My Culun CEO

My Culun CEO
Cinta Ditolak, Ego Bertindak



Sore pun menjelang, Nathan sudah selesai dengan semua pekerjaannya. Di temani kekasih hati, Nathan amat bersemangat untuk menyelesaikan semua rapat dan penandatanganan berkas yang tertunda.


Sheila sudah mengeluh sejak siang tadi karena Nathan tidak memperbolehkannya pulang. Hingga akhirnya Sheila menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan dan menonton drama di ponselnya.


Nathan sangat bahagia karena bisa menahan Sheila disisinya. Sayang sekali gadis ini sudah bukan sekretarisnya lagi. Ingin meminta Sheila kembali tapi rasanya tidak mungkin. Toh sebentar lagi Sheila akan jadi Nyonya Nathan, dan tugasnya hanya untuk melayani dirinya saja.


Membayangkan semua itu membuat Nathan senyum-senyum sendiri. Hingga membuat Sheila harus menegurnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum gak jelas?! Jangan-jangan kamu mulai stres ya? Atau mulai depresi karena kemarin ditinggal aku?"


Nathan menatap Sheila lamat. "Iya, Shei. Aku hampir gila karena kehilanganmu."


Jawaban Nathan membuat hati Sheila tertohok. "Maaf..."


"Aku juga minta maaf..." Nathan beranjak dari kursi kebesarannya dan duduk di samping Sheila.


"Terima kasih karena mau menerimaku lagi. Aku pikir selamanya aku tidak akan bisa bersama denganmu," ucap Nathan sendu.


"Jangan bicara begitu! Kita sama-sama bersalah karena menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya. Sekarang aku tidak akan bersembunyi lagi." Sheila merangkum wajah Nathan.


Tentu saja hal itu tidak di sia-siakan oleh Nathan. Ia langsung saja mendekat untuk membuat jarak menipis.


Sheila menghentikan Nathan. "Apa pekerjaanmu sudah selesai? Cepat selesaikan! Aku sudah bosan menunggumu disini. Dan juga ... aku lapar!" Sheila meringis.


Nathan menghela napas. "Tinggal sedikit lagi. Tunggu sebentar ya!"


Sheila mengangguk kemudian memperhatikan Nathan yang kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia bersyukur karena tidak kehilangan cinta pria seperti Nathan.


Di tempat berbeda, Danny baru saja tiba di rumah miliknya. Pria 30 tahun itu terkejut karena melihat sosok wanita sedang berdiri di depan rumahnya.


"Hmm, akhirnya kamu pulang juga. Rumahmu lumayan bagus juga!" ucap wanita itu.


"Siapa kamu? Kenapa mengamati rumahku?" tanya Danny sedikit ketus.


"Kenalkan, aku Marina Hoffman. Kamu pasti pernah mendengar tentangku kan?"


Danny tersenyum sinis. "Apa maumu? Untuk apa datang ke rumahku?"


"Aku punya sebuah penawaran untukmu. Aku yakin kamu pasti tertarik."


Danny tersenyum sinis. "Maaf, aku tidak tertarik dengan penawaranmu!"


Danny memilih masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Marina.


"Kamu yakin tidak tertarik?" Marina semakin menyukai sikap Danny yang jinak-jinak merpati.


Danny tak menggubris kalimat Marina.


"Ini tentang Sheila!" seru Marina dan membuat Danny menghentikan langkahnya.


Danny berbalik badan dan menatap Marina.


"Katakan apa maumu?!" tanya Danny yang mulai jengah.


Marina tersenyum seringai. "Sepertinya pria ini mudah untuk dikendalikan. Reaksinya menunjukkan jika dia sangat peduli pada Sheila. Baiklah, rencana pertama akan segera dilaksanakan!" batin Marina tersenyum penuh kemenangan.


...💟💟💟...


Usai makan malam bersama, Nathan mengantar Sheila pulang ke rumahnya. Tiba di depan halaman depan, Sheila turun dari mobil diikuti Nathan.


Pria yang sedang di mabuk cinta itu rasanya tidak ingin melepaskan Sheila. Ia memeluk Sheila erat seakan tak mau melihatnya pergi.


"Nate, lepas! Kalau papa lihat bagaimana?" ucap Sheila.


"Biarkan saja! Palingan nanti dinikahkan!"


"Ih, apaan sih?" Sheila melepaskan diri. "Pulanglah! Hati-hati menyetirnya ya."


"Shei, jangan lupa mimpiin aku ya!" Nathan mengedipkan sebelah matanya.


"Dih, pede banget! Udah sana!"


Sheila masuk kedalam rumah setelah mobil Nathan berlalu pergi. Ia masuk ke dalam rumah dan melihat kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu. Dan ada juga Rangga beserta Cecilia.


"Papa? Mama? Kak Rangga? Kak Cecil? Kalian semua ada disini?" ucap Sheila sedikit gugup.


"Dari mana saja kamu seharian ini, Shei?" tanya Sandra.


"Eh? Aku ... aku... Ah, sudahlah! Aku capek! Mau istirahat! Selamat malam semuanya!" Sheila melenggang pergi meninggalkan keempat orang yang sedang tertawa geli melihat tingkah Sheila.


"Gadis itu tidak bisa dibiarkan, Nate. Kakak rasa dia akan semakin menjadi. Kenapa kau mengizinkan dia untuk kembali ke perusahaan?" ucap Boy.


"Maaf, Kak. Aku pikir dia benar-benar sudah berubah. Ditambah lagi Om David juga percaya padanya."


