
Freya menatap tangan Rachella yang terulur kearahnya. Dengan segan Freya pun membalas uluran tangan Rachella.
Freya masih bergeming di tempatnya dan menatap Damian dengan penuh tanya. Dari mana Rachella tahu soal Freya? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? Itulah kira-kira bahan pertanyaan yang ingin Freya sampaikan. Namun rasanya tidak pas jika Freya harus menanyakan hal itu sekarang.
"Ouch! Aku lupa jika kau tidak mengingat masa lalumu. Maka dari itu aku..."
"Freya!" Damian segera mencegat kalimat Rachella.
Freya menatap Damian.
"Kita ke ruang meeting sekarang. Kita akan membahas pekerjaan disana!" ucap Damian beralasan agar Rachella tak mengacaukan segalanya.
"Dam, kenapa kau terus beralasan? Kau suka sekali mengusirku dari sini. Aku terluka, Dam!" Lagi-lagi Rachella merajuk.
"Sebaiknya jelaskan padaku, ada apa ini sebenarnya?" Akhirnya Freya ikut bicara.
"Baiklah, Frey. Aku dan Damian sudah berteman sejak kecil. Kau adalah adik Edo. Jadi, kau sudah pasti mengenalku," sahut Rachella cepat tanpa bisa di potong lagi oleh Damian.
Namun Freya memberikan respon yang berbeda. Ia hanya mengernyit mendengar penjelasan Rachella.
"Ah, astaga!" Rachella menepuk jidatnya sendiri.
"Kau kehilangan ingatanmu karena kecelakaan itu. Maaf aku lupa!"
Freya menatap Damian dan meminta pria itu untuk tegas pada Rachella.
"Rachel, aku dan Freya..."
"Aku tahu! Aku sudah mengganggu waktu kalian. Buat kalian, selamat ya! Aku tidak menyangka jika Damian ... akan tetap memilihmu setelah sekian tahun. Aku pergi dulu, Dam. Aku akan menghubungimu lagi nanti." Rachella mencium pipi Damian tepat di depan Freya.
Freya hanya bisa membisu melihat keakraban yang terjadi diantara dua orang yang katanya sahabat dari kecil ini.
"Bye, Freya!" Rachella melambaikan tangannya pada Freya kemudian keluar dari ruangan Damian.
Kini hanya ada dua orang saja di ruangan itu. Freya menyilangkan tangannya di depan dada. Sungguh ia ingin jika Damian bisa menjelaskan segalanya.
"Baik! Aku akan ceritakan semuanya!" ucap Damian meminta Freya untuk duduk di sofa.
Damian dan Freya duduk bersebelahan dengan tatapan yang saling beradu.
"Dia adalah Rachella Wijaya. Dia putri Andi Wijaya. Kakaknya bernama Andreas Wijaya, seorang selebriti chef yang cukup terkenal."
"Hah?! Chef Andreas yang itu?" Freya menutup mulutnya tak percaya.
"Kau mengenalnya?" tanya Damian tak suka.
"Gak sih! Aku hanya menontonnya di televisi. Lalu?"
"Keluargaku dan keluarga Rachella menjadi tetangga saat tinggal di Jerman. Saat itu aku masih berusia enam atau tujuh tahun, aku tidak begitu ingat. Dan kami berteman karena kami seumuran. Itu saja!" terang Damian.
"Saat aku mulai masuk SMP, aku berteman dengan Edo dan Samuel. Dan tentu saja aku mengenalmu sejak itu. Edo dan Samuel juga jadi mengenal Rachella. Kami berempat berteman baik."
Freya mengangguk paham. "Kau yakin kau sepakat dengannya jika kalian hanya sebatas teman?"
"Sepakat? Kami hanya berteman jadi tidak ada kata-kata seperti itu kecuali jika kami memiliki hubungan. Dalam pertemanan tidak ada kata sepakat, Freya. Karena teman tidak memiliki sebuah perjanjian yang mengharuskan kata sepakat."
Freya tersenyum mendengar jawaban Damian.
"Tapi ... dia terlihat menyukaimu lebih dari teman."
"Itu urusannya dan bukan urusanku. Selama ini aku hanya menganggapnya teman saja. Lagipula, dulu ada Samuel yang menyukai Rachella. Tapi semua tidak tercapai karena Samuel lebih dulu pergi meninggalkan kami..."
Freya menggenggam tangan Damian untuk menguatkan sang kekasih.
#
#
#
Damian tiba di apartemennya dan melihat satu sosok di depan pintu masuk. Siapa lagi kalau bukan Rachella. Gadis itu seolah tidak menyerah dengan penolakan Damian.
"Aku tidak menyangka kau akan lebih memilih Freya dibandingkan aku!" cecar Rachella di depan Damian.
"Dalam hidup kita harus memiliki prioritas, Rachel."
"Apa kau tahu betapa aku menunggu momen ini? Aku ingin kau bisa menghabiskan waktu denganku selama aku menetap disini."
"Kau yang memilih pergi kenapa menyalahkanku? Kau pergi setelah pemakaman Samuel. Dan itu membuatku tidak bisa bersikap seperti dulu lagi."
Rachella mengepalkan tangannya. "Kau tahu aku tidak pernah menyukai Samuel. Aku hanya menyukaimu, Damian!"
"Dan kau sendiri tahu aku tidak pernah menyukaimu."
"Apa katamu? Setelah apa yang sudah kita lalui bersama dengan mudahnya kau bicara begini?"
"Sejak awal aku tidak pernah memberimu sinyal yang salah. Kau sendiri yang berlebihan dengan perasaanmu."
Rachella mulai tidak terima dengan kata-kata Damian. "Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu, Dam. Aku hanya ingin kau bersikap seperti dulu. Sebagai sahabatku! Bisakah kita..."
"Tidak bisa! Siapapun akan kalah dari Freya. Kau harusnya tahu itu sejak dulu. Dan aku ingatkan lagi, aku tidak bertanggung jawab dengan urusan perasaanmu. Kau sendiri yang harus mengurusnya."
"Damian! Tega sekali kau bicara begitu!" geram Rachella.
"Kau akan menyesal karena tidak memilihku!" Rachella berlalu dari hadapan Damian.
Damian hanya bisa menghela napas kasar. Sebenarnya ia tak bermaksud menyakiti hati Rachella. Tapi mau bagaimana lagi? Damian harus bersikap tegas agar Rachella bersedia menyerah dengan keadaan.