
Di sebuah rumah mewah, seorang pria paruh baya sedang menginterogasi anak gadisnya. Gadis itu hanya menundukkan kepala melihat kemarahan sang ayah.
Untuk kesekian kalinya ia membuat ulah namun baru kali ini sang ayah benar-benar murka terhadapnya. Padahal yang ia lakukan adalah hal yang sama dengan tahun-tahun yang lalu.
"Papa tidak percaya kamu masih bermain-main, Marina! Sudah cukup kamu terus berulah! Berubahlah, Nak! Papa sudah tidak memiliki muka di depan Roy!"
Gadis yang tak lain adalah Marina masih tetap menunduk. Ia tak tahu bagaimana ayahnya bisa mengetahui ulahnya kali ini.
"Papa selalu mengawasimu! Kamu pikir Papa tidak tahu semua kelakukanmu, huh?!"
Marina sontak mendongakkan wajahnya. "Papa..."
"Jangan membantah! Berhenti mengejar Nathan. Dia tidak akan bisa kamu dapatkan, Nak! Dia sudah bertunangan dengan orang lain!"
"Apa?! Dari mana papa dengar gosip itu?" Marina tak percaya dengan apa yang diucapkan ayahnya.
"Papa tidak sedang bergosip. Kabar itu sudah menyebar."
"Siapa gadis yang bertunangan dengan Nathan? Akan kuhancurkan gadis itu!"
"Cukup! Jangan membuat masalah lagi! Atau papa akan membuatmu di pecat dari pekerjaanmu. Papa akan keluar sebagai investor Avicenna Grup!" ancam pria bernama David Hoffman ini. Sejak kematian istrinya, sikap putrinya memang tidak bisa diatur lagi. Marina sering membangkang dan berbuat ulah sesuka hatinya.
Satu orang yang bisa membuat Marina sedikit berubah adalah saat ia bertemu dengan Nathan lima tahun lalu. Tak sengaja ia melihat Nathan saat datang ke pesta para pebisnis muda.
Marina merasa tertantang untuk menaklukan sikap dingin Nathan yang sangat menggoda itu. Hingga akhirnya ia meminta sang ayah untuk menjadi investor di Avicenna Grup dan membuatnya bisa bekerja disana.
Marina tak suka jika ada gadis lain yang dekat dengan Nathan, meski itu hanya sebatas sekretaris. Awal menjadi CEO, Nathan memiliki seorang sekretaris. Tapi semua itu tak bertahan lama karena ulah Marina. Ia membuat sekretaris itu tidak betah bekerja disana lalu mengundurkan diri.
Hari berikutnya, datang lagi sekretaris baru dan masih tidak bertahan lama. Hingga akhirnya Harvey terpilih sebagai asisten sekaligus sekretaris untuk Nathan. Dan posisi itu bertahan hingga kini hanya karena dia seorang pria.
"Katakan siapa gadis yang mengambil Nathan dariku?" teriak Marina.
"Hentikan! Papa tidak akan membiarkan kamu berulah lagi kali ini. Papa tidak mau dengar kamu berulah lagi! Papa sudah lelah!" David meninggalkan putri semata wayangnya yang masih menggeram kesal.
"Kalau papa nggak mau bantuin aku, maka aku akan melakukan semuanya sendiri. Nathan, tunggulah aku!" gumam Marina dengan seringai menyeramkan.
#
#
#
Pagi ini, Sheila dan Tarjo melakukan aktifitas mereka seperti biasa. Sheila yang harus pergi bekerja dan Tarjo yang berangkat ke bengkel. Kali ini mereka berangkat mengendarai kendaraan masing-masing.
Sheila dengan mobilnya dan Tarjo dengan sepeda motornya. Mereka saling berpamitan sebelum melajukan kendaraan.
Sheila melambaikan tangan saat Tarjo melaju dengan sepeda motornya. Kemudian ia juga masuk ke dalam mobil dan segera menuju ke gedung Avicenna Grup.
Sheila menyiapkan hati dan diri saat nanti bertemu dengan Nathan. Langkahnya tertahan ketika mobilnya telah terhenti di parkiran gedung Avicenna Grup.
Dengan menghela napas berat, Sheila turun dari mobilnya dan berjalan menuju lift karyawan. Hatinya bergemuruh bertalu-talu ketika lift mulai naik dan di dalamnya hanya ia sendiri.
Lift terhenti dan terbuka. Beberapa karyawan masuk dan berdesakan dengan dirinya. Sheila terus terdiam hingga lift berhenti di lantai yang ia tekan.
Langkah tegapnya ia tunjukkan pada orang-orang agar dirinya tidak terlihat lemah. Pastinya insiden beberapa waktu lalu membuat dirinya menjadi sorotan. Dan kini ia dijuluki sekretaris wonder woman karena hanya ia yang bertahan usai dikerjai Marina CS.
Langkah Sheila terhenti ketika bertemu Harvey di tengah perjalanan. Pria itu menyapa Sheila ramah.
"Hai, Shei..." sapanya sambil melambaikan tangan.
"Hai, Harv. Tumben udah berangkat?"
Harvey mengerutkan keningnya. "Aku selalu berangkat pagi, Shei," jawab Harvey tidak terima.
