My Culun CEO

My Culun CEO
#184 - Asisten Pribadi Baru



Selama beberapa saat, Giga dan Merlin berada dalam mode saling tatap. Merlin mengagumi mata indah milik Giga. Seakan matanya terlihat familiar dan tak asing baginya.


"Ehem!" Giga berdeham. Membuat Merlin segera kembali ke mode sebelumnya yaitu menunduk.


"Apa kau seorang mata-mata?" tanya Giga ambigu.


"Eh? Mata-mata?" Merlin tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Giga.


"Kau pasti dikirim Karel untuk memata-mataiku, bukan?"


Merlin melambaikan tangannya di depan dada. "Bukan, Tuan. Saya bukan mata-mata."


"Tapi, Karel adalah orang yang merekomendasikanmu, kan?"


"Itu memang benar. Tapi saya bukan..."


"Baiklah! Percuma saja aku memintamu mengaku. Biarkan waktu yang bicara apakah kau seorang mata-mata atau bukan." Giga menelisik penampilan Merlin.


"Jadi, kau sangat ingin menjadi asisten pribadiku?" tanya Giga yang membuat Merlin mengangguk cepat.


"Baiklah. Aku akan menerimamu. Tapi, aku akan mengujimu lebih dulu."


Merlin mendongak. Senyum manis terlukis di wajahnya. "Itu tidak masalah, Tuan. Saya siap diuji oleh Tuan. Ini adalah pekerjaan layak pertama saya. Saya akan melakukan yang terbaik."


Giga tersenyum seringai. Entah rencana apa yang sedang di susun otaknya saat ini.


"Baik. Mulailah dengan menyiapkan kopi untukku," perintah Giga.


"Baik, Tuan." Merlin segera berbalik badan.


"Eh, tunggu! Mau kemana?" tanya Giga.


"Mau ke pantry bikin kopi," jawab Merlin polos.


Giga menggeleng cepat. "Aku tidak minum kopi yang disediakan di pantry. Belikan kopi yang ada di coffee shop di seberang jalan sana."


Merlin mengangguk paham. "Baik, Tuan."


"Aku beri waktu ... sepuluh menit."


Secepat kilat Merlin berlarian agar cepat sampai di coffee shop langganan Giga. Dengan sigap ia memesan kopi dan kembali dalam waktu kurang dari sepuluh menit.


"Hmm? Lumayan!" Giga mengernyit. "Sebentar lagi waktunya jam makan siang. Cepat siapkan makanan untukku. Untuk hari ini aku ingin makan ... masakan Jepang."


"Baik, Tuan."


"Tolong carikan berkas kerjasama dengan YP Cons!"


"Tolong bersihkan semua ruanganku karena aku tidak suka ruangan yang kotor!"


"Angkat telponmu sebelum dering ke tiga!"


"Balas pesanku dengan cepat!"


"Sediakan hand sanitizer selalu untukku!"


"Aku tidak suka gaya rambutmu!"


"Aku tidak suka gaya berbusanamu!"


"Jangan pulang sebelum aku pulang lebih dulu!"


Dan masih banyak lagi hal-hal yang selalu diinginkan Giga dan aturan-aturan aneh yang ia terapkan untuk Merlin. Baru tiga hari bekerja dengan Giga, Merlin sudah tampak kelelahan.


Malam itu Merlin langsung merebahkan tubuhnya di kasur usai bekerja. Rasa lelah yang mendera begitu membuatnya ingin segera terpejam.


"Dasar menyebalkan! Dia pasti sengaja ingin mengerjaiku!" sungut Merlin dengan mata terpejam.


"Dia siapa?" tanya Resti yang baru keluar dari kamar mandi.


"Bos baruku itu!"


"Oh, pewaris Avicenna Grup ya? Kudengar orangnya sangat tampan." Resti bersemangat ingin mendengar cerita Merlin.


"Tampan sih tampan! Tapi dia menyebalkan! Dia membuat kesabaranku mulai habis!" kesal Merlin.


"Jangan cepat menyerah, Mer. Bukankah ini pekerjaan impianmu? Kau ingin mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Sekarang impianmu terwujud. Jadi lakukanlah yang terbaik." Resti memberi dukungan dan semangat untuk Merlin.


"Kau benar. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Dia akan menganggapku mata-mata tuan Karel jika aku menyerah sekarang."


"Tuan Karel? Siapa itu?" Resti penasaran dengan cerita Merlin.


"Dia adalah keponakan tuan Nathan Avicenna. Orangnya sangat tampan dan baik. Dia juga yang merekomendasikan aku untuk menjadi asisten pribadi sepupunya."


Resti menyenggol lengan Merlin. "Matamu berbinar saat bercerita tentangnya. Apa kau menyukainya?"


"Ehem! Sepertinya kau akan bertahan disana hanya karena pangeran Karel ini."


Merlin tersipu malu. "Sudah jangan bicarakan dia lagi. Nanti bisa-bisa ia tersedak karena kita sedang membicarakannya."


