
Edo mempersilakan Vania masuk ke dalam ruangannya. Gadis itu memperhatikan ruang kerja Edo dengan seksama. Warna biru langit mendominasi disana.
"Ada apa?" tanya Edo karena Vania masih ternganga.
"Tidak ada. Aku hanya menyukai warna ruangan Abang." Vania mengulas senyum.
"Ayo duduk!" Edo mengajak Vania duduk di sofa.
Gadis itu duduk dan meletakkan barang bawaannya di meja.
"Jadi, kamu masak apa hari ini?"
"Eh? Ah iya. Ini ada udang asam manis, tumis sawi, dan tempe goreng." Vania meringis.
"Aku hanya bisa memasak makanan rumahan, Bang."
"Hei, aku malah suka masakan rumah. Cepat ambilkan untukku!"
Vania mengangguk. Gadis itu membuka kotak makan yang tersusun rapi itu.
"Sebentar, aku ambilkan piring dulu!" ucap Edo lalu beranjak dari duduknya. Ia menekan intercom dan meminta OB untuk datang.
Vania hanya memperhatikan sikap Edo yang hangat meski dengan bawahannya.
Edo menyerahkan dua buah piring kepada Vania.
"Kok dua, Bang?"
"Kamu juga harus makan."
Vania tersenyum. Meski sebenarnya ... ia masih memikirkan Damian yang tadi diusir oleh satpam. Namun sebisa mungkin Vania tidak ingin membuat Edo curiga.
Vania mengambil beberapa sendok nasi untuk Edo. Pria itu memperhatikan Vania yang terlihat melamun dan memikirkan sesuatu.
"Hei, memangnya aku ini kuda nil?" protes Edo.
"Eh?" Vania melongo menatap Edo.
Edo melirik kearah piring yang dipegang Vania. Vania memasukkan begitu banyak nasi ke piring Edo.
"Maaf..." Vania mengambil lagi nasi di piring Edo.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Edo.
"Eh?" Vania menatap Edo. Sebuah raut kesedihan ada disana.
"Apa kamu menyukai Damian?" tanya Edo tiba-tiba.
Vania diam. Ia segera memalingkan wajahnya.
"Ti-tidak! Itu tidak mungkin, Bang."
Vania kembali mengambilkan lauk untuk Edo. "Abang mau tempe goreng? Ini makanan asli Indonesia, Bang."
Edo mengangguk. Sungguh ia tidak ingin membuat Vania bersedih. Ia hanya ingin melindungi Vania agar tidak kembali tersakiti oleh Damian.
"Ini, kamu juga makanlah!" ucap Edo lalu menyodorkan piring kepada Vania.
"Iya, Bang."
Edo makan dengan lahap. "Hmm, ini enak sekali. Terima kasih ya, Vania. Aku sangat menyukai masakanmu."
Vania tersenyum tipis. Ia juga ikut melahap makanan yang ia bawa.
Setelah semua makanan telah habis, Vania memberikan minuman kaleng kesukaan Edo.
"Wah, kamu masih ingat ini?"
Vania mengangguk. "Iya, itu adalah kesukaan abang kan?"
"Terima kasih, ya."
"Emh, Bang..." Vania ragu untuk bicara.
"Ada apa?"
"Aku ... tidak bisa berdiam diri di rumah abang terus. Aku ... ingin bekerja," ungkap Vania.
Edo menghela napas. "Baiklah. Kamu ingin bekerja disini?"
"Eh? Apa boleh?" Mata Vania berbinar.
Edo mengiyakan. "Iya, tentu saja boleh."
Vania tersenyum lega.
#
#
#
Kantor AJ Foods,
Sheila menemui Danny untuk menanyakan kondisi perusahaan selama dia pergi.
"Kamu tenang saja. Aku dan kak Rangga sudah mengurus semuanya," jelas Danny.
"Syukurlah!"
"Lalu bagaimana kondisi tuan Adi Jaya?"
Sheila mengulas senyumnya. "Operasinya berjalan dengan lancar. Tapi malah kini giliran mama yang sakit."
"Kamu yang sabar, Shei."
"Iya, Kak. Oh ya, mengenai kabar ini ... tidak ada media yang tahu kan?"
"Tenang saja, Shei. Aku dan kak Rangga sudah mengurus semuanya."
"Hah?! Masa sih?" Sheila langsung memeriksa kondisi wajahnya sekarang.
"Shei, mau sampai kapan kamu mau menutupi ini semua dari Nathan?"
Sheila diam. Ia memang tidak bisa membohongi suaminya lebih lama lagi.
"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Kak, aku harus pergi. Terima kasih karena sudah membantu mengurus perusahaan selama aku pergi."
"Jangan sungkan, Shei. Jangan banyak pikiran ya! Fokus saja pada kondisimu."
"Iya, Kak. Terima kasih."
Sheila pergi dari kantor AJ Foods kemudian kembali melajukan mobil menuju sebuah rumah sakit. Hari ini Sheila sudah membuat janji dengan dokter Liam.
Begitu Sheila tiba, ternyata Liam sedang memeriksa pasiennya. Seorang perawat meminta Sheila untuk menunggu di ruangan dokter Liam.
