
"Sheila!"
Suara Nathan cukup kencang hingga menggema di kamar pribadi miliknya. Matanya memindai bak sinar laser. Namun sedetik kemudian kemarahan yang sempat muncul berganti dengan senyum hangat kala melihat gadis yang dicarinya sedang bergelung ditempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Nathan menghampiri Sheila dan menatap gadis yang sedang terpejam itu. Terukir senyum di bibir Nathan.
"Kenapa dia suka sekali tidur?" gumam Nathan.
Nathan melirik jam ditangannya. Sudah pukul 18.30. Tidak ada waktu lagi sebelum waktu makan malam dimulai.
Nathan segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Rencananya ia ingin mandi di rumah saja. Namun karena melihat Sheila tertidur akhirnya ia putuskan untuk membersihkan diri lebih dulu. Setelah itu baru ia akan membangunkan Sheila.
Keluar dari kamar mandi Nathan melihat Sheila masih tertidur. Ia menggeleng pelan dan menuju kamar ganti. Ia memilih baju mana yang akan ia kenakan untuk acara malam nanti.
Pilihannya jatuh pada kemeja putih lengan panjang. Ya, ia sangat suka kerapihan. Usai mematut diri, ia menghampiri Sheila. Kali ini ia harus membuat gadis ini bangun bagaimanapun caranya.
"Shei..." bisik Nathan pelan di depan wajah Sheila.
Sheila masih bergeming.
"Shei..." Nathan mengangkat tangan dan mengusap wajah Sheila dengan ibu jarinya.
Merasakan hembusan napas yang begitu dekat dan tangan yang dingin menyentuh wajahnya, membuat Sheila membuka mata dan melotot.
"Kamu? Ngapain kamu?" Sheila duduk dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya membangunkan kucing yang sedang tertidur. Meeoooww!" ucap Nathan dengan nada yang aneh.
Sheila mencebikkan bibirnya. Itu berarti Nathan menyebutnya kucing.
"Cepat mandi! ini sudah jam berapa? Keluarga kita juga pasti sudah menunggu."
Sheila menepuk jidatnya. Niatnya datang ke kamar Nathan adalah untuk mandi, tapi saat melihat kasur empuk jiwa kaum rebahannya ingin memejamkan mata barang sejenak. Ia tak menyangka jika akan tidur selama ini.
"Maaf, aku akan segera mandi," ucap Sheila sambil tertunduk.
Nathan mengusap puncak kepala Sheila. "Bagus! Menurutlah kucingku yang manis!"
Nathan keluar dari kamarnya dengan tawa kecil di bibirnya.
"Kucing manis? Ish, menyebalkan!" Sheila menggerutu dan segera bangkit dari tempat tidur yang nyaman itu.
...💟💟💟...
Nathan duduk di kursi kebesarannya dan mengecek beberapa pekerjaan yang belum selesai. Bahkan untuk bersantai saja sepertinya ia tak memiliki waktu.
Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari sang mama tercinta, Berlian.
"Halo, Ma."
"Kamu dimana, sayang? Sudah jam segini kenapa belum datang juga?"
"Aku masih di kantor, Ma. Lagi nunggu Sheila siap-siap."
"Hmm, ya sudah. Hati-hati menyetirnya ya!"
"Iya, Ma."
Tepat ketika panggilan berakhir, Sheila keluar dari kamar Nathan memakai baju yang tadi dikirimkan Nathan untuknya. Midi dress berwarna dusty pink itu sangat pas di tubuh Sheila.
"Sudah siap?" tanya Nathan.
Sheila mengangguk dengan menundukkan wajahnya. Ia sengaja melakukannya. Ia tak ingin menatap Nathan yang kini mulai membuat jantungnya berdetak tak beraturan.
Nathan mematikan laptopnya dan menghampiri Sheila. Ia kembali memindai penampilan Sheila. Rasa marahnya karena dirinya di namai 'gumpalan es' kini sirna sudah. Berganti dengan kata kagum pada sosok tunangannya ini.
