
Malam itu juga Karel segera menemui Carissa. Mereka bertemu di sebuah kafe langganan mereka dulu.
Karel menatap Carissa dengan tatapan penuh kerinduan. Sementara gadis itu masih bersikap biasa saja di depan Karel.
"Aku tidak menyangka kau akan kembali kesini." Karel berucap dengan suara lembutnya.
"Tentu saja aku harus kembali, Kak. Disini adalah tempatku. Dan disini juga ada Bang Giga sebagai kekasihku."
Karel tersenyum smirk. "Kekasih? Kalian sudah putus setahun lalu."
"Kakak! Bagiku hubungan kami belum berakhir hingga aku yang memutuskan sendiri." Carissa nampak tak suka dengan pernyataan Karel.
"Kakak? Sejak kapan kau memanggilku 'kakak'?" Karel mengernyitkan dahinya.
"Sejak saat ini. Aku hanya akan memanggil 'abang' pada Bang Giga saja. Kakak mengerti?"
Karel menggeleng pelan. "Gadis ini sama sekali tidak berubah. Selalu saja keras kepala. Tapi, kali ini aku tidak akan menyerah. Akan kupastikan kali ini kau akan memilihku," batin Karel.
#
#
#
Tiga hari berlalu usai kejadian yang membuat Avicenna Grup kini menjadi sorotan banyak orang. Giga dinilai tidak cocok untuk menggantikan Nathan menjadi pimpinan perusahaan.
Nathan amat marah dengan pemberitaan yang terjadi. Namun tidak dengan Giga. Pria itu tetap bersikap santai menghadapi pemberitaan mengenai dirinya.
Hingga akhirnya Nathan meminta Giga untuk tetap di rumah hingga ia bisa meredam rumor yang beredar. Giga menuruti apa yang jadi keinginan ayahnya. Tidak pergi ke kantor dan hanya bermalas-malasan malah membuatnya senang.
Tapi di hari ketiga, Nathan meminta Merlin membawa Giga ke kantor karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Meski kesal, Giga tetap menuruti keinginan ayahnya. Apalagi Merlin terus membujuk agar Giga mau menepis egonya.
"Urusan apa yang begitu penting? Padahal dia bisa bicara denganku di rumah," gumam Giga sambil terus berjalan cepat menuju ruang meeting.
Merlin tergopoh-gopoh mengikuti langkah Giga. Hingga akhirnya mereka berdua tiba di ruang meeting dan disambut hangat oleh tiga orang yang ada disana.
Giga terdiam dan menatap ayahnya tajam. Disana sudah ada Karel dan juga Carissa bersama dengan ayahnya.
"Baiklah. Karena Giga sudah datang, Om akan meninggalkan kalian agar bisa bicara dengan bebas." Nathan menepuk bahu Giga kemudian berlalu.
Giga nampak tak suka dengan situasi yang sedang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya Giga dingin.
"Abang! Jangan bicara ketus denganku begitu. Kau tahu, mulai sekarang aku akan bekerja di kantor ini juga. Om Nathan setuju agar aku bisa menjadi bagian periklanan disini. Kau tahu kan, Ford Company sangat bagus di bidang ini." Carissa menjelaskan dengan wajah yang berbinar senang.
"Aku rasa aku tidak begitu membutuhkan bantuan darimu. Ayo pergi, Merlinda!" Giga beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
Merlin yang tak paham dengan situasi yang tengah terjadi hanya bisa diam dan mengikuti langkah Giga menuju ke ruangannya. Namun tanpa diduga, Carissa juga ikut mengikuti mereka dan mencegat Giga.
"Abang! Tolong jangan bersikap begini padaku!" pinta Carissa dengan wajah memelas.
"Ini kantor! Jangan bicara mengenai masalah pribadi disini." Giga kembali melangkah tanpa mempedulikan Carissa yang sudah berkaca-kaca.
"Sudahlah! Kurasa kau tidak akan berhasil mendapat maaf dari Giga." Karel tiba-tiba datang dengan bersedekap.
Carissa menatap Karel tak suka dan ikut pergi dari sana. Carissa memutuskan untuk kembali ke kantornya.
