My Culun CEO

My Culun CEO
#1 0 7



"Vania, kau tidak apa-apa?"


Sebuah tangan masih memegangi lengan Vania. Gadis itu masih menunduk dengan perasaan yang bercampur aduk. Beberapa detik yang lalu dirinya hampir saja celaka jika tidak segera ditolong oleh orang yang ternyata mengenalnya.


Dengan degup jantung yang masih tak beraturan, Vania mendongakkan wajahnya.


"Bang Edo...?" lirih Vania.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa melamun saat berada di jalan raya seperti ini? Sebenarnya kau mau kemana? Kenapa tidak memanggil ojol dari lobi kantormu saja dan malah menyeberang jalan?" Berondongan pertanyaan dari Edo membuat Vania mulai sadar.


Sebenarnya tadi Vania sangat gembira ketika keluar dari ruang kerjanya. Ia sudah memilih satu rumah yang akan ia sewa untuk kehidupannya nanti.


Namun ketika melewati lobi kantor, Vania melihat kebersamaan Damian dan Sitta yang berjalan beriringan dengan tangan Sitta yang tak pernah lepas dari lengan Damian. Vania sudah meyakinkan dirinya jika ia akan baik-baik saja.


Tapi ketika mengingat kebersamaan mereka siang tadi ... rasanya sesak jika harus melihat Damian bersama dengan orang lain. Vania berusaha menguatkan hatinya. Selama ini ia bahkan tidak pernah dekat dengan pria manapun. Hanya seorang Damian saja mana mungkin bisa memporakporandakan hatinya! Tegas Vania pada dirinya.


Vania berjalan menuju ke rumah kontrakan namun pikirannya kembali teralihkan pada Damian. Sorot mata Damian saat menatapnya seakan memberi sinyal jika pria itu menganggap Vania spesial. Ataukah itu hanya perasaan Vania saja?


Suara klakson sebuah truk yang menuju kearahnya membuatnya sadar jika dirinya kini berada dalam bahaya. Dan beruntung Edo yang sedang melintas di jalan itu segera menolong Vania.


"Vania!" panggilan Edo membuat Vania sadar dari lamunannya.


"Hah?! Kenapa, Bang?" tanya Vania bingung.


"Kau mau pergi kemana?"


"Aku ... aku ingin melihat rumah kontrakan yang ada di gang sana, Bang," ucap Vania sambil menunjuk sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor saja.


"Oh, begitu. Kalau begitu aku antar ya!" tawar Edo.


Vania mengangguk tanpa menjawab. Mereka pun berjalan memasuki gang dan menghilang di balik tembok.


Sementara itu dari kejauhan, seorang lelaki juga buru-buru turun dari mobilnya ketika melihat Vania dalam bahaya tadi. Siapa lagi kalau bukan Damian.


Namun panggilan suara Sitta menyadarkan Damian. Gadis itu mulai geram dengan sikap Damian.


"Bagaimana bisa Damian begitu peduli dengan gadis culun itu? Awas saja ya! Aku tidak akan membiarkan ini lebih lama lagi!" batin Sitta.


Sitta segera menarik lengan Damian agar masuk kembali kedalam mobil. Damian hanya diam dan pasrah.


...***...


Vania melihat-lihat rumah kontrakan yang menurutnya sangat layak untuk dirinya tinggali. Tempatnya tidak terlalu luas dan juga terkesan nyaman. Berada diantara rumah penduduk jadi ia bisa sekalian berbaur dengan warga sekitar.


Vania membayar sewa uang kontrakan. Ia akan mulai memindahkan barang-barangnya saat hari libur saja.


"Jadi, apa alasannya kenapa kau pindah?" tanya Edo sambil berjalan kembali menuju jalan raya besar.


"Emh, tidak ada sih. Tapi aku hanya tidak mau merepotkan kak Naina terus. Aku tidak enak hati kalau terus menumpang di rumahnya," jawab Vania.


Edo mengangguk tanda mengerti. Vania mulai menyadari jika ada yang berbeda dengan penampilan Edo.


"Bang Edo kenapa memakai setelan jas? Memang mau kemana?" tanya Vania.


"Hah?!" Edo terkejut. Ia baru sadar jika dirinya kini masih memakai setelan kantornya dan bukan atribut seorang abang ojol.


"Ini..."


"Mau kondangan, Bang?" tanya Vania polos.


"Ah, bukan sih." Edo menggaruk tengkuknya.


Lalu mereka tiba di depan mobil mewah berwarna hitam. Ya, Vania mulai ingat jika tadi Edo keluar dari mobil hitam itu.


"Ini mobil siapa, Bang?" tanya Vania lagi.


"Emh ... ini ... ini mobil majikan abang! Hahaha!" jawab Edo diiringi tawanya.


"Bagus kan?" lanjutnya.


Vania mengernyit bingung.


"Aku jadi supir pribadi orang kaya saat pagi hingga sore. Lalu malamnya aku ngojek. Begitulah, Van," bohong Edo.


"Wah! Oh ya? Keren, Bang!" Vania mengacungkan jempolnya.


"Keren apanya? Hanya jadi supir doang!" Edo menggaruk kepalanya. Ia benar-benar tak enak hati pada Vania karena telah banyak berbohong.


"Apapun pekerjaan kita, jika dilakukan dengan hati, pasti akan menjadi berkah, Bang. Sebaiknya abang kembali saja ke majikan abang. Siapa tahu dia butuh abang. Aku akan memanggil ojek saja dari sini!" ucap Vania sambil meraih ponselnya.


Sejenak Edo tercengang dengan kata-kata Vania. Sungguh gadis ini adalah gadis yang luar biasa, menurutnya.