"Dia licik, Nate. Gadis seperti dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau."


"Baiklah, apa rencana kakak?"


"Sebelumnya, ada yang harus kau ketahui, Nate. Dan ... apa kau tidak ingat dengan Marisa?"


Nathan mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Boy.


"Siapa Marisa, Kak?"


Boy menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas. Boy meminta Nathan untuk membukanya. Pria itu menurut dan mulai membaca satu persatu berkas yang ada di dalam map.


"Ini tidak mungkin!" seru Nathan dengan menutup mulutnya.


"Jadi ... Marina adalah Marisa Andriana? Teman satu sekolahku dulu?" tanya Nathan tak percaya.


"Iya, aku juga baru tahu setelah menyelidikinya."


"Tapi, bagaimana bisa?" Nathan memijat pelipisnya pelan.


"Dia diadopsi sejak masih kecil dengan masih memakai nama Marisa. Identitasnya sengaja ditutupi karena saat itu Om David adalah pengusaha yang sedang merintis kesuksesan dan memiliki banyak musuh. Hingga Om David memiliki kekuasaan yang besar di dunia bisnis, ia baru mengenalkan putrinya ke publik dengan nama Marina Hoffman. Marina menempuh pendidikannya di luar negeri setelah lulus SMA. Dia menjadi model sambil berkuliah di luar negeri. Dan ia kembali ke tanah air setelah ayahnya menjadi investor untuk Avicenna Grup dan dia masuk sebagai karyawanmu."


Nathan terduduk lemas. Ia mulai ingat memori tentang Marisa. Mereka bersekolah di SMP yang sama dan juga SMA yang sama. Marisa adalah gadis lugu yang diam-diam menyukai Nathan. Marisa selalu memberi perhatian pada Nathan, namun pemuda itu tak pernah menggubrisnya.


Saat itu fokus Nathan adalah belajar. Ia sadar jika dirinya tidak segenius Boy dan ayahnya. Ia harus berjuang keras untuk membuktikan jika dirinya mampu seperti kakaknya.


Tak disangka penolakan bertubi-tubi oleh Nathan telah mengubah Marisa menjadi sosok yang lain. Apalagi David seakan enggan memberi perhatian lebih pada putrinya karena alasan pekerjaan.


Marisa yang lugu harus menerima kehadiran sosok lain yang penuh dengan ambisi yaitu Marina. Sosok Marina lebih dominan dari pada sosok Marisa yang lemah. Ya, orang-orang menyebutnya dengan nama kepribadian ganda.


Nathan terdiam. Ia tak menyangka jika semua perbuatan di masa lalunya membuat seorang gadis harus melakukan hal seperti ini.


"Aku harus bagaimana, Kak?"


Boy menatap Nathan. "Selesaikan urusanmu dengan Marisa. Setelah itu kita temui Om David. Sedikit banyak dia juga ikut andil atas apa yang terjadi pada Marisa."


"Bagaimana dengan Sheila? Apa aku harus menceritakan ini padanya?"


Boy berpikir sejenak.


"Untuk saat ini jangan katakan apapun dulu padanya. Setelah semuanya selesai, baru kau bisa ceritakan padanya."


Nathan mengangguk paham. Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Sheila.


..."Kamu lagi ngapain? Kamu pasti lelah. Istirahat ya! Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih karena sudah mencintaiku..."...


Nathan memejamkan matanya sejenak.


"Apa rencana kita, Kak?" tanya Nathan.


"Berpura-puralah memberi perhatian pada Marina. Dia harus kembali menjadi Marisa agar tidak menyakiti siapapun lagi. Hanya kau yang bisa mengembalikan sosok Marisa."


Nathan mengusap wajahnya kasar. Semua ini memang salahnya. Dan dia harus menyelesaikan masalah yang dibuatnya beberapa tahun silam.


Di tempat lain, Marina mengamuk dengan membanting barang-barang yang ada di kamarnya. Ia kesal karena tadi Danny menolak untuk bekerjasama dengannya.


"Aku memang menyukai Sheila, tapi aku tidak akan melakukan hal yang menyakiti dirinya. Jika kamu memang menyukai Nathan, harusnya kamu biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Memaksakan cinta yang tidak berpihak pada kita, hanya akan menyakiti diri kita sendiri."


Kalimat Danny masih terngiang di telinga Marina.


"ARRGGHH! Dasar pria bodoh! Untuk apa aku harus menerima kebahagiaan Nathan bersama orang lain, huh! Jika aku tidak bisa bahagia, maka Nathan juga tidak berhak bahagia!" teriak Marina.


..."Sudahlah, Marina. Sampai kapan kamu akan melakukan ini? Biarkan Nathan bersama gadis itu."...


Sebuah suara berbisik di telinga Marina. Gadis itu tersenyum seringai.


"Dasar bodoh! Kamu adalah gadis bodoh, Marisa. Kamu mencintai dia sejak dulu tapi kamu tidak bisa berbuat apapun! Berhenti bicara dan biarkan aku yang bertindak. Jika pria bernama Danny tidak mau membantuku, maka aku akan melakukan semuanya sendiri!" ucap Marina dengan berapi-api di depan kaca riasnya.


Wajahnya yang tadi sempat berubah sendu, kini kembali menyeringai.


"Jangan pernah muncul lagi, Marisa. Kamu adalah gadis bodoh yang tidak berguna! Aku akan pastikan Nathan meninggalkan Sheila! Hmm, rencana ini menarik juga." Marina tersenyum seringai sambil mengusap dagunya.