
Sheila terbangun dari tidur lelapnya. Setelah kemarin banyak hal yang terjadi antara dirinya dan Nathan, hari ini Sheila bangun dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Ia meregangkan otot-ototnya dengan mengangkat tangan ke atas. Bunyi dari perutnya membuat Sheila ingin bergegas turun ke meja makan tanpa membasuh muka terlebih dulu.
Ini adalah kebiasaan Sheila yang masih belum hilang ketika berada di rumah. Mungkin beberapa anak perawan juga terbiasa dengan berperilaku seperti ini ya, hehe.
Sheila menuruni anak tangga dengan menggaruk kepalanya dan mulut yang terbuka karena menguap.
"Ma!" teriak Sheila.
"Ma, aku lapar! Hmm, baunya harum banget! Pasti Bu Siti masak nasi goreng ya!"
Sheila tiba di meja makan dengan masih mengucek matanya.
"Kamu sudah bangun, Shei?" tanya Sandra. "Kebiasaan deh, belum cuci muka udah turun buat sarapan!"
"Abisnya aku lapar, Ma!"
Ketika langkah kakinya hampir sampai di meja makan, mata Sheioa membelalak sempurna. Ia melihat sosok sang kekasih yang kini sedang menatapnya.
"Aaaaaaa! Mama kok gak bilang ada dia disini?"
Sheila berbalik badan dan segera berlari kembali ke kamarnya. Nathan yang melihat Sheila berlari segera mengejarnya.
"Shei! Sheila!" panggil Nathan.
Sheila masuk kedalam kamar dan naik ke tempat tidur. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Shei! Sayang..." panggil Nathan lembut.
"Kamu ngapain ada di rumah aku?"
"Semalam karena hari sudah terlalu larut makanya Om Adi memintaku untuk menginap saja disini."
"Kenapa gak ada yang bilang kalo kamu ada disini? Aku kan malu ..." ucap Sheila masih didalam selimut.
Nathan terkekeh geli.
"Tuh kan! Kamu pasti ngetawain aku ya? Kamu pasti illfeel ya lihat aku baru bangun tidur!"
"Sayang, tidak begitu. Dengarkan aku dulu..." Nathan berusaha menyibak selimut Sheila.
Terlihat kepala Sheila muncul dari balik selimut.
"Aku suka kamu apa adanya, Sheila. Percayalah!"
Sheila tersipu malu.
"Bukankah sebagai pasangan kita harus menerima kekurangan satu sama lain?" ucap Nathan yang akhirnya membuat Sheila membuka selimutnya.
Sheila tersenyum. Nathan mengacak rambut Sheila.
"Kamu tetap cantik kok meski belum mandi."
"Dih, gombal! Mana ada!" Sheila akan memukul lengan Nathan namun ia ingat dengan luka sayatan kemarin.
"Bagaimana dengan lukamu?"
"Tidak apa. Bukankah sudah diobati oleh dokter cinta Sheila."
"Iih kamu apaan sih? Sejak kapan gumpalan es pintar menggombal?"
"Sejak Nona Sheila jadi kekasihku!"
Sheila tertawa lepas. Entah kenapa hari ini ia sangat senang.
"Kamu lapar kan? Bagaimana kalau kita sarapan di balkon kamar kamu saja?" usul Nathan.
"Hmm? Boleh! Ide yang bagus," jawab Sheila meringis.
Usai sarapan bersama, Nathan berpamitan dengan Sheila dan juga kedua orang tuanya. Ia mendapat pesan dari Harvey jika di kantor sudah banyak wartawan yang menunggu. Ia sengaja tidak memberitahu Sheila soal ini karena takut ia akan sedih.
Untuk sementara Nathan akan menyelesaikan semuanya dulu hingga tuntas.
"Shei, apapun yang terjadi, kumohon percayalah padaku!" ucap Nathan dengan memegangi kedua bahu Sheila.
"Iya, aku percaya padamu."
Nathan mengecup singkat kening Sheila sebelum masuk kedalam mobil. Sheila memegangi dadanya melihat kepergian mobil Nathan.
"Tuhan, tolong jaga dia untukku!" batin Sheila.
...💟💟💟...
Nathan tiba di gedung Avicenna Grup dan di hadang oleh para pencari berita yang sudah menunggu klarifikasi darinya. Nathan melewati kerumunan itu dan bertemu Harvey.
"Tuan Nathan!" sapa Harvey.
"Tuan David menunggu Anda di ruang rapat. Sepertinya ada yang harus beliau bicarakan dengan Anda. Ini terkait skandal Anda dengan nona Marina," jelas Harvey.
"Iya, aku tahu. Aku akan menemuinya." Nathan mengatur napasnya kemudian berjalan cepat menuju ruang rapat.
Usai berbincang dengan David Hoffman, Nathan memutuskan untuk menemui para wartawan bersama dengan pria paruh baya itu. Mereka menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari masalah antara Nathan dan Marina.
