My Culun CEO

My Culun CEO
#181 - Sang Pewaris yang Malas



Sepuluh tahun kemudian...


Sheila mendatangi kamar putranya dengan wajah kesal. Sudah pukul tujuh pagi dan Giga masih bergelung di tempat tidur dengan nyamannya.


Sheila menggeleng pelan. Bagaimana bisa putranya sangat berbeda jauh dengan sang ayah yang sangat disiplin?


"Giga! Bangun, Nak! Ini sudah siang!" ucap Sheila dengan duduk di tepi ranjang.


"Giga!" Sheila membelai lembut puncak kepala Giga. "Sayang, ayahmu sudah menunggu di bawah. Kau tahu kan seperti apa ayahmu?"


Giga hanya melirik sekilas kearah Sheila kemudian kembali terpejam.


"Giga!!!" pekikan Sheila semakin nyaring saja. Namun Giga masih diam tak merespon.


Sheila menghela napas kasar. Ia memilih untuk keluar dari kamar putranya dan bersiap mendapat amukan dari Nathan.


Sheila kembali turun ke lantai bawah. Ia bertemu dengan salah satu pelayan disana.


"Bagaimana, Nyonya? Apakah berhasil? Sepertinya tidak berhasil ya, Nyonya?" tanya si pelayan yang bernama Odah.


Sheila meletakkan jarinya di bibir. "Jangan keras-keras, Bi. Nanti kalau Tuan Su dengar, bisa gawat!" ucap Sheila dengan berbisik.


"Kenapa kalian bicara dengan berbisik?" Sebuah suara yang amat Sheila kenali membuatnya sedikit terlonjak kaget.


"Tuan Su! Mengagetkan saja!" ucap Sheila gugup.


"Mana anakmu? Kenapa masih belum turun juga?" tanya Nathan suara kesalnya.


"Tuan Su, dia..."


"Sudah cukup! Anak pemalas itu harusnya di beri pelajaran agar dia sadar! Usianya sudah semakin tua tapi kelakuan masih saja seperti anak kecil! Mau ditaruh dimana mukaku jika dia terus begini?"


Pecah sudah amarah Nathan pagi ini. Setelah lulus kuliah, Nathan pikir jika Giga akan mau berubah dengan mau mengurus perusahaan, namun nyatanya semua masih pada tempatnya. Giga malah semakin menjadi dan suka bertindak sesuka hatinya.


Kemana perginya Giga yang bersemangat belajar itu? Nathan sendiri tak tahu apa jawabannya.


Nathan memutuskan untuk pergi ke kantor sendirian tanpa kehadiran Giga. Nathan sudah sangat bosan berdebat dengan putranya.


#


#


#


Tiba di gedung Avicenna, Nathan di sambut dengan hangat oleh para pegawainya dengan ramah. Harvey yang masih setia bekerja padanya, selalu menyambut kedatangan tuannya itu.


Nathan dan Harvey berjalan menuju ruangannya. Dalam perjalanan, Nathan bertemu dengan Karel yang juga baru berangkat ke kantor. Sejak lulus kuliah, Karel diminta Nathan untuk bekerja padanya agar bisa belajar mengelola bisnis dengan baik.


Namun tujuan Karel dan ibunya berubah haluan ketika melihat Giga yang seakan tak peduli dengan perusahaan. Karel di paksa oleh Mira untuk meraih ambisinya menjadi pewaris Avicenna Grup setelah Nathan.


"Karel, kau sudah berangkat, Nak?" sapa Nathan.


"Om Nathan!" Karel membalas sapaan Nathan ramah.


Nathan sangat bangga dengan Karel yang memiliki kemampuan luar biasa ketika menduduki posisi manajer seperti sekarang. Nathan menepuk pundak Karel dan bicara sedikit dengannya.


"Jika kau tidak sibuk, datanglah ke ruangan Om. Ada yang ingin Om bicarakan denganmu," ucap Nathan.


"Baik, Om."


Karel memberi hormat ketika Nathan kembali melanjutkan langkahnya. Karel memiringkan kepala seraya berpikir tentang apa yang akan Nathan bicarakan dengannya.


#


#


#


Karel mendatangi ruangan Nathan ketika pekerjaannya sudah selesai. Karel disambut dengan hangat oleh Nathan.


"Terima kasih kau sudah meluangkan waktumu."


Nathan terlihat serius. Mereka berdua duduk di sofa di ruangan Nathan.


"Begini, kau tahu kan Om dan tantemu sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk membujuk Giga agar mau kembali bekerja. Tapi hingga sekarang, usaha kami masih sia-sia saja," cerita Nathan.


