
Hari ini Nathan dan Rizka meninjau kembali gedung Grup HG yang sudah berdiri kokoh. Rizka tersenyum puas dengan hasil kerja Nathan.
Sebenarnya untuk hal seperti ini, perusahaan Radit pun bisa mengerjakannya. Tapi karena kemarin ego Rizka menginginkan Nathan yang mengerjakan proyek ini, alhasil inilah yang ia dapat.
"Aku suka dengan hasil kerjamu, Nate," puji Rizka.
"Jadi, kapan kau akan melakukan peresmiannya?" tanya Nathan.
"Emh, kapan ya? Mungkin minggu depan. Aku harus memiliki persiapan yang bagus kan?"
"Kau bisa meminta Damian untuk mengerjakan proyek iklannya."
Rizka mendelik. "Kau mengejekku? Untuk apa kau memintaku bekerjasama dengan pria itu?"
"Dalam bisnis kesampingkan dulu egomu, Rizka. Kita tidak tahu apakah dia bisa jadi teman atau lawan."
Rizka mengangguk paham. Ia rasa apa yang dikatakan Nathan ada benarnya juga.
Saat sedang berbincang, ponsel Rizka berdering. Sebuah panggilan dari kakak iparnya, Nadine. Rizka sempat mengernyit bingung. Pasalnya istri Radit itu memang jarang menghubunginya atau bahkan tidak pernah. Mereka hanya bicara seperlunya saja selama ini.
"Nate, aku harus pergi. Sekali lagi terima kasih ya. Semoga di lain kesempatan kita bisa bekerja sama lagi." Rizka mengulurkan tangannya dan disambut oleh Nathan.
"Aku juga berterimakasih karena mempercayakan kami untuk menangani proyek ini."
"Sampai jumpa lagi, Nate."
Rizka mulai menghilang dari pandangan Nathan. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman gedung.
Rizka segera tancap gas ke tempat yang diminta oleh Nadine.
"Hah! Sebenarnya apa maunya kak Nadine? Untuk apa memintaku datang ke sebuah kafe?" gumam Rizka.
Tiga puluh menit berkendara akhirnya Rizka tiba di sebuah kafe yang tidak terlalu besar namun terkesan nyaman. Rizka turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kafe.
Rizka celingukan mencari sosok kakak iparnya itu.
"Rizka! Sini!" seru Nadine sambil melambaikan tangan.
Rizka berjalan menghampiri meja Nadine dan dua orang wanita yang tidak dikenal Rizka. Ketika Rizka tiba di meja itu, matanya membola karena melihat sosok yang ia kenali.
"Sheila?" gumam Rizka.
Reaksi terkejut juga ditunjukkan oleh Sheila. Ia tak menyangka jika Cecilia memintanya datang hanya untuk mempertemukannya dengan Rizka.
Kini kesunyian mulai melanda. Sheila yang diam, begitu juga dengan Rizka.
"Nah, kalian pasti sudah saling kenal, bukan?" ucap Nadine untuk mengusir kecanggungan.
"Shei, kau sudah kenal Rizka, bukan?" tanya Nadine.
"Emh, aku hanya mengenal sekilas saja, Kak. Mungkin Nathan yang mengenal dekat sosok Rizka," timpal Sheila sedikit canggung.
"Maaf ya Shei, Rizka. Kami mempertemukan kalian berdua disini bukan karena ada maksud apa-apa. Kami hanya ingin kalian bisa berdamai." Kini suara halus milik Cecilia mulai ikut masuk dalam obrolan.
"Berdamai?" jawab Sheila dan Rizka kompak.
"Aku tahu kalian memang tidak mengenal secara dekat, tapi mengingat apa yang terjadi beberapa waktu lalu, aku rasa kalian bisa mencoba untuk saling terbuka dan berkenalan," lanjut Cecilia.
Sheila dan Rizka saling pandang. Ya, secara teknis Sheila tidak mengenal Rizka. Ia hanya tahu jika gadis ini pernah mendekati suaminya. Dan itu membuat Nathan harus menyamar lagi menjadi Tarjo. Jika mengingat soal itu rasanya...Sheila ingin marah.
"Maaf..."
Sebuah kata terlontar dari bibir Rizka.
"Eh?" Sheila bingung karena Rizka tiba-tiba meminta maaf.
"Kita belum berkenalan dengan benar. Aku harap kau mau memaafkan kesalahanku di masa lampau." Rizka mengulurkan tangannya.
Sheila melirik Cecilia dan Nadine bergantian. Cecilia mengangguk sebagai tanda jika Sheila harus menerima permintaan maaf Rizka.
"Baiklah. Aku sudah memaafkanmu. Tapi, jangan harap kau dapat maaf dariku jika melakukan kesalahan lagi," ucap Sheila yang bernada gurauan namun juga tegas. Ia menyambut uluran tangan Rizka. Kemudian mereka berempat tertawa bersama.
...***...
Hari ini adalah hari peresmian pembukaan gedung Grup HG yang baru. Semua kolega bisnis baik dari Rizka maupun ayahnya turut hadir dalam acara pembukaan akbar ini.
