
Merlin merebahkan tubuhnya di kasur sederhana miliknya. Seharian setelah mengundurkan diri di tempat karaoke yang selama ini memberinya pundi-pundi uang, Merlin berusaha mencari pekerjaan lain yang sekiranya lebih baik dari tempatnya bekerja dulu. Namun ternyata hingga hari berganti gelap, ia tak juga mendapatkan pekerjaan yang layak.
Hela napas panjang terdengar sangat frustrasi di telinga Resti, teman satu kamar Merlin. Mereka berasal dari satu kampung yang sama dan sama-sama merantau ke ibu kota. Bedanya, Resti tidak sempat mengenyam bangku kuliah seperti Merlin. Resti memilih membuka kedai kopi setelah lulus SMA dengan hasil jual tanah ayahnya di kampung.
Beruntung setelah kurang lebih 7 tahun merantau, kedai kopi Resti sudah mulai mengembalikan modal yang dulu sempat ia pinjam dari ayahnya. Resti tak ingin menyusahkan orang tuanya. Ia memilih mengembalikan modal dari ayahnya dan kini ia hidup pas-pasan bersama Merlin.
Usia mereka sama. Mereka juga satu sekolah yang sama sejak SMP. Dan Resti adalah orang yang paling memahami Merlin selama ini.
"Ada apa? Kau terlihat lelah," ucap Resti yang baru pulang dari kedai.
"Resti! Aku dipecat! Seharian aku mencari pekerjaan lain tapi belum dapat juga," keluh Merlin pada sahabatnya.
"Sudahlah. Jangan terlalu dipaksakan. Aku bilang juga apa. Kau tidak cocok bekerja disana. Tapi kau bertahan hingga setahun lamanya. Sekarang kau akhirnya terlepas dari jerat para pria hidung belang disana," balas Resti panjang lebar.
Merlin mengangguk cepat dan memeluk Resti.
"Sudah, jangan bersedih. Aku yakin kau akan mendapat pekerjaan yang lebih baik setelah ini." Resti mengusap punggung Merlin.
"Kau percaya padaku?"
"Tentu saja. Kau adalah Merlin yang tegar. Kau pasti bisa menghadapi ini."
Merlin tersenyum. "Aku ingin mendapat pekerjaan yang layak sekaliiiii saja," pinta Merlin sambil menatap langit.
"Pasti! Aku yakin kau akan mendapatkan itu."
#
#
#
Keesokan harinya, dengan berbekal ijazah S1-nya, Merlin bersiap mencari pekerjaan di kota yang sudah padat dengan banyaknya pengangguran yang makin merajalela. Dan kini Merlin menambah daftar panjang para pengangguran yang hanya bisa berpangku pada nasib.
Merlin menyusuri satu kantor ke kantor lainnya. Namun hingga matahari berubah terik, Merlin belum juga diterima di sebuah perusahaan yang bahkan skala kecil sekalipun.
Merlin memutuskan untuk bertandang ke kedai milik Resti. Bahkan di siang hari pun, kedai milik Resti bisa dibilang ramai pengunjung. Terkadang Merlin ingin bisa seperti Resti yang mandiri. Tapo sekali lagi, rejeki tiap-tiap orang pastilah berbeda satu dengan yang lainnya.
Dan Merlin yakin jika rejekinya pasti ada di sebuah tempat.
"Hei, lihat ini! Kantor Avicenna Grup membuka lowongan pekerjaan!" seru seorang pelanggan yang membuat mata Merlin melebar.
Merlin segera merebut koran yang sedang di baca oleh kedua pria tersebut. Dengan seksama Merlin membaca lowongan apa saja yang dibutuhkan.
"Asisten pribadi?" gumam Merlin.
"Coba saja dulu, Mer. Siapa tahu itu adalah rejekimu."
Setelah pengunjung kedai agak sepi, Merlin meminta pendapat Resti mengenai iklan lowongan kerja di koran.
"Hmm? Tapi yang aku tahu Avicenna Grup adalah perusahaan besar. Perusahaan kecil saja tidak mau menerimaku, bagaimana dengan yang besar? Ini sama saja memancing di air keruh. Sudah pasti aku tidak akan diterima!"
Resti menatap Merlin. "Dengar! Kau akan tahu betapa berharganya dirimu ketika kau mampu menunjukkannya pada dunia. Jangan pesimis dulu! Aku yakin kau pasti bisa!" Resti memberi semangat kepada Merlin. Hingga sebuah senyum terbit di wajah Merlin.
#
#
#
Hari ini Merlin bersiap untuk melakukan tes interview di gedung Avicenna Grup. Ternyata lamaran yang ia kirim mendapat respon.
Merlin berharap jika dirinya bisa masuk ke dalam jajaran Avicenna Grup. Setidaknya ia harus percaya diri agar bisa menjawab pertanyaan yang diajukan nanti.
Tiba akhirnya giliran Merlin yang maju untuk di interview. Ada tiga orang disana. Dua pria paruh baya dan satu orang pria yang terlihat masih muda dan juga ... tampan.
Merlin menjawab dengan percaya diri semua pertanyaan yang diajukan. Dan yang paling penting dia bersikap jujur tanpa ada yang di tutupi.
