
Suara deburan ombak memenuhi indera pendengaran Sheila. Suasana tenang khas tepi pantai membuatnya hanyut dalam lamunan yang tak kunjung usai.
Entah kapan ia bisa merasai hal seperti ini lagi. Nikmat Tuhan yang kadang tidak kita syukuri. Bernapas dengan lega tanpa beban apapun.
Yakin tanpa beban? Disini ia ingin melepaskan bebannya. Semakin lama mencoba bahkan semua terasa berat.
Sudah dua hari Sheila berada disini. Jauh dari hingar bingar kota yang menyesakkan. Juga pekerjaan yang banyak menyita waktu.
Sheila memejamkan mata menikmati sentuhan angin laut menerpa wajahnya. Rambut panjangnya tergerai indah bergerak mengikuti kemana angin membawanya.
"Shei!"
Suara Naina membuyarkan semua suasana syahdu petang ini.
"Sudah mulai gelap, ayo masuk!" ucap Naina.
Sheila mengangguk dan ikut masuk ke dalam kamar yang mereka sewa. Naina melihat Sheila yang sepertinya masih belum bisa melupakan masalahnya dengan Nathan.
Sejak datang kesini, Sheila memang terlihat bahagia dan bergembira dengan bermain ombak. Tapi Naina tahu, dalam hatinya Sheila masih merasa sedih dengan kisah cintanya yang tiba-tiba karam.
"Shei..."
"Hmm?"
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Naina dengan hati-hati. Ia takut jika pertanyaannya akan menyakiti hati Sheila.
"Sudah lebih baik, Na. Terima kasih karena sudah mengajakku berlibur."
Naina tersenyum. "Syukurlah, Shei."
"Apa Kak Rangga sudah menceritakan semuanya padamu?"
"Eh?" Naina tertegun.
Sejak awal Sheila memang merasa aneh dengan semua kejutan yang didapatnya beberapa hari ini. Ditambah lagi Naina tiba-tiba datang dan mengajaknya berlibur. Tentu saja ini membuat Sheila bertanya-tanya.
Ini semua pasti ada hubungannya dengan kedua orang tua dan kakaknya.
"Shei, jangan marah!" Naina memegangi kedua tangan Sheila seraya memohon.
Sheila tersenyum. "Tidak! Aku tidak marah. Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa setelah semua ini terjadi. Tapi ternyata kak Rangga punya ide ini denganmu. Aku cukup berterimakasih, Na."
"Umm, Shei. Ada yang ingin kutanyakan. Tapi aku mohon kamu jangan marah."
Sheila menatap Naina.
"Sebenarnya siapa yang lebih kamu suka? Nathan atau si culun itu?"
Sheila tertawa. Sungguh ini bukanlah reaksi yang diprediksi oleh Naina.
"Shei, are you okay?" tanya Naina bingung karena Sheila terus tertawa. Dalam hati ia juga bersyukur karena Sheila sudah bisa tertawa.
"Hahaha, maaf, Na. Habisnya pertanyaanmu sangatlah lucu!"
Naina mencebikkan bibirnya.
"Baik Nathan maupun Tarjo dia adalah orang yang sama, Na. Jadi ya..." Sheila bingung dengan lanjutan kalimatnya.
"Jadi kamu mencintai Nathan? Begitukah?" asumsi Naina.
Sheila terdiam. Ia sendiri masih bimbang dengan perasaannya sendiri. Dulu memang Sheila lebih berat kepada Tarjo. Tapi sekarang, ia menghadapi kenyataan jika Tarjo adalah Nathan.
"Shei... Menurutku jika kamu memang memiliki rasa pada tuan Nathan, kenapa kamu malah mengakhiri hubungan kalian? Harusnya kamu dengar dulu alasan yang ingin dia katakan. Aku tahu apa yang dia lakukan itu salah. Setidaknya kini ia berani mengakui itu, meski itu menyakitkan untuk kalian berdua."
Sheila masih diam.
"Dan yang terpenting..." Naina melanjutkan nasihatnya. Sahabat Sheila ini selalu bersikap bijak dalam menghadapi masalah.
"Baik Nathan maupun Tarjo, mereka berdua sama-sama mencintaimu..."
Sheila menerawang jauh. Kenangan saat dirinya bersama dengan Tarjo dan Nathan kembali menyeruak. Ia memejamkan matanya.
"Tapi tetap saja dia sudah menipuku, Na! Dengan mengujiku seperti ini apa yang dia dapatkan?" Emosi Sheila mulai menguar.
"Dengan begini dia menemukan cinta sejatinya, Shei!" tegas Naina.
Sheila memilih keluar dari kamar. Ia berjalan menyusuri pantai dengan air mata yang kembali mengalir. Ia pikir sudah cukup kemarin ia menangis. Tapi ternyata kini ia kembali menangis saat mengingat kebersamaan mereka. Tarjo yang lugu dan Nathan yang hangat. Setidaknya Sheila kini tahu jika dirinya tidak berkhianat.
