
Boy segera menemui Choky di tempat yang sudah di tentukan. Raut wajah Boy nampak cemas setelah mendengar cerita Choky.
Adiknya itu tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Sekali jatuh cinta, hidupnya bak seorang budak cinta. Lalu ketika patah hati, pelariannya jatuh pada segelas alkohol.
"Cek semua rekaman kamera pengawas yang ada di klub dan juga jalanan sekitarnya. Aku akan menghubungi Om David agar anak buahnya juga ikut mencari Marina," perintah Boy.
"Baik, Tuan."
Di tempat berbeda, David yang baru saja mendapatkan telepon dari Boy menjadi ikut geram dengan tingkah putrinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Rasta? Apa kau tidak mengawasinya?" geram David.
"Maaf, Tuan. Saya sudah mengawasi Nona Marina. Tapi sepertinya Nona mengelabui anak buah saya," jawab Rasta penuh sesal.
David menghela napasnya. "Cepat kerahkan semua anak buahmu dan cari dimanapun Marina berada. Aku sudah tidak mentolerir sikap anak itu lagi! Aku akan bertindak tegas mulai sekarang!"
Sementara itu, ditempat yang tidak diketahui oleh siapapun, Marina membawa Nathan yang sudah tak sadarkan diri ke sebuah rumah kosong miliknya. Rumah ini adalah rumah orang tua kandung Marina. Itu artinya semua kenangan tentang Marisa ada didalam rumah itu.
Marina merebahkan tubuh Nathan ke tempat tidur miliknya. Ia mengambil ponsel Nathan dan membukanya. Ia menempelkan sidik jari Nathan untuk membuka kunci ponselnya.
Ia merekam tubuh Nathan yang kini terpejam dengan ponsel miliknya. Setelahnya ia naik ke atas ranjang dan juga merekam video dirinya bersama Nathan. Dalma video terlihat Marina dan Nathan sedang asyik menikmati malam di tempat tidur.
Marina tertawa keras usai mengirimkan video itu kepada Sheila.
"Hatinya pasti hancur lebur setelah melihat video ini. Lalu besok, hatimu juga hancur karena kekasih yang kau cintai sudah ternoda, hahahaha."
Marina tertawa puas dengan kemenangannya. Ia mendekati Nathan dan membelai rahang kokoh pria itu.
..."Jangan lakukan apapun pada Nathan, Marina!"...
"Diam kau, Marisa! Ini kan yang kamu inginkan? Kamu ingin dia menjadi milikmu. Sekarang kamu bisa memilikinya! Kita bisa memilikinya."
Wajah Marina mendekat dan ingin meraih Bibir Nathan.
"Sheila..." gumam Nathan dengan mata masih terpejam.
Marina yang sudah maju akhirnya mengurungkan niat.
"Brengsek! Bahkan dialam bawah sadarmu pun kau masih mengingat tentang dia!"
Marina beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Ia menghubungi seseorang yang ditemuinya beberapa waktu lalu.
Orang itu sengaja memanfaatkan Marina untuk meminta sejumlah uang. Namun karena Marina merasa terbantu dengan adanya orang ini, tentu saja dengan senang hati ia memberikan uang yang banyak pada orang itu.
"Lakukan tugasmu dengan baik, lalu aku akan mentransfer uangnya!" ucap Marina di ujung panggilan.
...💟💟💟...
Keesokan harinya, Sheila terbangun dengan perasaan yang masih gundah. Kemarin beberapa kali Nathan menghubunginya namun sama sekali tidak ia jawab.
Kali ini ia akan mulai mengalah. Ia meraih ponselnya dan ternyata ada sebuah pesan dari Nathan. Matanya berbinar senang karena ternyata kekasihnya tetap menghubungi walau ia sedang marah.
Sheila mengernyit bingung karena ternyata yang dikirim Nathan adalah sebuah video.
"Apa ini?" Dengan rasa yang mulai tak tenang Sheila membuka video itu.
Sheila menutup mulutnya tak percaya. "Apa-apaan ini? Jadi, kamu semalaman bersama Marina? Brengsek kamu, Nathan!"
Sheila marah, kesal, dan rasanya ingin memaki pria itu sekarang juga. Sheila keluar dari kamar Naina tanpa berpamitan dengan sahabatnya itu yang sedang berada di kamar mandi.
Entah apa yang ingin Sheila lakukan. Ia menekan kunci mobilnya dan akan masuk kedalam mobil. Namun tanpa ia tahu seseorang dari arah belakang membekapnya dengan sebuah sapu tangan.
Sheila memberontak dan ingin berteriak namun tak bisa. Tubuhnya mulai lemas karena pengaruh obat bius yang dihirupnya.
Dengan cepat orang itu menangkat tubuh Sheila dan memasukkannya ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan rumah Naina. Secepat kilat mobil itu melesat pergi.
Naina yang baru menyelesaikan ritual mandinya, merasa bingung karena tak mendapati Sheila ada di kamarnya.