Sementara itu, Merlin masih bingung memikirkan hubungan diantara Gida dan Carissa. Ia tak ingin memikirkan hal itu sebenarnya. Tapi melihat sikap Giga yang agak kasar terhadap Carissa, membuat Merlin jadi menerka-nerka dalam hati.
"Dia adalah mantan kekasihku." Susra itu membuyarkan lamunan Merlin.
"Eh?"
"Kau pasti penasaran kan ada hubungan apa antara aku dan Carissa. Aku tidak akan menutupinya. Kami dulu memiliki hubungan, tapi kini sudah berakhir."
Merlin hanya mengangguk sambil menundukkan kepala. Sungguh ia tak bermaksud untuk ikut campur urusan bosnya.
"Huft! Sekarang lebih baik aku memikirkan cara agar reputasiku kembali baik. Benar kan? Kurasa ide dari kak Aurel bagus juga. Aku akan melakukan ide yang ia berikan."
Merlin tersenyum melihat bosnya kembali bersemangat.
"Merlinda, kau bisa membantuku kan?"
"Iya, Tuan."
Dengan sigap Merlin melakukan semua tugas yang diberikan oleh Giga.
#
#
#
"APA?! Dijodohkan? Ma! Kenapa mama harus melakukan ini? Aku tidak mau!" seru Carissa saat bicara dengan Freya, ibunya di sebuah kafe.
"Benar! Hanya Karel yang cocok denganmu."
"Ma! Zaman sudah berubah! Mana ada perjodohan di zaman sekarang?" Carissa masih ngotot tidak akan menerima keputusan orang tuanya.
"Mengertilah, Nak. Kau tidak bisa menunggu Giga seumur hidupmu. Lagipula, rumor tentang dia sangat buruk. Apa kau mau keluarga kita ikut terkena imbasnya? Terlebih lagi dengan bisnis papamu." Freya mencoba membujuk Carissa.
"Tidak! Sekali tidak tetap tidak! Aku hanya mencintai Bang Giga. Dan aku akan membuatnya kembali padaku. Tidak ada bedanya juga Mama menjodohkanku dengan Kak Karel. Dia juga sama-sama anggota keluarga Avicenna!" Carissa melenggang pergi meninggalkan Freya yang memanggil namanya berulang kali.
Carissa menghubungi Karel dan meminta untuk bertemu. Ia tidak akan membiarkan perjodohan dirinya dan Karel berjalan sukses.
Dan seperti biasa, Karel akan datamg secepat kilat untuk menemui Carissa. Mereka berdua berbincang di dalam mobil yang melaju cukup pelan.
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Perjodohan? Yang benar saja! Aku tidak akan pernah mau dijodohkan denganmu!" Carissa meluapkan segala kekesalannya.
"Hei, Kak! Kau sendiri tahu jika aku mencintai bang Giga. Jadi sudah sangat jelas jika aku menolak perjodohan ini," tegas Carissa.
Karel hanya tersenyum penuh makna. "Aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam."
Mobil pun melaju menuju ke kediaman keluarga Ford. Baru beberapa hari Carissa kembali, tapi rasanya sudah banyak hal terjadi dengan dirinya.
#
#
#
Merlin berlarian dengan cepat untuk menuju kamar Giga. Hari ini adalah hari yang penting untuk Giga, setelah seharian kemarin mereka berdua menyusun proposal untuk di presentasikan di depan para investor. Merlin terlihat sangat bersemangat untuk hal ini.
Tapi ternyata berbanding terbalik dengan Giga. Pria itu menolak mentah-mentah untuk melakukan presentasi.
Merlin terus meyakinkan Giga untuk bisa menghadapi kenyataan yang ada. Hingga akhirnya kini Giga benar-benar berdiri di depan semua para pemegang saham dan investor.
Proposal milik Giga sangatlah bagus. Namun kondisi Giga yang tidak memungkinkan, membuat pria itu akhirnya melarikan diri sesaat setelah presentasi dimulai.
Semua orang berbisik-bisik melihat tingkah Giga yang lagi-lagi melarikan diri tanpa bertanggung jawab. Merlin yang melihat hal itu pun ikut menjadi kecewa dengan sikap Giga.
Sekuat tenaga Merlin mengikuti Giga dan menenangkan pria itu.
"Sudah kubilang aku tidak bisa melakukannya! Aku tidak akan bisa!" teriak Giga di depan Merlin.