"Kamu cantik, Shei..."
Satu kalimat yang membuat Sheila mendongak dan menatap Nathan. Mata mereka beradu menyiratkan sebuah rasa yang tak bisa diartikan.
Sheila ingin mengakui jika pria didepannya ini memang punya sejuta pesona untuk membuat wanita ingin terus menatap padanya. Tapi sekali lagi, Sheila tak ingin dibodohi dengan rasa sesaatnya.
Sentuhan berdurasi lima detik kembali terjadi. Sheila yang melamun dan Nathan yang memanfaatkan situasi. Kini Nathan mulai paham jika gadisnya tak akan marah bila disentuh hanya selama lima detik, haha.
"Jangan melamun! Ayo berangkat!" ucap Nathan dengan mengulas senyumnya.
Nathan menggenggam tangan Sheila dengan lembut. Sentuhan pria ini membuat Sheila lupa siapa dirinya.
Kemana Sheila yang selalu protes dan bersitegang dengan Nathan? Kemana Sheila yang cerewet dan pembantah? Hmm, nampaknya kini ia memang jadi kucing yang manis untuk Nathan, hihihi.
Mobil Nathan membelah jalanan kota metropolitan yang masih ramai dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang. Kedua insan masih saling diam selama perjalanan menuju kediaman keluarga Avicenna.
Rasanya Sheila sangat malu karena hari ini dua kali mendapat serangan dadakan dari Nathan. Pria itu menatap Sheila yang terus menatap keluar kaca mobil.
"Ehem!" Nathan berdeham untuk mencairkan suasana.
Ponsel Sheila bergetar. Sebuah pesan masuk dari Sandra. Ibunya itu meminta Sheila untuk membawa oleh-oleh untuk Berlian. Sheila memutar otak apa yang harus ia beli.
"Nate, apa kesukaan mamamu?" tanya Sheila pada akhirnya.
"Hmm? Kesukaan mama? Kenapa memangnya?"
"Mungkin cake atau bunga?" tanya Sheila lagi.
"Ooh, mama suka cheese cake."
"Kalau begitu antar aku membelinya. Setidaknya aku datang tidak dengan tangan kosong kan?"
Akhirnya ada juga obrolan diantara mereka. Itu semua berkat Sandra.
"Kamu tidak datang dengan tangan kosong, Shei."
"Kan kamu genggam tangan aku saat kita masuk rumah nanti. Jadi, tangan kamu tidak kosong!"
Wajah Sheila memerah. "Apaan sih? Garing banget deh!" Tawa Sheila tertahan.
"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!" imbuh Nathan.
Sheila akhirnya tak bisa menahan tawanya lagi. Sheila tertawa lebar. Tawa yang tidak pernah ia perlihatkan pada Nathan. Hanya pada Tarjo saja.
Nathan merasa miris dengan kenyataan itu. Tapi malam ini nyatanya ia bisa membuat Sheila tertawa. Setidaknya, sudah ada kemajuan dalam hubungannya dan Sheila.
...💟💟💟...
Tiba di rumah keluarga Avicenna, Nathan menggenggam tangan Sheila. Ini pertama kalinya Sheila datang ke rumah keluarga Nathan yang terkenal itu.
Rumah mewah itu dikelilingi banyak penjaga. Seorang pelayan yang sudah mengetahui kedatangan Nathan bersama Sheila, segera membukakan pintu untuk mereka.
"Paman Nathan!" seru dua bocah lelaki dan perempuan.
Mereka langsung memeluk Nathan dan membuat genggaman tangannya dan Sheila terlepas. Sheila terkejut melihat kedekatan Nathan dan kedua keponakannya.
"Paman, ayo kita main di kamar Paman. Kamar Paman kan banyak mainan," seru Nimo, bocah 4 tahun putra Boy dan Aleya.
Sheila yang terdiam lalu disambut oleh Lian. Calon ibu mertua Sheila itu sangat bahagia dengan kedatangan calon menantunya. Sheila di bawa menemui orang tuanya yang telah lebih dulu sampai.
