My Culun CEO

My Culun CEO
Liburan Bersama (1)



Matahari mulai meninggi menandakan jika hari kian terik. Peluh pekerja jalanan tidak lagi mereka hiraukan. Mereka tak mementingkan apapun lagi selain membawa sesuap nasi ke rumah mereka.


Sedari tadi Sheila duduk diam dengan memandangi orang-orang yang bermandikan keringat mencari segenggam rupiah. Andai saja hidupnya juga penuh perjuangan seperti mereka, pasti kebahagiaan secuil apapun akan ia syukuri.


Hidupnya yang serba berkecukupan sejak lahir memang beruntung. Tapi ingin menjadi orang biasa, itu juga adalah impiannya.


"Shei!"


Suara cempreng khas Naina membuat Sheila terlonjak kaget. Ia baru saja membayangkan menjadi orang biasa. Bersusah payah seperti itu, apa iya seorang Sheila Adi Putri mampu melakukannya?


"Shei!"


Sekali lagi Naina membangunkan Sheila dari lamunannya. Dengan tatapan malas, Sheila menatap sahabatnya.


"Kamu bilang mau ajak makan siang, tapi kamu malah diam sedari tadi," gerutu Naina.


"Ya kan ini kita lagi makan siang, Na," jawab Sheila malas.


"Tapi cuma aku aja yang makan. Kamu enggak!" Naina menunjuk piring Sheila yang masih penuh dengan makanan.


"Maaf..."


"Ada apa lagi, Shei? Apa ada masalah dengan tuan Nathan?"


"Kurang lebih begitu." Sheila menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Shei, boleh aku berpendapat?" tanya Naina.


Sheila mengangguk.


"Kalau boleh jujur, aku lihat tuan Nathan itu sangat mencintaimu. Dan aku rasa, kamu juga mulai cinta kan sama dia?"


"Naina!" protes Sheila.


"Huft! Mau sampai kapan kamu kucing-kucingan terus sama si Tarjo Tarjo itu? Sudahlah, Shei. Sebaiknya kamu terima keputusan kedua orang tuamu."


Sheila terdiam. "Minggu depan aku berangkat ke Paris sama dia, Na," lirih Sheila.


Naina tersenyum. "Bersemangatlah! Mungkin disana kamu bisa mengenal dia lebih dekat." Naina mengedipkan sebelah matanya.


"Huh! Entahlah..."


Sheila menatap menerawang. Siang ini ia bisa makan diluar karena Nathan mengizinkannya. Seharian ini Nathan sibuk di luar kantor. Karena merasa cemas jika Sheila bosan, maka dia mengizinkan gadis itu untuk makan siang bersama Naina.


...💟💟💟...


Malam harinya, Sheila berkunjung ke rumah utama orang tuanya. Sandra sedang merapikan pakaian yang akan dibawa untuk liburan nanti.


Sheila hanya memperhatikan ibunya yang sedang berbenah. Ia memainkan ponsel sambil bergulang guling di atas ranjang empuk milik orang tuanya.


Ya, saat ini Sheila sedang berada di kamar orang tuanya. Sebenarnya ia datang karena ingin protes. Kenapa para orang tua harus berangkat lebih dulu dan dirinya harus berangkat bersama Nathan?


Tapi rasanya percuma saja bertanya. Mereka tidak akan membiarkan Sheila ikut pergi dengan mereka. Lagipula cuti kerjanya dimulai minggu depan.


"Haaahh!" Sheila hanya bisa menghela napas kasar.


"Shei!" Panggilan Sandra membuat Sheila menoleh.


"Hmm, kenapa, Ma?"


"Mama sudah siapkan semua baju hangat kamu. Nanti coba di cek lagi. Bu Siti sudah merapikannya di kopermu," ucap Sandra.


"Iya, Ma," jawab Sheila malas.


"Sayang, jangan cemberut terus dong! Nanti juga kita ketemu disana. Ya?"


"Papa dan Mama sengaja kan?" tanya Sheila ambigu. Namun bisa dimengerti oleh Sandra.


"Ini rencana keluarga Nathan, bukan keluarga kita. Jadi ya..."


"Ah, kalian sama saja!" Sheila beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar.


Ia menuju kamarnya sendiri. Ia ingin menangis dengan kencang namun rasanya tidak bisa.


Sheila memejamkan mata berharap ia bisa menuju alam mimpi. Berkutat dengan banyak berkas membuatnya cukup lelah. Sudah lama ia tak merasakan kasur empuk miliknya. Ia pun tertidur dengan memeluk guling kesayangannya.


...💟💟💟...


Kini tibalah saatnya, Sheila harus berangkat ke Paris bersama Nathan. Sheila yang diantar Naina sedang menunggu kedatangan Nathan di bandara. Masih ada waktu satu jam sebelum penerbangan mereka.


Sheila masih menunjukkan wajah bad mood nya di depan Naina. Tapi sahabatnya itu terus menghiburnya.


"Jangan lupa bawakan oleh-oleh ya!" ucap Naina dengan mencubit pipi Sheila gemas.


"Ish, Na! Sakit tahu!" Sheila mengerucutkan bibirnya.


"Naina! Apaan sih?" Sheila melotot.


"Eh eh, omong-omong, kamu udah kissing belum sama tuan Nathan?" bisik Naina.


"Naina!" Wajah Sheila memerah. Tentu saja ia tidak akan menjawab pertanyaan absurd Naina.


