkubur selama hampir dua minggu. Jika Sheila masih hidup dan ada di dalam peti maka ... tentu saja itu akan mengejutkan mereka bukan?


Semua mata orang yang ada di sana membola. Mereka menatap sebuah pemandangan yang memang tidak biasa.


Kosong!


Peti mati itu kosong dan tidak ada tubuh yang terkubur disana.


"Ba-bagaimana bisa?" Boy menutup mulutnya tak percaya. Ia sendiri sangat yakin jika dirinya menyaksikan tubuh Sheila dimasukkan kedalam sana.


Sementara Nathan? Tubuhnya mematung melihat peti mati istrinya yang kosong. Banyak sekali pertanyaan yang kini berkecamuk di dalam hatinya.


"Nate! Kau tidak apa-apa?" tanya Boy yang melihat Nathan menatap datar tanpa ekspresi.


Nathan menelan ludahnya kasar. Rasanya tenggorokannya tercekat dan ia butuh minum untuk membasahinya.


"Kak..." Nathan menatap Boy. "Kemana Sheila? Dimana dia, Kak?" tanya Nathan dengan suara yang bergetar.


"Tenangkan dirimu, Nate!" Boy memegangi kedua bahu Nathan.


"Siapa yang melakukan ini padaku, Kak? SIAPA?!" teriak Nathan.


#


#


#


Di sebuah rumah yang jauh dari kota. Tidak bisa di sebut rumah karena lebih mirip villa. Berada di bibir pantai membuat suasana villa itu terdengar syahdu dengan suara debur ombak yang saling berkejaran.


Satu kamar yang menghadap pantai dengan jendela terbuka, hanya di isi oleh sesosok tubuh yang terbaring tak sadarkan diri. Sudah hampir tiga minggu tubuh itu terbaring di tempat tidur tanpa ada reaksi apapun.


Satu selang infus terpasang di tangan kanannya. Tubuh berbalut dress putih itu masih terasa kaku dan dingin. Warna kulitnya pun pucat dan lebih mirip dengan seonggok mayat yang sudah tak bernyawa. Namun bedanya, tubuh itu masih bernapas. Napasnya pun teratur dan naik turun.


Bunyi derit pintu terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang memasuki kamar tersebut. Langkah kakinya terhenti kala tubuhnya di dudukkan di tepi ranjang sambil memandangi wajah pucat itu.


"Apa kabar sayangku? Aku sudah menunggu selama tiga tahun untuk menantikan hari ini. Tunggulah sebentar lagi dan kau akan kembali membuka matamu, Sheila..."