
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sudah saatnya Sheila menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah. Ia melirik ke arah ruangan Nathan. Bosnya itu masih sibuk di depan layar datarnya.
"Hmm, apa aku perlu meminta izin darinya dulu? Tapi ini kan udah waktunya jam pulang kantor. Kurasa dia nggak akan marah kalau aku pulang duluan."
Entah kenapa Sheila ragu untuk langsung pulang. Padahal biasanya ia sama sekali tak pernah merasa begini. Apa karena bos setengah-setengahnya mulai berubah?
"Ya sudahlah! Aku pulang aja! Ngapain juga aku nungguin dia. Yang ada nanti dia malah kepedean lagi!"
Sheila merapikan barang-barangnya lalu segera beranjak dari meja kerjanya. Dari ekor matanya, Nathan bisa melihat jika Sheila telah pergi terlebih dahulu. Ia hanya menarik sedikit sudut bibirnya kemudian kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Tiba di parkiran, Sheila berjalan pelan menuju mobilnya. Ia melihat mobil Nathan yang ternyata terparkir tepat di sebelah mobilnya. Dan lagi, gadis itu kembali memikirkan Nathan.
Sheila menekan tombol kunci mobilnya lalu masuk ke dalam mobil. Ia kembali terdiam dengan memegangi kemudi.
"Sebenarnya ada apa dengan dia? Kenapa dia jadi berubah gitu? Padahal kan harusnya dia jelasin soal perempuan bernama Celia itu. Lalu aku sendiri? Kenapa juga aku jadi nggak marah lagi sama dia? Malah hari ini kami kelihatan kompak sebagai bos dan bawahan."
Sheila menatap mobil Nathan yang ada disamping mobilnya.
"Siapa Celia itu? Apa hubungan gadis itu dengan Nathan? Haaah! Kenapa aku jadi mikirin soal mereka sih?" gerutu Sheila.
Ia menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri. "Fokus, Sheila! Fokus! Lebih baik kamu pikirkan soal hubunganmu dengan Tarjo. Kamu harus bisa meyakinkan papa dan mama agar bisa menerima hubunganmu dengan Tarjo!"
Sheila menyemangati diri sendiri. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Sheila. Ia mengetikkan pesan untuk Tarjo.
"Malam ini aku bakal masak yang spesial buat Tarjo. Mumpung masih sore, sebaiknya aku belanja dulu deh!"
Sheila menyalakan mesin mobilnya kemudian tak lama ia pun menginjak pedal gas.
#
#
#
Tiba di sebuah supermarket cabang milik kakaknya, Sheila mengendap-endap ketika masuk kesana. Ia takut jika bertemua dengan kakaknya disini.
Kenapa juga Sheila rela untuk pergi ke supermarket milik keluarganya? Karena barang-barang yang dijual disini adalah kualitas terbaik. Termasuk sayuran dan buah-buahan. Sheila ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihnya.
Sheila memilih sayuran dengan masih mengendap-endap. Tentu saja di tempat ini banyak sekali kamera pengawas yang terpasang.
"Shei!"
Sheila berjingkat kaget karena ternyata ada yang mengenalinya.
"Kak Danny!" Sheila mengelus dadanya lega karena ternyata itu hanya Danny, bukan kakaknya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Danny.
"Hehehe, ya belanja lah, Kak," jawab Sheila enteng.
"Maksud aku, kenapa kamu belanja sambil nunduk-nunduk gitu?"
"Ooh, itu. Itu karena aku takut kalo kak Rangga tahu aku datang kesini. Kakak sendiri ngapain disini?"
"Kak Rangga memintaku untuk mengecek laporan penjualan cabang ini."
"Hah?! Jadi, kak Rangga ada disini?" Sheila terkejut.
"Enggak! Kak Rangga nggak ada disini. Dia hanya menyuruhku saja. Kamu mau belanja apa aja?" tanya Danny dengan melihat troli belanja milik Sheila.
"Hehe, gini Kak, rencananya aku mau masak yang spesial malam ini. Tapi aku masih bingung mau masak apa." Sheila menggaruk kepalanya.
