My Culun CEO

My Culun CEO
#179 - Cinta Monyet



Lima tahun kemudian...


Giga masih merapikan diri di kamarnya ketika Sheila mengetuk pintu kamar putranya itu. Hari ini adalah hari ulang tahun Carissa.


Keluarga Avicenna tentu saja harus datang ke acara ulang tahun teman kecil Giga tersebut. Ditambah lagi Avicenna Grup banyak menjalin kerjasama dengan Ford Company Beberap tahun belakangan ini.


Tok tok tok


"Sayang, sudah siap belum? Acaranya kan pukul tujuh malam, cepatlah!" teriak Sheila dari luar kamar Giga.


"Iya, bunda!" sahut Giga dari dalam kamar. "Sebentar lagi siap!"


Sheila menunggu di depan kamar. Ingin sekali ia masuk dan mendandani putra semata wayangnya itu. Tapi apa mau dikata, Giga selalu mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Dan Sheila tidak bisa memaksa putranya itu untuk membukakan pintu kamarnya.


Terdengar suara derit pintu dan muncullah sang putra dari dalam kamarnya. Pria tampan itu masih setia membingkai wajahnya dengan kacamata meski sudah berkali-kali Nathan dan Sheila menawarkan pengobatan untuk mata pria itu.


"Haaah! Sayang! Kau ini! Sudah berdandan lama tetap saja muncul begini!" ucap Sheila sambil merapikan dasi kupu-kupu yang bertengger di leher Giga.


"Habisnya Bunda yang salah. Kenapa juga menyuruhku memakai setelan jas. Padahal ini kan hanya pesta ulang tahun Carissa, Bun," keluh Giga.


"Sayang, pesta ulang tahun semacam ini biasanya di manfaatkan oleh investor untuk mendekati para pelaku bisnis. Apalagi kau tahu kan siapa ayahmu dan ayah Carissa? Mereka merajai dunia bisnis."


Giga memutar bola matanya malas.


"Sudah! Ayo cepat! Ayahmu sudah menunggu di bawah! Kau tahu kan seperti apa dia kalau sudah lama menunggu?"


"Iya, Bunda."


Sheila menggandeng tangan Giga dan membawanya turun ke lantai bawah dimana Nathan berada. Sudah bisa di tebak jika mata Nathan menatap tajam kearah ibu dan anak itu.


"Mau berapa lama lagi berdandannya, hah?!" kesal Nathan.


"Tuan Su! Jangan mempermasalahkan hal sepele. Ya sudah ayo kita berangkat," rayu Sheila dengan mengusap dada bidang suaminya.


Dan setelahnya, selama perjalanan menuju ke kediaman keluarga Ford, Nathan terus mengomel dan bicara panjang lebar. Berbagai macam kalimat nasihat yang selalu di keluarkan Nathan untuk memperingatkan putranya.


"Kau harus ingat, kau adalah pewaris Avicenna Grup di masa mendatang, kau harus bisa mengatur waktumu dengan baik. Kau harus bisa menjadi contoh untuk seluruh karyawanmu nantinya. Dan kau harus..."


Giga hanya manggut-manggut mendengar ocehan ayahnya. Sudah menjadi makanan sehari-hari baginya mendengar omelan sang ayah.


Di usianya yang kini menginjak 17 tahun dan sebentar lagi akan lulus SMA, Giga masih terus belajar bisnis bersama Harvey. Bahkan Nathan sudah memberikan Giga sebuah perusahaan kecil agar pria muda itu bisa belajar untuk mengurus bisnis.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mobil mewah milik keluarga Avicenna tiba di halaman rumah yang cukup luas itu. Rumah ini memang sengaja dijadikan Damian dan Freya sebagai tempat untuk mengadakan pesta dan perayaan penting lainnya.


Giga turun bersama Sheila dan Nathan. Pria muda berkacamata itu selalu menunduk jika dalam situasi seperti ini. Giga tak begitu menyukai keramaian.


