
Merlin tak main-main dengan ucapannya. Benar saja, ia memberikan sebuah pukulan ke perut Giga dan membuat pria itu mundur selangkah.
"Aw! Kau ini benar-benar!" Ringis Giga dengan memegangi perutnya.
Dengan gerakan cepat Merlin memelintir tangan Giga ke belakang.
"Jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi, Tuan. Atau kau akan menyesalinya!"
"Hei, kau yang memulainya lebih dulu. Kenapa sekarang kau yang mengancamku?" Ucap Giga dengan masih merasa kesakitan.
"Kau ingin mendapat yang lebih ini dari ini, Tuan?"
Dengan terpaksa Giga mengiyakan setiap perkataan Merlin.
"Baik. Maafkan aku!"
Merlin melepaskan tangan Giga. Dengan tak merasa bersalah Merlin berlalu dari ruangan Giga.
"Maafkan saya, Tuan. Saya akan kembali bekerja."
Giga hanya memandangi Merlin yang keluar dari ruangannya. "Gadis macam apa dia? Tapi entah kenapa menggodanya seperti tadi sangat menyenangkan bagiku. Aku yakin dia tidak serius dengan ucapannya tadi. Tidak mungkin dia tidak menganggapku sebagai pria. Buktinya, dia sangat ketakutan saat aku mendekatinya tadi. Cih, dia hanya pandai berakting saja."
Sementara itu di ruangannya, Karel juga memikirkan bagaimana semalam ia merasa sangat lepas dan bebas saat bersama Merlin. Gadis itu seolah membangkitkan gairah Karel yang selama ini terpendam.
Entah kenapa rasa yang sudah lama ia tanam kepada Carissa, perlahan luntur karena ada pesona seorang Merlin yang sederhana dan apa adanya.
Bunyi getaran ponselnya membuyarkan lamunan Karel. Sebuah panggilan dari Carissa.
Karel menjawabnya. Ia bahkan setuju untuk bertemu dengan gadis itu.
"Akhir-akhir ini kenapa tidak pernah menghubungiku?" Tanya Carissa saat mereka bertemu di rooftop gedung.
"Aku sibuk. Kau tahu kan, meski proyekku tidak disetujui oleh investor, aku harus tetap membantu Giga."
"Kau dan dia sama saja!" Kesal Carissa.
"Kita bukan lagi anak-anak, Carissa. Kau juga punya pekerjaan, bukan? Sebaiknya sibukkan dirimu dan jangan terlalu banyak muncul disini."
"Apa katamu?!" Carissa meradang.
Karel melirik jam tangannya. "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
"Hei! Kau kejam sekali padaku!" Mata Carissa sudah berkaca-kaca.
Karel tersenyum sinis. "Kau selalu menolakku, dan sekarang aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Jadi jangan salahkan aku. Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pergi."
Carissa mengepalkan tangannya melihat kepergian Karel. Dengan perasaan kesal, Carissa akhirnya pergi dari gedung Avicenna.
Saat hendak pergi dari gedung Avicenna, Carissa melihat Giga yang berjalan bersama Merlin. Mereka nampak memasuki mobil dan pergi meninggalkan gedung.
"Gadis itu? Apa sebaiknya aku bicara dengannya? Sepertinya dia sangat dekat dengan bang Giga," gumam Carissa.
#
#
#
Keesokan harinya, Carissa benar-benar menemui Merlin dan bicara berdua dengannya. Merlin nampak bingung kenapa Carissa mencarinya.
"Aku tahu hubunganku dengan bang Giga sudah berakhir. Tapi, aku tidak pernah menganggapnya berakhir! Dia memutuskan secara sepihak. Jadi, kumohon bantulah aku!"
Merlin tertegun mendengar permintaan Carissa.
"Tapi, Nona. Saya..."
"Aku tahu kau sangat dekat dengan bang Giga. Kau adalah asistennya. Kau pasti bisa membantuku."