Langkah Sheila terhenti kala melihat seseorang di hadapannya. Orang yang sudah memberinya sebuah cinta dan juga luka secara bersamaan.
"Shei..." sapa Nathan.
"Shei... Bisa kita bicara?" ucap Nathan lirih. Pria itu juga sama sedihnya dengan Sheila.
Sheila diam. Sungguh ia tak ingin mengatakan apapun lagi. Hanya air mata yang kini menghiasi wajah cantiknya.
"Maaf..." Hanya itu yang bisa terucap.
"Aku sudah memaafkanmu," balas Sheila dengan memalingkan wajahnya.
"Benarkah?"
Sheila mengerjapkan matanya. "Apa ada lagi yang ingin kamu bicarakan?"
"Aku tahu aku salah. Aku ... membuatmu jatuh cinta dengan sosok yang kubuat. Aku tidak pernah bermaksud ingin memainkan hatimu, Shei. Percayalah!"
Sheila masih diam.
"Asal kau tahu, semua hal yang kita lewati, semua cinta dan perhatian yang diberikan oleh Tarjo maupun Nathan, itu adalah gambaran perasaanku untukmu, Shei. Aku benar-benar mencintaimu. Dari semua kebohongan yang aku lakukan, hanya satu yang benar, yaitu cintaku. Dan aku tahu jika kau juga merasakan hal yang sama denganku."
Nathan berusaha meraih tubuh Sheila. Namun gadis itu menghindarinya. Ia menggeleng pelan. Ia tak ingin lemah sekarang.
Jujur hatinya juga memanggil nama Nathan. Dan ia sangat merindukan pria ini. Tapi sekali lagi, egonya harus tetap berjalan.
Sheila berjalan mundur menghindari Nathan. Ia menatap pria itu dengan mata yang penuh air mata.
"Bisakah kau melepaskanku?" ucap Sheila.
"Untuk saat ini aku ... aku hanya ingin menenangkan diri. Aku ingin kita saling mengoreksi diri kita sendiri," putus Sheila.
"Ini semua sangat membuatku bingung, Nate. Jadi tolong mengertilah!"
Nathan terdiam. Ia harus bisa menerima keputusan Sheila.
"Jangan menemuiku lagi, Nate..." Sheila berjalan menjauh dari Nathan.
Nathan ingin mengejar Sheila, namun dihentikan oleh Naina.
"Biarkan dia sendiri dulu, Tuan."
Nathan pasrah. Ia melihat gadisnya masuk ke dalam kamar. Setidaknya Nathan sudah berjuang. Biarlah semesta yang menentukan apakah mereka memang layak untuk bersama atau tidak.
...💟💟💟...
Dua orang gadis sedang menikmati malam mereka di sebuah klub malam. Mereka meliukkan tubuhnya diatas lantai dansa. Dentuman musik yang nge-beat membuat tubuh mereka semakin semangat untuk terus bergerak.
Dari kejauhan sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Sosok itu menggeleng pelan melihat kedua gadis itu terlihat senang dengan tawa yang terus menghiasi wajah mereka.
Setelah lama berjoget di lantai dansa, kedua gadis itu duduk di meja VIP yang sudah mereka pesan sebelumnya. Mereka memesan minuman. Rasa haus mulai menghinggapi setelah lelah menari.
Sosok yang sedari tadi memperhatikan mereka kini berjalan mendekati dua gadis tersebut. Mereka masih menggemakan tawa mereka.
"Sepertinya kalian sangat senang malam ini!"
Suara itu adalah milik seseorang yang mereka kenali. Kedua gadis itu saling pandang.
"Marina!" pekik kedua gadis itu bersamaan.
Sosok itu melepas kacamata hitamnya dan duduk berhadapan dengan kedua gadis yang tak lain adalah Nita dan Sitta.
"Apa kabar kalian?" tanya Marina dengan meminum segelas wine milik Nita.
"Kenapa diam saja? Apa kalian tidak merindukanku?" tanya Marina dengan menatap kedua temannya bergantian.
Nita dan Sitta menelan ludahnya.
"A-apa kabar, Marina?" ucap Nita gugup.
Setelah hampir dua bulan tidak bertemu, rasa canggung menyelimuti ketiga gadis yang tadinya bersahabat dekat itu. Marina yang sekarang mereka lihat, terlihat lebih menyeramkan dibanding Marina yang mereka kenal dulu.
"Aku baik, Nit. Bahkan sangat baik dibanding sebelumnya."
Nita dan Sitta mulai takut dengan sikap Marina yang aneh.
"Jangan takut! Aku kesini hanya untuk meminta bantuan kalian," ucap Marina to the point.
Nita dan Sitta kembali saling pandang. Mereka sudah berjanji tidak akan membantu Marina lagi. Sudah cukup mereka kemarin terkena masalah. Lalu kali ini, akankah mereka bisa menolak?
#bersambung...