
Sheila tidak fokus saat melakukan presentasi di depan Damian karena pria itu terus menatapnya. Ya walaupun mungkin menurut Damian itu adalah tatapan biasa, namun menurut Sheila itu sedikit agak mengganggu.
Setelah menikah, tidak ada lagi yang menatapnya lekat seperti itu selain Nathan. Meski sedikit gugup, Sheila cukup profesional untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dua jam telah berlalu dan ternyata Damian cukup antusias dengan proyek yang akan mereka kerjakan bersama. Damian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sheila.
Sheila menyambutnya diiringi sebuah senyum tulus.
"Ini kartu nama saya. Kali ini saya harap Anda benar-benar serius untuk bertanggung jawab atas kesalahan Anda, Nona Sheila."
Sheila menelan ludahnya. "Iya, Tuan Damian. Saya benar-benar minta maaf karena saya kehilangan kartu nama Anda."
Sheila sedikit membungkukkan badannya ketika Damian berpamitan pergi. Ia merutuki dirinya sendiri yang sudah melupakan tanggung jawabnya.
"Shei, kamu sudah mengenal dia?" tanya Danny penasaran.
"Tidak, Kak. Waktu itu aku tidak sengaja menabrak mobilnya. Dan aku sudah berjanji akan bertanggung jawab. tapi aku lupa dimana menaruh kartu namanya." Sheila bercerita dengan wajah yang sedikit panik. Pasalnya ia tahu perbaikan mobil mewah milik Damian tidaklah murah. Dan ia tidak mungkin menceritakan hal ini pada Nathan apalagi harus meminta uang untuk kesalahan yang sudah diperbuatnya.
Entahlah, Sheila masih merasa sedikit sungkan dengan Nathan jika berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapinya. Selama ini hanya Danny saja yang biasa ia mintai tolong. Namun untuk masalah yang satu ini, Sheila tidak mungkin meminta tolong pada Danny.
Danny mengangguk paham. Dalam hati ia tahu jika cara Damian menatap Sheila memiliki arti yang berbeda. Ya, tatapan yang bukan hanya memandang sebagai rekan bisnis, tapi juga tatapan pada lawan jenis.
Sementara di sisi Damian, ia terus tersenyum semenjak keluar dari ruang rapat. Moodnya yang buruk karena insiden dengan Edo kemarin menjadi terobati dengan kehadiran Sheila.
"Tuan, apa Tuan sudah mengenal Nona Sheila sebelum ini?" tanya Josh yang melihat gelagat aneh dari bosnya.
"Hmm, kami bertemu secara tidak sengaja, Josh. Tapi sepertinya takdir memang membawaku kepadanya." Damian tersenyum dengan penuh kegembiraan.
"Tuan akan langsung pulang ke kantor atau..."
"Kita ke kantor saja! Oh ya, tolong kau urus soal perekrutan karyawan baru di perusahaan. Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan? Carilah yang benar-benar kompeten. Aku percayakan semuanya padamu. Bila perlu besok dia sudah bisa mulai bekerja. Mengerti?"
"Hah?! i-iya, Tuan." Josh menelan ludahnya kasar. Memang dalam hal pekerjaan, Damian selalu mengedepankan kedisplinan dan etos kerja yang tidak main-main. Josh sudah mendampingi Damian sejak pria itu masih remaja. Ia tahu apa yang disukai dan tidak disukai Damian.
#
#
#
Vania tiba di sebuah gedung tinggi dan megah yang bertuliskan 'Ford Company'. Mulutnya tak berhenti menganga menatap kemegahan yang terpampang nyata di depan matanya.
Vania masuk dan menemui resepsionis. Ia mengatakan maksud dan tujuannya datang ke kantor megah ini.
Seorang satpam menunjukkan arah dimana ruang interview berada. Vania menuju ke lantai tiga dengan menggunakan lift.
Hatinya sangat gugup menghadapi hari ini. Tapi ia juga tidak ingin mengecewakan Josh yang sudah percaya padanya.
Sudah ada beberapa orang disana. Vania terus berdoa dalam hati semoga saja kantor ini adalah rezeki baginya.
"Nona Vania Tanuja!" Seorang wanita muda memanggil nama Vania.
"Iya, saya!" jawab Vania lalu masuk ke dalam sebuah ruangan yang di tunjuk oleh si wanita.
"Silakan duduk, Nona Vania!"
Vania terkejut karena ternyata orang yang duduk di kursi pewawancara adalah pria yang memberi kepercayaan pada dirinya.
"Tuan Josh?" lirih Vania kaget.
"Saya tahu kau akan berhasil hingga di titik ini. Kita mulai saja wawancaranya!"
Tidak butuh waktu lama bagi Josh untuk tahu jika Vania adalah gadis berkompeten yang dimaksud oleh Damian. Meski penampilan fisiknya masih kalah dengan pelamar lainnya, tapi kemampuan otaknya memang diatas rata-rata.