Rizka memotong pita sebagai simbol dibukanya gedung baru itu. Rizka memberikan sedikit pidatonya kepada para tamu undangan yang hadir. Beberapa wartawan juga datang untuk meliput acara malam hari ini.
Ford Company dan More Trans turut hadir juga disana. Sepertinya mereka akan bersaing untuk bisa mendapatkan kontrak kerjasama dengan Rizka.
Edo mendekati Damian yang sedang berdiri mendengarkan pidato Rizka.
"Ehem! Dia lumayan juga. Kenapa dulu kau menolak dijodohkan dengannya?" tanya Edo dengan berbisik.
"Bukan urusanmu! Kalau kau mau, kau bisa mendekatinya," balas Damian datar.
"Oh ya? Kau yakin? Kalau begitu aku akan mendapatkan hatinya dan juga ... kontrak kerjasama dengannya," sahut Edo lagi lalu meninggalkan Damian.
"Sudahlah, Tuan. Sampai kapan kalian akan terus bersaing begini? Apa dalam hal cinta kalian juga akan menjadi saingan?" ucap Josh yang melihat kekesalan di wajah Damian.
Damian terhenyak dengan pertanyaan Josh. Ia mengingat kembali ketika dirinya memergoki Edo yang bersama Vania. Saat itu Edo seperti sedang menyamar sebagai abang ojol. Apakah Edo akan senekat itu untuk mencari cinta? Begitulah pemikiran Damian.
"Vania? Kenapa nama itu tiba-tiba mengusik pikiranku?" batin Damian.
Hingga Damian tak sadar jika sebuah tangan telah melingkar di lengannya.
"Apa yang kau pikirkan, Dam?"
Suara sensual itu membuyarkan lamunan Damian.
"Sitta? Kau datang?" tanya Damian kaget. Ia berusaha melepas tangan Sitta yang bergelayut manja di lengannya, namun Sitta menahannya.
"Biarkan saja, Dam. Lagipula ini di depan umum. Apa kau ingin menunjukkan sisi aslimu?"
Damian menggeram kesal. Sepertinya Sitta mulai tahu siapa Damian sebenarnya.
"Tetaplah tunjukkan sisi ramahmu, Dam," ucap Sitta dengan meraih rahang Damian agar menoleh kearahnya.
Dengan sangat terpaksa Damian tersenyum.
"Bagus! Kau adalah Damian yang penurut!" Sitta terkekeh geli lalu menyandarkan kepalanya di bahu Damian.
"Aku harus menyapa tamu yang lain!" ucap Damian untuk menghindari Sitta.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu. Kemanapun kau pergi, aku akan mengikutimu, Damian."
Tak ingin berdebat, Damian pun membiarkan Sitta mengikutinya. Damian menyapa beberapa kolega bisnisnya.
Hingga langkah mereka terhenti pada pasangan yang sedang hangat-hangatnya di perbincangkan. Siapa lagi jika bukan Nathan dan Sheila.
Nathan bersalaman dengan Damian. Sementara Sheila menatap aneh kearah Sitta.
"Sejak kapan Sitta dekat dengan Damian?" batin Sheila.
"Hai, Sheila. Aku tidak menyangka jika kalian akhirnya mengumumkan pernikahan kalian. Apa ada masalah ya hingga kalian harus melakukan itu?"
Pertanyaan Sitta sungguh membuat Sheila marah, begitu juga dengan Nathan. Tapi mereka tak ingin berdebat di pesta orang lain. Pasti akan sangat memalukan.
"Sitta, ayo kita pergi!" Damian yang menyadari jika Sitta sudah merusak suasana, segera membawanya pergi.
Ya, meski hatinya masih belum baik-baik saja karena Sheila. Tapi ia bukan tipe orang yang suka melihat kesemena-menaan di depan matanya.
"Astaga! Gadis itu!" sungut Sheila kesal.
"Sudahlah, Shei. Dia bukan gadis baik seperti dulu. Dia sangat licik sekarang. Dia bahkan memfitnah Edo agar bisa lepas kontrak dari perusahaanku."
"Apa?! Tuan Su! Kau tidak bisa membiarkan ini!"
"Sudahlah! Buang tenaga saja jika mengurusi orang seperti dia. Dia tidak jauh berbeda dengan Marina."
"Apa?! Itu berarti kita harus menjauhkan dia dari Damian. Kasihan kan!"
Nathan mendelik. "Jadi kau peduli pada Damian?"
Ternyata Nathan menunjukkan rasa cemburunya.
"Bu-bukan begitu, Tuan Su! Aku hanya..."
"Oke! Kau akan mendapat hukuman malam ini!" ucap Nathan dengan senyum seringainya.
"Ish, kau!" Sheila mengerucutkan bibirnya.
Hal itu membuat Nathan gemas dan membawa Sheila menjauh dari keramaian. Dia akan sedikit bermain dengan Sheila disini, haha.
#bersambung
*Wah wah, Sitta benar2 ya. Tapi kagak seru ya kalo kagak ada orang yg kayak Sitta 😅😅
biarlah kita saksikan apa saja kegilaan Sitta setelah ini. Apakah akan seperti Marina? We'll see
*Jangan lupa dukungannya ya genks 😘😘
*besok makthor akan crazy UP, stay tuned ya 😎😎😎