My Culun CEO

My Culun CEO
# 1 1 4



Rizka menatap dua kubu yang sedang berseteru. Ia terkejut karena ternyata Vania ada disana. Dan yang membuatnya marah adalah ketika melihat baju Vania yang basah.


Rizka menatap Sitta yang ia sudah tahu siapa gadis itu. Sitta terkenal dengan sifatnya yang suka membuat onar. Dan dia diberitakan tengah dekat dengan mantan calon tunangan Rizka yaitu Damian.


"Kenapa kalian membuat keributan di hari ulang tahunku?" tanya Rizka dengan kilatan mata yang marah.


"Maaf, Nona Rizka. Kami tidak membuat keributan. Dua gadis kampungan inilah yang membuat kerusuhan disini," jawab Sitta.


"Tidak, Nona! Bukan kami yang salah, tapi mereka!" bela Naina berani. Ia memberanikan diri membela dirinya dan Vania. Meski biasanya yang lemah tidak akan menang melawan yang kuat. Apalagi mereka memang benar hanyalah gadis miskin dan kampungan yang sebenarnya tidak pantas berada di pestanya orang-orang kaya seperti ini.


"Farsh!" panggil Rizka pada Fardhan.


Fardhan mendekat dan tahu apa yang harus dilakukan oleh pria itu. Ia segera menyuruh anak buahnya untuk memegangi kedua gadis pembawa rusuh.


"Hei! Apa yang kau lakukan? Harusnya mereka yang diusir, bukan kami!" berontak Sitta ketika lengannya dipegangi oleh pria bertubuh besar.


"Nona Rizka! Kau tahu kan siapa ayahku?" tanya Sitta.


Rizka menyilangkan tangannya. "Tentu saja aku tahu! Tapi apakah seperti ini sikap dari seorang nona kaya dan berderajat di depan umum? Kau bahkan mempermalukan gadis lugu yang tidak berdaya. Sebaiknya kau tidak hadir dalam acara ulang tahunku malam nanti."


"A-apa?! Tidak! Lepaskan! Brengsek kalian semua!" Sitta terus meronta hingga tubuhnya tidak terlihat lagi disana. Ia dibawa bersama dengan Nita.


Rizka memegangi kepalanya dan memijatnya pelan.


"Farsh!"


"Iya, Nona!"


"Lepas jasmu dan berikan pada Vania!" perintah Rizka.


"Baik, Nona!"


Belum selesai Fardhan melepas jasnya, sebuah tangan telah terulur memberikan jasnya kepada Vania. Semua orang terkejut dengan perlakuan pria tampan itu.


"Bang Edo?" Vania terkejut dengan perlakuan Edo padanya.


"Ayo! Kita pergi dari sini!" ucap Edo yang diangguki oleh Vania.


"Ikuti aku!" ucap Rizka yang kemudian berjalan lebih dulu. Sebenarnya Rizka cukup terkejut dengan kemunculan Edo yang menolong Vania. Ia tersenyum tipis menyaksikan pemandangan itu.


"Kau begitu istimewa, Vania. Aku jadi penasaran denganmu," batin Rizka.


Sedangkan Naina masih mematung karena syok. Harvey menghampiri Naina.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Harvey.


"Iya. Tapi tadi aku takut sekali, Harv!" Naina memeluk Harvey. Pria itu menenangkan Naina yang tubuhnya nampak gemetar.


Begitu tiba di kamar milik Rizka, Vania segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Diluar kamar, Rizka berbincang dengan Edo.


"Wow! Aku tidak menyangka kau akan menolongnya seperti itu. Apa kata orang-orang tentang hubungan kalian?" ucap Rizka yang ingin mencari tahu tentang hubungan Edo dan Vania.


Edo malah terkekeh geli. "Aku sudah lama mengenalnya. Jauh sebelum dia bekerja di Ford Company."


"Oh ya? Tapi kalian terlihat sangat dekat..."


"Ya begitulah. Aku akan melindungi dia dari wanita ganas milik Damian, hahaha!"


Rizka tidak percaya dengan apa yang dikatakan Edo.


"Mau sampai kapan kalian terus bermusuhan seperti ini? Bahkan untuk mendapatkan kontrak dariku kalian akan terus bersaing?"


Edo terdiam. Sebenarnya ia tidak ingin terus berseberangan seperti ini dengan Damian.


"Baiklah! Aku tidak ingin mencampuri urusan kalian. Yang aku ingin kalian bersaing secara sportif. Oke?"


Rizka masuk ke dalam kamarnya dan menemui Vania yang sudah selesai mandi. Vania duduk di sebuah kursi depan meja rias.


"Kau sudah selesai mandi?"


"Iya, Nona. Emh, Nona. Apa aku juga akan tidur di kamar ini?" tanya Vania polos.