"Shei! Kamu dimana?"
Naina keluar kamar dan mencari Sheila. Tak ada sahutan dari panggilannya.
"Shei! Sheila!" Naina menuju ke luar rumah dan melihat mobil Sheila masih terparkir di rumahnya.
Naina terkejut karena kunci mobil Sheila terjatuh di samping mobilnya.
"Hah?! Sepertinya ada yang tidak beres!"
Naina segera mengecek rekaman kamera pengawas yang terpasang di depan rumahnya. Meski rumah Naina bukanlah rumah mewah, namun ia mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan dengan memasang kamera CCTV.
Naina membulatkan mata. Ia mengenali sosok yang menculik Sheila.
"Vicky? Apa maksudnya dia menculik Sheila? Aku harus menghubungi siapa? Tuan Nathan!"
"Duh, gimana nih? Kalau terjadi sesuatu dengan Sheila bagaimana?" gumam Naina mulai cemas.
Di tempat berbeda, Nathan mulai membuka matanya. Ia terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa pening. Ia meringis sambil melihat sekeliling. Ia bingung karena tak mengenali tempat dirinya berada.
"Dimana ini?" gumamnya.
Nathan bangun dari tempat tidur dan akan berjalan keluar. Namun tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar itu.
"Nathan? Kamu sudah bangun? Ayo kita sarapan dulu!" ucap Marina dengan suara di lembutkan.
"Marina? Bagaimana bisa aku ada disini? Dimana ini?"
"Ini adalah rumahku, Nate. Rumah lamaku! Ayo!" Marina menarik tangan Nathan lembut.
Mereka menuju ke meja makan lalu duduk berhadapan. Nathan memindai sekeliling rumah yang katanya milik Marina itu. Ia melihat banyak foto-foto dirinya yang terpasang disana. Ia menelan ludah kasar.
"Makanlah!" ucap Marina.
Nathan menatap Marina."Maafkan aku, Marisa..." ucapnya.
Marina menatap tajam kearah Nathan. "Siapa yang kau panggil Marisa, huh?"
Kini perangai Marina kembali berubah. Baru saja dia bersikap hangat lalu sekarang dia berubah mengerikan.
"Aku tahu kau adalah Marisa. Aku minta maaf atas sikapku sewaktu sekolah dulu."
Marina menutup kedua telinganya. "Tidak! Bukan ini yang aku inginkan! Kau harus menderita, Nate!"
..."Sudahlah, Marina. Nathan sudah meminta maaf. Aku yakin dia meminta maaf dengan tulus."...
"Akh! Diam kau, Marisa! Kau adalah gadis lemah. Harusnya kau membalas semua rasa sakitmu pada lelaki ini!"
Nathan mulai panik. Marina seolah sedang berbicara dengan jiwa kepribadiannya yang lain yaitu Marisa.
Marina memegangi kepala dan telinganya. Ia meronta dan berteriak.
"ARGH!" Marina berteriak.
Nathan menghampiri gadis itu dan ingin menolongnya.
"Marina, tolong tenanglah!"
Marina mendorong tubuh Nathan. Gadis itu mengambil sebilah pisau dari dapur.
"Jika kau tidak mau diam, maka matilah kau Marisa!" teriak Marina dengan mengarahkan pisau ke perutnya.
Nathan bangkit dan mencoba menepis pisau itu.
"Jangan lakukan itu, Marina! Tolong maafkan aku! Aku akan menebus kesalahanku, tapi tolong jangan begini!"
Nathan berhasil menjatuhkan pisau yang dipegang Marina, namun lengannya terkena sabetan pisau itu. Nathan terpekik kesakitan. Namun ia berusaha menghalau rasa sakit itu.
Marina meringkuk dan menangis sesenggukan. Nathan mendekat dan memeluknya. Ia berusaha menguatkan hati gadis yang dulu pernah terluka karenanya.
Tak lama anak buah Rasta berhasil masuk dan menemukan Nathan dan Marina. Rasta memerintahkan anak buahnya untuk membawa Marina dari sana.
"Lepaskan! Aku harus bicara dengan Nathan!"
Nathan berdiri dan menatap Marina.
"Maaf tentang Sheila. Sebaiknya kau jangan mengharapkan dia lagi, karena dia sudah tidak suci lagi sekarang!"
"Apa katamu?! Katakan dimana Sheila? Apa yang kau lakukan padanya?" teriak Nathan geram.
Anak buah Rasta segera membawa Marina pergi.
"Pak, saya harus temukan Sheila!" ucap Nathan pada Rasta.
"Tenang saja! Anak buahku sedang berusaha melacaknya. Mari Tuan!"
Rasta mengajak Nathan untuk keluar dari rumah itu. Hatinya masih tak tenang karena Sheila sedang dalam bahaya.
#bersambung dulu ya genks... kita sambung beberapa jam lagi 😁😁
terima kasih atas dukungannya 😘😘
mampir juga ke 👇👇👇👇