Merlin menggaruk kepalanya. "Masalah perasaan seseorang, saya tidak bisa memaksakannya. Tapi, saya akan mencobanya." Merlin yang merasa tidak enak akhirnya mengiyakan permintaan Carissa.
Sepeninggal Carissa, Merlin kembali ke meja kerjanya. Pikirannya melayang entah kemana. Satu sisi ia ingin menyembuhkan Giga, sisi lain ia harus membantu Carissa.
Merlin sudah mendengar dari Giga jika rasa traumanya paling besar berasal dari sikap Carissa yang pernah mencampakkannya. Sebenarnya Merlin cukup lega karena ini bukan lagi menyangkut kejadian penculikan di masa lalu, tapi tetap saja banyak kekhawatiran yang Merlin rasakan ke depannya.
"Merlinda!"
Suara seseorang membuyarkan lamunan Merlin.
"Eh, Tuan Karel? Ada apa, Tuan?" tanya Merlin.
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Apa kau ada waktu?"
"Eh? Tentu, Tuan." Merlin yang tadinya berwajah muram mendadak sumringah. Mungkin saat ini ia memerlukan penawar untuk hatinya.
Akhirnya Merlin pergi bersama Karel karena Giga sedang rapat bersama ayahnya. Mereka makan di sebuah kafe dekat kantor.
Mereka mengobrol santai mengenai banyak hal. Merlin terlihat menikmati makan siangnya.
"Jangan pikirkan soal Carissa." Karel tiba-tiba bicara soal Carissa.
"Dari mana Tuan tahu kalau..."
"Aku sangat mengenal Carissa. Sejak kecil dia selalu berambisi. Semua hal harus dia dapatkan. Tapi, itu tidak berlaku lagi sekarang."
Merlin tersenyum. "Tetap saja dia memintaku untuk membantunya."
"Kalau begitu bantulah semampumu. Jika tidak bisa jangan dipaksakan."
"Halo, Tuan..."
"Merlinda, kau ada dimana?!" Pekikan suara Giga membuat Merlin menjauhkan ponselnya.
"Saya sedang makan siang, Tuan."
"Cepat kembali ke kantor! Kau bisa makan siang bersamaku!"
"Tapi, Tuan..."
Karel yang melihat hal itu segera meminta Merlin menyerahkan ponselnya.
"Apa itu Giga? Berikan ponselnya!" ucap Karel.
Merlin menyerahkan ponselnya kepada Karel.
"Kenapa kau mengganggu makan siangku bersama Merlinda?"
"Hah?! Karel? Apa yang kau lakukan bersama Merlinda?"
"Dengar! Jika sekali lagi kau mengganggu makan siangku bersama Merlinda, maka aku akan mengajaknya makan malam selama dua kali berturut-turut! Mengerti?!"
"Hei, dimana kalian? Kau jangan seenaknya ya! Merlinda adalah asistenku!"
Karel segera mematikan sambungan telepon. Dan dengan santainya menyerahkan ponselnya kepada Merlin.
"Maaf ya, Tuan."
"Kenapa kau yang meminta maaf. Mulai sekarang kau jangan terlihat lemah di mata siapapun. Jangan sering meminta maaf jika kau tidak melakukan kesalahan."
Merlin tersenyum. "Kau sangat baik, Tuan. Sejak awal, aku sangat berterimakasih padamu. Berkat kau, untuk pertama kalinya aku mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak dan bagus. Aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa, Tuan."
Karel menghentikan aktifitas makannya dan menatap Merlin.
"Jangan menganggapku seperti itu, Merlinda. Aku ... bukan orang baik. Aku juga bukan malaikat seperti yang kau pikirkan. Mulai sekarang, bisakah kau menganggapku sebagai pria biasa?"
"Eh? Maksud Tuan?"
"Aku tidak mau dianggap sebagai malaikat. Aku juga tidak mau dianggap sebagai dewa penolong bagimu. Aku hanya ingin ... kau menganggapku sebagai layaknya pria. Beberapa bulan ini aku mengenalmu, sekarang aku cukup tahu apa yang aku inginkan. Aku menginginkanmu, Merlinda."