Sejak dulu Vania sangat suka belajar. Ia ingin membuat orang tuanya bangga dengan prestasi akademiknya. Alhasil, Vania tak pernah mengurus penampilan luarnya yang terkesan culun dan kutu buku.
Sebenarnya wajah Vania cukup cantik jika dia mau berbenah diri dan memperhatikan penampilannya. Tapi sekali lagi, Damian tidak peduli akan penampilan. Dan Josh tahu jika gadis seperti Vanialah yang bosnya cari untuk menjadi bagian dari Ford Company.
"Nona Vania, jika Anda berhasil dalam tes selanjutnya, apakah Anda bersedia untuk berlanjut ke tahap selanjutnya? Namun sepertinya butuh waktu hingga malam hari." jelas Josh.
"Eh? Maksud Tuan, saya di terima?"
"Ada kemungkinan begitu, tergantung dari hasil tes setelah wawancara ini. Bagaimana?"
Mata Vania berbinar senang. "Iya, saya bersedia, Tuan!" ucapnya yakin.
#
#
#
Hari sudah berganti gelap. Jam kantor karyawan telah habis. Josh baru saja keluar dari pelatihan karyawan baru. Dan sesuai prediksinya jika Vania lolos untuk masuk menjadi staf mulai besok pagi.
Josh melirik ke ruangan bosnya yang ternyata lampunya masih menyala. Sudah pukul sembilan malam dan Damian masih ada di kantornya.
Tidak biasanya Damian masih ada dikantornya. Dia adalah orang yang anti lembur. Semua pekerjaan harus selesai tepat pada waktunya.
Josh merasa ada yang tidak beres dengan bosnya itu. Ia segera menghampiri ruangan kantor Damian.
Josh mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian masuk dan melihat Damian sedang menatap tajam ke berkas yang ada di depannya.
"Tuan..." panggil Josh lirih.
"Cepat buatkan berkas kerjasama dengan Avicenna Grup!" titah Damian.
"Tuan..."
"Aku tidak suka jika dia selalu ingin bersaing denganku! Dia sudah menolak tawaran kerja denganku dan kini dia malah menantangku dengan menggaet perusahaan-perusahaan besar. Tidak bisa kubiarkan!" geram Damian.
Josh tahu jika ini pasti tentang Edo. Damian tak pernah terima jika dia harus dikalahkan oleh Edo.
"Apa Tuan masih memata-matai Tuan Edo? Untuk apa, Tuan?" tanya Josh yang memang paham permasalahan diantara dua pria ini.
"Sudah lima tahun berlalu, Josh! Dia selalu menyalahkanku atas apa yang terjadi lima tahun lalu! Aku sudah meminta maaf dan menebus kesalahanku, tapi kenapa?! Kenapa dia tidak mau menghentikan semua ini?!" teriak Damian frustrasi.
Josh hanya diam. Sebenarnya Edo tidak melakukan apa yang dia tuduhkan. Edo tidak mencoba bersaing dengannya. Hanya saja pemikiran Damian yang membuat dirinya sendiri jatuh dalam kubangan permusuhan yang berlarut-larut.
Di tempat berbeda, Vania sedang menunggu ojek online di depan gedung Ford Company. Wajahnya mulai cemas karena sudah lama menunggu namun tak juga datang si abang ojol.
Dari kejauhan terlihat abang ojol lain yang akhirnya menghampiri Vania.
"Lho? Nona! Kau ada disini?" tanya abang ojol yang adalah Edo.
"Eh, si abangnya! Aku sedang menunggu driver, tapi belum datang juga."
Edo segera merebut ponsel Vania.
"Sini coba aku lihat!" Edo mengutak atik ponsel Vania dan malah meng-cancel driver ojol pesanan Vania.
"Eh? Abang mau apa?" tanya Vania bingung.
"Ini! Sudah kubatalkan. Ikut saja denganku!" ucap Edo santai. Sebenarnya ia sedang geram karena salah seorang karyawannya membuat pelanggan menunggu lebih dari 30 menit. Ia tidak akan mentoleran hal-hal semacam ini karena ini masuk dalam kenyamanan pelanggan.
"Eh? Tapi, Bang..."
"Sudah! Jangan menolak! Ini sudah malam. Tidak baik gadis baik-baik keluyuran sampai jam segini. Kau tenang saja, aku akan mengantarmu selamat sampai tujuan!" ucap Edo meyakinkan Vania.
"Emh, baiklah!" Vania akhirnya naik ke motor Edo dengan duduk menyamping.
"Terima kasih ya, Bang..." ucap Vania.
"Hmm. Apa kau bekerja di gedung tadi?"
"Oh, tidak. Masih belum, Bang. Baru mulai besok kerjanya."
Edo manggut-manggut paham. "Semoga sukses dengan pekerjaanmu!" ucap Edo dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.
#bersambung
*promo novel baru makthor 'Lu[c]ka Cinta'
*Kisah ini kutulis tahun 2020 silam, kisahnya pendek dengan tidak memiliki banyak bab, so happy reading ya genks 😘😘😘