"Eh, itu tuan Nathan!" seru Naina ketika melihat sosok Nathan sedang berjalan kearah mereka.


Sejenak Sheila terpesona dengan penampilan Nathan. Masih dengan balutan jasnya dia berjalan sambil berdiskusi dengan Harvey.


"Bahkan dia masih memikirkan soal pekerjaan di saat seperti ini," batin Sheila.


Ketika mata mereka berdua akhirnya bertemu, Sheila terkesiap karena tatapan Nathan terus mengarah padanya. Ia mengerjapkan mata untuk menetralkan degup jantungnya.


"Hai, Naina," sapa Nathan.


"Hai, Tuan Nathan," sapa Naina balik.


Nathan melirik Sheila yang malah menunduk. Ia sengaja tak menyapa Sheila dan malah asik mengobrol dengan Naina.


Sheila yang masih tertunduk mengepalkan tangannya. Ia merasa diabaikan disini. Ia ingin marah tapi rasanya tidak tepat. Ini tempat umum, pikirnya.


"Aku mau ke toilet dulu!" pamit Sheila dengan tidak menatap Nathan sama sekali. Sheila berjalan dengan cepat menuju ke toilet. Hatinya panas karena Nathan sama sekali tak menyapanya. Kenapa juga Sheila marah? Wah, pasti ada sesuatu ya, Shei?


Tiba di toilet wanita, Sheila membasuh wajahnya di wastafel. Rasanya ia butuh pendingin.


"Dasar menyebalkan! Apa maksudnya tidak menyapaku sama sekali? Apa dia sengaja, huh? Awas saja nanti ya!"


Sheila mengatur napasnya sambil menatap dirinya di cermin.


"Kenapa aku marah? Memang apa peduliku dengannya? Biarkan saja dia mau nyapa kek, enggak kek, bodo amat!" gerutu Sheila kemudian keluar dari toilet.


"Sudah selesai marah-marahnya?"


Suara itu adalah suara yang Sheila kenali.


"Hah?!" Mata Sheila membola melihat Nathan ada di depan toilet wanita.


"Kamu?!" tunjuk Sheila.


"Aku hanya ingin tahu seperti apa reaksi seorang Sheila ketika diabaikan oleh seseorang. Ternyata cukup esktrem ya!" ucap Nathan.


"Kamu marah karena aku tidak menyapamu?" lanjutnya.


"Eh? A-apa? Ti-tidak! Kenapa juga aku harus marah?" elak Sheila dengan wajah yang sudah memerah. Ternyata Nathan sedang mengerjai dirinya.


"Bagus! Tetaplah begitu! Itu artinya kamu mulai ingin mendapat perhatian dariku," ucap Nathan sambil berlalu.


"Hah?! A-apa maksudnya?! Ish, menyebalkan!" sungut Sheila dengan mengepalkan tangan dan mengarahkannya pada Nathan.


"Cepat, Shei! Pesawat kita sebentar lagi berangkat!" seru Nathan tanpa menoleh kearah Sheila.


...💟💟💟...


Nathan dan Sheila menaiki pesawat komersil biasa. Berbeda dengan keluarga mereka yang menaiki pesawat jet pribadi milik Avicenna Grup. Nathanlah yang merencanakan ini untuk Sheila. Alasannya simpel, karena Sheila selalu ingin menjadi orang biasa tanpa nama besar orang tuanya.


Bahkan Nathan memesan kelas ekonomi untuk penerbangan mereka. Sheila cukup terkejut namun ia tak bisa menolak. Baru kali ini ia naik pesawat kelas ekonomi.


Sheila duduk bersebelahan dengan Nathan. Bibirnya mengatup rapat dan tak bicara apapun. Ia malas berdebat dengan pria ini.


Sudah beberapa jam pesawat mengudara, namun masih tak ada percakapan diantara mereka. Kini Nathan mulai merasa bersalah karena sudah membuat Sheila marah. Akan kacau liburannya nanti jika Sheila masih marah padanya.


Nathan menurunkan ego dan bicara lebih dulu.


"Ehem! Shei!" panggil Nathan.


Sheila tak menyahut. Nathan memanggilnya sekali lagi. Ia bahkan terlalu takut untuk melirik Sheila.


"Shei! Maafkan aku..." ucap Nathan lirih.


Nathan terkejut ketika sesuatu menimpa pundaknya. Ia melirik kesamping dan ternyata itu adalah kepala Sheila. Ternyata gadis itu sudah tertidur.


Senyum simpul terlukis di wajah Nathan. Ia memegangi kepala gadisnya agar tidak terjatuh. Ia membenahi posisinya agar lebih nyaman dijadikan sandaran untuk Sheila. Tangannya terulur untuk memeluk tubuh Sheila. Ia mengecupi puncak kepala Sheila berkali-kali.


"Hah! Jika saja kau selalu manis seperti ini, Shei. Tidak ada bantahan, dan tidak ada penolakan darimu. Kapan kau akan mengakui perasaanmu sendiri, Shei?" lirih Nathan mengusap wajah Sheila yang begitu dekat dengannya.


Sheila tersenyum merasakan pelukan hangat seseorang. Entah ia sedang bermimpi atau tidak. Namun kehangatan itu terasa nyata, dan ia menyukai aromanya. Ia merekatkan tubuhnya lebih dekat dengan aroma yang menenangkan itu. Aaah, ini sebuah mimpi yang sangat indah. Pikir Sheila.


#bersambung. . .