Mata Merlin membulat sempurna. Ia tak percaya jika Karel Avicenna baru saja menyatakan perasaan kepadanya.
#
#
#
Merlin berjalan gontai kembali ke apartemennya. Kejadian tadi siang membuatnya masih syok. Belum lagi masalah dengan Giga dan Carissa sekarang ditambah dengan Karel. Membuatnya kini makin pusing memikirkan ketiga orang itu.
Sebelum tiba di apartemennya, Merlin di kejutkan dengan kedatangan Giga yang tiba-tiba ada di kompleks tempat tinggalnya.
"Bagaimana Tuan tahu aku tinggal disini?"
"Tentu saja aku tahu. Ada yang harus kubicarakan denganmu! Kau terus menghindar setelah kau makan siang dengan Karel. Apa yang kau rencanakan dengannya, hah?!"
Merlin memutar bola matanya jengah. "Tidak ada yang kubicarakan dengan tuan Karel. Kami hanya berbincang ringan saja."
"Jangan bohong! Aku yakin ada yang kau sembunyikan." Giga memegangi tangan Merlin.
"Lepaskan! Memangnya Tuan siapa bisa mengaturku? Apa yang kubicarakan dengannya bukan urusan Tuan!"
Giga mendengus kesal. "Tentu saja jadi urusanku! Kau adalah asistenku! Aku tidak suka kau bersama dengan Karel! Dia adalah musuhku!"
Merlin tertawa sinis. "Dia adalah saudaramu, Tuan. Kau terlalu berlebihan. Kau dan Carissa sama saja. Sama-sama aneh!"
Merlin yang jengah dengan sikap Giga akhirnya meninggalkan pria itu.
"Aku menyukaimu! Bukankah aku sudah pernah mengatakannya jika aku menyukaimu?"
Merlin menghentikan langkahnya.
"Aku serius dengan ucapanku! Aku cemburu saat kau pergi dengan Karel. Aku tidak suka ada yang dekat denganmu. Aku menyukaimu. Dan aku tahu kau juga merasakan hal yang sama kan?"
Merlin menatap Giga. "Jangan terlalu percaya diri, Tuan. Aku melakukan semuanya hanya untuk membantumu mengobati traumamu. Tidak lebih!" tegas Merlin.
"Apa kau yakin?"
"Ya-yakin!" Entah kenapa Merlin menjawabnya dengan terbata. Akhir-akhir ini Merlin sendiri merasakan sesuatu yang berbeda dengan hatinya. Rasa yang awalnya hanya iba dan kasihan, berubah bentuk menjadi sebuah rasa sayang seiring berjalannya waktu. Tapi Merlin tidak akan bisa mengakuinya karena ada alasan yang membuatnya harus menyangkal semua rasa itu.
Giga juga banyak mengalami perubahan sejak mengenal Merlin. Merlin seakan mengubah dunia Giga yang dulu kelam menjadi lebih berwarna.
"Baiklah! Kalau begitu kita akan mengujinya. Kita akan tahu apakah yang kau ucapkan itu benar atau tidak." Giga menyeringai.
"Hah?! Mengujinya?"
Giga menarik tubuh Merlin hingga mendekat padanya. Merlin sangat terkejut karena tiba-tiba Giga mencium bibirnya. Ingin menolak namun semua sudah terlanjur.
Merlin mendorong tubuh Giga, tapi pria itu malah mendekapnya makin erat. Merlin hanya diam tanpa membalas. Bahkan ia tak tahu caranya berciuman dengan seorang pria. Ia hanya merasa seakan tubuhnya tersengat aliran listrik.
"Kau berbohong, Merlinda," bisik Giga ketika ia menyudahi ciumannya. Meski Merlin tidak merespon, tapi Giga tahu jika Merlin merasakan hal yang sama dengannya.
B e r s a m b u n g