My Culun CEO

My Culun CEO
My Fiancé



Sheila bangun dari tidurnya dan melihat Nathan sudah tidak ada disampingnya. Sheila mengerjap dan mengumpulkan nyawanya sebelum keluar dari tenda.


Semalam mereka benar-benar tidur didalam tenda dan hanya berdua. Sheila menutup matanya ketika mengingat apa yang dikatakan Nathan semalam.


Sheila menepuk kedua pipinya. Ia tidak bermimpi. Nathan benar-benar melamarnya dengan benar. Tapi Sheila merengut karena pria itu tidak menyiapkan cincin. Ya walaupun itu hanya sebuah simbol saja.


Sheila keluar dari tenda dan melihat Nathan sedang berbicara di telepon. Dia sudah rapi dengan atasan sweater tebal dan celana jeans juga sepatu boot. Satu tangannya ia masukkan kedalam saku dan tangan lainnya memegang ponsel yang di dekatkan di telinga.


Ah, sungguh pemandangan pagi yang menggugah selera. Pikir Sheila. Dan ia baru sadar jika pria itu adalah kekasihnya. Lebih tepatnya sudah menjadi tunangan. Sheila terkekeh geli mengingat hubungan mereka yang akan berlanjut ke tahap selanjutnya.


"Shei, kamu sudah bangun?" Nathan menghampiri Sheila yang masih berdiri mematung.


Sheila mengangguk. "Kalau kamu sibuk untuk apa kita liburan begini? Harusnya kamu selesaikan dulu pekerjaanmu baru kita bisa berlibur. Aku tidak mau mengganggumu, Nate!"


Nathan melihat ekspresi Sheila yang menggemaskan. "Siapa bilang kamu mengganggu? Jika tidak begini mana bisa aku bersantai. Waktuku habis untuk bekerja, Shei." Nathan mencubit kedua pipi Sheila gemas.


"Aduh, sakit!" Sheila menepis tangan Nathan dan menggenggamnya.


"Jadi, setelah kita menikah, apa kamu tetap akan sangat sibuk? Kamu tidak akan punya waktu untukku?"


Nathan tersenyum. "Tentu saja tidak! Ketika menikah, ada hal lain yang harus kita prioritaskan selain pekerjaan. Jadi, aku tidak akan membuatmu marah karena aku pulang terlambat."


Sheila berbinar senang. "Benar ya? Tidak bohong kan?"


"Hmm, akan kuusahakan!" balas Nathan.


Sheila memeluk Nathan. "Terima kasih."


"Sebaiknya sekarang kamu bersiap. Kita akan cari sarapan disana!" ucap Nathan.


Sheila mengangguk dan langsung masuk ke dalam villa.


Lima belas menit kemudian, Sheila telah siap dengan sweater lengan panjang dan celana jeans yang melekat di kaki jenjangnya. Kali ini mereka tampak kompak dengan setelan yang mirip.


Mereka menuruni bukit dengan saling bergandengan tangan. Udara sejuk di pagi hari sangat menenangkan untuk dihirup. Sheila menunjuk beberapa bukit dan ingin pergi kesana.


Nathan menggeleng. Ia tahu Sheila buka tipe gadis yang suka naik gunung. Yang ada Nathan akan repot karena Sheila terus mengeluh.


"Itu disana! Bubur ayam Mang Sadi," tunjuk Nathan.


Sheila manggut-manggut. Mereka mempercepat jalan agar lebih cepat sampai. Bahkan Sheila menantang Nathan untuk balap lari.


Sheila tertawa karena Nathan kalah darinya.


"Yang kalah harus traktir!" ucap Sheilam


Nathan yang napasnya tersengal malah tertawa dengan ucapan Sheila.


"Ya iyalah aku yang akan bayar. Kamu kan calon istriku!"


Sheila menjulurkan lidahnya. "Calon istri tanpa cincin!" sindir Sheila.


Sheila duduk di warung tenda itu. Nathan memesan dua mangkuk bubur kemudian duduk di samping Sheila.


"Kamu hebat juga larinya!" puji Nathan.


"Tidak juga. Aku jarang berolahraga, hihi." Sheila meringis.


"Ya baguslah kalau larimu kencang. Jadi, nanti kalau ada maling, kamu bisa kejar malingnya!"


Sheila kembali merengut. "Dasar! Suami setengah-setengah!"


Tak lama dua mangkuk bubur telah tersaji di depan meja masing-masing. Sheila langsung menghirup aroma lezat yang menggugah rasa laparnya.


Sheila mengaduk bubur ayamnya menjadi satu.


"Eh, Shei! Kenapa diaduk seperti itu?" tanya Nathan yan terdengar panik.


"Lah kan memang lebih enak jika diaduk semua, Nate. Jadinya kan merata!" jawab Sheila santai.


Nathan menatap Mang Sadi si penjual bubur. Sepertinya rencananya akan sedikit kacau. Ia lupa jika Sheila suka mengaduk buburnya.


Nathan memperhatikan Sheila yang makan dengan lahapnya. Nathan mulai menyendok perlahan bubur di mangkuknya sambil melirik Sheila.


"Hmm?" Sheila terhenti. Ia meraih sesuatu dari dalam mulutnya.


