My Culun CEO

My Culun CEO
Aku Disini Untukmu



Naina memutuskan untuk kembali menghubungi Nathan dan tersambung. Naina menceritakan semua detil yang ia tahu mengenai penculikan Sheila.


Beruntung nomor polisi mobil yang membawa Sheila sempat terekam kamera pengawas milik Naina. Secepat yang teknologi canggih bisa lakukan, anak buah Rasta ditambah dengan orang-orang Boy akhirnya berhasil menemukan titik koordinat Dimana Sheila berada.


Nathan yang sudah dipenuhi api amarah terhadap Vicky, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak ingin apa yang diucapkan Marina tadi menjadi kenyataan. Nathan menggeleng pelan. Pikiran tentang betapa hancurnya Sheila ketika semua itu terjadi mulai memenuhi pikiran Nathan.


"Brengsek! Akan kubunuh kau jika sampai kau menyentuh Sheila bahkan seujung kuku pun!" sungut Nathan dengan berapi-api dan makin menginjak pedal gas dalam.


Sementara itu di sebuah kamar hotel, Vicky merebahkan tubuh Sheila yang masih tak sadarkan diri ke atas ranjang. Pria itu melirik jam tangannya.


"Menurut perkiraan waktunya, harusnya sebentar lagi dia akan sadarkan diri. Akan sangat tidak menyenangkan jika aku melakukannya saat dia sedang tidak sadar. Lebih baik aku menunggunya sadar dulu. Karena pasti lebih seru saat mendengar teriakannya nanti," seringai Vicky dengan menatap tubuh Sheila.


Setelah menunggu beberapa saat, benar saja perkiraan pria itu. Sheila mulai sadar dari pengaruh obat bius.


Matanya mulai terbuka dan mengerjap pelan. "Dimana aku?" gumamnya lemah.


"Hai, Nona. Kau sudah bangun?"


Suara itu membuat Sheila terlonjak kaget. Ia bangun dari tempat tidur dan duduk sambil menatap Vicky.


"Kau? Apa yang kau lakukan? Kenapa membawaku kesini?"


Sheila bangkit dari ranjang dan hendak melangkah pergi. Namun tak semudah itu Sheila bisa kabur.


"Aaa!" teriak Sheila ketika Vicky menghempaskan lagi tubuhnya keatas ranjang.


Secepat kilat Vicky juga ikut naik keatas ranjang. "Sial! Kau ingin bermain denganku ya! Mau main kasar atau..."


"Dasar brengsek!" Sheila berusaha bangun lagi namun Vicky mencekalnya.


"Tolong!" teriak Sheila. Namun tentu saja tidak ada yang mendengar teriakan Sheila.


Terjadilah perkelahian diatas ranjang. Vicky yang berusaha merobek pakaian Sheila dan gadis itu yang menghalau tangan Vicky. Tangis Sheila mulai pecah karena dirinya sudah sangat takut. Hanya satu yang ia ingat saat ini. Nathan. Bagaimana ia bisa menghadapi Nathan jika hari ini semuanya akan terkoyak?


Vicky menampar pipi Sheila dan membuat gadis itu terdiam. Tenaganya sudah habis. Ia tak bisa melawan lagi.


Sheila memejamkan mata ketika Vicky berhasil melepas pakaian bagian atasnya. Laki-laki itu telah gelap mata. Ia pun membuka kaus yang dipakainya.


"Vicky... Jangan lakukan, aku mohon..." Sheila akhirnya memohon dengan air mata yang berlinang.


Permohonan Sheila tentu saja tidak digubris olehnya. Bisa mendapatkan gadis seperti Sheila adalah impiannya.


Suara pintu dibuka dengan paksa terdengar keras ditelinga kedua orng yang sedang berada diatas tempat tidur.


"B4jingan!" teriak Nathan dengan mata memerah. Ia segera berlari kearah Vicky dan menarik tubuh pria itu dari atas tubuh Sheila.


Dengan tenaga Penuh Nathan memukuli Vicky tanpa ampun. Sementara Sheila menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia menangis sejadinya disana.


Tangisan yang menyayat hati Nathan dan membuatnya kalap. Hampir saja ia membunuh Vicky jika saja Rasta tidak datang mencegahnya.


Napas Nathan memburu. Ia menatap gadisnya yang ketakutan diatas ranjang. Ia menghampiri Sheila.


"Shei!"


"Aaaaa! Pergi! Jangan ganggu aku! Pergi!"


"Shei, ini aku! Sayang, ini aku! Aku disini jangan takut!" Nathan meyakinkan Sheila hingga gadis itu tersadar dan mengenali sosok Nathan.


"Nathan!" Sheila segera memeluk kekasihnya. Ia menangis.


"Maafkan aku," lirih Sheila disela isakannya.


"Akulah yang harusnya meminta maaf. Maaf karena tidak memberitahumu soal Marina. Maaf..."


