My Culun CEO

My Culun CEO
#170 - Keluarga Kecil Bahagia



Sheila menuruti keinginan Nathan untuk membuang kotak misterius yang datang tengah malam tadi. Sebenarnya Sheila tidak ingin menaruh curiga dengan hal itu, namun ketika sang suami mengatakan jika merasakan firasat buruk, maka sebagai istri Sheila harus menghargai pendapat Nathan. Lagipula tindakan yang dilakukan oleh sosok misterius itu juga membuatnya ikut curiga.


"Apa yang dikatakan Nathan ada benarnya juga. Untuk apa orang memberi kado di tengah malam? Jika dia memang ingin menjenguk Baby G, bukankah bisa dilakukan saat hari terang?" batin Sheila.


Sheila membuang kotak hadiah itu ke tempat sampah di luar gedung apartemen. Sheila berbalik badan dan kembali ke unit apartemennya.


Tanpa Sheila ketahui, seseorang menghampiri tempat sampah dan memungut kotak hadiah yang dibuang Sheila tadi. Orang itu hanya tersenyum menyeringai melihat kepergian Sheila.


"Kalian tidak akan hidup dengan tenang setelah ini," gumam sosok misterius yang memakai jaket hoodie dan masker itu.


Sheila kembali ke apartemennya dan bertemu dengan Nathan di depan pintu.


"Bagaimana? Apa kau sudah membuangnya?" tanya Nathan.


Sheila mengangguk. "Iya. Kau benar, Tuan Su. Sungguh mencurigakan karena mengirim paket di tengah malam."


"Ya sudah. Aku akan memperketat penjagaan apartemen kita."


"Jangan! Bagaimana kalau mama dan mama Lian curiga?"


Nathan terdiam sejenak.


"Aku takut mereka ikut khawatir jika kau melakukan itu."


"Aku akan melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Kau tenang saja!"


Sheila dan Nathan bicara dengan berbisik hingga membuat Sandra curiga.


"Kalian sedang apa?" Kenapa berdiri di depan pintu?" tanya Sandra.


Sheila dan Nathan saling pandang.


"Tidak ada kok, Ma." Sheila segera menghampiri Sandra dan menanyakan tentang keadaan Baby G.


Nathan mengepalkan tangannya. Ia sangat yakin jika ada yang ingin menghancurkan keluarga kecilnya yang bahagia.


"Siapa yang melakukan ini? Apa mungkin salah satu musuhku? Tapi siapa?" gumam Nathan dalam hati.


#


#


#


Hari berganti dengan cepat. Tak terasa kini Sheila dan Nathan telah menjadi orang tua selama satu tahun.


Sheila sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu. Baby G kini sedang belajar berjalan. Sheila dengan telaten melatihnya berjalan perlahan dan hati-hati.


"Bagus sekali, Nak! Pelan-pelan saja," ucap Sheila mengajari Baby G berjalan.


Sheila tersenyum senang melihat tumbuh kembang putranya yang semakin menggemaskan. Begitu juga dengan Nathan yang terus mengucap syukur karena keluarga kecil mereka baik-baik saja.


Sejak kejadian pengiriman kotak misterius, nyatanya tak ada hal aneh yang terjadi. Kehidupannya bersama Sheila bahkan menjadi lebih bahagia. Mungkin dulu hanya perasaannya saja yang terlalu khawatir.


Nathan masih bekerja dari jauh untuk memantau perusahaan. Entah sampai kapan keluarga kecilnya akan tinggal jauh dari negeri asal mereka.


"Sayang..." panggil Nathan ketika dirinya tengah berbaring bersama Sheila.


"Hmm," jawab Sheila dengan berdeham. Matanya sudah terpejam namun ia masih menjawab Nathan.


Nathan tahu Sheila kelelahan karena seharian menjaga Baby G. Sheila memilih mengurus sendiri putranya dan tidak menggunakan jasa baby sitter.


Nathan membelai rambut Sheila yang kini sedang ada dalam dekapannya. Mereka terbiasa tidur dengan berpelukan. Hal ini membuat hubungan mereka semakin hangat dan erat.


"Ada apa Tuan Su? Kenapa kau belum tidur?" gumam Sheila.


"Kau sendiri juga belum tidur, sayang."


"Tapi aku sudah memejamkan mataku."


"Ck, kau ini. Selalu saja punya berjuta cara untuk berdebat."


Sheila tersenyum dan mengeratkan pelukannya di pinggang sang suami.


"Katakan saja Tuan Su. Aku akan mendengarkan."


"Apa kau tidak merindukan tanah air?" tanya Nathan.


