
Kapal pesiar mewah itu akhirnya tiba di pelabuhan. Satu persatu penumpang turun dari atas kapal tak terkecuali Vania dan Naina.
Kondisi Vania sudah lebih baik. Naina membantu Vania untuk berjalan. Rizka menyapa mereka berdua.
"Aku akan mengantar kalian berdua," ucap Rizka.
Vania menggeleng. "Tidak perlu, Kak. Aku akan pulang dengan Kak Naina saja."
"Vania, kumohon jangan menolak! Aku merasa masih punya tanggung jawab terhadapmu."
Vania melirik Naina. Dan Naina pun mengangguk.
"Baiklah. Aku akan ikut dengan kakak," putus Vania.
"Farsh! Tolong bawa barang-barang Vania!" perintah Rizka.
"Baik, Nona."
Vania masuk ke dalam mobil Rizka. Selama perjalanan Vania hanya diam dan menatap jalanan saja.
Rizka melirik kearah Vania. Ia mencari cara agar bisa bicara dengan santai.
"Vania..."
"Kak..."
Mereka bicara serempak.
"Ada apa?" tanya Rizka lebih dulu.
"Emh, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Vania ragu.
"Katakan!"
"Itu ... kenapa kakak ... batal bertunangan dengan tuan Damian?"
Rizka tersenyum. "Sejak awal kami memang menentang perjodohan ini. Kami tidak saling mencintai. Dan aku tidak suka dengan pernikahan bisnis."
Vania mengangguk pelan.
"Ada apa?"
Vania menggeleng.
"Aku tahu ada hal yang terjadi diantara kau dan Damian juga Edo."
"Eh? Bu-bukan seperti itu, Kak..."
"Tidak apa. Persaingan dalam bisnis, itu sudah biasa. Persaingan dalam cinta, itu juga hal biasa. Tanyakan saja pada hatimu, siapa yang ada disana."
"Kak, aku..."
"Vania, aku memang tidak begitu mengenal mereka berdua. Tapi, selama ini baik Damian maupun Edo, tidak ada yang mengejar cinta seperti ini. Jadi, kau adalah gadis yang beruntung."
"Hah?! Beruntung apanya? Aku merasa sesak, Kak," keluh Vania.
Rizka mengusap kepala Vania. "Mungkin suatu saat kau akan menemukan semua jawabannya. Percayalah!"
#
#
#
Keesokan harinya, Vania sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Sudah usai semua liburan mewahnya yang berakhir dengan kekacauan.
"Lho, Vania? Kamu mau masuk kerja?" tanya Naina.
"Iya, Kak."
"Kalau kamu masih tidak enak badan, lebih baik..."
"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja. Tenang saja!"
Naina memeluk gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya.
"Jika ada apa-apa langsung hubungi aku saja. Mengerti?"
"Iya, Kak."
Vania keluar dari rumah Naina dan memanggil ojek online. Sebenarnya ia masih takut untuk bertemu dengan Sitta dan Nita. Tapi, bagaimanapun juga ia harus profesional dalam bekerja. Lagi pula kondisi tubuhnya sudah membaik.
Tiba di kantor, Vania melakukan pekerjaannya seperti biasa. Ada beberapa orang yang bergosip, namun ia tak peduli.
Ada pula yang penasaran bagaimana rasanya liburan mewah dengan kapal pesiar. Vania menceritakan semua dengan apa adanya. Namun tentunya menutupi insiden tenggelam yang menimpa dirinya.
Tidak akan ada yang percaya juga jika dirinya ditolong oleh bosnya sendiri. Dan yang membuat Vania malu adalah ... saat Naina bilang jika Damian membantunya dengan melakukan napas buatan.
Vania menutup matanya. "Astaga! Bukankah itu seperti berciuman? Itu berarti aku dan tuan Damian..."
Vania menggeleng cepat. "Kenapa aku jadi berpikiran mesum begini? Tuan Damian kan hanya menolongku saja. Jangan berlebihan, Vania."
Vania menepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya. Lalu tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dikirim oleh Edo.
Edo: "Aku ingin mengajakmu makan siang. Datanglah ke kafe XYZ. Itu dekat dengan kantormu. Atau perlu aku jemput?"
Mata Vania membola. Ia segera membalas pesan dari Edo.
Vania: "Tidak perlu, Bang. Aku akan kesana sendiri."
Tiba saatnya waktu makan siang. Vania bergegas merapikan meja kerjanya dan keluar dengan membawa tas slempangnya. Ia berjalan melewati koridor gedung Ford Company.
Setelah keluar dari gedung, Vania berjalan menuju kafe karena jaraknya memang dekat. Tanpa Vania ketahui jika seseorang mengikutinya dari belakang.
