
Sheila memperhatikan Tarjo yang sedang makan dengan lahap. Sesekali ia tersenyum dengan tingkah lucu kekasihnya.
Pria culun yang merasa di perhatikan akhirnya mulai memperlambat gerakan makannya. Ia ikut menatap Sheila yang malah belum memakan makanan di piringnya.
"Kok kamu gak makan?" tanya Tarjo.
Sheila menggeleng. "Lihat kamu makan udah bikin kenyang!" seloroh Sheila.
Tarjo terkekeh. "Tapi kamu harus tetap makan. Kan sudah kubilang kamu gak boleh telat makan!"
Tarjo mengambil alih piring Sheila dan menyendok makanannya.
"Buka mulutmu!" perintahnya.
"Aaaa!" ucapnya lagi dengan mulut yang ikut terbuka.
Sheila menurut. Ia menerima suapan demi suapan dari Tarjo. Gadis itu memperhatikan tiap guratan di wajah Tarjo.
"Udah cukup!" ucap Sheila lalu mengambil gelas yang berisi air putih. Sheila meneguknya habis. Ia mengelap mulutnya dengan tisu.
Tarjo memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh Sheila.
"Kita keluar yuk!" ajak Sheila sambil menggandeng tangan Tarjo.
Mereka duduk di teras dengan memandangi langit malam.
"Langitnya indah ya!" lirih Sheila.
"Hmm," jawab Tarjo.
Sheila menyenderkan kepalanya di bahu Tarjo.
"Jo, maaf ya..."
"Maaf untuk apa?"
"Karena tadi..." ucap Sheila ragu.
"Maksudmu pria tadi?" Tarjo sengaja memperjelasnya.
Sheila mengangguk. "Aku gak sengaja ketemu Kak Danny pas belanja tadi."
"Tidak apa. Kenapa kamu harus menceritakannya?"
Sepertinya Tarjo mulai cemburu.
"Kamu marah ya?" tanya Sheila dengan mendongakkan wajahnya menatap Tarjo.
"Sudah terjadi. Mau bagaimana lagi?" pasrah Tarjo.
"Dia cuma bantuin aku masak aja kok! Aku sudah mengenalnya sejak aku kecil."
"Oh, teman kecilmu ya?" Pertanyaan yang Tarjo ajukan sendiri akhirnya mengingatkan pada dirinya sebagai Nathan. Hingga sekarang ia tak bisa menemukan teman kecilnya.
Percakapan berakhir dan mereka masuk ke rumah masing-masing. Tarjo menatap dirinya di cermin. Ia mengingat kembali tentang pembahasan mereka tadi mengenai teman sewaktu kecil.
Tarjo ingat ketika dirinya harus berada di panti asuhan karena diculik saat bayi. Tapi ia juga merasa bersyukur, karena berkat hal itu ia bisa bertemu dengan teman kecilnya.
"Celia, dimana kamu? Setidaknya aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Itu saja. Hanya itu saja."
Tarjo merebahkan diri di kasur single bed miliknya. Ia memejamkan mata dan berharap semuanya akan baik-baik saja esok hari.
#
#
#
Keesokan harinya di kantor Avicenna Grup. Marina yang telah gagal dengan misinya kemarin. Masih belum menyerah juga. Kini ia sedang mengendap-endap di tempat parkir basement.
Ia menatap mobil Nathan yang berada di tempat parkir khusus CEO.
"Kali ini aku harus berhasil. Aku akan memasangkan alat pelacak ini di mobil Nathan. Jadi, aku bisa tahu kemanapun dia pergi." Marina terkekeh geli dengan rencananya yang terbilang genius itu.
Marina menempelkan alat pelacak di bagian belakang mobil. "Oke! Sudah terpasang!"
Marina kembali mengendap-endap agar tidak terekam dalam kamera pengawas.
Sementara di ruangannya, Sheila masih berkutat dengan pekerjaannya. Dalam kesibukkannya, ia mengingat kembali apa yang ia bicarakan dengan Tarjo semalam.
