My Culun CEO

My Culun CEO
#1 0 9



Suara ketukan di pintu membuat Rizka mendongakkan kepalanya. Dilihatnya sang ayah berjalan memasuki ruang kerjanya.


"Papa?" sapa Rizka dengan sedikit terkejut.


"Bagaimana? Apa kamu suka dengan ruang kerjamu yang baru ini?"


Rizka melihat sekeliling ruangan yang baru beberapa hari ini ia tempati.


"Iya, Pa. Aku menyukainya. Terima kasih."


"Apa yang sedang kamu lakukan? Sepertinya sangat sibuk."


"Lumayan, Pa. Aku sedang mendesain gambar di kemasan produkku yang baru."


Rio duduk di sofa yang ada di ruangan itu. "Ah, kamu benar juga. Bukankah sebentar lagi eRHa Cosmetics akan merayakan hari jadinya? Dan itu artinya hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunmu."


Rizka tersenyum lalu menghampiri ayahnya. Ia duduk disamping Rio.


"Ini rencananya akan aku buat untuk edisi spesial nanti, Pa. Bagaimana desainnya? Apa papa menyukainya?"


Rizka menunjukkan sesuatu di tablet pintarnya.


"Bagus, Nak. Untuk promosi dan media iklannya, kamu bisa menghubungi Damian."


Rizka memutar bola matanya malas. "Kenapa harus Damian, Pa?"


"Sayang, sebagai seorang pelaku bisnis, kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi rekan kita. Asalkan ini bisa menguntungkan untuk bisnis, kita harus menghilangkan ego kita."


Rizka menghela napas. "Baiklah."


"Apa kamu sudah menyusun rencana untuk acara ulang tahunmu nanti?" tanya Rio mengalihkan pembicaraan. Ia tahu jika putrinya kurang suka jika harus membahas soal Damian.


Rizka mengangguk dengan mata berbinar bahagia. "Iya, Pa. Aku juga sudah mengadakan undian untuk pelanggan yang beruntung."


Rio membelai lembut kepala putrinya. "Papa senang kini kamu sudah berpikir dewasa, Nak."


Rizka tersenyum menanggapi pujian ayahnya.


...***...


Nita menceritakan semua keanehan yang terjadi dengan Damian pada Sitta. Sebenarnya Sitta sendiri sudah merasa ada yang aneh dengan pria itu akhir-akhir ini.


"Terima kasih atas informasinya. Kau tahu kan seperti apa diriku? Kita pasti bisa menemukan siapa biang kerok semua masalah ini dan menyingkirkannya."


Nita tersenyum karena mendapat pujian dari Sitta.


"Baiklah, aku akan menemui Damian dulu. Kau kembalilah bekerja!" ucap Sitta.


"Baik, Sitta." Nita menatap kepergian Sitta yang mulai menghilang di balik dinding pembatas.


Nita keluar dari persembunyiannya. Sedari tadi dirinya dan Sitta memang bicara di ruang yang cukup kosong dan jarang orang datangi. Nita berjalan dengan santainya menuju ke ruangannya.


Namun langkahnya terhenti oleh sosok Josh yang menghadangnya.


"Kau! Minggir! Aku mau lewat!"


Nita berjalan ke sebelah kiri namun Josh kembali menghalanginya. Nita berjalan ke sebelah kanan, Josh juga menghalanginya.


"Hah! Apa maumu?" tanya Nita dingin.


"Apa lagi yang di rencanakan oleh nonamu? Apa kalian merencanakan hal yang jahat?"


"Hei, kau!" tunjuk Nita dengan jari telunjuknya.


"Ingat, Nona! Aku tidak akan pernah membiarkan ada orang yang berniat jahat pada tuan Damian. Jika kau setia pada nonamu, maka aku juga setia pada tuanku!"


Josh segera berlalu usai mengatakan apa yang ingin dia katakan. Josh tersenyum puas setelah membuat Nita tak berkutik.


"Dasar kacung!" sungut Nita sambil mengepalkan tangannya kearah punggung Josh yang sudah menjauh.


...***...


Sore ini para rekan kerja Vania membicarakan tentang diskon produk eRHa Cosmetics yang diadakan untuk menyambut hari jadi brand kecantikan milik Rizka Hanggawan itu.


Mereka semua nampak antusias karena ternyata Rizka membuat sebuah sayembara. Untuk pelanggan yang beruntung akan mendapatkan tiket liburan bersama Rizka di sebuah kapal pesiar.


"Van, kamu gak ikut sekalian?" tanya salah seorang rekan kerja Vania.


"Emh, aku ... aku akan menyusul nanti."


"Yeah, baguslah."


Vania mengulas senyumnya. Ia mulai menyelesaikan pekerjaan agar bisa menyusul teman-temannya.