Sheila duduk di depan meja Liam. Ia melihat sekeliling ruangan yang pastinya berwarna putih. Mata Sheila tiba-tiba tertuju pada sebuah map yang ada diatas meja.
Sheila membaca berkas yang berada paling atas itu.
"Damian Ford?" gumam Sheila.
Sheila mengernyit bingung kenapa ada berkas atas nama Damian di meja Liam.
"Apa Damian adalah pasien dokter Liam juga?" gumam Sheila.
Tak lama Liam masuk dan menyapa Sheila. Dokter muda itu menjabat tangan Sheila.
"Maaf sudah membuatmu menunggu."
"Ah tidak apa, aku juga baru datang."
Sheila melirik lagi berkas milik Damian. Liam tahu kemana arah mata Sheila memandang, ia segera menyembunyikan berkas milik Damian itu.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan, Sheila?" tanya Liam mengalihkan perhatian Sheila.
"Emh, aku hanya ingin tahu bagaimana kondisi Nathan sejauh ini. Maksudku...apa dia baik-baik saja? Saat ini aku..."
"Aku tahu kekhawatiranmu, Shei. Tapi sejauh ini, kondisi Nathan stabil. Hanya saja dia masih suka uring-uringan karena kau tidak ada di sisinya. Harvey yang mengeluh padaku."
Sheila terkekeh. "Iya, aku tahu Harvey pasti sangat kerepotan."
"Shei, katakan saja yang sejujurnya pada Nathan. Aku yakin dia pasti bisa menerima kondisimu. Kalian harus bisa saling menguatkan. Dan aku sangat yakin, kondisi Nathan juga ditentukan olehmu. Jangan sampai dia kembali seperti dulu. Apa kau mengerti?"
Sheila menundukkan wajahnya. Ini adalah hal sulit yang harus ia lakukan.
#
#
#
Sore harinya, Vania keluar dari kantor More Trans bersama dengan Edo. Damian yang sejak siang tadi ternyata tidak beranjak dari sana, kini mulai mengikuti kemana mobil Edo melaju.
Damian masih ingin mendapat maaf dari Vania. Ia tidak akan menyerah.
"Kemana Edo membawa Vania? Jangan bilang dia bawa Vania ke rumahnya! Wah, benar-benar ya dia!" kesal Damian karena Edo selalu mengalahkannya.
Dan firasat Damian memang benar. Edo memang membawa Vania ke rumahnya. Damian segera turun dari mobilnya dan berlari masuk ke halaman rumah keluarga Moremans.
"Vania!" teriak Damian.
Edo menggeram kesal karena Damian lagi-lagi datang mencari Vania.
"Mau apa lagi, hah?!" tanya Edo kesal.
"Vania, apa kau tinggal bersama dengan dia? Yang benar saja! Kalian tidak ada hubungan apapun dan..."
"Hei, jaga bicaramu! Aku disini tidak tinggal sendiri. Pikiranmu sangat picik, Damian!"
Damian sama sekali tidak menggubris Edo dan malah mendekati Vania.
"Vania! Maafkan aku! Aku akan cari pelaku sebenarnya yang sudah memfitnahmu. Aku janji!"
Edo kini hanya diam. Ia ingin tahu seperti apa Vania akan merespon Damian.
"Tuan Damian..."
"Vania, aku mohon! Aku benar-benar menyesali semuanya. Aku tidak bisa melihatmu bersama dengan dia! Aku sungguh mencintaimu, Vania. Aku..."
"Tuan! Tolong berhenti!" Vania memotong kalimat Damian.
Kini Vania menatap Damian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tolong jangan ganggu hidupku lagi! Jangan lagi datang ke hadapanku lagi. Sudah cukup semuanya, Tuan! Pergilah dari hidupku!" ucap Vania dengan suara bergetar.
"Vania... Aku tahu kau berbohong! Aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Kumohon akui itu..."
"Tidak! Aku tidak memiliki perasaan yang sama dengan anda, Tuan! Aku ... membencimu! Aku sangat membencimu!"
Vania berbalik badan kemudian masuk ke dalam rumah. Sementara Damian masih berusaha ingin membujuk Vania namun dicegah oleh Edo.
"Biarkan dia sendiri dulu!"
Damian mengepalkan tangannya.
"Semakin kau menekannya, semakin Vania akan jauh darimu!" ucap Edo.
Damian akhirnya mengalah. Ia juga berbalik badan dan akan pergi dari rumah Edo. Namun ia kembali memutar dan berkata, "Apa kau menyukai Vania?"
Edo tersenyum getir mendengar pertanyaan Damian.
"Jika pun aku menyukai Vania ... aku tidak akan bisa bersama dengannya. Yang harus kau ingat adalah ... aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Vania lagi."
Edo beranjak pergi dari sana meninggalkan Damian yang masih diliputi kebingungan.
Edo masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka ponselnya. Siang tadi ia mengirim sampel untuk tes DNA dari sendok yang dipakai Vania untuk makan. Ia harus membuktikan jika Vania adalah Freya atau bukan.