My Culun CEO

My Culun CEO
#140 - Katakan Cinta



Damian kembali ke apartemennya dengan hati yang cukup berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Freya menanyakan sosok Udin yang adalah dirinya.


Damian membayangkan ekspresi Freya ketika seharian ini tidak melihat sosok Udin.


"Akh! Rasanya aku tidak tahan! Kau kehilangan aku atau Udin, Freya?!"


Damian kembali uring-uringan. "Apa tujuanku menjadi Udin? Hanya untuk memastikan perasaan Freya saja, bukan? Atau aku akan membuatnya jatuh cinta dengan sosok Udin seperti yang dilakukan Nathan?"


Damian menatap langit malam dari balkon kamarnya.


"Tidak! Aku tidak akan melakukan apa yang dilakukan si culun Nathan. Aku hanya ingin membuat Freya kehilangan sosok Damian. Aku akan membuatnya terus mengingat Damian dalam kesehariannya."


Damian masuk kembali ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya. "Besok aku akan kembali menjadi Udin. Tunggulah aku, Freya!"


Keesokan harinya, Udin berangkat lebih pagi dan segera menuju ruangan Freya. Ia menyiapkan wewangian ruangan yang di sukai Freya. Lalu dengan sengaja meletakkan berkas milik Ford Company di posisi yang paling atas agar Freya bisa langsung melihatnya.


Udin terkekeh geli dengan apa yang dilakukannya. Ia segera pergi setelah melakukan misinya.


Tiga puluh menit kemudian, Freya tiba di kantornya dan menghirup aroma yang disukainya.


"Kenapa semuanya seakan sesuai dengan apa yang aku inginkan?" gumamnya.


Freya menekan tombol intercom dan meminta kopi pada office boy yang berjaga. Freya berharap jika Udin yang mengantarkan kopinya.


Namun ternyata bukan Udin yang mengantar melainkan Jono.


"Udin gak masuk lagi?" tanya Freya.


"Masuk, Nona. Dia sedang di lantai atas." jawab Jono.


"Oh begitu. Baiklah. Terima kasih kopinya."


"Sama-sama, Nona." Jono berbalik badan dan keluar dari ruangan Freya.


Freya menyeruput kopinya perlahan. Matanya membola melihat berkas yang ada di mejanya.


"Perasaan kemarin bukan ini yang ada di atas. Kenapa...?" Freya mengernyit bingung.


Entah kenapa melihat nama Ford Company, ingatannya langsung tertuju kepada Damian. Akhir-akhir ini pria itu memang misterius untuk Freya. Apakah masih hidup atau tidak, Freya tidak tahu. Apakah dia baik-baik saja? Freya juga tak bisa menebak. Sosoknya seakan menghilang bak di telan bumi.


Freya memutuskan untuk menghirup udara segar dari atap gedung sebelum memulai aktifitas padatnya hari ini.


Freya tiba disana dan tak menemukan siapapun bersamanya.


"Hmm? Syukurlah dia tidak ada." gumam Freya.


Freya memejamkan mata merasakan angin pagi yang menerpa wajahnya. Rasanya menenangkan dan menentramkan hati.


"Apa sekarang tempat ini jadi tempat untuk melepas gundah?"


Itu adalah suara yang sangat Freya kenali.


"Udin?"


"Bagaimana kabar Nona? Apa masih gundah?"


"Eh? Aku tidak gundah."


"Jika gundah pun tak masalah. Saya hanya menebak asal saja, Nona."


"Haaaah! Memang sih ada yang aku pikirkan. Omong-omong, terima kasih karena malam itu kamu menolongku."


"Sama-sama, Nona. Apa Nona sudah baik-baik saja?"


Freya mengangguk.


"Apa Nona sering sakit kepala?" tanya Udin penasaran.


"Maaf, saya tidak bermaksud untuk ikut campur..." lanjutnya.


"Tidak apa. Aku hanya memikirkan sesuatu saja. Ini ... tentang masa laluku."


Udin langsung memasang pendengarannya dengan baik.


"Aku tidak ingat tentang masa laluku. Semakin aku berusaha mengingat, maka semakin menyakitkan."


Wajah Udin berubah serius.