Resti dan Merlin tertawa bersama. Setidaknya hari ini Merlin bisa melupakan sedikit rasa sedihnya.


Di tempat berbeda, Giga sedang bergelayut manja di pangkuan Sheila sambil bercerita tentang kesehariannya beberapa hari ini.


"Apa bunda tahu, kalau aku punya asisten pribadi baru?" tanya Giga yang merebahkan kepalanya di pangkuan ibundanya.


"Iya, bunda tahu. Bagaimana orangnya? Semoga kali ini kau bertahan dengan asistenmu."


Giga menggeleng. "Entahlah. Aku masih melakukan uji coba terhadapnya. Dan yang menyebalkan adalah ... Karel yang sudah memilihnya. Aku sangat tidak suka dengan hal itu. Kurasa dia punya niat lain untuk menempatkan gadis itu sebagai asistenku."


"Gadis? Jadi, asistenmu kali ini adalah seorang gadis?" Sheila nampak terkejut.


"Iya. Dia bahkan bukan lulusan dari universitas terkenal. Makanya aku curiga jangan-jangan ada udang dibalik batu."


"Sudah! Jangan terlalu menilai orang dengan buruk. Kau harus bisa buktikan kepada ayahmu kalau kau bisa bekerja dengan baik. Oh ya, besok bunda harus berangkat ke Amerika. Nenekmu sakit, jadi bunda harus kesana selama beberapa waktu. Kau harus ikuti apa kata nenek Lian dan juga ayahmu. Jangan terus membuat ayahmu marah. Kau mengerti kan?"


"Haaah! Iya iya. Aku mengerti. Aku pasti akan merindukan bunda." Giga memeluk pinggang Sheila erat.


"Hei, bocah! Kenapa kau masih disini? Cepat keluar!" usir Nathan yang tiba-tiba datang ke kamarnya.


Selepas makan malam, Giga memang datang ke kamar Sheila dan Nathan untuk sekedar bermanja-manja dengan ibunya. Menjadi anak tunggal akhirnya membuat Giga seolah selalu dimanjakan oleh Sheila.


"Ayah! Malam ini izinkan aku tidur dengan bunda!" rengek Giga.


"Astaga! Apa otakmu sudah bergeser hah! Lihat berapa usiamu! Kau sudah dewasa dan kau masih bersikap seperti anak kecil. Cepat keluar!" Nathan menarik tubuh Giga dari pelukan Sheila.


"Tuan Su! Jangan begitu!"


"Kau ini! Kau terlalu memanjakan dia hingga dia menjadi pria seperti ini!"


Nathan mendorong tubuh Giga keluar dari kamar.


"Ayah!" pekik Giga ketika sudah berada di luar kamar.


Berlian yang melihat cucunya baru saja di usir dari kamar orang tuanya hanya bisa menggeleng pelan.


"Sudah malam, sebaiknya kau beristirahat, Nak!" ucap Lian.


Giga mengangguk pasrah.


#


#


#


Sudah satu minggu Merlin menjadi asisten pribadi untuk Giga. Sikap Giga masih terus semena-mena dan menguji ketangguhan hati Merlin. Giga ingin melihat Merlin menyerah dan akhirnya mengundurkan diri.


Namun bukan Merlin jika harus menyerah dengan apa yang sedang dikerjakannya. Merlin tidak akan menyerah hingga Giga sendiri yang menyadari jika dirinya memang layak sebagai seorang asisten pribadi.


"Kau pasti kerepotan untuk mengurus Giga," ucap Karel saat mereka bertemu di kantor.


"Ah tidak, Tuan. Saya sudah biasa menghadapi orang-orang yang lebih ekstrem dari tuan Giga," jawab Merlin dengan mengulas senyumnya.


"Syukurlah. Aku berharap kau bisa bekerja lebih lama dari asisten Giga yang sebrlumnya."


Merlin mengulas senyum terbaiknya. "Tuan jangan khawatir. Ini adalah pekerjaan layak saya yang pertama. Saya tidak akan menyia-nyiakannya. Saya akan melakukan yang terbaik karena Tuan telah memberi saya kesempatan emas ini."


Karel membalas dengan senyum terbaiknya yang bisa membuat para gadis bertekuk lutut di depannya.


"Aku suka semangatmu. Teruslah pertahankan!"


"Iya, Tuan."


Saat sedang masih berbincang, asisten pribadi Karel, Friska menginterupsi.


"Merlinda, tuan Nathan memanggilmu untuk datang ke ruangannya," ucap Friska datar.


"Ah iya, terima kasih, Kak. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan." Merlin membungkuk hormat kemudian berlalu.


Sepeninggal Merlin, Karel tersenyum dengan penuh makna.


"Apa tuan akan menjadikan gadis itu mata-mata?" tanya Friska.


"Entahlah. Untuk saat ini aku akan melihat perkembangannya dulu. Kembalilah bekerja!" balas Karel.


"Baik, Tuan."


#bersambung