My Culun CEO

My Culun CEO
Berita yang Meresahkan



Marina menatap kedua temannya usai menyatakan maksudnya menemui Nita dan Sitta. Masih tak ada jawaban dari kedua gadis yang ditatap dengan tatapan aneh milik Marina.


Marina Hoffman, dia memiliki kepribadian yang cukup unik hingga sering disebut psikopat. Apa yang dia inginkan harus dia dapatkan.


Nita dan Sitta masih diam. Ingin mengiyakan, mereka ragu. Ingin menolak, terlalu takut untuk bicara. Karena mereka tidak akan lepas dari cengkraman seorang Marina.


"Ah, kalian pasti bingung ya? Kenapa aku bisa ada disini? Yang kalian tahu aku sedang mendapatkan hukuman dari papaku."


Nita dan Sitta menundukkan wajahnya.


"Aku sudah menyelesaikan hukumanku, kawan. Dan kini papa membebaskan aku untuk melakukan apa yang aku suka."


Nita dan Sitta kembali menatap Marina. Kini nada bicara Marina sudah berbeda. Tatapan matanya pun tak semenyeramkan tadi saat datang.


"Apa yang bisa kami bantu?" tanya Sitta kemudian.


Marina tersenyum. "Bantu aku untuk kembali bekerja di Avicenna Grup."


"Hah?!" Nita dan Sitta terkejut.


"Jangan kaget begitu! Kalian harus meyakinkan papaku dan juga Nathan jika perusahaannya membutuhkan orang sepertiku."


Marina berucap seakan memohon pada kedua temannya.


"Kenapa kamu ingin kembali?" tanya Nita.


"Nita sayang, kamu tenang saja. Aku tidak akan berbuat onar kok!" tegas marina.


Kedua gadis ini menghela napas. "Baiklah. Kami akan membantumu."


"Yeay! Terima kasih! Kalian memang yang terbaik. Malam ini aku akan mentraktir kalian berdua sampai puas. Oke?" Marina tersenyum penuh kemenangan.


...💟💟💟...


Marina berhasil meyakinkan David jika dirinya kembali ke Avicenna Grup bukan untuk mengacau. Kini ia benar-benar serius ingin bekerja.


Sebenarnya David ingin menolak permintaan putrinya, tapi ketika mendengar langsung dari Nathan jika pria itu membutuhkan keahlian Marina, David pun tak kuasa menolak.


Persetujuan Nathan tentu saja bukan tanpa alasan. Selain karena Marina memang cekatan dalam pekerjaannya, ini semua juga berkat kedua sahabat Marina yang mengeluh karena kinerja menurun dan membujuk Nathan untuk menerima Marina kembali.


Satu bulan telah berlalu sejak Marina kembali bekerja. Bahkan Nathan mulai melupakan masalahnya dengan Sheila.


Sejak pertemuan mereka di pulau Ayer beberapa waktu lalu, Nathan akhirnya mulai mengalah dan membiarkan Sheila bebas. Bahkan ia menerima surat pengunduran diri Sheila.


Lalu bagaimana dengan kedua pihak orang tua yang sangat menginginkan perjodohan ini? Jangan ditanya lagi, Roy amat murka dengan sikap Nathan. Tapi Lian selalu membela putra bungsunya itu dan memberi pengertian pada Roy. Akhirnya kini semua pihak memahami apa yang menjadi keputusan Nathan dan Sheila.


Awal tahun ini Nathan sangat disibukkan dengan banyaknya proyek kerjasama yang masuk ke Avicenna Grup. Sebenarnya Nathan sengaja melakukannya. Ia ingin kembali fokus pada perusahaan dan tidak memikirkan cinta.


Memang tak bisa dipungkiri jika dirinya masih merindukan Sheila. Terkadang diam-diam ia datang ke rumah kontrakannya dulu saat menjadi Tarjo. Ia ingin melepas rindu dan mengenang memori saat mereka tinggal bertetangga dulu.


Nathan tersenyum sendiri ketika mengingat awal pertemuan Tarjo dan Sheila.


"Nate!" Sebuah suara membuat Nathan kembali ke alam nyata.


"Eh? Marina? Ada apa?" tanya Nathan gugup karena ketahuan melamun.


"Kita harus segera pergi bertemu perwakilan dari JK Grup. Aku berharap kita bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan dari Korea ini," ucap Marian antusias.


