My Culun CEO

My Culun CEO
Bulan Madu yang Tertunda



Sheila tiba di apartemen setelah tadi pergi bersama Danny ke panti asuhan. Ia meraih ponsel dan membaca pesan dari suaminya yang berkata jika dirinya akan terlambat pulang.


Ya, Sheila harus mengerti jika suaminya memang sangat sibuk. Tidak ingin berpikiran buruk, Sheila mengirim pesan pada Harvey untuk memastikan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu.


Harvey membalas pesan Sheila. Dia bilang jika Nathan masih rapat bersama kliennya. Sheila melirik jam dinding. Sudah pukul delapan malam,Β dan Nathan masih bekerja.


Sheila menghembuskan napas kasar. Ia membersihkan diri terlebih dulu lalu setelahnya ia rebahan di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Sheila berkirim pesan dengan Naina, sahabatnya. Ia ingin tahu bagaimana perkembangan hubungan Naina dan Harvey.


Sheila mencebik karena Naina bilang jika mereka hanya sebatas teman saja. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Sheila sangat mengerti itu.


"Apa Naina masih memikirkan Vicky?" gumam Sheila.


"Ah, sepertinya tidak. Lagipula pria itu berada di dalam penjara. Untuk apa Naina memikirkan seorang kriminal seperti dia?" monolog Sheila.


Sheila kembali mengingat peristiwa yang baru saja terjadi tadi. Sheila melihat Danny dan Celia tertawa lepas di taman panti. Sheila tak tahu apa yang mereka tertawakan, tapi sepertinya rencana Nathan akan berhasil.


"Semoga saja mereka berjodoh." Sheila menguap karena sudah mulai mengantuk.


Jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam. Nathan belum juga kembali. Sheila yang lelah menunggu akhirnya memejamkan mata terlebih dahulu.


#


#


#


Pukul 11 malam, Nathan kembali ke apartemen. Ia tak melihat Sheila dimanapun selain di kamar tidur mereka pastinya. Istrinya itu memang suka sekali tidur. Apalagi ini sudah hampir tengah malam.


Nathan membersihkan diri lebih dulu kemudian menyusul Sheila naik keatas tempat tidur.


"Maaf ya sayang. Aku meninggalkanmu begitu lama," bisik Nathan di telinga Sheila.


Sebuah sentuhan membuat Sheila membuka mata perlahan. "Tuan Su? Kamu sudah pulang?" tanya Sheila dengan suara seraknya.


"Hmm, maaf ya aku pulang terlambat." Nathan memeluk istrinya itu.


"Tidak apa. Aku mengerti kok. Kamu adalah orang sibuk. Suamiku adalah orang sibuk!" racau Sheila kemudian kembali terlelap.


Nathan terkekeh mendengar kalimat Sheila yang menurutnya lucu. Nathan meraih ponselnya dan membaca jadwalnya untuk satu bulan ke depan.


Nathan mengerutkan dahi karena ternyata tidak ada hari kosong untuknya. Banyak sekali proyek yang harus ia tangani. Terutama kerjasama dengan investor asing.


"Huft! Apa aku harus menunda bulan madu lagi?" Nathan menatap Sheila yang terpejam.


"Aku sangat ingin bisa berdua saja denganmu, Shei. Tanpa ada gangguan dari siapapun."


Nathan mulai mengecupi seluruh wajah Sheila. Istrinya itu sama sekali tidak terganggu dengan kejahilan Nathan.


Dipandanginya bibir merekah milik istrinya. Nathan tertantang untuk berbuat lebih jauh. Meski tubuhnya lelah, namun jika harus bermain bersama Sheila, tentu saja tak ada kata lelah baginya.


Nathan dengan berani mencium lembut bibir ranum Sheila. Memberikan sedikit gigitan-gigitan kecil lalu menyesapnya dalam. Tak disangka ternyata Sheila membuka mulutnya, membuat Nathan bebas menjelajah di sana.


Suara lenguhan mulai terdengar dari bibir Sheila. Nathan tersenyum karena Sheila menikmati permainannya meski masih terpejam.


Nathan mulai turun ke leher jenjang Sheila dan memberikan efek bergetar yang luar biasa bagi tubuh Sheila. Mata Sheila terbuka dan mendapati Nathan kini berada diatas tubuhnya.


"Tu-tuan Su? Apa yang kamu lakukan?" tanya Sheila tergagap karena sentuhan yang diberikan Nathan membuatnya melayang.


Tangan Nathan sedari tadi bergerilya di dua bukit kembar yang masih tertutup kain itu. Bibirnya terus mengecup leher Sheila hingga membuatnya merem melek dibuatnya.


"Tidak, Nate..." Sheila berusaha menolak ketika tangan Nathan mulai melesak masuk ke bagian selatan tubuhnya.


Namun Nathan tahu jika Sheila juga menyukai setiap sentuhannya. Jarinya masuk dan bermain disana.


Sheila mengerang nikmat dengan apa yang dilakukan suaminya. Ini baru jari saja yang masuk, bagaimana jika sesuatu yang besar yang masuk? Hihi. Pasti Sheila akan menggelinjang nikmat karena ulah Nathan.