"Tapi, ada seseorang yang tiba-tiba hadir dalam ingatanku. Orang itu ... adalah orang yang kutemui sebelum berangkat kemari dan sebelum kecelakaan."


Udin membulatkan matanya.


"Maaf ya, aku jadi bercerita tentang masalah begini padamu," ucap Freya.


"Tidak apa, Nona. Terkadang beecerita pada orang yang tidak di kenal akan lebih mudah dari pada dengan orang yang kita kenal."


Freya mengulas senyumnya. "Terima kasih karena sudah mau mendengar ceritaku."


"Apa mungkin ... orang yang Nona pikirkan adalah orang yang Nona cintai?"


"Cinta?" Freya terkekeh. "Tidak tahu juga. Akhir-akhir ini dia menghilang. Dan aku ... tidak bisa menemukannya."


"Jika dengan mengakui hati Nona sendiri akan membuat lega, kenapa tidak Nona lakukan saja?"


Freya menerawang jauh. "Urusan hati, tidak mudah untuk di mengerti. Jadi, aku akan membiarkannya saja dulu."


Freya tersenyum. "Sudah ya! Aku harus kembali."


Freya berjalan meninggalkan Udin sendirian di atas atap gedung.


"Susah sekali membuatmu mengerti, Freya?"


Udin menghela napas kasar. "Lalu siapa orang yang ditemuinya sebelum kecelakaan terjadi? Apakah dia adalah cinta pertama Freya?" gumam Udin kemudian ikut beranjak dari rooftop.


#


#


#


Malam ini, Freya sedang bermanja-manja dengan Liliana. Gadis itu merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Sementara Liliana membelai rambut Freya dengan penuh cinta.


"Ada apa, sayang? Apa ada masalah dengan pekerjaan?" tanya Liliana lembut.


"Tidak. Hanya saja..."


"Urusan yang lain ya?" tebak Liliana.


"Hmm, begitulah."


"Apa urusan hati?" terka Liliana lagi.


Freya tidak menjawab.


"Kenapa? Apa masalah hati itu begitu rumit?"


"Hmm, mungkin saja, Ma."


Pertanyaan Liliana membuat Freya bangkit dari rebahannya.


"Kok Mama bisa tahu?"


Liliana mengulas senyumnya. "Seorang ibu memiliki insting terhadap anaknya. Ada apa dengan Damian?"


"Apa aku terlalu egois?"


"Hmm? Egois bagaimana?" Liliana mengernyit bingung. Sebenarnya ia sudah tahu mengenai masalah Freya dan Damian, namun disini Liliana bersikap netral agar Freya mau menceritakan masalahnya.


"Dulu aku sangat menolak dia. Giliran dia menghilang, aku mencarinya. Bukankah itu aneh?"


"Emh, gak aneh sih menurut mama. Kamu hanya butuh waktu untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatimu. Coba saja dulu, Frey. Jangan membohongi hatimu sendiri."


"Apa tidak terkesan aku mengejarnya?"


Liliana terkekeh. "Tentu saja tidak. Kalian ini memang aneh. Saling suka kok malah kucing-kucingan."


Tawa Liliana makin menggema membuat Freya makin merona.


"Kamu tahu? Waktu abangmu ada di rumah sakit bersama dengannya, dia sempat meminta restu dari mama."


"Hah?! A-apa, Ma? Restu? Damian?" Freya menutup mulutnya dengan tangan.


"Iya, dia bahkan berjalan dengan tongkat agar bisa bersimpuh di depan mama."


Freya kini membisu. Hanya ada kebimbangan dan kegundahan dalam hatinya.


"Berusahalah jujur hingga kamu bisa merasa lega. Ya?" nasihat Liliana.


"Iya, Ma. Semoga saja." Freya memeluk Liliana.


"Sebaiknya kamu istirahat saja sana! Tidak perlu menunggu abangmu pulang." ucap Liliana.


"Iya, Ma." Freya beranjak dari kamar Liliana dan menuju kamarnya.


#


#


#


Hari ini Freya di sibukkan dengan pekerjaan di kantor. Ia bahkan melewatkan makan siang saking sibuknya.


Sebentar lagi akan diadakan rapat tahunan yang pastinya semua data harus sudah tersedia dan sesuai dengan fakta di lapangan.