Sheila yang mengetahui kekhawatiran sang anak, langsung melingkarkan tangannya di lengan Giga.


"Santai saja, Nak. Kau pasti bisa ya! Lakukan ini demi Bunda. Oke?" bisik Sheila mencoba menenangkan.


Ya, akibat kejadian penculikan lima tahun silam, Giga berubah menjadi orang yang mudah dikuasai rasa takut jika menghadapi banyak orang. Sheila sudah membawa Giga untuk berkonsultasi dengan dokter Liam. Namun ternyata untuk menyembuhkan rasa traumanya harus dilakukan sesi terapi yang berulang-ulang.


Giga sendiri kurang suka dengan apa yang dilakukan Liam. Alhasil dia lebih sering memberontak dan me cari alasan jika waktu sesi terapi tiba.


Sheila menyalami tamu yang hadis disana. Rata-rata memang adalah kolega bisnis Damian. Dan Sheila mengenal beberapa orang.


Sheila melihat gadis remaja yang sedang mekar dengan indah menghampiri mereka. Dia adalah Carissa, yang sedang berbahagia malam ini.


"Bang Giga!" seru Carissa dengan mata berbinar.


"Akhirnya abang datang juga. Aku sudah menunggu abang dari tadi," ucap Carissa.


Sheila berbisik di telinga Giga jika pria itu harus memberikan kado miliknya untuk Carissa.


"Ah iya, maaf ya aku datang terlambat. Ini kado untukmu!" ucap Giga sambil menyerahkan sebuah kotak untuk Carissa.


"Wah, terima kasih banyak, Abang." Carissa menerima kotak persegi empat itu dengan senang.


"Oh ya, kalau begitu kalian mengobrol dulu saja ya. Tante mau menemani Om Nathan dulu. Carissa, titip Giga ya! Sekali lagi selamat ulang tahun!" Sheila berpamitan pada Giga dan Carissa lalu mencari keberadaan Nathan, suaminya.


"Ayo, Bang. Kita kesana!" Carissa menggamit lengan Giga dan membawa pria itu keluar dari kerumunan.


Tiba di taman belakang yang sunyi, Carissa dan Giga duduk di bangku taman disana.


"Aku tahu abang kurang suka dengan keramaian. Makanya aku bawa abang kemari," ucap Carissa dengan senyum manisnya.


"Ah iya. Terima kasih," jawab Giga singkat.


"Oh ya, aku buka kado dari abang, boleh?"


Giga mengangguk. Carissa dengan bersemangat membuka kotak yang seperti kotak perhiasan.


Mata Carissa membulat melihat kalung berlian yang sangat indah disana.


"Abang! Ini sangat indah, Bang. Terima kasih banyak!" Carissa langsung memeluk Giga karena saking bahagianya.


"Sini aku pakaikan!" tawar Giga ketika pelukan Carissa telah terlepas.


Dengan senang hati Carissa menerima tawaran Giga. Dengan penuh kelembutan Giga memasangkan kalung pemberiannya di leher Carissa.


"Terima kasih banyak, Bang." Carissa memegangi kalungnya dengan mata berkaca-kaca. "Ini sangat indah."


"Bunda yang memilihkannya," ucap Giga.


"Kenapa memangnya? Aku tidak hapal dengan selera wanita, jadi..."


"Kita sudah saling mengenal sejak kecil. Apa abang tidak pernah tahu seperti apa kesukaanku?"


"Jadi, kau tidak suka kalungnya?"


"Bukan begitu. Tapi..." Carissa menghembuskan napas kasar.


"Haaah! Ya sudahlah! Aku tidak mau merusak momen berharga malam ini."


Alunan musik klasik mulai terdengar menggema. Lantunan lagu romantis mulai menghanyutkan perasaan Carissa.


"Bang, maukah kau berdansa denganku?" ajak Carissa.


Giga hanya mengangguk dan mengikuti keinginan Carissa. Mereka berdua saling berhadapan dan saling merapatkan tubuh mereka.