Tarjo bercerita jika dirinya juga memiliki teman sewaktu kecil. Bertahun-tahun tidak bertemu dan tidak tahu bagaimana kabarnya. Entah kenapa Sheila merasa cemburu dengan teman kecil Tarjo yang seakan begitu berarti dalam hidupnya.
Sheila melirik jam tangannya. Tiba-tiba ia merindukan kekasihnya itu.
"Udah waktunya jam makan siang."
Sheila melirik kearah ruangan Nathan. Pria itu masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Tidak apa kan aku pergi keluar tanpa seijinnya?" gumam Sheila.
"Ah, bodo amat lah! Ini kan waktunya jam istirahat. Biarkan saja dia jika maunya bekerja terus!"
Sheila segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
Sekelebat Sheila melihat bayangan seseorang yang baru saja keluar dari area parkir.
"Itu kan Marina? Ngapain dia disini?" gumam Sheila. Ia menggeleng pelan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Ia segera tancap gas untuk menemui Tarjo.
#
#
#
Nathan yang masih berkutat dengan berkas di depannya, dikejutkan dengan panggilan dari anak buah Fajri yang bekerja di bengkel.
"Ada apa? Kenapa Tino menelepon?"
Nathan menjawab panggilan Tino.
"Baik baik. Saya akan segera kesana."
Nathan beranjak dari kursi kebesarannya dan mondar mandir tidak jelas. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdengung.
"Sheila! Kenapa dia nekat datang ke bengkel? Bagaimana ini?"
Tanpa pikir panjang, Nathan segera keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju tempat parkir. Ia harus segera menjadi Tarjo.
Sementara di bengkel, Sheila duduk di ruang tunggu sambil memperhatikan seluruh pekerja pria yang ada disana. Mereka sedang bekerja memperbaiki mobil-mobil yang masuk ke bengkel.
Tino dan kawan-kawan menatap Sheila yang sedang menunggu sang kekasih hati.
"Kau sudah menghubungi Tuan Nathan?" tanya Toro.
"Sudah, Tor. Kayaknya tuan Nathan lagi menuju kemari."
"Ya sudah, kita kembali kerja. Jangan ngelihatin nona Sheila terus. Dia itu kekasihnya tuan Nathan," ucap Toro menepuk bahu Tino.
"Cantik ya, Tor..."
"Ya iyalah. Selera orang kaya ya begitu dah. Udah! Jangan dilihatin terus!"
Di tempat berbeda, ponsel Marina berbunyi 'beep' yang artinya ada pergerakan dari alat pelacak yang dipasang di mobil Nathan. Senyum seringai tercetak di wajahnya.
"Jadi, Nathan sedang keluar. Mau pergi kemana dia?"
Marina terus memperhatikan kemana arah titik merah itu berhenti. Ia membulatkan mata ketika titik itu akhirnya berhenti.
"Brengsek! Ini kan jalanan yang kemarin aku lewati saat mengikuti mobil Nathan. Jadi, dia pergi kesana lagi? Bahkan di siang bolong begini?"
Marina mengepalkan tangannya. "Jadi, benar jika gadis itu tinggal disana. Aku harus pergi kesana."
Marina segera beranjak dari kursinya. Namun sedetik kemudian ia terdiam.
"Gak mungkin aku berpakaian begini. Anak buah Pak Rasta pasti bakal ngikutin aku lagi kayak kemarin. Aku harus menyamar!"
Marina menghubungi dua sahabatnya, Nita dan Sitta untuk membantunya menyamar. Dua gadis yang sedang menyantap makan siangnya berjalan malas menemui Marina.
"Mau ngapain lagi sih dia? Gak kapok juga ya dia!" keluh Nita.
"Iya, mungkin sebaiknya kita mulai jaga jarak dari dia. Dia itu psycho!" Sitta bergidik ngeri.
"Ya udah! Ini terakhir kalinya kita bantuin dia. Oke?" kukuh Nita.
"Oke!"
