
Seorang pria muda tengah mengendarai mobil sport mewah miliknya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi dengan takdir yang akan ia hadapi selanjutnya.
Dialah Damian Ford. Pria campuran Eropa-Indonesia ini baru saja kembali ke tanah kelahiran ibunya setelah lama tinggal di luar negeri.
Ayahnya, Jonathan Ford, memintanya untuk melanjutkan bisnis mereka yang ada di Indonesia. Sebenarnya Damian, masih ingin tinggal di luar negeri. Namun setelah mendengar kakeknya, Joseph Ford kini tinggal di sebuah panti jompo, ia pun ingin bisa mengunjungi kakeknya yang memang dekat dengannya.
Sejak menikahi ibunya, ayah Damian lebih suka tinggal di Indonesia dan membangun bisnis di negara ini. Damian yang lebih dekat dengan kakeknya memilih tinggal bersama dengan pria itu setelah ibunya meninggal.
Setelah lulus kuliah, Damian lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan hingga Jonathan memutuskan membawa Joseph ke Indonesia karena pria tua itu mulai sakit-sakitan. Tubuh rentanya ingin tinggal bersama dengan orang-orang seusianya, akhirnya Jonathan memasukkan Joseph ke sebuah panti jompo. Dan terbukti disana ia lebih bahagia.
Kembali kepada Damian yang kini mengendarai mobilnya menuju ke panti jompo tempat kakeknya tinggal. Ia pergi kesana karena merasa kesal dengan ayahnya yang secara sepihak menjodohkan dirinya dengan seorang gadis yang tidak dia kenal.
Dilihat sekilas gadis itu sama sekali bukan tipe Damian. Gadis yang terlihat glamor dan hanya suka menghabiskan uang saja. Memang gadis itu juga bukan dari kalangan biasa. Sangat terlihat jika dia juga seorang putri keluarga kaya. Namun untuk ukuran Damian, gadis cantik bernama Rizka itu belum bisa menyentuh hatinya.
Damian tiba di halaman panti jompo. Sudah pukul sembilan malam. Ia berharap jika jam kunjung masih belum usai.
Namun ketika bertemu dengan Celia, gadis itu melarangnya masuk.
"Waktu kunjung sudah habis, Tuan Damian. Dan kakek Tuan juga sudah tidur. Jadi sebaiknya..."
"Tolong izinkan aku masuk! Aku janji tidak akan mengganggu kakek!" pinta Damian dengan wajah memelasnya.
Siapa yang berani menolak pesona seorang Damian? Di negara asalnya ia dikenal dengan pria yang ramah dan hangat. Bahkan ia suka sekali mengeluarkan gurauan dan juga tingkah yang lucu.
Celia mengalah. Ia pun mengizinkan Damian masuk namun dengan syarat tidak akan mengganggu kakek dan penghuni panti lainnya.
Damian duduk di samping tempat tidur kakeknya. Ia menatap pria tua itu dengan sendu. Dulu ia selalu bermain dengan kakeknya itu. Namun kini semua telah berlalu.
"Kakek... Apa kakek tahu, pria bernama Jonathan itu selalu bersikap semaunya sendiri! Dengan tidak tahu malunya dia menjodohkan aku dengan gadis yang sama sekali tidak aku kenal. Yang benar saja! Itu sangat menyebalkan, Kek!" keluh Damian.
"Gadis itu bahkan terlihat tidak menyukaiku. Dia benar-benar bodoh! Berani sekali dia menolak pesonaku yang tampan ini?"
Celia yang mendengar curhatan Damian pun tertawa geli sendiri. Ternyata wajah tampannya memang sangat berbeda dengan sifat hangat dan terbukanya. Yang ia tahu biasanya pria tampan itu terkesan dingin dan tidak tersentuh, seperti Nathan. Tapi ternyata Damian berbeda. Ia kagum padanya. Ehem! Hanya sekedar kagum ya!
"Kakek! Apa aku harus menuruti perintah pria itu? Dia selalu mengaturku! Dan aku tidak suka. Aku bukan bonekanya, Kek! Aku tahu ini adalah pernikahan bisnis. Jadi, sebaiknya aku harus bagaimana? Apa aku harus menerima perjodohan ini atau tidak?" tanya Damian yang tentu saja tidak mendapat jawaban dari kakeknya, karena pria itu telah terlelap.
"Saya rasa sudah cukup, Tuan. Jika Tuan terus bercerita, bisa bisa kakek Tuan terbangun dari tidurnya," ucap Celia.
Damian mengangguk. Ia pun keluar dari bangsal kakeknya dan menuju ke taman panti.
