
Dua pasang mata kini tengah menyorot tajam kearah Nathan yang sedang berperan menjadi Tarjo. Pria culun itu hanya bisa diam dan meringis ketika mata tajam itu terus menatapnya.
Nathan tahu ke dua pria yang duduk berhadapan dengannya ini membutuhkan sebuah penjelasan darinya. Tapi apakah semua alasannya akan diterima? Akankah ketidaktahuannya mengenai Sheila akan diterima?
Yah, setidaknya Nathan harus mencoba, bukan? Ia memutar otaknya agar kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat meyakinkan di telinga kedua pria genius ini.
"Bang Aji, aku tidak tahu kalau Sheila akan datang kesini..."
Hanya itu saja yang ternyata mampu Nathan katakan. Ia mencari cara lain untuk bisa membujuk kedua pria ini.
"Mau sampai kapan kau terus melakukan ini, huh?!" Suara tegas ini berasal dari pria yang memiliki darah yang sama dengan Nathan. Dia adalah Boy. Begitu mendengar adiknya membuat kekacauan di bengkel Fajri, Boy segera datang. Begitu juga dengan Fajri yang selalu mengawasi semua gerak gerik karyawannya.
"Kak, aku minta maaf. Tapi aku tidak punya pilihan lain, please.. "
Nathan memohon pada kakaknya. Boy memijat pelipisnya pelan.
"Kau sudah bertunangan dengan Sheila, jadi berhentilah menjadi pria culun ini!" ucap Boy dengan nada sedikit kecewa pada adiknya.
"Kau membuat seolah Sheila mencintai pria lain dan berselingkuh dari tunangannya. Apa jadinya kalau papa dan mama tahu soal ini? Lalu om Adi? Kondisi kesehatannya sedang tidak baik. Jika tahu putrinya mengkhianati tunangannya, apa yang akan terjadi dengannya? Kau tidak berpikir sejauh itu?" amuk Boy.
Di tengah ketegangan yang terjadi, Ivanna yang juga dipanggil oleh Fajri untuk ikut bergabung bersama Nathan. Kini duo sahabat ini seperti seorang tersangka yang sedang di interogasi.
"Maaf, aku terlambat," ucap Ivanna menunduk karena ditatap Fajri dengan tajam. Secara singkat Fajri sudah menceritakan perihal kejadian yang terjadi hari ini di bengkel miliknya.
"Kak, ada satu hal yang membuat Sheila membenciku. Dan aku tidak bisa menjadi Nathan jika ingin dekat dengannya. Hanya Tarjo yang bisa mendekatinya," alasan Nathan.
Boy dan Fajri makin mendelikkan matanya pada Nathan.
"Tapi saat Sheila tahu apa yang sudah kau lakukan padanya, dia tetap tidak akan bisa memaafkanmu, Nate," timpal Fajri.
Nathan tertunduk lesu. Apa yang dikatakan Fajri memang benar. Sheila pasti akan lebih membencinya.
"Sebenarnya masalah apa yang membuat Sheila marah padamu?" tanya Boy.
Nathan melirik Ivanna. Pria muda itu seraya memberi kode agar Ivanna tetap diam.
"Sepertinya banyak sekali rahasia diantara kalian, huh? Nana, katakan pada Abang apa yang terjadi?" tanya Fajri menatap Ivanna.
"Kalian tenang saja! Aku tidak akan merepotkan kalian lagi!" ucap Nathan percaya diri.
Boy dan Fajri pasrah dengan keputusan Nathan saat ini. Bahkan solusi terbaik juga belum berhasil didapatkan.
"Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Sheila. Kakak jangan khawatir."
Kedua pria itu akhirnya pergi. Nathan bernapas lega dan menatap Ivanna. Kedua sahabat ini saling mengungkap rasa dengan sebuah tatapan.
"Aku jadi bingung, Nate. Apakah keputusanku untuk membantumu ini benar atau tidak. Yang dikatakan oleh Abang ada benarnya juga. Kau tidak bisa selamanya bersembunyi dibalik bayang-bayang semu Tarjo."
Nathan terdiam. Ia harus segera mencari solusi untuk masalahnya yang satu ini.
#
#
#
Sheila kembali ke kantor dan tak melihat Nathan ada di ruangannya. Ia tak mau ambil pusing dengan Nathan, mungkin saja bosnya itu sedang rapat diluar dengan klien.
Sheila kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia meregangkan ototnya sejenak sebelum kembali duduk ke kursi kebesarannya.
"Shei!" Suara Harvey membuatnya menoleh.
"Tuan Nathan pergi kemana? Kenapa belum kembali juga?" Harvey melirik jam tangannya.
"Aku gak tahu. Aku pikir dia pergi sama kamu." Sheila melirik kembali ke ruangan Nathan yang kosong.
"Aku akan coba menghubunginya." Harvey meraih ponsel dan menekan nomor ponsel Nathan.
"Tidak dijawab. Tidak biasanya Tuan Nathan tidak menjawab panggilan dariku." Harvey memegangi kepalanya.
"Pak Harvey!"
Sebuah suara membuat kedua orang kembali menoleh.
"Ada apa, Nina?" tanya Harvey.
"Begini Pak. Bu Marina tidak ada di ruangannya, Pak. Padahal saya harus membuat laporan berdasarkan data dari Bu Marina. Apa bapak bisa bantu saya?"
Harvey kembali bingung.
"Dua temannya, Nita dan Sitta juga tidak ada, Pak."
Harvey makin pusing. "Ada apa dengan semua orang?" lirihnya.
"Baik, saya akan bantu kamu. Ayo!"
Harvey dan Nina pergi dari ruangan Nathan. Sementara Sheila juga diam setelah mengetahui ada beberapa orang yang tiba-tiba menghilang dalam satu waktu. Ia kembali memandangi ruangan Nathan.