#
#
#
Nathan sudah berubah menjadi Tarjo dan kini ia telah tiba di bengkel. Ia memarkirkan motor bututnya di tempat parkir khusus karyawan bengkel. Ia berjalan masuk namun dicegat oleh Tino dan Toro.
"Hei, bung. Parkir motornya yang benar dong! Itu khusus untuk karyawan sini! Situ siapa? Bawa motor butut kok dateng ke bengkel mobil?" tanya Tino yang tak mengenali sosok Nathan dalam diri Tarjo.
Sedangkan Toro memperhatikan penampilan Tarjo dari atas hingga bawah. Bawah hingga atas. Ia seakan memindai Tarjo dengan sinar laser di matanya.
"Mungkin dia supirnya juragan Diman, Tin. Tadi dia telepon ada orang suruhannya yang datang mau ambil mobil," celetuk Toro.
"Kalian ini! Ini aku! Nathan!" ucap Tarjo dengan lirih agar tak di dengar oleh yang lain.
"Hah?! Tuan Nathan?" tanya Tino tak percaya.
"Panggil aku Tarjo! Oke? Cepat pinjami aku seragam bengkel punya kalian!" perintah Nathan.
"Oh, ayo sebelah sini Tuan. Jalannya hati-hati, Tuan. Nona Sheila ada di ruang tunggu," ucap Tino lalu membawa Tarjo ke ruang ganti.
Tino dan Toro hanya bisa menggeleng pelan dengan penampilan Nathan yang berubah 180 derajat.
"Tor, ternyata cowok cakep pun di dandani jadi jelek tetep aja cakep ya! Lah coba kalo kita? Bakalan tambah jelek ya!" Tino terkekeh membayangkan dirinya berubah seperti Tarjo.
"Iya lah! Aura ketampanannya tetap muncul, Tin. Tapi yang bikin gak kuat tuh gigi tonggosnya itu lho! Masa iya Non Sheila mau sama orang model begitu?"
"Lah buktinya itu mau! Itu artinya nona Sheila bukan mencari fisik, Tor, tapi hati."
"Sok puitis! Ya udah kita kerja lagi aja!"
Tarjo menemui Sheila di ruang tunggu. Gadis itu berseru gembira karena melihat kekasih hati telah tiba.
"Tarjo!" Sheila langsung memeluk Tarjo tanpa aba-aba.
Tarjo sangat kaget mendapat pelukan dari Sheila.
"Aku pilih kamu, Jo. Jadi, kumohon kamu juga memilih aku!" lirih Sheila masih dengan memeluk Tarjo.
"Shei, ini di bengkel. Bisa gak kamu lepasin pelukan kamu. Aku gak enak sama yang lain," ucap Tarjo gugup.
"Oh, maaf. Aku hanya terbawa suasana." Sheila menunduk malu.
"Kenapa kamu datang di jam segini?" tanya Tarjo.
"Umm, aku hanya kepikiran dengan cerita kamu kemarin. Kamu masih mikirin teman masa kecilmu. Aku ... aku..."
"Aku gak mikirin dia, Shei. Aku hanya menceritakannya saja untuk berbagi."
Sebagai Nathan, ia tak bisa menjelaskan tentang sosok Celia karena Sheila terbawa emosi ketika Nathan akan menjelaskannya. Dan akhirnya ia bercerita tentang Celia ketika dirinya menjadi Tarjo dan berharap Sheila mengerti. Namun ternyata reaksi yang ia dapatkan melebihi apa yang ia harapkan.
"Aku memilihmu, Jo. Jadi, jika dia datang lagi ke kehidupanmu, maka aku ingin kamu juga memilihku," ucap Sheila dengan suara bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Iya, aku akan memilihmu." Tarjo merangkum wajah Sheila.
"Bukankah sejak awal aku sudah memilihmu, Sheila. Kenapa kau masih juga tak mengerti? Kenapa semuanya harus sampai begini? Apa yang harus kulakukan jika kau memilih Tarjo?" gumam Nathan dalam hati.
#bersambung