"Iya, tentu saja. Ada dua kamar disini. Kau bisa pakai kamar ini, dan aku akan pakai kamar sebelah."


"Wah?! Benarkah, Nona? Tapi ini..."


"Sudahlah. Bukankah kau memenangkan tiket liburan bersamaku? Tentu saja kau akan benar-benar liburan denganku."


"Baiklah. Kau istirahat dulu saja. Aku akan minta pelayan untuk mengantar makan siangmu. Tadi kau tidak sempat makan siang kan?"


"Terima kasih banyak, Nona."


Rizka mengangguk lalu berjalan keluar kamar. Namun tiba-tiba ia kembali berbalik.


"Ah iya. Jangan lupa nanti malam adalah pesta ulang tahunku. Jam 7 malam kau harus sudah siap. Aku akan mengirim penata rias untuk mendandanimu."


Vania melongo mendengar penuturan Rizka. Merias wajah? Yang benar saja! Selama ini Vania tidak pernah merias wajahnya. Pasti akan terlihat aneh ketika ia melihat wajah barunya.


#


#


#


Pukul enam petang, seseorang datang ke kamar Vania dengan membawa peralatan tempurnya dan juga sebuah gaun malam yang sangat cantik. Vania sempat tertegun karena ia tak percaya akan memakai gaun mahal seperti ini.


"Tuan, sepertinya ... aku tidak cocok memakai gaun itu. Biarkan aku memakai gaunku sendiri saja ya!" pinta Vania.


"Oh, No! Ini adalah perintah dari Nona Muda Rizka. Jika aku membantah, aku akan dapat masalah nanti. Dan satu lagi, jangan panggil aku tuan! Panggil saja 'miss'. Miss Cicind. Oke?!" ucap pria gemulai itu.


"I-iya, baiklah Miss Cicind." balas Vania pasrah.


"Sekarang duduk disini!" perintah Cicind.


Vania mengangguk patuh. Ia duduk di  kursi meja rias.


"Lepas kacamatamu!" titahnya lagi.


Vania kembali menurut.


"Untuk malam ini, kau akan memakai lensa kontak. Mengerti?"


Vania mengangguk. Ia tidak terbiasa memakai lensa kontak. Meski dulu ia sempat memakainya hanya untuk sekedar mengubah penampilannya. Namun ia merasa kurang nyaman dengan itu. Hingga akhirnya ia kembali memakai kacamatanya saja.


Tangan terampil Cicind memoles wajah Vania yang sebenarnya sudah bagus. Kulitnya putih dan tidak berjerawat. Hanya ada bintik hitam yang sebenarnya bisa dihilangkan dengan perawatan.


"Kulit wajahmu sebenarnya sudah bagus. Kau harus sering memolesnya sedikit. Gunakan krim pelembab dan sunscreen untuk melindungi kulitmu dari sinar matahari. Pakai bedak dan juga perona pipi agar wajahmu kelihatan segar. Bukankah kau memenangkan undian karena membeli produk eRHa Cosmetics? Harusnya kau tahu tentang aturan dasar seperti itu," cicit Cicind panjang lebar.


"Hehe, aku baru pertama kali membeli produknya," ucap Vania jujur.


"What?! Serius? Wah, itu artinya kau sangat beruntung, Vania. Semoga setelah ini kau mendapatkan pria tampan di pesta ini!" lanjut Cicind.


Vania hanya tersenyum getir mendengar penuturan si penata rias itu.


"Oke! Saatnya kau berganti baju. Amelia! Tolong bantu dia ya!"


"Baik, Miss."


Vania bernapas lega. Ia pikir jika Cicind juga yang akan membantunya memakai gaun. Ya meskipun ia sudah bersikap seperti wanita. Tapi tetap saja dia bukan wanita melainkan pria.


Vania menatap dirinya di depan cermin. Gaun yang dipakainya kini berwarna merah. Sangat kontras dengan warna kulitnya. Dan riasan yang tadi Cicind poles di wajahnya, benar-benar membuatnya menjadi sosok gadis yang berbeda.


"Hah?! Apakah ini benar diriku? Kenapa aku sampai tidak mengenali diriku sendiri?" gumam Vania dengan menatap pantulan dirinya di cermin.


"Bagaimana? Kau suka dengan gaunnya?" tanya Rizka yang tiba-tiba sudah ada di belakang Vania.


Vania mengangguk mantap. "Saya sangat menyukainya, Nona."


"Mulai detik ini jangan panggil aku nona, tapi panggil kakak saja."


Vania kembali mengangguk. "Iya, Kak Rizka. Terima kasih banyak."


"Ayo sekarang kita keluar! Kita kejutkan semua orang dengan penampilan barumu ini!" ajak Rizka dengan menggandeng lengan Rizka.


#bersambung


*Penampakan Rizka 👇👇



Lalu seperti apa Vania ya? Hmm, dia juga gak kalah cantik kok, hehehe