
Di sebuah padang rumput yang luas dan bernuansa hijau. Sheila berjalan sambil bersenandung. Tangannya menyentuh rerumputan yang bergoyang karena tiupan angin. Matanya terpejam merasakan betapa syahdunya suasana siang hari ini.
Dari kejauhan matanya menangkap sosok pria dengan menunggangi kuda putih. Dalam pikirannya, pangeran berkuda putihnya sudah datang.
Sheila tersenyum senang. Pangeran berkuda itu turun dari kudanya dan menghampiri Sheila. Wajahnya tidak terlihat di mata Sheila. Silaunya cahaya matahari membuatnya memicingkan mata.
"Siapa dia?" batin Sheila bertanya-tanya.
Pangeran berkuda itu semakin mendekat. Setangkai bunga ia berikan pada Sheila. Gadis itu tersenyum senang.
Pangeran menangkupkan kedua tangannya pada wajah Sheila. Dengan lembut pangeran itu mencium bibir Sheila dengan sangat pelan. Sheila terpejam merasakan sapuan yang begitu lembut di bibirnya.
Sebuah mimpi yang indah, pikir Sheila. Namun ketika semuanya terasa begitu nyata, Sheila membuka matanya dan melihat ada seseorang yang benar-benar mencium bibirnya.
"Nathan?" batin Sheila bertanya-tanya.
Ia mengerjapkan matanya berulang kali berharap semua ini adalah mimpi. Dan ternyata ini semua nyata.
Nathan menyudahi ciumannya. Sheila membulatkan mata menatap Nathan.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menciumku?" tanya Sheila yang mulai sadar jika apa yang dialaminya bukanlah sebuah mimpi.
Nathan mati kutu. Bibirnya tak bisa berkata apapun. Sheila membenahi posisi duduknya. Ia masih menatap tajam. Kata-kata yang diucapkan Naina kembali memutar di otaknya.
"Apa benar jika Nathan menyimpan rasa terhadapku?" batin Sheila.
"Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Sheila dengan dingin.
Nathan memutar otak untuk mengatakan perasaannya.
"Aku..."
"Aku apa?" cegat Sheila cepat.
Nathan kembali berpikir. Ternyata saat bicara langsung amatlah susah untuknya ketimbang kemarin saat Sheila setengah sadar.
"Shei, apa kau ... Apa kau tidak ingat..."
"Ingat apa?" Sheila semakin jengah.
"Itu..."
"Terserah kamu saja!" Sheila segera membuka pintu mobil dan menutupnya dengan cukup keras. Sheila meraih kunci rumahnya dan segera masuk. Ia tak ingin berurusan dengan Nathan.
"Bisa-bisanya dia memanfaatkan situasi. Dasar brengsek!" kesal Sheila yang langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang.
Sheila memegangi bibirnya. "Maafkan aku, Tarjo..." Sheila memejamkan matanya. Bayangan Tarjo kembali hadir disana. Ia merasa bersalah pada kekasihnya itu.
Sementara di dalam mobil, Nathan masih tak habis pikir kenapa mulutnya tak bisa bicara sedikitpun didepan Sheila. Padahal saat menjadi Tarjo, ia begitu lantang mengucap cinta pada Sheila. Apa karena Sheila menolak Nathan? Makanya bibirnya pun ikut kelu karena takut mendapat penolakan dari Sheila.
Nathan mengusap wajahnya kasar. Hari sudah mulai sore. Ia harus segera menemui Harvey dan menyelesaikan sisa pekerjaan yang banyak tertunda.
#
#
#
Sheila terbangun di malam hari. Ia melihat notifikasi di layar ponselnya. Tidak ada apapun disana. Sheila mendesah pelan.
Ia keluar dari kamar dan menuju rumah Tarjo. Rumah itu masih terlihat gelap.
Sheila menatap kembali layar ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana. Ia mengirim pesan pada Tarjo.
Sementara di tempat berbeda, Nathan yang masih berkutat dengan pekerjaannya masih belum menghiraukan getaran ponsel yang ada di lacinya. Ia sangat fokus saat ini.
Namun ketika melirik jika ponselnya ada diatas meja, ia segera ingat jika bunyi getar itu bukan berasal dari ponselnya, tapi ponsel Tarjo. Ia segera membuka pesan yang dikirim Sheila.
Sheila: "Kamu pulang jam berapa? Aku merindukanmu."
Nathan menghela napas kasar. Ia masih belum bisa bertemu dengan Sheila usai insiden sore tadi. Meski ia berpenampilan sebagai Tarjo, tapi tetap saja hatinya masih satu.
Nathan memegangi kepalanya. Lalu ia mengetik pesan balasan untuk Sheila.