"Hmm, gimana kalo capjay saja? Kamu bisa pilih sayuran yang berkualitas disini dan juga bisa ditambahkan daging ayam, sosis dan bakso sapi. Bagaimana?"
"Wah, boleh juga ide dari kakak. Ayo, Kak bantu aku pilih bahannya."
Setelah beberapa saat, Sheila sudah membeli semua bahan untuk masakannya nanti. Danny masih penasaran dengan apa maksud Sheila memasak spesial malam ini.
"Umm, kalau boleh tahu. Kenapa kamu repot masak segala? Biasanya juga kamu beli makanan yang sudah matang."
"Hmm, nggak ada apa-apa sih, Kak." Sheila masih menyembunyikan perihal Tarjo.
"Jangan-jangan kamu masak buat pacar ya?" tebak Danny.
"Hah? E-enggak kok! Nggak gitu juga." Wajah Sheila memerah karena malu. Melihat ekspresi Sheila, Danny mulai paham situasi yang sedang terjadi.
"Apa aku boleh membantu?" tanya Danny.
"Eh? Serius kakak mau bantu? Ngerepotin nggak nih?"
"Nggak lah! Kamu kan adikku!" Danny mengacak rambut Sheila gemas.
#
#
#
Dan disinilah Sheila sekarang. Berada di rumahnya sedang menyiapkan bahan-bahan untuk masakannya nanti. Dengan dibantu Danny sesekali mereka melempar candaan. Sheila tertawa lepas karena Danny selalu menggodanya.
"Sebentar ya, Kak!" Sheila izin pamit dari dapur dan mengambil ponselnya. Ia mengetik pesan untuk Tarjo.
Sementara itu di tempat berbeda, Nathan terlihat sedang keluar dari ruangannya. Ia berjalan menuju lift lalu turun ke lantai paling bawah yaitu basement.
Ponsel milik Tarjo bergetar. Nathan tahu siapa yang mengirim pesan padanya. Ia tersenyum membaca pesan dari Sheila sambil berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu mobilnya lalu segera melesat pergi.
Tanpa diketahui olehnya, seseorang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nathan. Gadis itu menggeram kesal saat melihat Nathan tersenyum ketika menatap layar ponselnya.
"Brengsek! Dia pasti sedang berbalas pesan dengan gadis itu. Kita lihat saja, Nathan. Aku akan tahu siapa gadis yang sudah merebutmu dariku!"
Gadis yang tak lain adalah Marina, segera melajukan mobilnya mengikuti arah mobil Nathan. Ia mengikuti dengan hati-hati agar Nathan tidak curiga jika dirinya sedang dibuntuti.
"Apa jangan-jangan gadis itu adalah gadis rendahan dan dari kalangan biasa? Bagaimana bisa? Ini nggak bisa dibiarkan!" sungut Marina lalu makin melajukan mobilnya. Ia tak ingin kehilangan jejak Nathan.
Baru saja Marina menginjak pedal gas lebih dalam, tiba-tiba saja ia harus menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah mobil hitam menghentikan laju kendaraan Marina dengan menyalip mobil gadis itu dan berhenti dengan posisi miring.
"Brengsek! Siapa sih ini? Ganggu aja!"
Marina segera turun dari mobilnya dan memarahi si supir mobil hitam itu.
"Hei, keluar kamu! Berani sekali mencegat mobilku!" teriak Marina dengan mengetuk kaca mobil dengan keras. Emosi gadis ini sudah mencapai puncaknya.
Seorang pria bertubuh besar keluar dari mobil itu. Marina memelototkan matanya melihat pria itu.
"Pak Rasta?!" Marina mengenali pria itu.
Pria bernama Rasta itu tersenyum kearah Marina.
"Benar, Nona."
"Kenapa bapak ada disini?" tanya Marina kesal.
"Papa Nona menyuruh saya untuk mengawasi Nona."
"Apa?!" sungut Marina.
"Sebaiknya Nona kembali ke rumah saja. Tuan David tidak akan suka jika Nona melakukan kekacauan lagi."
"Aku nggak bikin kacau, Pak! Aku hanya lagi ngikutin Nathan!"