"Eh, jangan!" Edo tersadar dari lamunannya dan segera merebut ponsel Vania.


"Ish, Abang! Kenapa suka sekali merebut ponselku?" cemberut Vania.


"Aku akan mengantarmu pulang. Oke?!"


"Dengan mobil bagus ini?" Vania melongo.


"Iya! Masa naik taksi? Ayo naik!" Edo membukakan pintu mobil untuk Vania.


Dengan ragu Vania memasuki mobil mewah itu. Ini adalah kali pertama bagi dirinya bisa duduk di jok empuk mobil mewah.


"Abang sudah berapa lama jadi supir orang kaya?" tanya Vania ketika mobil mulai melaju.


Edo berdeham untuk menetralkan rasa gugupnya. Berapa banyak lagi kebohongan yang harus ia katakan pada gadis lugu ini? Sungguh Edo tidak tega jika harus membohongi Vania.


"Emh, sudah cukup lama sih," jawab Edo asal.


Edo mencengkeram erat kemudinya. "Ya karena kebutuhan. Aku memiliki keluarga yang harus kubiayai. Aku akan melakukan apapun untuk mereka."


Vania tersenyum mendengar penuturan Edo. Sejenak ia mengingat tentang kakaknya yang kini masih mendekam di penjara. Sudah lama ia tak menjenguk kakaknya itu. Mungkin setelah ia pindah ke rumah kontrakan yang baru, ia akan menjenguk kakaknya itu.


"Kita makan malam dulu, bagaimana?" tawar Edo yang membuat Vania tersadar dari lamunannya.


"Eh? Iya, boleh, Bang."


Edo mencari tempat makan yang nyaman untuk mereka.


"Aku yang traktir ya, Bang! Makan pecel lele bagaimana, Bang?"


"Emh, boleh juga. Tapi, kenapa ingin mentraktirku? Apa tidak sayang uangmu? Kau baru saja membayar sewa rumah, dan sekarang ingin mentraktirku."


Vania mencebik. "Hanya makan pecel lele saja, Bang. Tidak akan bikin bangkrut. Hitung-hitung ini sebagai ucapan terima kasih aku pada Abang karena tadi sudah menolongku. Lalu sekarang abang malah mengantarku naik mobil mewah ini."


"Baiklah, baiklah. Mana bisa aku menolak, huh!" Edo mengacak rambut Vania pelan.


Edo memarkirkan mobilnya di depan sebuah warung tenda yang berspanduk pecel lele. Vania memesan dua porsi makanan untuknya dan Edo.


Mereka duduk di sebuah bangku dan saling berhadapan.


"Apa kau sedang ada masalah?" tanya Edo.


"Hah?! Masalah apa? Tidak ada kok!" jawab Vania dengan memalingkan wajahnya. Ia tak ingin terus memikirkan soal Damian. Ia ingin bisa melupakan semua hal yang berhubungan dengan bosnya itu.


"Vania! Kenapa melamun?"


"Hah?! Enggak kok, Bang. Eh, makanannya sudah datang ya! Mari makan!" ucap Vania dengan semangat lalu melahap pecel lele yang ada di hadapannya.


Saat Edo dan Vania sedang menikmati makan malam mereka, sepasang mata dari dalam mobil menatap kearah mereka. Entah apakah ini takdir atau bukan, namun lagi-lagi Damian kembali dipertemukan dengan Vania meski dengan situasi yang aneh.


Damian menepikan mobilnya. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo!" jawab seseorang dari seberang sana.


"Dokter, ada apa denganku?"


"Memangnya kau kenapa?"


"Aku merasakan sesuatu yang aneh dengan jantungku. Rasanya berdetak lebih cepat jika aku melihatnya."


"Hah?! Jelaskan dengan detil!"


Damian menjelaskan dengan rinci kondisinya akhir-akhir ini. Semua bermula ketika dirinya patah hati dengan Sheila lalu bertemu dengan Vania.


"Itu artinya kau sedang jatuh cinta! Apa begitu saja kau tidak tahu?"


"Jatuh cinta? Yang benar saja!"


"Kalau begitu kau harus memastikannya!"


"Begitukah?"


"Iya!"


"Baiklah. Terima kasih, Dokter!"


Panggilan berakhir.


...***...


Damian mengikuti kemana arah mobil Edo melaju. Damian kini seperti seorang penguntit. Ia harus memastikan sesuatu agar dirinya yakin langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Damian melihat Vania turun di depan sebuah rumah. Lalu gadis itu melambaikan tangannya ketika mobil Edo mulai menjauh.


"Vania!"


Vania yang akan masuk ke dalam rumah, dikejutkan dengan kedatangan Damian.


"Tu-tuan Damian?" Vania tidak percaya jika orang yang sejak tadi mengganggu pikirannya tiba-tiba hadir di hadapannya.


"A-apa yang Tuan lakukan disini?" tanya Vania gugup.


Damian mengedikkan bahunya. "Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu apa yang sedang aku lakukan. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja."


Vania merasa sikap Damian sedikit aneh. Ia tak ingin memperkeruh keadaan.


"Saya akan masuk ke dalam, Tuan. Permisi!"


"Tunggu!"


Vania kembali berbalik dan menghadap Damian.


"Aku harus memastikan satu hal."


Vania mengernyit bingung. "Memastikan apa, Tuan?"


"Maaf, Vania!" Damian menarik tubuh Vania mendekat. Entah kegilaan apa yang sedang dilakukan Damian.


"Tu-Tuan?!" pekik Vania kaget.


"Maaf..." Satu kata terucap dari bibir Damian sebelum akhirnya pria itu kembali merengkuh manisnya bibir Vania.


#bersambung