Damian dan Celia duduk di bangku taman itu.
"Terima kasih karena sudah mengizinkan aku menemui kakekku," ucap Damian tulus.
"Iya, Tuan. Sama-sama. Jadi, masalah Tuan adalah karena dijodohkan?" tanya Celia.
Damian mengangguk. Ia bahkan tidak marah karena Celia mencuri dengar cerita bersama kakeknya tadi.
"Biasanya orang tua memilihkan yang terbaik untuk anak mereka. Ya, meski harus di dasari dengan keterpaksaan."
Damian mengernyit. "Apa kau pernah dijodohkan juga?"
Celia mengangguk. "Bahkan kesannya aku ini di jual!"
Damian membulatkan mata. "Hah?! Benarkah? Berarti nasibmu sama saja dengan nasibku!" Damian tertawa.
Celia yang melihat pria ini tertawa, akhirnya juga ikut tertawa. Mereka menghabiskan waktu hingga hampir satu jam saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.
#
#
#
Sheila keluar dari parkiran gedung AJ Foods pukul sepuluh malam. Hari ini jadwalnya sangat padat karena pekerjaan yang mulai menumpuk.
Biasanya pukul tujuh malam Sheila sudah berada di rumah dan memasak untuk suaminya itu. Tapi sepertinya mulai hari ini, jadwalnya mulai tidak tentu dengan pekerjaan yang mulai padat.
Karena kurang berhati-hati, Sheila tak sengaja menabrak mobil yang ada di depannya ketika berada di lampu merah. Sheila tak memperhatikan jika lampu lalu lintasnya sudah berganti merah.
BRAK!
Sheila tak bisa menghindar karena sudah tidak ada waktu untuk menginjak pedal rem.
"Aduh! Bagaimana ini? Apakah orangnya marah?" gumam Sheila masih di dalam mobil.
Tapi ia tak bisa lari dari tanggung jawab. Ia segera turun untuk memeriksa seberapa parah ia menabrak mobil mewah di depannya.
Sheila meringis melihat lampu belakang mobil itu pecah dengan bumper yang penyok.
"Waduh!" Sheila meringis. Ia tahu berapa biaya perbaikan untuk hal semacam ini.
"Hei, kau! Bisa menyetir tidak? Apa kau tidak lihat lampu merahnya menyala?" Seorang pria muda turun dari mobil dan memarahi Sheila.
Namun yang dimarahi malah diam dan terus memandangi lampu mobil yang rusak.
"Hei, kau! Apa kau tuli, hah?! Aku sedang bicara denganmu!"
Sheila akhirnya berdiri tegak menghadap pria yang tak lain adalah Damian.
"Tuan, maafkan aku! Aku tidak sengaja tadi. Aku janji akan mengganti kerugian ini! Berikan saja kartu namamu dan aku akan mengganti uang bengkelnya!" ucap Sheila cepat dengan mengatupkan kedua tangannya.
Damian terdiam seakan tersihir oleh pesona Sheila.
"Tuan! Haloooo!" Sheila melambaikan tangannya di depan wajah Damian.
"Hah?! Apa?!"
"Tuan, aku akan mengganti kerugiannya. Kau jangan khawatir! Berikan saja kartu namamu!" Sheila menengadahkan tangannya.
Dengan cepat Damian membuka dompet dan memberikan kartu namanya.
"Baiklah! Aku harus segera pulang karena suamiku menungguku. Akan kukabari besok lagi! Sekali lagi aku minta maaf, Tuan!" Sheila sedikit menunduk kemudian masuk kembali kedalam mobilnya.
Sheila segera tancap gas dari sana. Ia merasa heran karena Damian masih bergeming disana.
Sementara itu, Damian tersadar dari lamunannya ketika kini dirinya hanya sendiri di jalanan itu.
"Wah, apa aku baru saja bertemu bidadari?" Damian meracau.
"Siapa tadi namanya? Ah, kau bodoh, Damian! Kenapa tidak bertanya siapa namanya? Eh, tunggu dulu! Tapi aku memberikan kartu namaku. Itu berarti dia akan menghubungiku dan aku akan tahu siapa nama gadis cantik tadi..." Damian bermonolog.
Damian senyum-senyum sendiri tidak jelas.
"Astaga, jantungku! Kenapa berdebar saat menatapnya? Dia gadis yang sangat manis. Aaah, semoga saja aku bisa bertemu lagi dengannya." Damian memegangi dadanya.
#bersambung
*Visual Damian Ford
*Kaliyan suka gak? 😬😬😬
Aku kok meleleh meski dia tidak nyata 😅😅😅