Sheila menatap Nathan yang ditarik oleh keponakannya untuk naik ke lantai dua. Senyum tipis terbit di bibir mungil Sheila.
Acara makan malam pun telah usai. Kini berganti para orang tua yang sedang mengobrol santai di ruang keluarga.
Sheila kembali melirik Nathan yang sedang bermain dengan kedua keponakannya. Ia kagum dengan sosok dingin pria itu yang kini menghangat apalagi didepan anak-anak kecil.
"Nathan memang pria yang hangat." Sebuah suara membuat Sheila tersentak. Wajahnya memerah karena ketahuan sudah memperhatikan Nathan.
"Sejak kecil hatinya memang lembut. Begitu yang mama ceritakan padaku." Aleya bercerita sedikit tentang Nathan.
Sheila menuju ke taman milik mendiang ibunda Roy. Aroma bunga yang semerbak membuat hati Sheila tenang.
"Kamu disini?" Suara itu sangat Sheila kenali.
Sheila masih menatap langit malam yang begitu pekat. Udara dingin yang mulai menusuk membuat suasana makin syahdu.
"Jadi, bagaimana?" tanya Nathan yang mendapat tatapan bingung dari Sheila.
"Bagaimana apanya?" tanya Sheila balik.
"Apa kamu sudah bisa menerimaku untuk jadi kekasihmu?"
"Eh?!"
"Aku tahu hatimu berkata iya, Shei. Akui saja!"
Sheila menatap Nathan tajam namun sedetik kemudian ia memalingkan wajah. Tatapan Nathan membuatnya luruh. Ia tak boleh lemah.
"Jika tidak menjawab, maka..."
"Tunggu!" Sheila mencegatnya. Ia takut Nathan akan berasumsi sendiri dengan jawaban yang sesuai dengan keinginan Nathan.
"Apa kamu pikir aku akan memaksakan kehendakku?" tanya Nathan dengan wajah kecewa.
"Memang benar begitu kan?" ucap Sheila tak mau kalah. "Kamu selalu melakukan semuanya sesuka hatimu. Kamu tidak bertanya bagaimana perasaanku!"
"Kalau begitu aku tanya bagaimana perasaanmu? Aku tahu kamu juga memiliki rasa yang sama denganku!" tegas Nathan.
Sheila mendesah kasar.
"Kamu bahkan tidak menolak saat aku menciummu," lanjut Nathan.
Sheila memicingkan matanya menatap Nathan.
"Kamu yang mengambil kesempatan dalam kesempitan!" sungut Sheila tak terima.
Nathan mengalah. Ia tak ingin berdebat dengan gadis ini. Malam ini terlalu indah jika hanya digunakan untuk bertengkar.
"Baiklah. Aku minta maaf! Jika kamu belum bisa menerimaku sebagai tunanganmu, maka setidaknya terima aku jadi temanmu."
Sheila mengerutkan kening. "Teman?"
"Iya. Kita berteman saja dulu!" Nathan mengacungkan jari kelingkingnya.
Sheila menatap jari itu. "Jangan pernah menyentuhku sembarangan!" tegas Sheila.
Nathan menelan ludahnya. "Iya. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu. Oke? Kita berteman?"
Nathan mengacungkan lagi jari kelingkingnya.
"Apa ini? Berteman dengannya? Yang benar saja!" batin Sheila kembali dilema. "Tapi, kurasa ini lebih baik. Sebaiknya aku terima saja."
Sheila mengangkat tangan dan menautkan jari kelingkingnya dengan milik Nathan.
"Apa ini yang terbaik? Kenapa hatiku terasa nyeri saat dia bilang ingin berteman? Bahkan aku terlalu malu untuk mengungkapkan rasaku. Ada apa denganku?"
...-Sheila-...
"Yah, setidaknya ada sedikit kemajuan dengan hubungan ini. Dengan menjadi temannya, bisa saja lama-lama dia membuka hatinya untukku dan melupakan sosok Tarjo."
...-Nathan-...