
Sheila membenamkan wajahnya kedalam bantal usai insiden bersama Nathan tadi sambil mengumpati dirinya sendiri. Sheila menghentakkan kakinya di kasur.
"Kok bisa aku kecolongan lagi? Kenapa juga aku membalas ciumannya?"
Sheila merutuki dirinya sendiri. Ya, memang bagaimanapun juga Nathan adalah calon suaminya. Tapi hatinya masih belum sepenuhnya menerima Nathan. Masih ada Tarjo yang juga bersemayam dihatinya. Ribet amat hidupmu, Shei. Hahaha.
Sheila duduk diatas ranjang dan menutup wajahnya. "Gimana besok kalo ketemu dia di kantor? Astaga! Kenapa aku ceroboh? Huaaa, seseorang tolong aku!"
Sheila masih uring-uringan hingga membuatnya tak bisa memejamkan mata. Ia mendengar suara sepeda motor milik Tarjo yang melewati rumahnya.
Sheila melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 12 malam.
"Kenapa dia pulangnya malam banget sih? Apa beneran dia kerja di bengkel? Atau sebenarnya bukan itu pekerjaan dia?" gumam Sheila mulai bertanya-tanya.
"Apa aku temui dia saja? Tapi udah jam segini. Nanti dikira aku cewek apaan malam-malam datang ke kontrakan cowok. Duh, kenapa otakku jadi nggak bisa mikir sih! Ini semua gara-gara si gumpalan es!"
Sheila kembali mengingat bagaimana perlakuan Nathan padanya satu hari ini. Ciuman panas dan panjang itu masih bisa ia rasakan di bibirnya.
"Aaaa! Kenapa otakku jadi mesum gini?!".
Sheila menutup wajahnya dengan bantal dan mencoba untuk tidur.
#
#
#
Keesokan harinya, Sheila mendatangi rumah kontrakan Tarjo dengan membawa dua piring nasi goreng buatannya.
"Jo! Buka pintunya dong! Ini aku!" seru Sheila.
Tak lama pintu terbuka dan menampakkan wajah polos dan culun milik Tarjo. Meski sebenarnya hatinya masih berdebar sebagai Nathan, namun kini dirinya menjadi Tarjo, jadi dia harus bisa mengatur emosinya.
Ya, Nathan adalah orang yang paling bisa mengatur ekspresi wajahnya. Menjadi Tarjo, ia mengulas senyum pada Sheila.
"Kamu bawa apa? Wangi banget aromanya!" ucapnya.
"Kita sarapan bareng ya!" ucap Sheila.
Gadis itu meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja. Lalu ia menghampiri Tarjo.
Sheila langsung memeluk Tarjo. Pria itu melotot mendapat pelukan hangat Sheila.
"Maaf..." lirih Sheila.
"Kenapa minta maaf?" tanya Tarjo. Ia tahu apa maksud permintaan maaf itu.
"Tidak ada. Aku hanya ingin meminta maaf saja." Sheila melepas pelukannya.
"Ayo makan!" ajak Sheila lalu duduk di atas kursi kayu yang ala kadarnya. Kursi dan meja itu adalah buatan Tarjo sendiri.
Tarjo menatap Sheila dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Apa kau menganggap semua yang terjadi kemarin adalah sebuah kesalahan, Shei? Hingga kau harus meminta maaf. Apa kau masih tidak bisa melihat hati Nathan?" batinnya bergemuruh.
Usai sarapan bersama, Tarjo mengantar Sheila ke kantor. Hari ini mobil Sheila akan di bawa ke bengkel oleh Danny.
Dan seperti biasa, bisik-bisik para haters kembali terdengar karena Sheila diantar oleh pria culun yang pernah mengantarnya. Tiga orang gadis yang selalu membenci Sheila kembali bersuara.
"Ckckck, lihat itu kelakuan sekretaris nggak ada akhlak itu. Kemarin kulihat dia pulang dianter bos loh."
"Oh ya? Yang bener?"
"Iyalah, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri dia masuk mobilnya si bos."
"Kayaknya bener deh dia manfaatin kecantikan dia buat gaet pria-pria kaya."
"Eh, gimana kalo nanti pas jam makan siang kita kerjain dia?"
"Ide bagus tuh. Biar dia kapok sekalian!"
