My Culun CEO

My Culun CEO
Bulan Madu Heboh



Sheila terbangun dari tidurnya dan tak mendapati Nathan ada disisinya. Masih pukul enam pagi dan Nathan sudah pergi.


Sheila menguap dan mencoba mengumpulkan nyawanya. Setelah kemarin tiba di Bangkok, Thailand, Sheila memutuskan untuk beristirahat saja di hotel dan baru hari ini rencananya ia dan Nathan akan memulai petualangan baru di negara yang belum pernah mereka datangi ini.


Sheila tak menemukan Nathan di manapun. Dengan masih sedikit malas, Sheila membasuh muka lalu keluar kamar untuk mencari Nathan.


Kamar yang mereka tempati ini mirip dengan bungalow yang memiliki fasilitas lengkap. Ada kolam renang, dapur dan juga ruang tamu.


Sheila berjalan keluar kamar dan bertanya pada salah satu karyawan hotel. Sungguh sedang apes karena si pelayan tak begitu memahami bahasa Inggris yang Sheila gunakan.


"My husband! Husband!" ucap Sheila sembari menjelaskan jika dia mencari suaminya yang menginap di kamar ini.


Disini tiap-tiap kamar memiliki pelayan pribadi yang akan melayani kebutuhan tamu.


"Oh, handsome?" ucap pelayan wanita itu.


"Hah?!" Sheila makin bingung. Tapi mungkin maksud dari pelayan itu adalah pria tampan yang tinggal disini.


"Iya, dia suamiku!" ketus Sheila.


"Oh, jogging! Jogging!" ucap pelayan itu lagi.


Sekarang Sheila sudah paham. Ia mengucap terima kasih lalu kembali mencari Nathan. Di sini disediakan area untuk berolahraga bagi tamu yang suka berolahraga.


Sheila mengedarkan pandangan dan melihat sosok suaminya sedang berlari kecil mengitari lapangan. Nathan memakai atasan kaus tanpa lengan hingga membuat lengan kekarnya terpampang nyata di depan mata. Lalu sebuah headset menutupi telinganya sambil terus berlari. Celana pendek dan sepatu olahraga keluaran merk ternama menjadi outfit pagi ini untuk si tampan Nathan.


Sheila akan menghampiri Nathan namun di depannya tiga orang gadis sedang membicarakan suaminya. Alhasil, Sheila malah sibuk menguping pembicaraan mereka.


"Eh, lihat itu! Itu kan Nathan Avicenna! Huaa! Dia tampan sekali ya!"


"Iya, kita beruntung bisa satu hotel dengan dia."


"Tidak sia-sia datang kemari eh ternyata ketemu si tampan. Ternyata aslinya lebih tampan daripada dilihat di TV."


"Kira-kira dia disini ngapain ya? Apa dia sedang berlibur? Atau ... urusan bisnis?"


"Bodo amat! Yang penting kita bisa menikmati pemandangan indah gratis, ha ha ha!" Ketiga gadis itu tertawa renyah.


Sheila mengepalkan tangannya karena mendengar ocehan tiga gadis yang mengagumi suaminya. Ia harus cari cara agar bisa menyadarkan khayalan ketiga gadis ini.


Sheila kembali ke kamar dan mengganti sandal jepitnya dengan sepatu olahraga yang dibawanya.


"Jadi ini alasannya kenapa dia tidak mengizinkan aku untuk merapikan pakaiaannya kedalam koper. Ternyata dia membawa kaus tanpa lengan itu untuk menggoda para gadis. Dasar menyebalkan!" sungut Sheila.


Sheila kembali ke mini lapangan olahraga. Ia bertemu pelayan dan meminta topi si pelayan itu dengan memberikan sejumlah uang.


Shela memakai topi dan mulai berlari kecil berlawanan arah dengan Nathan. Ketika akhirnya Sheila berhadapan dengan Nathan, pria itu memilih jalan lain namun masih di halangi oleh Sheila.


"Excuse me!" ucap Nathan sopan. Ternyata ia tak menyadari keberadaan Sheila.


Hingga akhirnya Sheila mendongakkan kepala dan memperlihatkan dengan jelas wajahnya.


"Sheila!" seru Nathan.


Gadis itu tersenyum dan menarik wajah Nathan mendekat lalu mencium bibirnya dengan rakus. Nathan sangat terkejut dengan serangan Sheila tiba-tiba.


Terdengar jeritan dari arah belakang Sheila. Itu pastilah gadis-gadis yang mengagumi Nathan tadi.


Setelah puas, Sheila melepaskan Nathan dan kembali berlari. Nathan masih bergeming dan syok dengan kejutan yang ia dapatkan pagi ini.


Ia melirik ke belakang dan melihat Sheila masih berlari dengan mengibaskan rambut ekor kudanya. Nathan menggeleng pelan dengan apa yang baru saja ia rasakan. Anggap saja sebagai makanan pembuka, begitulah pikir Nathan.


Sheila kembali ke kamar dan melihat Nathan juga kembali kesana.


"Aku tidak menyangka kamu akan melakukan itu di depan umum, Shei!" ucap Nathan yang melihat Sheila melepas sepatunya.


"Jadi ini alasanmu kenapa tidak mau aku menata kopermu? Karena kamu ingin berpenampilan macho dan menggoda para gadis! iya begitu?" sungut Sheila.


"Apa maksudmu? Aku tidak menggoda para gadis!" elak Nathan.


"Ah terserah saja lah! Aku mau mandi saja!"


Nathan mencekal lengan Sheila.


