My Culun CEO

My Culun CEO
Kekesalan Rizka



"Jadi, ini adalah berkas dari kami, Nona Hanggawan," jelas Tarjo sambil menyodorkan sebuah map kepada Rizka.


Kini mereka sedang duduk berhadapan di ruang rapat.


"Rizka saja! Tidak perlu menyebut nama keluargaku!" ketus Rizka tak terima.


"Oh, baiklah Nona Rizka Hanggawan!"


Rizka mulai kesal. "Terserah kau saja!" Ia memutar bola matanya malas.


Rizka mengambil map dari tangan Tarjo dengan kasar. Ia membuka dan membacanya.


"Itu konsepnya saya sendiri yang membuatnya, Nona Rizka Hanggawan." Tarjo membanggakan dirinya didepan Rizka.


Gadis itu nampak kesal namun ia akui jika konsep yang dibuat Tarjo sangatlah sesuai dengan keinginannya. Ia pun manggut-manggut.


"Ya lumayan!" jawab Rizka datar sambil menutup map.


Tarjo meringis. Ia tahu jika Rizka menyukai konsep yang ia buat, hanya saja gadis itu terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Baiklah, Nona Rizka Hanggawan, bagaimana jika kita meninjau lokasi proyek sekali lagi? Sudah ada beberapa pekerja yang saya tempatkan disana," ajak Tarjo.


"Rizka saja! Tuan Tarjo!" tekan Rizka.


"Aduh, jangan panggil saya tuan lah! Itu sangat tidak cocok dengan saya!" Tarjo menggaruk tengkuknya dengan wajah merona.


"Astaga! Dari mana Nathan dapat pekerja seperti dia? Benar-benar menyebalkan!" sungut Rizka dalam hati.


"Jika ada yang kurang sesuai dengan selera Nona Rizka, Saya bisa mengganti konsepnya." Tarjo masih dengan percaya diri menunjukkan senyum merekahnya.


"Ah iya, ini sudah lumayan. Akan saya pelajari lagi! Omong-omong Nathan pergi kemana?" tanya Rizka yang sudah sangat penasaran.


"Oh, tuan Nathan sedang ada acara dengan istrinya. Beliau sudah menyerahkan semuanya kepada saya. Nona Rizka jangan khawatir. Saya seorang profesional," ujar Tarjo.


Rizka menarik sudug bibirnya. "Kamu pikir kamu bisa menghindariku dengan mengirim pria culun ini, hah? Jangan panggil aku Rizka jika aku tidak bisa membuatmu bertekuk lutut!"


"Baiklah, Mas Tarjo. Kita ke lokasi proyek sekarang! Aku ingin tahu sudah sejauh mana perkembangan yang kau jelaskan tadi."


"Oke! Mari, Nona Rizka!" Tarjo mempersilakan Rizka untuk berjalan lebih dulu.


#


#


#


Tiba di lokasi proyek, Rizka sedikit kesal karena Tarjo lagi-lagi sok berkuasa dan mengatur. Ia bahkan meninggalkan Rizka yang berjalan jauh di belakang.


"Dasar culun! Tidak tahu diri! Awas saja kau, hah!" kembali tanduk dikepala Rizka muncul.


Tarjo menjelaskan kepada Rizka dengan seksama sesuai dengan konsep yang sudah di berikan Tarjo tadi. Matahari mulai beranjak naik dan membuat Rizka kepanasan.


"Mas Tarjo, kita berteduh dulu disana. Aku tidak bisa tersengat matahari!"


"Jika kita ingin sukses, kita harus bersusah susah dahulu, Nona Rizka. Kalau Nona Rizka hanya mau enaknya saja, wah ini sangat tidak sesuai dengan prinsip hidup saya. Saya bisa sampai disini karena saya adalah seorang pekerja keras. Saya bekerja siang dan malam. Jungkir balik agar bisa jadi orang kepercayaan Tuan Nathan. Nona Rizka paham maksud saya?"


Rizka menghentakkan kakinya. Ia sangat sebal karena pria culun ini malah menceramahinya.


"Iya, iya. Aku paham! Tapi jika berdiri disini terus aku bisa pingsan! Apa kamu mau menggendongku, hah?"


Tarjo tersenyum senang. "Tentu saja saya tidak keberatan untuk menggendong Nona Rizka. Kapan lagi saya bisa pegang barang mahal, hehehe." Tarjo terkekeh.


"Ish, dasar otak mesum! Sudah! Aku mau duduk di warung itu saja!" putus Rizka kemudian berjalan meninggalkan Tarjo.


Tarjo menggeleng pelan dengan tingkah Rizka yang sangat kekanakan. Akhirnya ia mengikuti langkah Rizka. Tentu saja karena masih ingin mengerjai nona muda itu, hihihi.


"Ini, Nona Rizka!" Tarjo menyodorkan segelas es teh manis di depan Rizka.


"Apa ini?" tanya Rizka.


"Ini namanya es teh manis! Masa begitu saja tidak tahu? Apa di Singapura tidak ada es teh manis ya Nona Rizka?" tanya Tarjo sok polos.


"Aku tidak bisa meminumnya!" tolak Rizka.


"Lah kenapa Nona Rizka?"


"Itu isinya hanya gula saja. Dan itu tidak baik untukku! Bisakah kita makan di tempat yang lebih layak? Ini sudah waktunya jam makan siang," bujuk Rizka dengan wajah memelas.


Tarjo menghela napas. "Baiklah, Baik! Kita makan dulu! Memang benar apa yang di katakan Nona Rizka. Saat bekerja, kita jangan sampai lupa waktu dan lupa makan! Karena dengan mengisi perut dengan makanan, itu bisa membuat tubuh kita kembali fit dan otak bisa bekerja dengan baik."


"Aaaa! Berisik!" Rizka bangkit dari duduknya dan pergi dari warung tenda itu.


Sementara Tarjo hanya terkekeh geli. Rasanya sangat menyenangkan mengerjai nona muda ini.


#


#


#


Malam harinya, Rizka bermanja manja di lengan kakak sepupunya, Radit. Ia menceritakan semua kisahnya hari ini. Benar benar sial menurutnya.


"Kak! Apa kakak tidak bisa membantuku untuk menghubungkanku dengan Nathan? Pria culun itu bilang jika Nathan sedang pergi dengan istrinya. Sebenarnya siapa istri Nathan, Kak? Kenapa beritanya tidak sampai ke luar negeri?" rengek Rizka.


Nadine yang mendengar rengekan Rizka segera bergabung dengan suami dan adik sepupunya.


"Ehem! Untuk apa kau bertanya siapa istri Nathan? Bukankah setiap orang memiliki privasi? Mungkin saja Nathan sengaja menyembunyikan identitas istrinya karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan dengan keluarganya. Jangan anggap semua orang itu sepertimu yang selalu mengumbar aktifitasmu ke media sosial!" sindir Nadine.


Rizka memutar bola matanya malas. "Aku tidak bertanya pada Kak Nadine! Jadi tidak perlu ikut menyahut!" kesal Rizka kemudian beranjak dari duduknya.


"Eh, dasar tidak sopan! Dikasih tahu malah melunjak!" sungut Nadine.


Radit hanya menggeleng pelan melihat perdebatan antara istri dan adiknya. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir.