
Vania tak kuasa menolak permintaan Damian. Pria itu benar-benar membawa Vania ke dalam ruangannya.
Vania harus mencari cara untuk bisa keluar dari sana. Akan ia relakan makan siangnya untuk Damian dari pada ia harus cari masalah dengan Sitta, yang kini sudah menjadi kekasih Damian.
"Tuan, sebaiknya sa-saya keluar saja. Silakan Tuan makan bekal makan siang saya. Saya bisa membeli makanan di kantin," ucap Vania dengan gugup.
"Tidak! Duduklah disini dan kita makan bersama."
Damian sudah lebih dulu duduk di sofa sedangkan Vania masih berdiri mematung. Damian mulai membuka kotak makan milik Vania.
Mata Damian berbinar senang seakan melihat harta karun disana. Memang memakan masakan rumah sudah sangat jarang baginya. Di rumahnya semua di masak oleh Chef profesional dan tentunya masakannya berbau western. Mungkin karena ayah Damian yang orang barat, makanya chef disana juga menyesuaikan.
Lagi pula Damian lama tinggal di luar negeri. Chef rumahnya pikir pasti Damian terbiasa dengan masakan barat. Tapi ternyata hari ini semua berubah. Damian menyukai masakan rumah yang asli Indonesia.
Tanpa bicara lagi, Damian segera melahap makanan di kotak makan Vania. Ia menyendok sedikit demi sedikit hingga mulutnya penuh.
Vania hanya terkekeh melihat tingkah Damian yang terkesan berbeda.
"Ini enak sekali. Kau memasaknya sendiri?" tanya Damian dengan mulut penuh dengan makanan.
"I-iya, Tuan."
Awalnya Vania tidak yakin jika Damian akan menyukai makanannya, tapi ternyata semua itu telah terbantahkan. Melihat cara Damian makan, ia jadi ingat tentang Edo yang juga sangat menyukai masakan buatannya.
"Kenapa kau diam saja? Sini duduk!" Damian meminta Vania duduk.
"Tapi, Tuan..."
"Jangan membantah!"
Vania seakan melihat seringai mengerikan dari Damian lagi. Tanpa menjawab lagi Vania segera duduk agak jauh dari Damian. Ia tak ingin ada yang salah paham dengan keadaan ini.
"Kau juga makanlah!" ucap Damian sambil menyodorkan sesendok nasi dan lauk kearah Vania.
Sejenak gadis itu terdiam.
"Apa ini? Tuan Damian ingin menyuapiku? Ya Tuhan! Mimpi apa aku semalam? Ini pasti tidak nyata!" batin Vania meronta.
"Buka mulutmu!" perintah Damian.
Meski sempat ragu, namun akhirnya Vania membuka mulutnya. Satu suapan berhasil masuk ke mulut Vania. Damian tersenyum karena telah berhasil membujuk Vania agar menurut padanya.
Di luar ruangan Damian, Sitta yang baru saja keluar dari toilet di cegat oleh Josh yang sengaja menunggu gadis itu. Sitta mendelik kearah Josh. Ia merasa jika Josh adalah pengganggu hubungannya dengan Damian.
"Mau apa kau?" tanya Sitta sinis.
"Apa yang sudah Anda lakukan pada tuan Damian?" tanya Josh tak kalah sinis.
"Cih, apa urusanmu? Kau hanya seorang kacung bagi Damian. Jadi, jangan banyak bicara!"
"Nona Sitta!" Josh meninggikan suaranya. Ia tak peduli jika orang-orang akan melihatnya.
"Berani sekali kau bicara keras padaku!" Sitta mengangkat tangan ingin menampar Josh. Namun dengan cepat pria itu berhasil memegang tangan Sitta.
"Saya memang hanya seorang kacung. Tapi bagi saya, tuan Damian lebih berharga dari apapun juga. Saya akan menjaganya dari orang-orang licik seperti Anda, Nona!"
Josh menghempaskan tangan Sitta dengan kasar. Sitta meringis kesakitan dan memegangi pergelangan tangannya yang baru saja dihempaskan Josh.
"Saya tahu Anda telah meretas kamera pengawas yang ada di mobil tuan Damian dan menggunakan video rekaman kejadian semalam untuk mengancam tuan Damian."