Sheila terkekeh. "Aku hanya bercanda. Ayo jalan!".
Mereka berjalan santai menuju ruangan mereka masing-masing.
Sebuah decitan ban mobil membuat semua orang menoleh ke arah mobil yang berhenti tepat di depan lobi Avicenna Grup. Seorang pemuda tampan turun dengan menampilkan aura yang berbeda.
Aura yang biasanya terlihat tegas dan dingin, kini berubah menjadi kalem dan hangat. Wajahnya di penuhi guratan senyum kepada semua orang yang menyapanya.
Bisik-bisik tetangga juga mulai membicarakan tentang dirinya. Ia hanya tersenyum tipis dengan semua berita miring ataupun positif tentang dirinya.
TING
Pintu lift terbuka dan menampakkan sosok hangat itu mengulas senyum pada dua orang yang sedang menatapnya.
"Selamat pagi!" sapa Nathan pada Harvey dan Sheila.
Sheila dan Harvey tak percaya jika yang di depannya ini adalah Nathan, bos mereka.
"Ehem!" Nathan memberi kode pada Harvey untuk sedikit menjauh dari Sheila.
Seketika Harvey bergeser agak menjauh dari Sheila.
"Mari masuk, Sheila!" ucap Nathan dengan senyum yang mengembang.
Sheila mencebikkan bibirnya. "Dia kenapa? Apa dia kesurupan setan? Pagi-pagi udah senyam-senyum nggak jelas!" gumam Sheila.
Tiba di ruangan bosnya, Sheila dan Harvey memperhatikan Nathan yang sedang memeriksa berkas lalu menandatanganinya.
"Done!" seru Nathan lalu menyerahkan berkas tadi kepada Harvey.
"Kau boleh pergi, Harvey."
Harvey memberi hormat kemudian berlalu. Sedangkan Sheila masih terdiam di tempatnya. Ia menunggu perintah dari bos yang setengah-setengah ini. Setengah dingin, setengah hangat, haha. Sepertinya Sheila punya julukan baru untuk Nathan.
"Ehem!" Nathan berdeham dan membuat Sheila mendongak.
"Ada yang bapak butuhkan?" tanya Sheila.
"Bacakan jadwal saya hari ini!"
"Baik, Pak." Sheila membuka buku catatannya. Ia segera membaca seluruh agenda yang sudah ia buat untuk Nathan.
Nathan manggut-manggut mendengar jadwalnya hari ini.
"Batalkan semua meeting hari ini!" ucap Nathan.
"Heh?!" Sheila mendelik.
"Tolong jangan melotot kepada Saya! Saya ini bos kamu!" ketus Nathan.
"Ma-maaf, Pak." Sheila segera menundukkan wajahnya.
"Kau sudah paham? Hari ini saya tidak akan pergi kemanapun. Saya akan menyelesaikan semuanya dari sini saja!"
Sheila mengangguk. "Kalau begitu saya permisi, Pak!" pamit Sheila.
"Eits, siapa yang bilang kamu boleh pergi. Tunggu sebentar!"
"Iya, Pak. Ada apa lagi?" tanya Sheila dengan menahan emosinya.
"Buatkan saya kopi!" titah Nathan.
"Baik, Pak." Sheila segera menuju pantry dan membuat kopi.
Di dalam pantry, Sheila terus menggerutu dengan sikap bos setengah-setengah itu. Sebenarnya saat tiba tadi, Sheila ingin membuatkan kopi lebih dulu, namun Nathan melarangnya.
"Dasar bos setengah-setengah! Tadi katanya nggak mau minum kopi, sekarang mau! Huh! Nanti apa lagi coba?"
Sheila mengaduk kopi dengan terus mengerucutkan bibirnya. Ia membawa secangkir kopi lalu meletakkannya di atas meja.
"Silakan diminum, Pak!" ucap Sheila sopan dan mengulas senyum.
"Oke, terima kasih, Shei. Semoga saja kopinya tidak berasa pahit karena yang membuatnya terus menggerutu." Nathan berucap tanpa menatap Sheila. Ia fokus pada layar datarnya. Sepertinya ia sengaja menyindir Sheila.
"Eh?" Sheila terkejut karena Nathan memergokinya menggerutu.
"Rasa kopi asli tentu saja pahit, Pak. Karena ditambah gula jadinya berubah rasa jadi manis," balas Sheila.
"Bukankah itu juga sama dengan hidup? Jika terasa pahit, kau bisa menambahkan gula bahkan susu disana. Jadi rasanya menjadi berbeda. Dan rasa kopi dalam hidupmu akan terasa lebih nikmat," balas Nathan lagi dengan menatap Sheila.
Entah kenapa tatapan itu terasa berbeda. Apakah ada hal yang ingin Nathan sampaikan padaku? Apa itu? Apakah aku harus belajar percaya padanya? Menambahkan sedikit saja kepercayaan dalam hatiku agar hidupku kembali berwarna.
#bersambung
*Mohon maap baru bisa UP, abis ada acara ke luar kota. 🙏🙏
Semoga kalian setia menanti 😘😘😘
Mumpung hari senin, silakan jika ada yg mau sedekah VOTE 😇😇😇