Tak kalah sibuk dengan Freya, Edo juga memiliki janji meeting dengan banyak klien hari ini. Dan sepertinya ia tak bisa menanganinya sendiri.


"Frey, bisa tolong gantikan abang untuk rapat di resto XYZ?" pinta Edo pada Freya.


"Hmm? Bisa sih, Bang. Kira-kira sampai jam berapa ya?" tanya Freya.


"Mungkin selesai sekitar pukul lima sore. Setelah dari sana, kamu bisa langsung pulang saja."


Freya mengangguk paham.


"Baiklah, abang tinggal dulu ya!"


"Iya, Bang."


Freya menghembuskan napas pelan. "Baiklah, Freya. Kamu harus semangat hari ini! Jangan pikirkan apapun dulu!"


Freya menuju ke restoran XYZ dengan diantar supir. Kebetulan sekali Freya belum.memakan apapun siang tadi. Sambil menunggu semua peserta rapat hadir, Freya menyempatkan diri untuk makan terlebih dahulu.


Menu yang tersedia disana adalah menu masakan rumahan yang menjadi favorit semua orang termasuk Damian. Si pemilik bahkan bercerita tentang Damian yang sering mampir makan disana.


Mata Freya membola karena lagi-lagi ia mendengar tentang Damian. Rasanya dunianya memang telah di penuhi oleh Damian.


Sesuai dengan perkiraan, rapat selesai pukul lima sore. Freya berjabat tangan dengan semua yang hadir pada sore hari itu.


Freya meminta supir untuk langsung pulang ke rumah saja. Namun ternyata Freya tiba-tiba kembali ingat tentang seseorang.


"Pak, ke Ford Company ya, Pak." perintah Freya.


"Baik, Nona."


Mobil yang dikendarai Freya memutar arah dan menuju ke gedung besar yang sudah mulai terlihat dari jalan raya.


Tiba disana, Freya langsung berlari keluar dari mobil dan menuju ke meja resepsionis.


Dengan masih tersengal, Freya mencoba untuk bertanya.


"Sore! Apa tuan Damian masih ada di ruangannya?" tanya Freya dengan suhu tubuh yang mulai meningkat.


"Mohon maaf, Nona. Tuan Damian sedang pergi keluar."


"Oh begitu ya!" Semburat kekecewaan tergambar jelas di wajah Freya. Ia berjalan menuju kembali ke luar gedung.


"Nona Freya!" panggil seseorang.


"Tuan Josh?" lirih Freya.


"Apa Nona mencari tuan Damian?" tanya Josh.


"Eh?"


"Tuan Damian sebentar lagi akan datang kesini. Tunggulah Nona!"


Freya menatap Josh ragu.


"Tapi..."


"Tunggulah, Nona! Saya mohon..."


Freya menunduk kemudian setuju.


"Baiklah." jawab Freya.


Sementara di sisi Damian, ia sangat terkejut ketika Josh menghubunginya dan mengatakan jika Freya sedang ada di gedung Ford Company. Tentu saja hal ini membuat Damian sangat senang.


Damian segera berlari menuju tempat parkir dan melajukan motornya menuju apartemen. Ia harus segera berganti peran menjadi Damian untuk menemui Freya.


"Apakah ini waktunya, Freya? Apa kau akan mengatakan perasaanmu padaku?" gumam Damian dengan penuh rasa percaya diri.


Saat tiba di apartemen, Damian berlari agar cepat menuju unit miliknya. Ia memakai lift khusus untuk penghuni VIP.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di unit apartemennya. Ia segera menekan kode angka di pintu namun ternyata kodenya salah. Damian mengernyit heran. Ia sama sekali tidak mengganti kode angkanya dan kenapa pintunya tidak bisa dibuka?


Beberapa kali Damian mencoba namun belum membuahkan hasil. Damian mengumpat kesal dan melepaskan aksesorisnya satu persatu di depan kamar.


Hal pertama yang ia lepas adalah kumis tipisnya. Lalu melepas tompel di pipinya, kemudian rambut palsunya.


Betapa terkejutnya Damian ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok yang sangat ia kenal.


"Apa yang sedang kau lakukan, Nak?"