Nathan sangat bersyukur karena dia datang tepat waktu. Anak Buah Rasta kini membawa Vicky ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


...💟💟💟...


Mobil Nathan tiba di kediaman Sheila. Disana Sheila disambut oleh keluarganya dan juga Naina. Gadis itu menangis sesenggukan karena merasa bersalah.


"Shei!" seru Naina ketika Sheila tiba di rumahnya.


"Maafkan aku, Shei..."


"Jangan menyalahkan dirimu. Aku udah gak apa kok."


Sheila mengurai pelukannya. Kini ia memeluk Sandra.


"Mama! Maafin Sheila, Ma! Sheila udah bikin mama cemas."


"Terima kasih ya, Nak Nathan!" ucap Adi Jaya.


"Mari masuk!" ucap Sandra.


Sheila dan Naina pergi ke kamar. Sementara Nathan duduk mengobrol bersama Adi Jaya.


Setelah beberapa lama Sheila dan Naina bercerita bersama, Nathan mengetuk pintu kamar Sheila yang tidak tertutup rapat.


"Apa aku ganggu?" tanya Nathan.


"Tidak, Tuan Nathan. Masuklah! Aku juga harus pulang, sudah malam."


"Pak Agus akan mengantarmu pulang," ucap Nathan.


"Eh, tidak perlu, Tuan. Aku bisa naik ojek online," tolak Naina.


"Jangan menolak, Na," sahut Sheila.


"Iya, baiklah. Terima kasih, Tuan. Shei, aku pulang ya! Kamu istirahat saja!" Naina melambaikan tangan lalu keluar dari kamar Sheila.


Sheila beranjak dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Nathan. Ia memeluk pria itu erat.


"Terima kasih untuk hari ini," ucap Sheila.


"Hmm, aku akan menyalahkan diriku seumur hidup jika sampai terjadi sesuatu denganmu."


"Ish, kau! Jangan bicara begitu!" Sheila memukul lengan Nathan


Pria itu meringis kesakitan.


"Kenapa? Apa kamu terluka?" Sheila ingin melihat lengan Nathan namun pria itu melarangnya.


"Bukan apa-apa!" tolak Nathan.


"Diamlah! Biar aku lihat dulu!" Sheila membuka jaket Nathan dan terlihat bekas sabetan pisau saat tadi ia berebut pisau dengan Marina.


"Astaga! Kamu terluka, masih bilang tidak apa-apa! Cepat duduk! Aku akan ambil kotak obat!" perintah Sheila.


Dengan hati-hati Sheila mengobati luka Nathan lalu memakaikan plester disana. "Kamu terluka karena aku ya?" tanya gadis itu sedih.


"Bukan. Ini tidak sengaja tadi saat Marina berusaha menusuk dirinya sendiri."


Sheila terdiam sejenak. Ia tahu ada sesuatu yang Nathan sembunyikan darinya.


"Shei, aku akan ceritakan semuanya padamu. Maaf jika aku terlambat memberitahumu." Nathan menggenggam kedua tangan Sheila.


Nathan menceritakan semuanya tentang kisahnya bersama Marisa. Hingga akhirnya gadis itu berubah menjadi Marina.


"Aku tidak tahu jika ada orang yang mencintai sampai seperti itu. Dia begitu mencintaimu, Nate. Meski jalan yang dia tempuh salah, tapi cinta tidak salah. Aku bahkan belum bisa mencintaimu seperti itu," ucap Sheila lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nathan.


"Dia jadi seperti itu karena aku. Maaf karena aku juga sering menyakitimu. Mulai saat ini aku akan memperbaiki diriku. Kamu bisa memaafkan aku kan?"


Tak ada jawaban dari gadis yang ada di sampingnya.


"Shei! Kamu dengar aku kan?" Nathan memanggil Sheila.


Nathan menoleh kearah kirinya dan melihat Sheila sudah memejamkan matanya. Nathan tersenyum.


"Kamu memang suka sekali tidur ya!"


Nathan mengangkat tubuh Sheila dan merebahkannya keatas tempat tidur. Ia menatap wajah sang kekasih yang terlihat pucat. Ia mengusap pipi Sheila yang terlihat sedikit bengkak karena tamparan Vicky tadi.


Kembali ia menggeram kesal mengingat perbuatan pria brengsek itu. Akan Nathan pastikan jika Vicky akan mendapatkan hukuman yang berat.


"Tidurlah! Aku akan selalu disini untukmu!" Nathan mengecup kening Sheila sebelum akhirnya ia keluar dari kamar gadis itu.


Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan untuk Nathan. Tenaga dan hatinya cukup terkuras banyak. Namun ia juga bernapas lega karena bisa melihat Sheila kembali pulang dengan selamat.


#bersambung...


Maap UP nya kemalaman genks, akuh ketiduran tadi 😬😬😬


semoga bisa menghibur di kala dini hari kalian ya 😘😘


mampir juga ke 👇👇👇