"Hentikan, Nate..." pinta Sheila yang wajahnya sudah memerah.


"Kenapa? Kamu ingin langsung saja?" tanya Nathan menggoda Sheila.


"Nate!" Sheila amat malu mengakuinya.


"Kita sudah sering melakukannya, kenapa harus malu?"


"Entahlah... Sentuhanmu membuatku melayang, Nate. Dan aku sangat malu." Sheila menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Baiklah, aku akan membuatmu lebih melayang. Oke?"


Nathan segera membuat kedua tubuh mereka polos. Sheila mengatur napas karena masih merasa gugup.


"Nate! Cepat lakukan saja!" pinta Sheila yang ingin semua kegugupan ini berakhir. Ya, ia masih merasa gugup jika harus melakukan hubungan intim dengan suaminya. Hatinya berbunga namun juga merasa cemas bersamaan.


Nathan tak ingin Sheila lebih gugup lagi. Akhirnya ia mulai menjalankan aksinya. Nathan membungkam bibir Sheila agar dia lebih santai.


Ya, kini Sheila mulai rileks dan bisa mengikuti irama yang Nathan ciptakan. Mereka beberapa kali mencoba posisi baru agar tidak monoton. Sheila mulai lelah akibat ulah Nathan.


Mereka kembali ke posisi semula dengan Nathan yang mulai mandi keringat. Ia menganggap ini sebagai olah raga untuknya. Olahraga yang menyenangkan, pikirnya.


Sekitar dua jam akhirnya pergulatan berakhir dengan tidak ada yang menang dan kalah. Mereka sama-sama menggapai nirwana.


Nathan memeluk Sheila dan mengecupi seluruh wajah istrinya. Sheila memukul dada Nathan pelan.


"Kamu bilang mau menunggu hingga kita bulan madu, kenapa malah sekarang kamu menyerangku?" lirih Sheila yang sudah terkulai lemas.


Nathan terkekeh. "Maaf sayang. Kita tidak akan bisa berbulan madu. Jadwalku sangat padat. Jadi, kita lakukan dulu disini ya?"


Sheila mengerutkan dahinya.


"Itu berarti kamu akan terus menyerangku setiap malam?" tanya Sheila memastikan.


"Tentu saja!" jawab Nathan pasti.


"Ah, tidak!" Sheila menutup wajahnya.


Nathan tertawa keras karena melihat istrinya yang akan kewalahan untuk bertempur dengannya setiap malam.


#


#


#


Sheila berangkat ke kantor dengan wajah yang kusut dan tak bersemangat. Danny yang melihat itu menjadi tak tahan untuk bertanya.


"Shei, kamu baik-baik saja?"


Sheila mengangguk. "Iya, Kak. Oh ya, untuk hari ini aku akan bekerja di kantor saja ya, Kak. Aku merasa sangat lelah..." Sheila segera menutup mulutnya. Tidak mungkin dia membiarkan Danny mengetahui urusan ranjang rumah tangganya.


Danny tersenyum. "Aku mengerti, Shei. Bukankah itu sangat wajar. Kalian adalah..."


Sheila segera membungkam mulut Danny dengan tangannya. "Tidak perlu diperjelas dong, Kak!"


Sheila amat malu. Ia memilih untuk pergi ke ruangannya dan mulai bekerja.


"Aku senang melihatmu bahagia, Shei. Semoga pernikahanmu dan Nathan langgeng hingga maut memisahkan," ucap Danny dalam hati. Ia selalu mendoakan yang terbaik untuk gadis kecilnya.


Di tempat berbeda, Nathan sedang mempersiapkan rapat dengan klien barunya. Nathan memeriksa terlebih dahulu profil perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaannya.


"Jadi, dia adalah keponakan dari pemilik Hang Construction?" tanya Nathan.


"Benar, Tuan. Perusahaannya berada di Singapura, dan kini ingin membangun cabang disini," jelas Harvey.


"Kenapa tidak meminta Hang Cons saja yang melakukan proyeknya?" tanya Nathan sedikit heran.


"Entahlah, Tuan. Mereka sangat ingin menjalin bisnis dengan kita."


Nathan tak bertanya lagi. "Ya sudah, persiapkan dengan baik semuanya."


"Baik, Tuan."


Tak lama suara sepatu hak tinggi menggema di ruangan itu. Nampak sosok tinggi semampai memasuki ruangan.


Nathan yang masih mengecek berkas tak menghiraukan kehadiran sosok yang menyebarkan aroma parfum vanilla di ruangan itu.


"Selamat siang, Tuan Nathan Avicenna."


Suara itu membuat Nathan mendongak dan terkejut karena melihat penampilan wanita itu yang menurutnya terlalu terbuka.


#bersambung...


*Genks, untuk jadwal UP diubah jadi setelah pukul 12 siang ya πŸ™


Dan akan diusahakan 2 kali UP atau bisa lebih (Setelah jam 12 siang dan jam 6 sore)


Harap maklum dan selalu dukung karya2 emak ya genks 😘😘


...Terima kasih ...