Nathan melihat jika Marina sudah banyak berubah. Ia menyukai perubahan dalam diri Marina ini.


"Aku percaya padamu, Marina. Aku yakin kita pasti berhasil," balas Nathan diiringi senyum.


...💟💟💟...


Sedari tadi Sheila menggonta ganti channel televisi yang ia tonton. Ia merasa jika tidak ada acara TV yang menarik hatinya.


Saat sedang menggonta-ganti channel TV, tak sengaja matanya tertuju pada acara TV yang sedang menampilkan berita seputar bisnis.


"Perusahaan yang bergerak dalam banyak bidang, Avicenna Grup baru saja berhasil menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan dari Korea, JK Grup. Keberhasilan ini tak luput dari kerja keras seorang wanita muda yang bernama Marina Hoffman. Putri dari David Hoffman ini ternyata memiliki jiwa pebisnis yang tangguh."


Sejenak Sheila tertegun melihat Nathan dan Marina yang sedang di wawancarai oleh para pencari berita. Entah sejak kapan Marina kembali bekerja di perusahaan Avicenna Grup dan terlihat akrab dengan Nathan.


Sheila mengganti channel kembali dan lagi-lagi ia melihat Nathan dan Marina. Kali ini adalah acara gosip dunia hiburan.


Sheila memutar bola matanya malas. Lagi dan lagi Nathan kembali jadi perbincangan. Kini yang disorot adalah kedekatan Nathan dan Marina. Publik penasaran apakah mereka ada hubungan khusus atau hanya profesionalitas kerja saja.


Sheila mematikan televisi. Ia memilih menghubungi Cecilia dan akan menuju ke kafe milik kakak iparnya itu.


Tiba disana, Sheila menyapa Cecilia hangat dan memesan menu kesukaannya.


"Tumben kamu keluar rumah, Shei. Biasanya hanya semedi di kamar," goda Cecilia.


"Aku bosan, Kak," jawab Sheila enteng.


"Kenapa tidak bekerja di AJ foods saja? Bukankah kakakmu sudah pernah mengajakmu bergabung?"


"Hmm, ya nantilah aku pikirkan. Aku akan bicara dengan papa dan mama dulu."


Cecilia mengangguk paham. Saat sedang asyik berbincang, sayup-sayup Sheila mendengar dua orang gadis remaja yang sedang bergosip.


Cecilia menatap Sheila yang mendadak diam karena mendengar dua gadis itu bergosip.


"Wah, coba lihat ini! Dia sangat tampan ya!" seru seorang gadis dengan memperlihatkan ponselnya kepada temannya.


"Uuh, tampannya! Nathan Avicenna memang yang terbaik. Masih muda, kaya, tampan lagi. Suamiable banget lah!" puji gadis satunya.


Rahang Sheila mulai mengeras. Lagi dan lagi ia harus mendengar berita tentang Nathan.


"Eh eh, coba lihat ini! Ini kan Marina Hoffman! Bukannya dia model ya? Jadi sekarang dia bekerja dengan Nat-Nat? Wah pasangan yang serasi ya!"


"Iya, ini Marina Hoffman. Dia kan udah lama hengkang dari dunia model. Duh, mereka so sweet banget sih! Jangan-jangan mereka memang ada hubungan."


BRAK!


Tiba-tiba terdengar suara meja digebrak. Sheila mengatur napasnya yang memburu.


Cecilia menatap Sheila yang terlihat dikuasai emosi. Kedua gadis yang sedang bergosip menatap Sheila penuh heran.


"Kak! Aku pulang dulu. Terima kasih atas makanan dan minumannya." Sheila segera beranjak dari duduknya dan pergi dari kafe Cecilia.


Sheila mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang namun memburu. Rasanya ia tak tahan dengan pemberitaan hari ini yang terus membahas soal Nathan.


Entah kenapa rasa yang tidak tenang kini menghantui hatinya. Sudah satu bulan ia tak mendengar kabar Nathan dan kini harus mendengar berita yang cukup membuatnya resah.


"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidak rela dia dekat dengan si Marina itu?"


Sheila yang sedang berkendara tiba-tiba menginjak pedal rem dengan mendadak. Ia mengatur napasnya.


"Jangan bodoh, Shei! Jangan memikirkan tentang dia lagi!"


Sheila menepuk pelan kedua pipinya dengan tangan. Sejurus kemudian tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya.


#bersambung...