Tarjo: "Aku pulang larut malam, ada janji dengan teman-temanku."
Di sisi Sheila, ia sedikit kecewa dengan jawaban Tarjo. Sheila memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Ia kembali masuk kedalam kamar dan menghempaskan tubuhnya kasar. Ia memegangi dadanya. Entah kenapa hatinya mulai memikirkan dua pria yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Nathan dan Tarjo. Dua pria yang sangat berbeda bagaikan langit dan bumi.
Nathan yang tampan dengan segala kekayaan dan kekuasaan yang ia punya. Lalu Tarjo dengan sebuah kesederhanaan yang mampu membuat Sheila terpikat.
Sheila membenamkan wajahnya kedalam bantal. Pertunangannya dengan Nathan tinggal menghitung hari. Ia tak mungkin bisa lari lagi. Namun tiba-tiba sebuah ide licik muncul dalam otaknya.
#
#
#
Pagi ini, Sheila bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia tak mungkin minta izin lagi pada Nathan. Sudah tiga hari ia tak masuk.
Meski masih enggan untuk bertemu dengan bosnya, namun Sheila harus menjaga profesionalitas dalam bekerja. Ia harus memisahkan antara urusan pribadi dan kantor.
Sheila membuka ponselnya dan melihat pesan dari Tarjo. Pria itu tak bisa mengantar Sheila berangkat ke kantor.
Sheila menghela napas. Dilihatnya mobil yang sudah lama juga tak dipakainya. Ia meraih kuncinya dan membuka garasi.
Sheila masuk ke dalam mobil dan mencoba menyalakannya. Ia cukup kesal karena mesin mobilnya tak mau menyala. Ia pun memukul kemudi.
"Haduh, sekarang aku harus bagaimana?" gumam Sheila kesal.
Tiba-tiba ia teringat dengan Danny. Ya, pria itu selalu bisa diandalkan. Sheila menelepon Danny yang kebetulan juga sedang jalan menuju kantor.
Sheila bersorak gembira. Ia melirik mobilnya yang pastinya sedikit ngambek karena ia sendiri lupa untuk memanaskan mesinnya.
Tak lama, Danny datang dan menyapa Sheila.
"Mobilmu kenapa lagi?" tanya Danny.
"Nggak tahu, Kak. Kayaknya mogok deh."
"Sudah berapa lama kamu nggak bawa ke bengkel?" Danny memeriksa sekilas kondisi mobil Sheila.
"Hehe lupa, Kak. Biaya perawatannya mahal banget. Mana bisa aku yang hanya karyawan biasa membayar biaya ke bengkel." Sheila menggaruk tengkuknya.
"Ya sudah, nanti biar aku panggil orang bengkel langganan Kak Rangga buat bawa mobil kamu ke bengkel. Soal biaya biar kak Rangga saja yang urus."
"Eh? Jangan, Kak. Kak Rangga pasti membunuhku jika aku minta uang padanya."
Danny berkacak pinggang. "Lalu maumu bagaimana?"
Danny mengacak rambut Sheila gemas. "Naik taksi atau meneleponku, hmm?"
Sheila meringis. "Aku tidak akan sering-sering merepotkan kakak lagi."
"Merepotkan juga nggak apa kok. Ayo berangkat! Sudah siang nih!"
Danny membukakan pintu untuk Sheila. Kemudian mobilpun melaju menuju Avicenna Grup.
#
#
#
Mobil Danny berhenti di depan lobi gedung Avicenna Grup. Sheila berterimakasih pada Danny. Ia segera membuka pintu mobil dan keluar.
Namun tiba-tiba Sheila berteriak dan membuat Danny turun dari mobil.
"Kenapa Shei?" tanya Danny panik.
"Nggak tahu, Kak. Tiba-tiba aja pas keluar tadi kayak ada serangga yang masuk ke mataku," ucap Sheila dengan mengucek matanya.
"Eh, jangan dikucek. Nanti luka! Coba aku lihat!" Danny mengecek mata Sheila dengan merangkum wajah Sheila. Danny meniup dengan pelan mata Sheila.
Beberapa orang yang melihat pemandangan intim itu akhirnya salah paham. Terlebih dengan karyawati julid yang tidak menyukai Sheila.
"Eh, lihat tuh sekretaris si bos. Kemarin diantar si culun, sekarang beda cowok lagi. Udah tiga hari juga dia nggak masuk kantor."
"Wah iya sih. Sebenarnya dia punya berapa cowok?"
"Jangan-jangan emang itu pekerjaan sampingan dia. Dia nyamar jadi sekretaris padahal dia malah jual diri."
"Bisa jadi tuh. Jangan-jangan dia bisa masuk kesini karena kasih servis plus plus buat si bos."