Di rumahnya, Sheila juga sedang menonton berita di televisi tentang konferensi pers Nathan bersama David. Kini ia paham kenapa Nathan memintanya untuk percaya pada pria itu.
Sandra memeluk bahu Sheila untuk menguatkan hati putrinya.
"Menjadi pendamping orang hebat seperti Nak Nathan adalah suatu kebanggaan tersendiri. Kamu harus kuat dan memberi kepercayaan penuh padanya. Kalian harus saling menguatkan karena musuh-musuh dalam berbisnis itu sangat banyak. Kamu bisa mengerti itu, Nak?" nasihat Adi Jaya pada Sheila.
"Iya, Pa. Sheila mengerti." Sheila menatap layar televisi yang menampilkan Nathan disana. Matanya berkaca-kaca memikirkan apa yang akan terjadi nanti dengan hubungan mereka. Ujian apa lagi yang akan menimpa hubungan mereka yang baru seumur jagung ini.
...💟💟💟...
Malam harinya Sheila datang ke apartemen Nathan. Ia sengaja ingin menemui kekasihnya itu. Ia menunggu di depan kamar apartemen Nathan.
Sedikit bosan akhirnya Sheila berjalan mondar mandir di depan kamar itu. Ia melirik jam tangannya.
"Mungkin dia terjebak macet," gumam Sheila. Ia sengaja tidak mengabari Nathan karena ingin memberikan kejutan untuk pria itu.
Suara tombol lift membuat Sheila menoleh dan menunggu sosok yang keluar dari dalam sana. Dan benar saja, sosok yang di tunggunya benar-benar keluar dari dalam lift.
"Sheila?" Nathan terkejut dengan kemunculan Sheila di depan kamar apartemennya.
"Hai, kamu sudah datang?" sapa Sheila.
Nathan tersenyum menatap kekasihnya. Dibalas senyuman juga oleh Sheila. Sejenak mereka saling menatap kemudian tangan mereka terulur dan memeluk erat.
"Semuanya sudah selesai. Terima kasih karena sudah percaya padaku," ucap Nathan.
Sheila mengangguk dalam dekapan Nathan. "Melegakan sekali!" gumammya.
Sheila mendongak dan menatap wajah kekasihnya. Mereka sama-sama tersenyum dengan penuh perasaan lega.
Usai drama berpelukan di depan kamar, kini Sheila sedang memasak untuk makan malam mereka berdua. Nathan juga ikut membantu untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka masak.
Mata Sheila tiba-tiba tertuju pada kotak makan yang ada di rak piring. Itu adalah kotak makan miliknya. Tapi seingatnya, ia memberikan kotak makan itu pada Harvey.
"Nate, itu..." ucap Sheila sambil menunjuk kotak makan yang ada di rak piring.
"Ooh, itu? Kenapa dengan kotak makannya?" tanya Nathan yang masih mengiris sayuran.
"Bukankah harusnya kotak makan itu ada di Harvey? Kok bisa ada disini?"
Nathan meletakkan pisau dan menatap Sheila.
"Kamu pikir aku akan biarkan Harvey makan masakan buatanmu, hmm?" Nathan berkacak pinggang.
Sheila terkekeh. "Jadi, kamu memakannya?"
"Tentu saja! Kalau bukan aku siapa lagi yang makan? Kucing?"
Sheila tertawa sambil mengarahkan sutil kearah Nathan. "Dasar kau! Jika kamu memakannya kenapa bikin aku kesal dulu sih? Kamu malah pergi dengan Marina!" Sheila kesal jika mengingat tentang hari itu.
"Sayang, aku kan sudah minta maaf." Nathan menunjukkan wajah memelasnya.
"Ish, dasar! Apa semua pria itu sama? Mudah sekali melakukan kesalahan dan mudah juga mengucap maaf!" sungut Sheila.
"Tidak! Aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi!" ucap Nathan sambil memeluk Sheila dari belakang.
"Tidak perlu berjanji. Karena saat mulut bicara, hati bisa saja mengingkari. Aku hanya butuh bukti." Sheila menoleh ke kanan dan wajah mereka bertemu.
"Aku ingin apapun yang terjadi, kamu tetap percaya padaku. Aku tidak butuh orang lain untuk percaya padaku. Aku hanya butuh satu orang yang percaya padaku, yaitu kamu..."
Sheila melepaskan tangan Nathan. Ia berdiri berhadapan dengan Nathan.
"Apa ini juga tentang Celia?" tanya Sheila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tolong percaya padaku!" ucap Nathan dengan penuh harap.
"Iya, aku percaya padamu. Jadi, tolong jaga kepercayaan yang kuberikan padamu."
Nathan mengangguk. Ia membawa Sheila dalam dekapannya.
"Terima kasih, sayangku..."
#bersambung...
Setelah ini part nya banyak romantis uwu2 ala Nathan dan Sheila. Yang jomblo harap bersabar, semoga setelah ini dapat jodoh ya, hehehe