"Shei, ada apa? Kenapa kamu kesal?"


"Tentu saja aku kesal. Kau tidak lihat tadi gadis gadis itu berteriak histeris hanya karena secara tak sengaja bertemu dengan Nathan Avicenna! Mereka menatapmu hingga bola mata mereka akan lepas dari tempatnya!"


Nathan tertawa. "Jadi, kau cemburu?"


"Iyalah! Aku cemburu. Aku tidak suka suamiku di tatap seperti itu oleh wanita lain." sungut Sheila.


Nathan menatap Sheila yang sedang mengerucutkan bibirnya. Saat ini tingkah Sheila membuat Nathan ON. Apalagi setelah dirinya berolahraga tadi.


"Kalau begitu, sekarang giliran aku akan berolahraga denganmu!" goda Nathan.


"Tuan Su! Jangan macam-macam!" peringatan Sheila.


"Ini masih pagi!" lanjutnya.


Nathan tak menggubris peringatan Sheila dan makin memojokkan gadis itu.


"Tuan Su!" pekik Sheila yang tubuhnya kini terjatuh di atas ranjang.


"Ampun, Tuan Su!" keluh Sheila dengan tawa tertahan.


"Tidak ada ampun bagimu, Nyonya Nathan!"


Nathan segera membuka kausnya dan menampakkan tubuh liatnya yang menggoda Sheila. Tentu saja gadis itu tak bisa menolak pesona sang suami.


#


#


#


Usai pergumulan pagi mereka, Nathan dan Sheila menuju ke resto hotel untuk sarapan. Tiba di resto, lagi-lagi suami Sheila itu menjadi pusat perhatian karena ketampanan wajahnya.


Sheila kembali merengut. Ingin rasanya ia membawa karung dan memasukkan sang suami ke karung saja, haha.


"Shei, hari ini kamu ingin kemana?" tanya Nathan.


"Ehm, jalan-jalan mungkin. Kenapa memangnya?"


"Begini, aku harus bertemu klien juga hari ini, jadi..."


BRAK!


Sheila menggebrak meja. Nathan terkejut.


"Sayang... ada apa denganmu?" tanya Nathan heran.


"Kita kan sedang berbulan madu, kenapa kamu malah mau ketemu klien? Apa sebenarnya bulan madu itu hanya akal-akalan kamu saja? Sebenarnya kamu kesini mau urus soal kerjaan kan? Dasar curang! Padahal aku meninggalkan pekerjaanku, tapi kamu malah asyik kerja!" sungut Sheila panjang lebar.


"Astaga! Sayang! Bukan begitu. Ini hanya kebetulan saja. Oke? Jangan ngambek dong! Aku paling tidak bisa jika melihatmu marah." Nathan berusaha membujuk Sheila.


Sebenarnya Sheila takut juga jika dirinya merajuk. Bisa bisa para gadis yang melihat Nathan kesenangan karena mereka bertengkar.


"Baiklah! Aku akan ikut kamu bertemu klien! Kliennya pria atau wanita?" tanya Sheila lirih.


"Tentu saja pria, sayang."


Sheila tersenyum kecut. Bagaimanapun ini adalah masa bulan madu mereka. Sheila tak boleh merusaknya hanya karena masalah sepele.


Sambil menunggu Nathan meeting dengan kliennya, Sheila duduk agak jauh dari tempat duduk Nathan. Ia tak ingin mengganggu pekerjaan suaminya.


Sheila kagum dengan sosok Nathan yang begitu pekerja keras. Ternyata pilihan orang tuanya tidaklah salah. Jodoh yang mereka berikan adalah sebuah anugerah terindah untuk Sheila.


Sheila memutuskan untuk menghubungi Naina melalui panggilan video.


"Hai, Na..." sapa Sheila.


"Hai, Shei. Ciye ciye yang lagi honeymoon nih! Gimana udah gol berapa kali?"


"Ssst! Naina! Jangan keras- keras dong! Malu kan kalau ada yang dengar!"


"Hahaha, kamu ini. Semoga pulang nanti bawa kabar gembira ya!"


"Hmm, kamu tuh! Eh itu ada siapa Na di belakang kamu?"


"Oh ini? Ini Vania, dia adiknya Vicky."


"Hah?!" Sheila cukup terkejut.


"Dia udah lulus kuliah dan mau cari kerja disini."


"Oh, begitu ya. Rencana mau melamar kerja dimana?"


"Hai, kak. Salam kenal." sapa Vania.


"Ah, iya salam kenal juga."


"Aku masih belum tahu ingin melamar dimana, mungkin semuanya akan kucoba."


"Kali aja di tempatmu ada lowongan, Shei." timpal Naina.


"Oke! Nanti aku coba tanya Kak Danny ya!"


Setelah mengobrol beberapa lama akhirnya panggilan berakhir karena Nathan sudah berada di belakang Sheila.


"Seru sekali ngobrolnya?" sindir Nathan.


"Ya begitulah. Kami bisa membicarakan banyak hal. Meetingnya sudah selesai?"


"Hmm, kita mau makan siang dulu atau..."


"Kita makan siangnya sambil jalan-jalan saja bagaimana?"


"Oke! Ayo!"


Sheila bangkit dari duduknya dan melingkarkan tangannya ke lengan Nathan. Sheila berjalan angkuh seolah memberitahu dunia jika Nathan adalah miliknya. Tatapan lapar para gadis segera Sheila putus karena ia menatap mereka dengan kilatan setajam pedang.


#bersambung