"Harusnya Anda bisa berhati-hati. Semalam nyawa Anda baru saja terancam, tapi kenapa Anda malah membahayakan diri Anda sendiri dengan menjadi kekasih tuan Damian? Anda tidak tahu seperti apa tuan Damian yang sebenarnya. Jika saya tidak datang, apa Nona yakin bisa selamat dari tuan Damian?"
Sitta terdiam. Apa yang dikatakan Josh ada benarnya juga. Lalu, kenapa ia mau mengantar nyawa ke hadapan Damian?
"Aku tahu kondisi Damian yang labil. Ia begini karena kejadian lima tahun lalu kan? Aku berterimakasih karena kau peduli padaku. Tapi aku ingatkan padamu, jika kau ikut campur urusanku dengan Damian, maka aku juga akan membuat perhitungan denganmu!" ucap Sitta dengan menunjuk Josh kemudian segera berlalu.
Sitta berjalan cepat menuju ruang kerja Damian. Ia sudah berjanji akan makan siang bersama dengan Damian. Tapi sekarang waktu jam makan siang hampir habis.
"Sialan! Ini semua karena kacung itu! Aku jadi terlambat untuk menemui Damian," kesal Sitta.
Dari kejauhan Sitta bisa melihat jika ada seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan Damian. Namun Sitta sendiri tidak yakin siapa wanita itu.
"Brengsek! Siapa dia?!" Sitta mempercepat langkahnya hingga tiba di depan ruangan Damian dan segera mengetuk pintu.
Terdengar sahutan dari dalam. Dengan senyum merekah di bibirnya, Sitta menghampiri Damian yang baru saja akan duduk di kursi kebesarannya.
"Dam, maaf ya aku terlambat. Ayo kita makan siang!" ucap Sitta berakting sebagus mungkin.
"Maaf, Sitta. Aku sudah makan!" balas Damian santai.
"Damian!" Sitta menatap Damian kesal.
"Aku minta maaf." Damian menunjukkan puppy eyes miliknya.
Sitta yang ingin mengeluarkan taringnya akhirnya luluh. "Baiklah. Aku akan memaafkanmu jika kau menemaniku makan di kantin. Ayo!"
Tanpa menunggu jawaban Damian, Sitta segera menarik tangan pria itu. Ia melingkarkan tangannya di lengan Damian dengan posesif. Kini ia tidak akan takut dengan Josh atau siapapun yang ingin merebut Damian darinya. Akan ia pastikan untuk menyingkirkan semua orang yang coba menghalanginya.
Damian dan Sitta keluar dari ruangan. Sitta sengaja menunjukkan gestur jika Damian adalah miliknya.
Ketika melewati ruang kerja Vania, Sitta sengaja bergelayut manja pada Damian. Pria itu hanya diam dengan semua perlakuan Sitta.
Sitta tahu jika wanita yang tadi keluar dari ruangan Damian adalah pasti Vania. Sitta sudah mencari tahu soal Vania sejak Damian kedapatan berada di ruangan Vania waktu itu.
"Gadis culun seperti dia ingin menjadi sainganku? Jangan mimpi!" sungut Sitta dalam hati sambil melirik Vania.
Sementara Vania hanya bisa menunduk setelah mendapat tatapan dari Sitta.
"Sadar, Vania! Kau bukanlah siapa-siapa bagi tuan Damian! Dia memang orang yang baik dan dia selalu ramah pada siapapun. Jadi, semua yang dia lakukan padamu bukanlah apa-apa. Jangan terbawa perasaan!" batin Vania menatap sendu kepergian Damian.
...***...
Pukul lima sore, Vania sudah bersiap untuk pulang. Ia sudah mengirim pesan pada Naina jika malam ini ia akan pulang terlambat.
Vania sudah mencari di internet tentang info rumah kontrakan. Sore ini Vania akan langsung meninjau lokasinya. Ia mencari rumah yang tidak jauh dari kantornya, jadi bisa menghemat ongkos ojek online.
Karena tempatnya dekat, Vania hanya berjalan kaki menuju ke rumah kontrakan yang akan ia sewa. Vania yang berjalan dengan menunduk tak sengaja hampir tertabrak sebuah truk yang sedang melintas.
"Vania, awas!" seru seseorang yang membuat Vania tersentak.
Orang itu segera menarik lengan Vania. Beruntung Vania selamat meski mendapat umpatan dari si supir truk.
"Vania, kau tidak apa-apa?"
#bersambung