"Hahahaha. Ssst, dia lewat tuh!"
Sheila tahu jika setiap hari ia menjadi bahan gunjingan. Tatapan penuh iri selalu dilayangkan pada gadis cantik itu. Bagaimana jadinya jika mereka tahu siapa Sheila sebenarnya? Dia adalah calon istri bos mereka dan juga putri dari Adi Jaya pemilik AJ Grup yang terkenal itu.
Sheila memasuki ruangannya yang memang masih sepi. Tentu saja bosnya belum datang. Ia menuju ke pantry untuk membuat kopi.
Bayangan akan kejadian kemarin kembali memutar. Ia tak mengerti kenapa ia merasakan ada getaran berbeda ketika Nathan menyentuhnya.
Sheila menggeleng cepat. Tidak mungkin bukan ia haus kasih sayang pria? Bersama Tarjo ia nyaman, bersama Nathan juga rasanya indah.
"Kau disini?"
Sheila berjingkat kaget mendengar suara berat itu.
"Bapak sudah datang?" Secepat kilat Sheila keluar dari ruang pantry dengan membawa secangkir kopi untuk Nathan.
Nathan mengernyit heran dengan sikap Sheila. Ia berjalan memutar dan menghampiri Sheila yang berdiri di depan meja kerjanya.
Sheila segera membuka buku catatannya.
"Oh ya, Pak. Hari ini bapak ada agenda rapat diluar bersama Harvey," ucap Sheila membacakan agenda Nathan.
Nathan melipat tangannya di depan dada. "Bukankah seharusnya bersama denganmu?"
"Ah iya, tapi sudah di ganti. Karena saya sangat sibuk hari ini."
Sheila nampak salah tingkah karena Nathan terus menatapnya.
"Semua pekerjaan Harvey akan sangat saya kerjakan, Pak. Bapak tenang saja!"
Sheila melirik jam tangannya. "Sudah waktunya, Pak. Sebaiknya bapak segera bersiap."
Sheila mendorong tubuh Nathan keluar dari ruangannya.
"Shei, tunggu tunggu!"
"Sudah tidak ada waktu lagi, Pak! Cepatlah. Jangan sampai klien bapak menunggu. Iya kan?"
Sheila tak peduli jika Nathan akan memarahinya.
"Kau tidak sopan ya dorong-dorong saya!"
"Pak, waktu adalah uang. Bukankah bapak sangat disiplin dalam mengatur waktu? Bapak tidak boleh terlambat. Oke?"
"Ada apa ini?" tanya Harvey bingung karena melihat Sheila dengan berani mendorong tubuh Nathan.
Sheila segera melepaskan tangannya dari tubuh Nathan. Ia tak mau Harvey curiga dan berpikir macam-macam tentangnya. Sudah cukup para karyawan wanita iri kepadanya.
Nathan merapikan jasnya kemudian berjalan lebih dulu diikuti Harvey. Sheila melambaikan tangan pada Harvey yang masih bingung dengan situasi yang terjadi.
Sheila bisa bernapas lega setelah Nathan pergi. Jantungnya tidak baik-baik saja jika terus berdekatan dengan Nathan. Sikap Nathan mulai berubah pada Sheila, dan itu membuat Sheila tidak nyaman.
Bahkan gumpalan es pun bisa mencair jika terus di beri sebuah kehangatan. Benar begitu kan?
#
#
#
Jam makan siangpun tiba, Sheila menuju ke kantin perusahaan sendirian. Ia sudah terbiasa sendiri. Sejak dulu ia tidak terlalu suka memiliki teman. Sebuah kejadian pernah membuat Sheila trauma. Hingga akhirnya ia bisa sembuh karena kedatangan Naina yang memang tulus ingin berteman dengannya.
Saat sedang asyik menyantap makanannya, tiga karyawan wanita menghampirinya. Salah seorang gadis menggebrak meja dan menatap Sheila tajam.
"Heh, dasar cewek sok kecantikan!"
Sheila mendongak menatap gadis yang membentaknya. "Mau apa kalian?"
"Wah, berani juga ya dia! Dasar cewek murahan!"
Sheila meradang. "Apa katamu?!"
"Berapa bayaran kamu dalam sekali kencan?"