Karel berusaha mendengarkan dengan seksama.


Karel terdiam. Dalam benaknya ia berkata, dimana menemukan orang yang seperti itu? Meski agak ragu, namun akhirnya Karel mengiyakan.


"Baiklah, Om. Aku akan membuka lowongan kerja untuk posisi itu. Om tenang saja. Aku sendiri yang akan menyeleksi para kandidatnya."


Nathan tersenyum sumringah. "Terima kasih banya, Nak. Om percaya padamu."


Karel berpamitan dan keluar dari ruangan Nathan.


#


#


#


"Asisten pribadi?" Mira tertawa menyeringai ketika mendengar cerita putranya mengenai permintaan Nathan.


"Bukankah sudah beberapa orang yang menempati posisi itu dan mereka tidak betah? Si pemalas itu tidak akan tiba-tiba jadi rajin meski memiliki asisten pribadi. Permintaan Nathan itu sangatlah konyol. Lalu, kau mau cari dimana orang yang tahan banting dengan sikap pemalasnya itu?" cibir Mira panjang lebar.


Sebenarnya Karel tak ingin bercerita tentang hal ini kepada ibunya. Namun ternyata ibunya memiliki mata-mata yang selalu mengawasi gerak-geriknya dan juga Nathan.


"Aku sendiri masih belum tahu, Ma. Tapi, aku yakin aku bisa menemukannya. Dan aku harus menemukannya," kekeh Karel.


Tiba-tiba saja Mira memiliki ide lain mengenai ini.


"Nak, bagaimana jika kita gunakan saja uang untuk mendapatkan orang seperti itu?"


"Maksud Mama?"


"Kita bayar orang itu dengan harga mahal dan jadikan dia sebagai mata-matamu."


Karel menggeleng. "Tidak. Aku harus benar-benar menemukan orang yang tepat, Ma. Bukan orang yang hanya ingin uang saja. Sudahlah, Mama tidak perlu khawatir. Aku yang akan mengurusnya."


Karel beranjak dari duduknya dan meninggalkan Mira.


"Karel! Karel, dengarkan Mama!"


Mira berdecak kesal karena Karel tak menggubris panggilannya.


Sementara itu di kediaman keluarga Avicenna. Nathan sedang makan malam bersama Sheila, Lian dan juga Giga. Nathan menyoroti tajam putranya yang masih santai menyuap makanannya.


"Dasar anak tidak tahu diri!" ucap Nathan memecah keheningan.


"Tuan Su! Ini di meja makan, jangan membuat keributan di depan makanan. Benar kan, Ma?" ucap Sheila menatap Lian meminta pembelaan.


"Benar. Jika kau ingin bicara dengan putramu. Maka lakukanlah usai makan malam berakhir," sahut Lian.


Nathan menghela napas kasar. "Baiklah. Ikut dengan ayah jika kau sudah selesai makan." Nathan mengelap mulutnya kemudian beranjak dari meja makan.


Lian dan Sheila saling melempar pandang. Mereka melirik Giga yang masih nampak santai menghabiskan makanannya.


"Benar, kau habiskan dulu makananmu. Lalu temui ayahmu. Jangan membuatnya semakin dikuasai amarah," timpal Lian yang sangat memanjakan Giga.


Giga hanya menyahut dengan anggukan kepala. Usai menghabiskan makan malamnya, Giga menemui Nathan di ruang kerjanya.


Pria 27 tahun itu tampak santai dengan setelah kaus berkerah dan celana pendek rumahan. Giga banyak berubah. Penampilannya yang dulu terlihat culun, kini berubah sangat kharismatik dan macho. Meski begitu ia tidak begitu mengikuti trend fashion masa kini. Ia hanya bergaya sesuai dengan kenyamanannya saja.


"Ada apa ayah memanggilku?" tanya Giga.


"Besok datanglah ke perusahaan. Rapat besar para pemegang saham sebentar lagi di gelar. Kau adalah salah satu manajer disana, jadi kau harus datang." Nathan berusaha meredam emosinya seperti anjuran Sheila.


"Baiklah. Aku akan datang," jawab Giga singkat.


Nathan membulatkan mata. Ia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Untuk pertama kalinya Giga menjawab tanpa banyak penolakan.


"Kau boleh kembali ke kamarmu. Selamat malam, Nak."


"Selamat malam, Ayah."


Giga berlalu dari ruang kerja Nathan dan menyisakan sebuah senyum yang terukir di bibir sang ayah.


"Semoga ini menjadi awal yang baik untukmu, Nak," batin Nathan.


#bersambung