My Culun CEO

My Culun CEO
#166 - Ucapan Selamat Tinggal



Freya terbangun di pagi hari dan melihat wajah suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya. Freya bangun lebih dulu dan langsung menuju ke kamar mandi.


Kemarin dirinya berkirim pesan dengan Naina dan hari ini mereka akan bertemu sekedar melepas rindu.


Keluar dari kamar mandi, Freya mendapati Damian yang masih terlelap. Freya pun mendekat padanya.


"Sayang, bangun! Hari ini kita ada janji untuk bertemu dengan kak Naina dan kak Harvey. Sayang..." Freya sedikit menggoyang tubuh Damian. Namun pria itu masih betah bergelung di bawah selimut.


Seharian kemarin Damian bekerja dengan cukup keras di kedai surabi miliinya. Berkat kolaborasinya bersama Andreas, kedai miliknya jadi ramai pengunjung hingga Damian ikut turun tangan sendiri melayani pelanggan yang datang.


"Sayang..." Freya mengecup pipi Damian lembut.


"Bangun dong! Kita sudah hampir terlambat."


"Eungh!" lenguh Damian yang mulai membuka matanya. "Ada apa sih sayang? Pagi-pagi kamu sudah ribut aja!"


"Astaga! Aku gak ribut, aku hanya membangunkanmu. Ayo cepat mandi! Aku akan siapkan sarapan. Nanti kalau aku datang lagi kamu masih belum siap, aku akan meninggalkanmu." Freya mengancam Damian lalu beranjak pergi.


Sontak ancaman Freya membuat Damian langsung terbangun dari tidurnya.


"Hah! Ya ampun! Kenapa akhir-akhir ini dia sangat kejam padaku? Apa salahku coba?" gumam Damian lalu bangkit dan melangkah menuju kamar mandi dengan lunglai.


Lima belas menit kemudian, Freya kembali masuk ke dalam kamar dan memeriksa keadaan Damian apakah sudah bersiap atau belum. Freya tersenyum karena tak melihat suaminya di atas tempat tidur. Feelingnya mengatakan jika Damian sudah mandi dan sedang mengganti pakaian.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Damian yang keluar dari kamar ganti.


"Aku sedang membayangkan tentangmu. Ternyata benar kamu sudah siap. Kalau begitu ayo kita sarapan, lalu setelahnya kita berangkat menemui kak Naina," ucap Freya dengan bersemangat.


"Aku heran denganmu! Kamu mau bertemu Naina seperti mau bertemu kekasihmu saja. Senangnya bukan main!" Damian menggeleng pelan.


"Kamu tahu? Tidak ada yang bisa mengalahkan persaudaraan para gadis."


"Iya iya. Aku tahu!" jawab Damian sambil mengekori Freya.


#


#


#


Sesampainya di rumah Naina, ternyata wanita itu dan Harvey sedang ada di depan rumah seolah akan pergi. Freya segera turun dari mobil dan menghentikan Naina.


"Kak, kakak mau kemana?" tanya Freya.


Wajah Naina pucat dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Kakak, ada apa? Kak Harvey?" Freya ikut panik.


"Freya!" Naina menangis dan memeluk Freya. Istri Damian itu semakin bingung dengan situasi yang terjadi.


"Harvey, tolong jelaskan ada apa!" desak Damian yang ingin semuanya menjadi jelas.


"Emh, begini... Kami baru saja mendapat kabar dari tuan Nathan di Amerika," ucap Harvey dengan wajah yang juga sendu.


"Ada apa dengan Nathan?" tanya Damian.


"Tuan Nathan baru saja kehilangan nona Sheila."


Freya dan Damian saling pandang. "Maksudnya apa, Kak?" Freya semakin tak sabar mendengar lanjutan cerita Harvey.


"Nona Sheila meninggal dunia. Dan saat ini jenazahnya sedang di terbangkan kesini."


Tangis Naina makin keras. Freya mendekap erat Naina dengan ekspresi tidak percaya. Ia berharap jika dirinya salah dengar.


Sementara Damian, ia hanya tertegun setelah mendengar kabar ini.


"Kak Harvey! Kau tidak bercanda kan? Tidak mungkin kak Sheila..." Freya tak dapat melanjutkan kalimatnya. Kini ia pun ikut menangis bersama Naina. Tiga tahun tidak mendengar kabar dari Sheila dan kini tiba-tiba mendengar kabar mengejutkan ini. Freya tak ingin percaya dengan semua ini.


#


#


#


Di kedatangan bandara internasional, seorang wanita muda berjalan dengan membawa putranya yang berusia tiga tahun dalam gendongannya. Ibu muda itu disambut oleh seorang pria yang adalah asisten mendiang suaminya.