Sheila melotot. Ia tak terima dengan tuduhan tak berdasar itu.
"Sudahlah, nggak usah nyangkal. Kamu itu jualan kan?"
"Hah?!" Sheila mulai emosi.
Salah seorang gadis datang membawa ember berisi air bekas pel. Ia langsung menuangkan air kotor itu ke tubuh Sheila.
"Oops, maaf, sengaja!"
"Hahahahaha." Terdengar suara gelak tawa dari mereka bertiga.
Tak ada yang berani membela Sheila ataupun melerai mereka. Ketiga gadis itu adalah putri-putri dari investor Avicenna Grup yang berpura-pura bekerja disana tapi sebenarnya niat mereka hanya satu, menaklukkan si gumpalan es, Nathan.
Kuatnya koneksi di jaman sekarang ini, membuat yang berkuasalah yang menang dalam segala bisnis. Sheila gadis beruntung karena berhasil mendapat pekerjaan bukan karena koneksi.
Napas Sheila naik turun karena menahan amarahnya.
"Kalian!" teriak Sheila yang membuat ketiga gadis itu berhenti tertawa.
Sheila maju dan menjambak salah seorang gadis. Teriakan kesakitan meluncur bebas dari mulut gadis itu.
Kedua gadis lain maju dan memegangi lengan Sheila.
"Hei, j4lang! Berani sekali kau melawan kami, hah?! Cepat seret dia! Kita bawa ke gudang belakang. Mumpung bos lagi nggak ada di tempat," ucap si ketua geng bernama Marina.
Sheila berontak dan terus menggunakan kekuatannya. Namun tentu saja ia sendiri tidak cukup untuk melawan ketiga gadis itu.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Sheila.
"Berhenti memberontak atau kami akan mempermalukanmu disini!"
Marina mencengkeram dagu Sheila. "Gadis j4lang sepertimu tidak pantas menjadi sekretaris Nathan. Sudah cukup kami membiarkanmu bersenang-senang. Sekarang kau harus tahu akibatnya jika menggoda Nathan."
Marina kembali mengangkat tangan ingin menampar Sheila lagi. Namun sebuah tangan kekar berhasil menghalaunya.
Sheila memejamkan mata menunggu tamparan yang akan mendarat di wajahnya. Namun ternyata tak terjadi apapun.
Sheila membuka mata dan melihat Nathan memegangi tangan Marina dengan erat hingga gadis itu kesakitan. Nathan menghempaskan tangan Marina kasar.
"Na-Nathan?" Marina membulatkan mata.
"Lepaskan dia!" bentak Nathan dengan mata memerah.
Kedua gadis yang memegangi lengan Sheila segera melepasnya. Tubuh Sheila luruh ke lantai. Ia terduduk lemas. Kejadian masa lalunya kembali terulang.
"Kalian bertiga! Bersiaplah untuk angkat kaki dari sini. Sudah cukup kalian membuat onar disini. Aku membiarkan kalian karena ayah kalian berteman dengan ayahku. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak akan membiarkan kejadian ini!"
Ketiga gadis itu ketakutan melihat seringai menakutkan di wajah Nathan.
"Pergi kalian!" teriak Nathan dengan suara menggelegar.
Ketiga gadis itu segera pergi dari sana dengan terbirit-birit.
Nathan mengatur napasnya dan segera berjongkok untuk melihat keadaan Sheila. Ia merangkum wajah Sheila yang lebam. Pakaiannya pun basah kuyup.
"Maaf aku datang terlambat."
Tangis Sheila akhirnya pecah. Nathan segera mendekapnya erat, memberikan kehangatan dan perlindungan pada gadisnya.
Suara isakan tangis Sheila terdengar amat pilu di telinga Nathan. Dengan sigap Nathan mengangkat tubuh Sheila.
Sheila membenamkan wajahnya di dada bidang Nathan. Ia memeluk pria itu erat. Nathan berjalan keluar dari kantin dan meminta Harvey menyiapkan mobil.
#bersambung
*Bullying/perundungan adalah perbuatan tidak terpuji ya genks. Jangan di tiru yah.
*Mulai muncul dah duri2 pengganggu hubungan Nathan-Sheila.
*Bonusin dikit visual Nathan-Sheila 😁
Terima kasih sudah setia menanti 😘😘