"Sebenarnya kamu kemana, Nathan?" batin Sheila.
#
#
#
Di rumah keluarga Hoffman, Marina sedang duduk berhadapan dengan ayahnya. Kedua lengannya dipegangi oleh anak buah ayahnya agar tidak kabur lagi.
David menatap nyalang pada putrinya. Kesabarannya rasanya sudah habis.
Marina tak mau kalah. Ia juga menatap tajam pada ayahnya. Ia merasa jika ayahnya sudah merusak semua rencananya. Ia ingat tadi dirinya sudah berhasil menemukan dimana mobil Nathan berada. Dan tinggal sedikit lagi ia mengetahui siapa gadis yang sudah merebut Nathan darinya.
"Ini semua karena Papa! Aku jadi kehilangan jejak Nathan. Padahal tinggal sedikit lagi aku menemukan siapa gadis j4lang yang sudah merebut Nathan dariku!" teriak Marina dengan lantang.
"Berhenti mengejar Nathan! Dia bahkan tidak pernah melihatmu!"
"Jika aku berhasil menyingkirkan gadis itu aku pasti bisa mendapatkan Nathan!" teriak Marina.
PLAK!
Sebuah tamparan dilayangkan oleh David. Ia tak menyangka jika putrinya tidak pernah menuruti nasihatnya.
"Kurung dia di kamar bawah! Dan jangan lepaskan dia sebelum aku memerintahkannya!" perintah David pada Rasta.
"Papa!" Marina berontak. "Lepaskan aku! Papa!"
David memijat pelipisnya pelan. Kepalanya seakan ingin meledak hanya untuk menghadapi sikap sang putri.
#
#
#
Nathan tiba di rumah Agus. Ia terkejut karena istri Agus langsung menemui Nathan dengan wajah ketakutan.
"Ada apa, Bu Agus?" tanya Nathan.
"Tuan, tadi ada yang datang kemari dan mengintai rumah ini," cerita istri Agus.
"Lalu?" Nathan mengernyit heran. Masalah apa lagi ini? Pikirnya dengan memegangi kepala.
"Ini, Tuan! Saya berhasil mengambil gambarnya."
Ibu Agus menyerahkan ponselnya pada Nathan. Ia memperbesar gambar seorang wanita yang sepertinya tidak asing.
"Marina!" geram Nathan. Ia menyerahkan ponsel itu kembali.
"Nona itu terus mengawasi rumah ini dengan mengendap-endap. Tapi setelah sekitar satu jam, ada beberapa orang datang dan membawa nona itu pergi."
Nathan mengangguk paham. Itu pasti anak buah David, ayah Marina. Pikir Nathan.
"Tapi Ibu dan anak-anak baik-baik saja kan?"
"Iya, Tuan. Kami baik-baik saja. Sepertinya nona itu mencari Tuan. Karena dia melihat mobil Tuan ada disini."
Nathan berpikir sejenak. "Bagaimana bisa Marina menemukan aku disini?"
Nathan memeriksa mobilnya. Ia memanggil orang suruhannya untuk mengecek kondisi mobilnya. Ternyata benar firasat Nathan. Marina memasang alat pelacak di mobil Nathan.
"Sial! Gadis itu benar-benar ya!" geram Nathan mengepalkan tangan.
"Bagaimana jika penyamaranku terbongkar? Lalu Sheila? Apa Marina tahu jika Sheila adalah tunanganku sekarang? Nyawa Sheila juga dalam bahaya kalau begini. Duh, kenapa jadi rumit begini?" Nathan mengusap wajahnya.
#
#
#
Boy tiba di rumahnya pukul delapan malam. Ia disambut oleh Aleya yang selalu tersenyum manis ketika menyambutnya.
Aleya melepas jas yang melekat di tubuh Boy. Ia sudah menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
Mereka berjalan menuju kamar. Boy melirik kamar anak-anaknya yang sudah menggelap.
"Anak-anak sudah tidur, sayang?" tanya Boy.
"Sudah, Kak."
"Maaf ya akhir-akhir ini aku jarang bermain dengan mereka."
"Tidak apa. Kakak kan sibuk."
Boy menghela napasnya dan duduk di tepi ranjang.
"Ada apa?" Aleya mengusap bahu suaminya.
"Aku memikirkan Nathan yang sudah berbuat nekat. Aku takut terjadi sesuatu dengan papa atau om Adi jika tahu apa yang sudah dilakukan anak itu."
Aleya tersenyum. "Dia kan sudah dewasa, Kak. Dia bisa bertanggungjawab dengan perbuatannya sendiri."
Aleya melihat semburat kekecewaan di wajah suaminya.
"Kak, begini saja. Bukankah papa dan mama ingin liburan bersama akhir tahun ini? Bagaimana kita ajak juga keluarga Sheila? Kita adakan acara makan malam sambil membicarakan soal liburan. Bagaimana menurut kakak?"
Boy berpikir sejenak. "Kurasa idemu bagus juga! Aku akan bicara pada papa dan mama besok. Terima kasih, sayangku..."
Boy amat bahagia. Ia segera menghujani istrinya dengan ciuman diseluruh wajahnya.
"Bagaimana kalau kita beri Nimo adik?" ucap Boy dengan menaikturunkan alisnya.
"Ish, kakak! Geronimo masih kecil, Kak. Jangan aneh-aneh deh! Ayo cepat mandi!" Aleya mendorong tubuh suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
#bersambung
*Hmm, kira2 rencana liburan bersama bakal terwujud gak ya?
Beri komen kalian ya genks, makasih 😘😘😘
...Happy April Mop 😁😁...
Hayoo, siapa nih yg kena prank di hari ini?