Tangan Carissa melingkar di leher Giga. Gerakan kecil pun mulai tercipta. Mereka berdansa di suasana malam yang syahdu.


Carissa menatap lekat-lekat pria yang kini begitu dekat dengannya.


"Abang..."


"Hmm?" Giga balik menatap Carissa.


"Aku menyukai abang. Maukah abang jadi kekasihku?" ucap Carissa tanpa berbasa basi.


"Eh?" Giga tersentak.


"Aku serius! Mari kita pacaran, Bang!"


Sejenak Giga terdiam dan gerakan dansa mereka pun terhenti.


"Carissa, kau baru 15 tahun dan..."


"Aku tahu. Tapi aku sudah menyukai abang sejak dulu. Aku ingin abang menjadi milikku!"


Giga menatap gadis manis yang ada di depannya. Sebenarnya tidak ada yang kurang dengan Carissa. Dia cantik, pintar, dan dari keturunan yang baik pastinya. Hanya saja ... Giga memang banyak berubah sejak kejadian kelam lima tahun lalu.


"Jika abang diam maka kuanggap abang setuju!" tegas Carissa.


"Carissa, aku..."


Carissa langsung berjinjit dan menempelkan bibirnya di bibir Giga.


Mata Giga membola ketika merasakan lembutnya bibir gadis cantik itu menyentuh bibirnya.


"Mulai sekarang, kita resmi jadian!" ucap Carissa setelah melepaskan ciumannya.


Giga masih mengerjapkan mata tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.


#


#


#


Pesta telah usai, hanya tertinggal keluarga Giga dan juga Karel disana. Tentu saja kini hubungan Mira dan Nathan mulai mencair. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga. Tentu harus terlihat harmonis di depan semua orang.


Ketika para orang tua sedang berkumpul, Carissa dengan lantang memberikan sebuah pengumuman.


"Perhatian semuanya! Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian semua."


Sheila dan Nathan mengernyit. Pasalnya kini Carissa dan Giga sedang bergandengan tangan. Begitu juga dengan Damian dan Freya juga Mira dan Karel.


Karel merasa tak suka dengan kedekatan yang dilakukan Carissa dengan Giga. Sejak kecil Carissa selalu menempel pada Giga. Meski Karel juga dekat dengan Carissa, namun gadis cantik itu hanya memperlakukan Karel sebatas teman saja. Berbeda dengan Giga yang dianggap Carissa istimewa.


"Mulai malam ini aku dan Bang Giga secara resmi berpacaran. Aku mohon restu dari papa dan mama juga om Nathan dan tante Sheila," tutur Carissa yang membuat mata semua orang membola.


#


#


#


Sheila masih terjaga di atas tempat tidur meskipun malam semakin larut dan tubuh lelahnya ingin segera beristirahat. Ia masih memikirkan kata-kata Carissa yang mengumumkan hubungannya dengan Giga.


"Tuan Su! Kau sudah tidur?" tanya Sheila.


"Hmm, ada apa? Tidurlah, ini sudah malam!" ucap Nathan dengan sedikit meracau. Matanya sudah terpejam namun ia masih menyahuti pertanyaan istrinya.


"Kenapa aku merasa tidak tenang begini? Apa benar Carissa dan Giga..."


"Sudahlah! Mereka masih anak-anak. Paling mereka hanya sedang mengalami cinta monyet. Biarkan saja. Jika memang mereka berjodoh ya itu sudah menjadi takdir. Tapi jika tidak ya mungkin belum jodoh."


"Ish, Tuan Su! Apa maksudmu bicara begitu? Giga dan Carissa masih terlalu muda untuk menjalani hubungan seperti itu."


"Biarkan saja, sayang. Itu adalah cinta monyet. Percaya saja padaku! Mungkin dengan begitu Giga bisa jadi lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya."


Jawaban demi jawaban yang dilontarkan Nathan akhirnya membuat Sheila mengalah. Ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya dan menyusul suaminya ke alam mimpi.


#bersambung