Merlin menatap pria muda di hadapannya yang terlihat begitu mempesona. Seolah tersihir dengan pesonanya, Merlin sampai terdiam beberapa saat ketika pria muda itu mengatakan jika dirinya diterima bergabung dengan Avicenna Grup.
"Nona! Nona Merlinda!" panggil sang pria muda.
"Eh? Ah iya, Tuan. Apa tadi?" tanya Merlin kikuk karena ketahuan mengagumi si pria.
"Kau diterima! Mulai besok kau bisa berangkat kerja. Kau bisa menemuiku lebih dulu. Perkenalkan, saya Karel Avicenna." Karel mengulurkan tangannya kearah Merlin. Seakan masih tak percaya, Merlin menyambut uluran tangan itu dengan gemetar.
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih!"
Usai berjabat tangan, Karel mengizinkan Merlin untuk meninggalkan ruangan. Setelahnya ia juga meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana bisa gadis yang tidak memiliki pengalaman bekerja di perusahaan bisa diterima begitu saja oleh tuan Karel?" kesal si pria satu.
"Iya, apa nanti tidak ada masalah jika gadis itu menjadi asisten pribadi tuan Giga?" timpal pria kedua.
"Ah sudahlah. Kita turuti saja apa keinginan tuan Karel. Dia secara khusus diminta tuan Nathan untuk mencari asisten pribadi untuk tuan Giga. Kita bisa apa jika keputusan tuan Karel mengarah pada gadis itu."
Kedua pria paruh baya bagian HRD itu akhirnya hanya bisa pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh Karel.
#
#
#
"Wooow! Tos!" Merlin bersorak gembira bersama dengan Resti.
Malam ini terasa sangat membahagiakan untuk Merlin.
"Aku diterima kerja di Avicenna Grup!" seru Merlin dengan menatap langit malam.
Kini mereka berdua sedang duduk bersantai di rooftop apartemen mereka. Merlin dan Resti sengaja memilih kamar yang paling atas agar bisa menghabiskan waktu menatap langit sekaligus bercerita dengan semesta.
"Selamat ya, kawan! Kau harus berjuang dengan baik agar bisa menjadi karyawan teladan disana," ucap Resti.
Merlin mengangguk cepat. "Iya, aku pasti akan bekerja dengan baik!" serunya lagi memberitahu semesta.
#
#
#
Berkali-kali Merlin melirik kearah jam di tangannya. Sudah pukul sepuluh pagi namun bosnya belum menampakkan batang hidungnya juga.
Merlin melirik kearah asisten pribadi manajer lain yang sedang sibuk mengurus pekerjaan mereka. Sedari pagi Merlin sudah sangat bersemangat untuk memulai hari kerjanya.
"Dimana tuan Giga Avicenna? Kenapa dia belum muncul juga?" gumam Merlin yang akhirnya menuju pantry untuk membuat kopi. Ia mulai merasa kantuk menyerang ketika telah menunggu lama.
"Kau mencari tuan Giga? Sepertinya dia tidak akan datang lagi. Atau mungkin saja datang terlambat," sahut seorang asisten pribadi bernama Friska.
"Aku Friska, aku asisten tuan Karel Avicenna," imbuhnya.
Merlin membulatkan mata. "Jadi, tuan Karel Avicenna juga ada di bagian ini?" batin Merlin sedikit lega karena mengetahui pria tampan yang ramah itu satu kantor dengannya.
"Kenapa senyum-senyum? Meski tuan Giga belum datang, kau harus mengerjakan tugasmu juga. Jangan hanya bermalas-malasan."
"I-Iya, Kak. Kalau begitu, apa aku boleh belajar denganmu?" tanya Merlin sedikit ragu.
"Boleh saja. Ayo ikut denganku! Kebetulan tuan Karel sedang rapat dengan klien, jadi aku sedikit senggang."
Merlin mengulas senyum lebarnya. Dengan cekatan Merlin mempelajari apa saja yang harus dilakukan oleh seorang asisten pribadi.
Hingga pukul sebelas siang, akhirnya Giga tiba di kantornya. Merlin yang mendapat kode dari Friska segera bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Giga.
"Selamat siang, Tuan!" Merlin memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya sedikit.
Giga yang berjalan santai hanya melewati Merlin begitu saja. Giga bahkan tidak menganggap Merlin ada.
Hingga beberapa hari berlalu, Giga masih enggan melirik kearah Merlin. Ia hanya melewati meja gadis itu tanpa bertanya apapun juga.
Di hari kelima, Merlin memutuskan untuk menemui Giga di ruangannya.
"Permisi, Tuan!" Merlin mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Hmm, ada apa?" jawab Giga santai terkesan dingin.
"Saya adalah asisten pribadi Tuan yang baru. Nama saya Merlinda."
Giga yang tidak pernah menggubris Merlinda selama beberapa hari, tiba-tiba saja merasa tersentak lalu menatap gadis yang sedang menunduk di depannya itu.
"Siapa namamu tadi?" tanya Giga.
"Eh? Nama saya? Merlinda, Tuan."
Untuk pertama kalinya mata mereka bertemu pandang dan saling menatap selama beberapa detik.
#bersambung