Pukul lima sore, Edo yang masih lengkap dengan setelan jasnya sedang berdiri di depan lobi Ford Company. Orang-orang yang melihatnya sedikit terusik dengan kehadirannya.


"Hei, lihatlah! Bukankah dia adalah Eduardo Moremans?" bisik seseorang pada kawannya.


"Iya, kau benar. Apa yang dia lakukan disini?" bisik salah seorang yang lain.


"Oh, astaga!"


Edo memutar bola matanya malas. Ia tak peduli dengan omongan sekitar mengenai dirinya.


Pukul lima lebih lima belas menit, Vania keluar dari ruangan dan segera berjalan menuju ke lobi. Ia berniat untuk menggunakan jasa ojol untuk bisa tiba di bazar kosmetik milik Rizka.


"Vania!" Sebuah suara memanggilnya.


"Oh? Bang Edo?"


Edo menghampiri Vania. "Hai, Van."


"Hai, juga Bang. Abang ngapain disini?" Vania celingak celinguk karena beberapa orang memperhatikannya.


"Tentu saja untuk menjemputmu. Ayo masuk!"


"Hahahah, abang ini ada-ada saja. Bagaimana dengan pandangan orang terhadapku jika aku masuk ke mobil mewah itu?"


"Sudah! Tidak perlu memikirkan pandangan orang. Ayo masuk!" Edo segera mendorong tubuh Vania masuk ke dalam mobil.


Dari kejauhan, seseorang memperhatikan gerak gerik Edo dan Vania.


"Edo dan Vania...? Sejak kapan mereka dekat? Mereka seakan sudah lama saling mengenal," gumam orang yang tak lain Damian.


...***...


"Abang belum jawab pertanyaanku! Kenapa abang bisa ada di depan kantorku?" tanya Vania ketika mobil sudah melaju.


"Oh, aku hanya kebetulan ada di sekitaran sini. Bosku baru saja menyelesaikan rapat di dekat situ." Kali ini Edo tak sepenuhnya bohong. Ia memang baru saja bertemu klien di daerah dekat kantor Vania.


"Emh, Bang. Tapi aku ... aku tidak berniat untuk langsung pulang..."


"Eh? Lalu kau mau kemana? Aku akan mengantarmu."


"Tapi, Bang..."


"Sudah! Katakan saja!"


"Gedung Grup HG, Bang," ucap Vania sedikit ragu.


Tanpa menunggu lama, Edo segera tancap gas menuju ke tempat yang diinginkan Vania.


"Abang gak apa-apa harus ikuti aku belanja?" tanya Vania.


Edo mengulas senyumnya. "Iya, aku baik-baik saja. Pilihlah yang kau ingin beli. Ternyata eRHa Cosmetics sedang mengadakan promo produk yang baru rilis hari ini bertepatan dengan perayaan hari jadi sang pemilik."


Vania segera memilih dan memilah barang-barang yang memang jarang ia pakai itu. Namun entah kenapa setelah mendengar pernyataan Naina, Vania jadi ingin sedikit mengubah penampilannya.


Dengan takjub Vania menghirup aroma manis yang ada disana. Vania sangat menyukai aroma yang menggelitik indra penciumannya itu.


"Silakan pilih, Mbak. Ini adalah nomer undian untuk grandprize hari ini." Seorang SPG menghampiri Vania.


"Apa hadiahnya, Mbak?" tanya balik Vania.


"Liburan bersama owner eRHa Cosmetics di kapal pesiar, Mbak."


"Hah?! Benarkah? Wah, semoga saja aku beruntung ya!" Vania memasukkan satu tangannya ke dalam sebuah wadah lalu mengambil selembar kertas.


"Pengundiannya sebentar lagi. Jadi, harap tunggu ya, Mbak."


"Iya, Mbak."


Dengan mata yang berbinar senang, Vania membuka kertas undian yang ternyata bernomor 177.


"Huft! Semoga saja aku benar-benar menang!" ucap Vania dalam hati.


Kini tibalah saatnya pengundian hadiah utama. Para gadis menunggu dengan harap-harap cemas.


Ternyata yang melakukan pengundian adalah Rizka sendiri. Ia menyapa para fansnya yang berteriak histeris.


"Baiklah, kita akan lihat siapakah yang berhasil memenangkan tiket liburan dengan kapal pesiar bersama denganku."


Rizka menekan tombol undi dan muncullah deretan angka yang akan muncul sebagai pemenangnya.


Dan ketika semua angka telah muncul, sebuah teriakan histeris menggema dari arah kerumunan orang.


"Yeay! Aku menang! Bang, aku menang!"


Vania bersorak gembira. Tanpa sadar ia memeluk Edo sambil berjingkat kegirangan.


Dari arah panggung, Rizka menatap kearah Vania yang sedang berteriak gembira.


"Itu kan ... Edo?"


#bersambung