
Sheila tiba di apartemen Nathan sudah hampir pukul sebelas malam. Ia segera menuju ke kamar tidur karena pasti suaminya ada disana.
Dan benar saja, Sheila melihat Nathan sudah berada di tempat tidur dengan memangku laptopnya. Matanya masih terjaga untuk mengecek beberapa pekerjaan.
"Tuan Su, maaf aku pulang terlambat," ucap Sheila sambil menghampiri Nathan.
Pria itu sejenak mengalihkan pandangannya pada sang istri.
"Tidak apa. Aku tahu kau pasti mulai sibuk. Sekarang bersihkan dirimu lalu beristirahatlah!" balas Nathan.
"Terima kasih, Tuan Su!" Sheila mengecup singkat pipi Nathan kemudian langsung berlari ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Sheila keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai piyamanya.
"Kamu sudah makan?" tanya Nathan.
"Sudah. Kamu?" tanya Sheila balik.
"Sudah. Kemarilah!" Nathan menepuk tempat di sampingnya.
Sheila naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar seperti yang dilakukan Nathan.
"Ehm, apa itu adalah proyek bersama Rizka?" tanya Sheila.
"Iya. Sisa satu minggu lagi untuk menyelesaikannya. Setelah itu aku tinggal mengawasi pembangunan selanjutnya saja."
Sheila manggut-manggut. Karena sudah terlalu lelah, Sheila pun memposisikan diri bersiap menuju alam mimpi.
"Tuan Su, kamu juga harus istirahat. Aku tahu kamu pasti lelah."
"Iya, sayang. Sebentar lagi. Oh ya, tadi siang Rizka menitipkan sesuatu untukmu."
Sheila yang ingin terpejam kembali bangun. "Menitipkan apa?" Ia terlihat antusias.
Nathan mengambil paper bag yang ada diatas nakas.
"Ini! Bukalah!"
Sheila melihat paper bag bertuliskan 'eRHa Cosmetics'. Mata Sheila berbinar senang.
"Wah, benarkah dia memberikanku ini, Tuan Su? Ini kan parfum edisi terbatas!" Sheila langsung menciumi aroma botol parfum yang mahal itu.
Nathan menggeleng pelan dengan tingkah istrinya.
"Tapi tunggu! Untuk apa dia memberiku ini?" Sheila memicingkan matanya.
"Jangan-jangan karena ada maunya ya?" lanjutnya.
Nathan menatap Sheila. "Bukan hanya kamu yang dikasih, sayang. Tapi aku, Tarjo dan juga Harvey. Ya meski harus sedikit dipaksa."
Sheila merengut.
"Tuan Su, bisakah kamu berhenti jadi Tarjo? Semakin kamu menyamar semakin aku merasa was was."
Nathan menghela napas. "Iya, sayang. Sebentar lagi perjanjian berakhir. Jangan cemas ya!"
Sheila memeluk Nathan. "Terima kasih, Tuan Su. Aku tidak mau hubungan kita terus-terusan di datangi orang ketiga."
Nathan terkekeh. "Tidak akan ada orang ketiga, sayang. Kamu percaya kan sama aku?"
Sheila mengangguk dalam dekapan Nathan. "Aku percaya padamu tapi aku tidak percaya pada perempuan-perempuan diluar sana."
Nathan membelai puncak kepala Sheila. "Percaya saja padaku! Tidak perlu memikirkan hal lain."
#
#
#
Keesokan harinya, Nathan masih menjadi Tarjo untuk mengurus proyek bersama Rizka. Pagi itu Nathan datang sedikit terlambat karena ada sedikit drama dengan Sheila.
Sheila memintanya untuk mengembalikan barang pemberian Rizka. Namun Nathan menolak dengan alasan tidak enak hati karena dirinya yang memaksa Rizka untuk memberi hadiah pada semuanya dan tidak hanya pada Nathan. Tapi istrinya itu masih tetap bersikukuh.
Alhasil, dari pada terjadi perdebatan yang terus berlanjut, Nathan mengiyakan permintaan Sheila. Tiga botol parfum ditambah dengan milik Harvey, harus dikembalikan kepada Rizka.
Sebenarnya Harvey agak keberatan karena kapan lagi dirinya bisa memakai wewangian semahal itu, tapi karena permintaan Nathan mau tak mau Harvey menurut dengan catatan diganti dengan yang sama mahalnya, haha, pintar juga si Harvey.
Tiba di ruangannya, Nathan alias Tarjo dikejutkan dengan kehadiran Rizka yang sedang duduk di sofa. Matanya membulat sempurna melihat Rizka yang sedang menangis.
"Mas Tarjo!" seru Rizka kemudian berlari dan memeluk Tarjo.
Tentu saja pria itu terkejut bukan main.
"Nona Rizka, ada apa ini? Tolong lepaskan saya! Bagaimana kalau ada yang melihat?" ucap Tarjo berusaha menolak.
"Maaf..." Rizka melepaskan pelukannya.
Rizka menghapus air matanya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa pagi-pagi sekali sudah datang kemari?" tanya Tarjo yang merasa ada yang aneh dengan Rizka.