"Uuuuh, sekretaris plus plus dong jadinya."
"Hahahahaha."
Tawa mereka terdengar mengganggu ditelinga Nathan yang ternyata juga ada di lobi. Matanya memerah melihat pemandangan yang ada didepannya. Tangannya terkepal seakan siap untuk meninju semua orang yang mengusiknya.
"Pria itu lagi! Siapa sebenarnya dia?" sungut Nathan dalam hatinya.
Dengan langkah kaki yang lebar, Nathan memasuki lift dan menuju ruangannya. Ia benar-benar marah saat ini. Setelah kemarin Sheila sudah marah padanya hanya karena ciuman yang ia lakukan, kini malah gadis itu seakan membalasnya. Bermesraan di depannya bahkan di depan semua orang kantor.
"Apa maumu, Sheila?!" ucap Nathan berapi-api dengan kilatan api cemburu. Ya, mungkin saja Nathan sedang cemburu.
Sheila memasuki ruang kerjanya dan melihat Nathan sudah duduk di meja kerjanya.
"Hah?! Mampus dah! Dia sudah datang?"
Sheila segera mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Nathan. Dilihatnya pria itu sedang sibuk dengan laptopnya.
"Permisi, Pak. Bapak mau dibuatkan kopi atau teh?" tanya Sheila sopan.
Nathan tidak menjawab.
"Apa kopi saja, Pak?"
"Hmm." Nathan hanya berdeham.
Sheila segera menuju pantry. Ia kembali menggumam.
"Apaan sih? Harusnya kan aku yang marah, kenapa jadi dia? Dia udah seenaknya mencuri ciuman dariku," gerutu Sheila lirih.
Racikan kopi telah siap, Sheila membuka stoples untuk menambahkan sedikit gula.
"Lah, abis!" kesal Sheila makin bertambah. Ia harus meminta OB untuk mengambilkan gula.
Sheila berbalik badan dan akan menelepon OB. Namun ia terkejut karena Nathan sudah ada didepannya .
"Pak Nathan? Apa yang bapak lakukan disini?"
"Suka-suka saya. Ini kantor saya!" jawab Nathan dingin.
Sheila mencebik. "Oh iya, benar sekali, Pak."
Dalam hatinya Sheila mengumpati Nathan yang selalu bersikap dingin padanya.
Sheila menggeser tubuhnya akan keluar dari pantry. Namun Nathan menghalanginya.
"Permisi, Pak. Saya mau menghubungi OB untuk mengantar gula. Gulanya habis, Pak," pamit Sheila.
Nathan masih bergeming dan menatap Sheila tajam. Sheila jengah dengan sikap Nathan. Dengan sedikit mendorong, Sheila menyenggol tubuh Nathan agar bisa keluar dari pantry.
Namun tangan Nathan mencekal lengan Sheila hingga tubuh gadis itu menabrak tubuhnya.
"Pak!" pekik Sheila.
Tangan Nathan mencengkeram kedua lengan Sheila dan mendorong tubuh gadis itu hingga menempel dinding pantry.
"Pak, apa yang bapak lakukan? Lepaskan saya!" berontak Sheila.
"Siapa dia?" bentak Nathan.
"Hah?!" Sheila tak mengerti dengan pertanyaan Nathan.
"Siapa lelaki itu? Ada hubungan apa kau dengannya? Apa dia kekasihmu?"
Sheila mendesah kasar.
"Maksudmu kak Danny? Dia adalah asisten kak Rangga," jawab Sheila memalingkan wajah.
"Bohong! Kau pasti ada apa-apa dengannya kan? Kau bahkan bermesraan di lobi tadi."
Sheila menatap tajam kearah Nathan.
"Terserah bapak saja!" Sheila mencoba melepaskan diri namun Nathan tak membiarkan gadis itu pergi.
"Harusnya aku yang marah karena bapak sudah mencuri ciuman dariku! Aku tidak mengerti dengan sikap bapak, sebentar baik sebentar dingin. Bapak pikir aku apa? Dan sekarang Bapak marah tidak jelas hanya karena kak Danny mengantarku. Dia sudah seperti kakak bagiku! Apa maumu sebenarnya? Aku minta kau batalkan perjodohan ini, tapi kau menolaknya. Sikapmu yang berubah-ubah membuatku muak! Lebih baik kita katakan pada keluarga kita jika ki..."
Sheila akhirnya terdiam karena Nathan telah membungkamnya dengan bibirnya.
#bersambung
*hadeeeh, berantem mulu dah mereka 😬😬😬
Tp itulah bumbu yg membuat cinta semakin bersemi ya genks, wkwkwkwk
* dua episod hari ini, tambah lagi gak nih? hehehe