Vania tiba di dalam kafe dan mencari keberadaan Edo. Pria itu melambaikan tangannya pada Vania.
Vania berjalan dengan menunduk. Rasanya ada beberapa pasang mata yang memperhatikan dirinya.
"Hai, Van. Bagaimana kondisimu?" tanya Edo ketika Vania tiba di mejanya.
"Aku sudah baikan, Bang."
"Kamu mau makan apa?" tanya Edo dengan menyodorkan buku menu.
Vania membaca buku menu. "Emh, aku pesan..."
"Wah, jadi begini caramu, Edo! Kau bermain curang!" Seorang pria yang tak lain adalah Damian tiba-tiba datang dan membuat keributan.
"Damian, apa maksudmu? Aku dan Vania hanya..."
"Apa! Kalian makan siang bersama? Sudah sejauh mana hubungan kalian, hah?! Vania, bukankah kau memilihku?" Damian mencecar Vania.
Vania bingung. Ia sangat tidak paham dengan situasi yang terjadi.
"Tuan Damian! Kapan saya bilang saya memilih tuan? Jangan asal bicara!" ucap Vania tidak terima.
"Damian, kau berlebihan! Kami hanya makan siang dan reaksimu sangat aneh!"
"Iya, aku memang aneh! Lalu kau mau apa?" tantang Damian.
Lalu akhirnya terjadi adu mulut antara Damian dan Edo. Vania menggeleng pelan dengan tingkah kedua pria dewasa yang bersikap seperti anak kecil. Vania memilih pergi dari tempat itu. Ia tak ingin terlibat lebih jauh dengan kedua pria kaya itu.
"Astaga! Apa yang sedang kalian lakukan?"
Rizka yang tak sengaja ada disana, berusaha mendamaikan kedua pria ini.
"Hentikan! Kalian ini!"
Damian mengacungkan kepalan tangannya. Edo juga tak mau kalah. Dan terciptalah keributan yang membuat heboh seluruh pengunjung kafe.
#
#
#
Keesokannya di gedung Grup HG.
Fardhan mengetuk pintu ruangan Rizka dan memberi hormat terlebih dahulu. Fardhan mengatakan jika Jonathan Ford dan Laurent Moremans ingin bertemu dengannya.
Rizka mengernyit bingung. Mau tak mau ia menerima kedatangan dua pria paruh baya itu.
"Nak Rizka, apa kau sudah mendengar kabarnya?" tanya Laurent.
"Kabar apa, Om?" tanya Rizka bingung.
"Ah, sudahlah! Tidak perlu berbasa basi. Sebaiknya katakan saja dengan jujur, kau memilih Damian atau Edo?" tanya Jonathan to the point.
"Hah?! Maksudnya apa, Om?" Rizka masih tidak paham.
Fardhan memberikan ponselnya. Sebuah video rekaman dirinya dan juga Damian dan Edo telah tersebar di jagat maya.
Rizka tersenyum getir. "Om, kalian salah paham! Ini..."
"Kau menyukai Damian atau Edo?" tanya Laurent.
Rizka memegangi kepalanya. "Om, aku dan mereka ... tidak ada hubungan apapun."
"Tapi mereka berkelahi karenamu! Dan mereka juga sedang mengejar kontrak dari perusahaanmu, bukan?"
"Iya, tapi mereka bukan berkelahi karena aku! Aku hanya memisahkan mereka saja!" tegas Rizka.
"Ada apa ini?" Rio Hanggawan tiba-tiba masuk ke ruangan Rizka.
"Kenapa kalian memojokkan putriku?" tanya Rio dengan seringai menyeramkan.
"Dia sudah membuat putraku dan putra Jonathan berkelahi!" jawab Laurent.
Rio melirik Rizka. "Benar itu, Nak?"
Rizka menggeleng. "Itu tidak benar, Pah. Mereka berkelahi bukan karena aku."
Laurent dan Jonathan saling pandang.
"Kalian ini ayah macam apa?! Bahkan kalian tidak tahu siapa gadis yang di sukai oleh putra kalian sendiri!" geram Rizka.
"Jadi ... bukan dirimu?" Jonathan masih tidak puas.
"Bukan! Sekarang sebaiknya Om berdua keluar dari kantorku. Maaf bukan aku mengusir kalian. Tapi lain kali, carilah informasi yang lebih akurat tentang putra kalian."
"Baiklah, kami minta maaf."
Rizka mengangguk. Laurent dan Jonathan pun pamit undur diri. Mereka sengaja kembali ke Indonesia karena mendengar kabar tentang putra mereka yang viral di jagat maya. Bukan viral karena prestasi tapi malah karena berkelahi memperebutkan seorang gadis.
"Huft! Apa jadinya jika mereka tahu, kalau putra mereka menyukai gadis yang sama?" batin Rizka.
#bersambung