"Jadi, ini bukan soal pekerjaan?" tanya Tarjo.
Rizka menggeleng. Tarjo berpikir sejenak. Sebenarnya ia ingin menolak. Tapi melihat Rizka menangis begitu, ia jadi tidak tega. Tarjo memang paling tidak bisa jika melihat wanita menangis.
"Baiklah, kita duduk dulu!" putus Tarjo kemudian.
Akhirnya Rizka menceritakan semua masalahnya bersama sang ayah, lalu rencana perjodohan yang diatur ayahnya.
Dalam hati Tarjo berkata, jika dirinya dan Sheila juga dijodohkan. Sempat sama-sama menolak namun akhirnya sama-sama jatuh cinta dan menikah.
"Aku tidak menyukai pernikahan bisnis! Aku ingin menikahi pria yang aku sukai!" ucap Rizka di akhir ceritanya.
Bagi Nathan, pernikahannya dan Sheila juga pernikahan bisnis untuk memperkuat jaringan. Tapi semua takdir memang sudah digariskan. Dan jika kita menerimanya dengan ikhlas, pasti akan ada akhir yang indah nantinya.
"Mas Tarjo, bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Rizka.
"Eh? Bantuan? Bantuan apa?" Tarjo bingung.
"Tolong berpura-puralah menjadi kekasihku dan bicara dengan ayahku!"
"Heh?!" Tarjo terlonjak kaget.
"Kumohon! Tolonglah!" Rizka mengatupkan kedua tangannya.
Tarjo berpikir sejenak. Ia harus bijak dalam hal ini. Ada hati Sheila yang harus ia jaga.
"Nona Rizka, saya rasa itu bukan ide yang bagus. Untuk apa membohongi ayah Nona Rizka jika akhirnya akan ketahuan berbohong? Sebaiknya Nona Rizka mencoba berbesar hati menerima keputusan ayah Nona."
Rizka menggeleng.
"Nona Rizka menyukai tuan Nathan?"
Rizka mengangguk. "Dia adalah semangatku disaat aku tidak memiliki siapapun dalam hidupku."
Tarjo menghela napas. Ia sendiri tidak mengira akan dijadikan sebagai alat motivasi bagi orang lain.
"Nona Rizka, tuan Nathan sudah menikah. Dan dia sangat mencintai istrinya. Jika Nona Rizka hanya menjadikan beliau sebagai penyemangat hidup, maka lakukanlah. Tapi jangan meminta lebih. Nona Rizka adalah wanita terhormat, apa tega melakukan hal seperti ini terhadap wanita lain. Lalu bagaimana jika Nona Rizka berada di posisi istri tuan Nathan? Apa Nona rela jika hubungan Nona diganggu oleh orang lain?"
Rizka terdiam.
"Sebelumnya saya minta maaf. Saya harus mengembalikan semua barang pemberian Nona Rizka kemarin. Tuan Nathan dan istrinya kurang setuju dengan hal-hal seperti ini. Jadi, ini kami kembalikan semuanya. Sekali lagi saya mohon maaf!"
Rizka menatap Tarjo lalu tersenyum.
"Terima kasih, Mas Tarjo. Aku merasa lega setelah bicara denganmu. Jujur, aku tidak memiliki banyak teman. Kecuali para karyawanku."
Rizka menerima paper bag dari Tarjo.
"Ternyata kepolosanmu sudah menyadarkan aku. Baiklah! Aku akan mengurus semuanya sendiri. Masalah perjodohanku, aku sudah punya rencana sendiri untuk mengatasinya. Terima kasih atas waktumu!"
Rizka beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dari ruangan Nathan.
#
#
#
Di kursi kebesarannya, seorang pria muda sedang duduk tidak tenang. Sudah hampir waktunya jam istirahat namun dirinya hanya memandangi layar ponselnya yang masih menghitam.
Pria muda itu menunggu panggilan dari seseorang yang ditemuinya semalam. Siapa lagi kalau bukan Damian Ford. Ia sangat menantikan panggilan dari wanita yang ditemuinya semalam.
Bahkan ia memundurkan rapat hanya untuk menunggu panggilan sang gadis yang memikat hatinya.
"Kenapa belum menghubungi juga? Dia bilang akan menghubungiku?" gumam Damian mulai frustasi.
Hingga suara pintu di ketuk dan munculah sang asisten dari balik pintu.
"Tuan, ada seorang wanita yang mencari Tuan," ucap Josh, asisten Damian.
"Hah?! Benarkah? Seperti apa wanita itu?" tanya Damian antusias.
"Ehm, Tuan meminta saya untuk menggambarkannya?"
Damian mengangguk cepat.
"Ehm, dia berpostur tinggi, langsing, dan wajahnya cantik."
"Pasti dia!" gumam Damian senang.
"Tuan, kenapa tidak langsung menemuinya saja?" tanya Josh heran.
"Ah, benar juga ya! Dimana dia sekarang?"
"Dia ada di ruang tunggu, Tuan."
"Baiklah! Aku akan segera kesana!" Damian segera melenggang pergi tanpa menghiraukan kalimat Josh selanjutnya.
#bersambung