"Tentu saja aku rindu. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu? Apa kau merindukan Indonesia?"


"Tentu saja. Sampai kapan kita akan tinggal disini?"


Nathan tak lagi bertanya dan memilih memejamkan matanya. Mungkin besok saja ia akan bicara lagi dengan Sheila.


#


#


#


Hari itu, keluarga kecil Nathan sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Sheila menata makanan di meja makan lalu pergi ke kamar Baby G untuk memanggil bocah kecil itu yang sedang bermain bersama Sandra.


Setelahnya, Sheila menuju ke ruang kerja Nathan. Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Sayup-sayup Sheila mendengar jika Nathan sedang bicara dengan Roy, ayah mertua Sheila.


Sheila tak ingin mengganggu pembicaraan ayah dan anak itu yang terdengar serius. Sheila mengurungkan niatnya untuk memanggil Nathan. Sheila memilih kembali ke meja makan dan menemui Baby G dan Sandra.


"Lho, mana Nak Nathan?" tanya Sandra.


"Emh, Tuan Su masih sibuk dengan pekerjaannya," jawab Sheila.


"Oh begitu. Ya sudah sebaiknya kau bawakan saja sarapan suamimu ke ruang kerjanya. Bekerja dari rumah ternyata lebih menyita waktu ya."


"Baik, Ma." Sheila segera menyiapkan sarapan untuk Nathan. Tak lupa ia membawa segelas susu untuk suaminya itu.


Sheila membawa nampan menuju ke ruang kerja Nathan. Sheila masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Aku lihat kau masih sibuk, jadi aku bawakan saja sarapanmu kemari," ucap Sheila.


Nathan tersenyum memperlihatkan ketampanannya yang hakiki di mata Sheila. Sambungan video dengan Roy ternyata sudah berakhir.


"Terima kasih, sayang. Letakkan saja di meja sana. Nanti aku akan memakannya," balas Nathan.


Sheila menghampiri Nathan usai meletakkan sarapan suaminya.


"Tuan Su!"


"Ada apa, sayang?" Nathan menarik tubuh Sheila dan mendudukannya diatas pangkuan.


Nathan memeluk pinggang Sheila. "Sayang, ada yang ingin aku sampaikan," ucap Nathan.


"Soal apa?"


"Aku harus kembali ke Indonesia selama beberapa waktu."


Sheila terdiam. Ia sudah menebak Nathan akan mengatakan hal ini karena tadi ia sempat menguping pembicaraan Nathan dengan Roy.


"Apa ada masalah mendesak?" tanya Sheila ingin tahu masalah apa yang sedang dihadapi suaminya.


"Ya begitulah. Papa memintaku untuk kembali dulu. Apa kau baik-baik saja jika aku tinggal sebentar?"


Sheila menatap Nathan dan merangkum wajah suaminya yang begitu dekat.


"Tentu aku akan baik-baik saja disini. Lagipula ada mama yang selalu membantuku." Sheila mengecup singkat bibir Nathan.


"Emh, baiklah. Jika kau setuju mungkin malam ini aku akan berangkat ke Indonesia."


"Eh? Secepat itukah?" Sheila sedikit kecewa.


"Iya. Papa sudah mengirimkan pesawat jet pribadi kemari."


Sheila cemberut dan menunduk.


"Ya ampun! Istriku ini kalau cemberut membuatku gemas saja." Nathan beranjak dari kursinya sambil menggendong tubuh Sheila ala bridal.


"Hei, Tuan Su! Apa yang kau lakukan?" pekik Sheila karena kaget.


"Karena aku nanti akan sangat merindukanmu, maka sebaiknya hari ini aku habiskan saja seluruh waktuku bersamamu."


"Hah? A-apa?"


Nathan merebahkan tubuh Sheila di sebuah ranjang kecil yang ada di ruang kerjanya. Nathan sengaja menambahkan ranjang disana agar dirinya lelah bekerja bisa langsung melepas penat dengan tidur sejenak.


"Tuan Su!" pekik Sheila ketika suaminya sudah mulai menjelajahi tubuhnya.


"Jangan berisik, sayang. Nikmati dan rasakan saja! Aku ingin kita menghabiskan waktu berdua hari ini," bisik Nathan.


"Ta-tapi..."


"Mama pasti mengerti. Dia bisa menjaga Baby G untuk sementara waktu. Dan aku yakin dia tidak akan keberatan." Nathan pun memulai aksinya.


Tanpa bisa menolak, Sheila akhirnya pasrah. Ruangan kerja Nathan kini di penuhi dengan suara merdu milik Sheila dan juga dirinya. Merajut cinta agar terus tumbuh berkembang dan tak layu di makan usia.