"Apa ini?" Sheila memperhatikan benda keras yang tak sengaja termakan olehnya. Mata Sheila membulat sempurna.


"Cincin? Nate, jangan-jangan kamu..." Sheila menatap Nathan dengan menunjukkan cincin yang dipegangnya.


Nathan meringis dengan menggaruk kepalanya. "Iya, Shei. Itu kejutan untukmu!"


Mata Sheila berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Nathan.


"Hehe, maaf ya. Sini aku pakaikan!" Nathan mengambil cincin dari tangan Sheila dan memakaikannya di jari manis gadis itu.


"It's beautiful, Nate. Tapi, ini bukan cincin pertunangan kita yang dulu kan?" Sheila memandangi cincin di jari manisnya.


"Bukan! Yang itu sudah aku buang!"


"Hah?! Serius? Itu kan juga bagus, Nate. Kenapa dibuang?"


Nathan mengacak rambut Sheila gemas. "Aku tidak membuangnya. Aku memberikannya pada Harvey. Siapa tahu saja dia ingin melamar kekasihnya."


Sheila membulatkan mata. "Apa dia punya kekasih?"


"Entahlah. Kami tidak pernah membahas soal hal pribadi."


"Hmm, padahal aku punya rencana untuk menjodohkan Harvey dengan Naina. Menurut kamu gimana?"


Nathan manggut-manggut. "Boleh juga. Lagipula ini bagus untuk Naina agar bisa melupakan si brengsek Vicky."


Nathan tersulut emosi jika mengingat apa yang akan dilakukan pria itu terhadap Sheila. Sheila mengusap lengan Nathan.


"Jangan diingat lagi ya! Aku sudah baik-baik saja dan kini aku ada disini denganmu."


Nathan mengangguk. Ia kembali membawa Sheila dalam pelukannya. Rasanya begitu tenang melihat sang kekasih ada didekat kita.


...💟💟💟...


Kini baik Sheila maupun Nathan telah kembali ke aktifitas mereka masing-masing. Sheila sesekali membantu Cecilia di kafenya. Karena Nathan tidak mengizinkan Sheila kembali ke Avicenna Grup.


Hari ini Sheila kembali ke rumah kontrakannya untuk membereskan barang-barangnya yang masih tertinggal disana. Dengan dibantu Danny, Sheila mengepak semua barang dan akan diangkut dengan kontainer.


Danny ikut senang karena Sheila sudah kembali ceria seperti dulu. Ia melihat cincin yang melingkar di jari manis Sheila. Itu berarti jika hubungannya dengan Nathan telah kembali normal.


"Terima kasih karena udah mau bantuin aku, Kak!" ucap Sheila.


"Pak Adi sendiri yang memintaku untuk membantumu, Shei. Jangan sungkan. Lagipula keluargamu sudah banyak berjasa untukku. Apalah aku jika tanpa bantuan keluargamu."


Sheila menatap Danny sendu. "Kakak jangan bicara begitu. Kakak berhasil di posisi ini karena usaha kakak sendiri, bukan karena kami."


Danny tersenyum. Ia membelai puncak kepala Sheila. Tak terasa gadis yang dulu kecil kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik dan baik hati.


Ya, Danny melihat Sheila sebagai gadis yang baik hati. Dia tidak pernah membeda-bedakan orang meski mereka berbeda status sosial. Itulah kenapa hatinya memanggil nama Sheila ketika gadis itu mulai beranjak remaja.


"Kak..."


Mata Danny berkaca-kaca. "Aku senang kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Meski itu bukan dariku."


"Eh, apa maksud kakak?"


"Aku menyayangimu, Shei. Bukan sebagai adikku, tapi sebagai seorang gadis yang mengisi hatiku selama bertahun-tahun."



"Kak Danny..." Sheila menatap Danny yang kini sedang menatapnya. Matanya memancarkan kesedihan. Sheila tahu itu.


"Maaf, Kak..."


"Aku tahu. Kamu tidak perlu meminta maaf. Mungkin aku terlambat untuk mengatakannya. Tapi aku ingin kamu tetap mengetahui isi hatiku."


"Shei!" Sebuah suara membuat dua orang di dalam rumah menjadi canggung.


Nathan datang dan segera menghampiri Sheila. "Sudah selesai semuanya?"


"Nate, kamu datang? Aku pikir kamu gak bisa datang."


"Sayang, tentu saja aku bisa datang."


"Shei, kalau begitu aku pergi dulu. Tuan Nathan, saya permisi!"


Nathan mengantar Danny hingga ke depan rumah. "Terima kasih karena kamu sudah menyayangi Sheila. Kamu sudah menjaganya seperti adikmu. Tapi kini tugas itu ada padaku. Aku adalah tunangannya. Dan aku yang akan menjaga Sheila mulai sekarang."


Danny tersenyum kecut. "Iya, aku tahu. Dan jangan pernah kamu sakiti Sheila. Atau aku akan merebutnya dari sisimu."


Usai mengucapkan hal itu pada Nathan, Danny masuk ke dalam mobilnya dan segera melesat pergi dari sana.


"Nate!" panggil Sheila.


Nathan tersenyum dan menghampiri Sheila. "Ayo kita pulang!" Nathan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Sheila.


"Iya, ayo!"


#bersambung...