Merlin menggaruk kepalanya. Ia tak rela jika Giga harus berkata seperti itu.
"Proposalmu itu sangat bagus. Aku yakin mereka akan setuju. Kau harus menguatkan dirimu dan..."
"Jangan mendikteku! Aku tidak suka! Aku akan melakukan sesuatu hal yang aku sukai. Kau jangan pernah memerintahku!" Giga pergi meninggalkan Merlin yang masih mematung.
#
#
#
Setelah mengacaukan meeting kemarin, Giga tetap berangkat ke kantor seperti biasa. Seakan rasa empati dalam dirinya telah hilang, ia tidak peduli perasaan Merlin yang begitu kecewa dengan kepergian Giga kemarin.
Di tengah kegalauan itu, Carissa kembali datang untuk menemui Giga. Ia menumpahkan segala kekesalan hatinya karena keputusan sepihak kedua orang tuanya.
"Bukankah itu bagus? Kau lebih baik bersama dengan Karel. Dia adalah pria sempurna." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Giga.
"Abang...?" Carissa mematung tak percaya dengan kalimat yang diucapkan Giga.
"Dengar, aku akan mengatakan ini hanya sekali. Jadi, dengarkan baik-baik!"
Carissa menatap Giga yang kini juga sedang menatapnya.
"Hubungan kita sudah berakhir, Rissa. Seperti apapun kau ingin memperbaikinya, tidak ada jalan untuk kita kembali bersama. Aku sudah melupakan semuanya, jadi jangan menguras tenagamu untuk mencuri perhatianku lagi." Giga bergegas pergi usai mengatakan hal menyakitkan itu kepada Carissa.
Gadis itu terduduk lemas di sebuah kursi panjang yang ada di rooftop gedung Avicenna. Air matanya tak berhenti mengalir setelah penolakan Giga barusan.
"Kau terlalu memaksakan dirimu!" Lagi-lagi Karel datang dan makin mengacaukan perasaan Carissa.
"Apa kau senang melihatku di tolak oleh Bang Giga?" tanya Carissa sinis dengan mengusap air matanya.
"Ini! Aku tidak suka melihatmu menangisi dia!" Karel memberikan sebuah sapu tangan kepada Carissa.
"Terima kasih. Tapi, meski kau berusaha bersikap baik, aku tetap tidak bisa menerima perjodohan kita. Sebaiknya kau menyerah saja!" tegas Carissa sekali lagi kemudian pergi meninggalkan Karel.
Carissa melangkah pergi meninggalkan gedung Avicenna. Tiba di lobi, ia kembali bertemu dengan Giga dan asistennya.
"Abang..." panggil Carissa dengan ekspresi wajah yang sendu.
Giga terdiam sejenak dan menatap Carissa.
"Aku tahu mungkin ini terkesan kejam bagimu. Tapi apa yang kau lakukan di masa lalu, itu juga kejam untukku. Jadi, jangan lakukan hal bodoh lagi dengan terus mengejarku."
"Bang Giga!" Carissa tidak terima dengan apa yang diucapkan Giga.
"Sudah kubilang kan, tidak ada jalan untuk kita kembali bersama, jadi jangan membuang tenagamu."
Giga berlalu dari hadapan Carissa dengan menarik tangan Merlin untuk masuk ke dalam mobil. Carissa sangat kesal dengan sikap Giga yang sama sekali tak peduli padanya.
#
#
#
Malam harinya, Merlin memikirkan bagaimana Giga sudah membuatnya kembali mendapat amukan dari Nathan. Merli ingat jika Nathan memarahinya karena tak becus untuk menjadi asisten Giga.
"Aku harus bagaimana lagi, Res?" keluh Merlin saat mereka berdua sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Apa kau akan menyerah?" tanya Resti yang merasa kasihan dengan nasib sahabatnya.
"Huft! Entahlah. Terkadang aku ingin menyerah. Tapi ... tidak ada jalan untuk kembali. Aku sudah bertekad untuk membantu tuan Giga agar bisa pulih dari traumanya. Aku tidak bisa mundur."
Merlin memejamkan matanya sejenak. Lalu tiba-tiba dia kembali membuka mata dan berseru.
"Aku sudah menemukan caranya, Res!"
B e r s a m b u n g