Rasta tersenyum. "Sama saja, Nona. Mari sebaiknya Nona putar balik saja. Atau Nona harus kami bawa secara paksa."
Beberapa orang dari dalam mobil muncul dan juga ada mobil lain disana.
"Aarrggh! Sial! Rencanaku gagal kali ini!" sungut Marina dalam hati.
Dengan menghentakkan kaki, Marina masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia membunyikan klakson berkali-kali agar mobil Rasta menyingkir dari depan mobilnya.
Rasta hanya menggeleng pelan dengan kelakuan Nona mudanya ini.
"Dia tidak akan berhenti sampai disini. Kalian awasi terus dia jangan sampai lengah!" perintah Rasta pada anak buahnya.
#
#
#
Tarjo kembali kerumahnya dan melihat sebuah mobil asing di depan rumah Sheila. Ia mengingat-ingat apakah pernah melihat mobil itu atau tidak.
"Ah, ini bukannya mobil si Danny? Mau apa dia di rumah kontrakan Sheila? Sheila bilang mau kasih aku kejutan, apa ini kejutannya? Selamat, kalian benar-benar membuat aku terkejut."
Tarjo langsung melangkah menuju rumah Sheila. Ia tak peduli jika dirinya baru kembali dari kantor.
Saat akan memasuki halaman rumah Sheila, Tarjo dikejutkan dengan kehadiran dua orang yang baru saja keluar dari rumah Sheila.
Itu adalah Sheila dan Danny.
"Loh, Tarjo? Kamu udah pulang?" tanya Sheila sedikit kaget dengan kemunculan Tarjo.
"Hmm. Kamu abis ngapain? Dan siapa ini?" tanya Tarjo balik dengan menatap Danny sengit.
"Ooh, ini Kak Danny. Dia udah seperti kakak buat aku. Kak Danny, kenalin ini Tarjo, pacar aku," jelas Sheila.
Bagai tersengat listrik, Danny sangat syok mendengar pengakuan Sheila. Ditambah lagi ia melihat jika pria yang diakui Sheila sebagai kekasihnya adalah pria culun berkacamata dan bergigi tonggos. Benar-benar jauh dari bayangan Danny tentang sosok kekasih Sheila.
Tarjo mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Danny. Dengan ragu Danny menyambut uluran tangan Tarjo.
"Tarjo! Pacarnya Sheila!" ucap Tarjo dengan penekanan pada kata pacar.
"Ah iya, aku Danny. Aku temannya Sheila."
Tarjo mengangguk paham. Ia masih menatap Danny sengit.
Merasa tak nyaman dengan tatapan Tarjo, Danny memutuskan untuk pamit undur diri.
"Shei, kalau gitu aku pamit dulu ya. Mari Tarjo!" pamit Danny pada Tarjo dan Sheila.
Sheila melambaikan tangan ketika mobil Danny mulai menjauh.
"Udah nggak usah dilihatin terus!" ketus Tarjo.
"Iih apaan sih? Kamu kenapa? Kok lihat Kak Danny gitu amat?"
"Auu ah! Pikir aja sendiri! Aku lapar! Tadi kamu bilang kamu masak yang spesial buat aku." Tarjo melenggang masuk ke rumah Sheila dan duduk di meja makan.
"Iya. Aku masak capjay buat kamu. Kamu suka nggak?" tanya Sheila yang mengikuti langkah Tarjo.
"Suka lah! Masakan pacar aku emang yang terbaik!" Tarjo mengacungkan jempolnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Iih, kamu jorok! Kamu belum mandi! Mandi dulu sana, baru makan!" ucap Sheila dengan menarik lengan Tarjo agar beranjak dari kursinya.
"Nggak mau! Aku maunya makan dulu baru mandi!" tolak Tarjo dengan tetap menikmati makanan buatan Sheila.
Sheila tersenyum senang karena Tarjo menyukai masakannya. Ya walaupun yang membuatnya bukan sepenuhnya Sheila, tapi dibantu dengan Danny juga.
"Makan yang banyak ya sayangku!" ucap Sheila dengan mengusap pipi Tarjo.
#bersambung