"Selamat datang kembali, Nyonya Mira," sapa pria bernama Hendra.


"Terima kasih, Hendra. Apa kau sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kami?"


"Ah, akhirnya aku kembali ke negara ini. Bagaimana perusahaan?"


Hendra mengulas senyumnya. "Semuanya berjalan baik, Nyonya."


"Terima kasih, Hendra. Selama ini kau sudah banyak membantuku. Aku banyak berhutang padamu."


"Tidak, Nyonya. Justru sayalah yang banyak berhutang pada keluarga Nyonya."


Wanita muda bernama Mira itu lalu masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan. Bocah lelaki kecil berusia tiga tahun itu hanya menurut dan duduk manis di bangku penumpang.


Mobil mulai melaju meninggalkan area bandara. Hendra mengemudi dengan kecepatan sedang.


"Nyonya mau langsung ke pemakaman?" tanya Hendra.


"Jam berapa Sheila akan dimakamkan?" tanya Mira balik.


"Sekitar dua jam lagi, Nyonya."


"Baiklah. Antarkan aku ke rumah dulu. Aku tidak ingin Karel melihat pemakaman lagi. Sudah cukup dulu dia melihat pemakaman ayahnya."


"Baik, Nyonya."


#


#


#


Suasana berkabung sungguh terasa disini. Nathan yang begitu kehilangan istrinya kini hanya bisa terdiam. Air matanya sudah habis untuk menangisi kepergian sang istri tercinta.


Freya dan Damian juga ikut hadir dalam area pemakaman. Damian memeluk Freya dan menenangkan istrinya. Tak ubahnya dengan Damian, Harvey juga memeluk Naina dengan erat.


Berat bagi Naina kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi. Di sisi lain, Danny juga berusaha tegar ketika mendengar berita ini. Celia terus mendampingi sang suami.


Pemakaman telah selesai. Saatnya bagi keluarga kembali ke rumah. Nathan yang masih berdiam diri di depan tanah makam Sheila akhirnya harus dibujuk oleh Boy agar bersedia kembali ke rumah.


"Ingatlah Kenny yang ada di rumah, Nate. Kau punya putra yang harus kau jaga mulai sekarang," bisik Boy yang membuat Nathan tersadar kembali ke dunia nyata.


"Kau benar, Kak. Hidup harus terus berjalan, meski rasanya berat," balas Nathan.


Boy mengangguk. "Ayo, kawan. Kita kembali. Sheila sudah tenang disana. Dia sudah tidak kesakitan lagi sekarang."


Tiba di rumah keluarga Avicenna, Nathan masih harus menerima ucapan bela sungkawa dari beberapa kolega bisnis dan juga orang-orang terdekatnya. Lian menatap putranya sendu. Ia tak tahu bagaimana nanti kehidupan cucu dan putranya setelah ini.


"Sayang, kenapa kau keluar? Bagaimana dengan Kenny?" tanya Roy yang melihat Lian keluar dari kamar cucunya.


"Kenny sudah tidur. Aku ingin melihat kondisi Nathan, Mas. Sepertinya dia masih sangat terpukul dengan kehilangan ini."


"Tentu saja dia sangat kehilangan Sheila. Tapi seiring berjalannya waktu, lukanya pasti akan sembuh." Roy memeluk Lian.


"Permisi, Tuan. Di depan ada nyonya Mira. Dia datang untuk berbelasungkawa," ucap seorang pelayan menghampiri Roy.


"Mira? Apa itu istrinya Devan?" Roy mengernyit.


"Sepertinya iya, Mas."


"Yang aku tahu dia berada di luar negeri selama ini, apa dia sudah kembali?"


"Sebaiknya kita temui dia, Mas. Bukankah sejak dulu kau mencari jejaknya?"


Roy mengangguk lalu berjalan bersama Lian menuju ruang tamu. Disana terlihat Nathan sudah berbincang dengan seorang wanita yang adalah Mira.


"Mira?!" panggil Roy.


Wanita bernama Mira itu tersenyum. "Paman Roy, Bibi Lian. Apa kabar?"


"Aku tidak tahu jika kau sudah kembali ke negara ini," ucap Roy.


"Aku baru saja kembali. Aku turut berduka cita atas kehilangan kalian," ucap Mira dengan tatapan penuh makna.


"Terima kasih, Kak Mira." Kini Nathan ikut menyahut.


"Mira, kami juga turut berduka atas kehilanganmu," sahut Roy kembali.


"Tidak apa, Paman. Itu sudah berlalu setahun lalu. Aku sudah menata hidupku. Makanya aku kembali," balas Mira dengan kembali mengulas senyum misteriusnya.