My Culun CEO

My Culun CEO
UP-Normal Feeling



Sheila duduk di bangku panjang rumah sakit dengan kondisi yang cukup kacau. Berkali-kali petugas medis membujuk Sheila agar bersedia diperiksa. Mereka khawatir dengan kondisi psikis Sheila yang terlihat sangat syok dengan apa yang baru saja menimpanya.


Namun Sheila menolaknya. Ia hanya ingin sendiri saat ini untuk mencerna setiap detil yang baru saja terjadi dengannya dan juga Nathan. Pria itu kini dalam penanganan dokter setelah tadi Boy datang tepat waktu untuk menolong Sheila.


Tak lama Boy dan Lian datang menghampiri Sheila. Lian sangat menyesal dengan apa yang terjadi dengan Sheila.


"Sheila..." panggil Lian dan membuat gadis itu menoleh.


Lian langsung memeluk Sheila. Tangisnya pecah begitu memeluk Sheila.


"Maafkan Mama, Sheila. Maafkan Mama yang tidak memberitahumu soal masalah ini dari awal."


Sheila membisu. Ia sendiri masih bingung dengan yang terjadi. Kehidupannya dan Nathan selama ini baik-baik saja. Namun malam ini semua seakan berubah.


"Mama akan ceritakan semuanya padamu." Lian melepas pelukannya dan menggenggam kedua tangan Sheila.


Sheila mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan yang diucapkan oleh Lian. Dari yang Sheila tangkap, Nathan memiliki sebuah trauma. Dia dibesarkan di panti asuhan hingga berusia 2 tahun hingga akhirnya di adopsi oleh keluarga Langdon. Saat usia 5 tahun akhirnya Nathan berhasil berkumpul dengan keluarga kandungnya yaitu keluarga Avicenna.


Namun banyak hal yang berbeda karena seiring berjalannya ia tumbuh remaja, Lian lebih memperhatikan Boy yang memang ditakutkan memiliki riwayat sakit jantung seperti ayahnya. Perhatian yang tak kunjung ia dapatkan membuatnya menjadi pribadi yang berbeda meski dari luar Nathan terlihat kuat.


Nathan menghibur dirinya dengan selalu datang ke panti asuhan dan bertemu dengan teman masa kecilnya yaitu Celia. Ia merasa bahagia meski keluarga kandungnya kurang memperhatikannya.


Dan ketika Celia akhirnya menghilang dari kehidupan Nathan, ia menjadi sosok yang berbeda. Ia mengalami trauma mendalam akibat di tinggalkan oleh seseorang yang sudah membuat hari-harinya bahagia.


Lian dan Roy berusaha untuk menyembuhkan semua trauma itu. Mereka memberi perhatian lebih dan juga melakukan hipnoterapi agar ia melupakan masa lalu yang pahit dalam hidupnya.


Hingga Nathan akhirnya bertemu Sheila dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Apapun akan Nathan lakukan untuk bisa mendapatkan hati Sheila dan agar membuat Sheila terus berada di sisinya. Terkadang Nathan bersikap sangat normal, namun di beberapa kondisi, ia akan bertindak diluar batas, contohnya seperti yang terjadi hari ini.


"Maafkan Mama... Ini semua adalah kesalahan Mama..." Lian terisak mengakhiri ceritanya.


Sheila mencoba tetap tenang menghadapi semua ini. Kini ia duduk di depan sebuah brankar yang di atasnya terdapat tubuh Nathan yang masih terpejam.


"Kapan dia akan bangun, Dokter?" tanya Sheila lirih pada dokter yang menangani Nathan. Dia adalah dokter Liam yang sekaligus sahabat Nathan.


Dulu ayahnya yang menangani Nathan, dan kini dirinya yang harus meneruskan perjuangan ayahnya. Liam sendiri sudah tidak pernah melihat Nathan kambuh selama beberapa tahun terakhir sejak penyembuhan yang dilakukan ayahnya. Bukan berarti Liam menyalahkan Sheila atas apa yang terjadi hari ini. Tapi bisa jadi ada hal yang memicu terjadinya trauma itu kembali.


"Besok dia sudah kembali sadar. Dan kuharap kau tidak membahas soal yang terjadi semalam. Karena dia sama sekali tidak mengingatnya," jelas Liam.


Sheila mendesah kasar. Dirinya hampir saja terbunuh karena suaminya sendiri namun ternyata suaminya tidak mengingat hal apapun. Terdengar lucu di telinga Sheila.


"Jika kau memang mencintainya, maka ... kau harus membantunya untuk bisa sembuh dari semua ini."


Sheila menatap wajah tenang Nathan ketika terpejam. Siapa sangka ada sisi berbeda dari seorang Nathan yang hangat dan penuh cinta.


"Apa aku bisa melakukannya, Dokter?" tanya Sheila.


"Iya. Kau pasti bisa menjadi penyembuhnya. Cukup berada di sisinya dan memberinya perhatian. Ada baiknya jika ... kau keluar dari pekerjaanmu. Maaf jika aku harus mengatakan ini. Sebaiknya kau juga beristirahat." Liam menepuk bahu Sheila kemudian keluar dari ruang rawat Nathan.


#


#


#


Keesokan harinya, Nathan membuka mata dan melihat Sheila tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang bersandar di brankarnya. Nathan tersenyum.


"Sheila..." panggilnya lirih sambil mengusap rambut Sheila yang tergerai.


Mendapat sebuah sentuhan, Sheila terbangun dan melihat Nathan tersenyum padanya.


"Nate? Kau sudah bangun?" tanya Sheila sedikit gugup. Pasalnya ia takut mendapat sorotan tajam seperti semalam. Namun tatapan mata itu telah hilang.


"Sheila! Aku merindukanmu!" Nathan membawa Sheila dalam dekapannya.


Sheila hanya pasrah ketika Nathan memeluknya dengan sangat erat. Sedikit demi sedikit ia mengendurkan pelukan Nathan.


"Nate..." lirih Sheila.


"Maaf ya sudah membuatmu takut," ucap Nathan.


Sheila terkejut karena ternyata Nathan ingat apa yang dilakukannya semalam. Bukankah dokter Liam bilang Nathan tidak akan mengingatnya? Sheila berusaha tetap tenang.


"Tidak apa. Aku ada disini, Nate..." balas Sheila.


"Kau tidak akan meninggalkan aku, bukan?" tanya Nathan dengan masih merangkum wajah Sheila.


"Iya. Aku tidak akan meninggalkanmu..." jawab Sheila dengan menatap Nathan.


Nathan tersenyum kemudian melakukan sentuhan lima detik yang biasa ia lakukan. Namun ternyata itu tak cukup baginya. Nathan mengulanginya lagi hingga berdurasi selama beberapa menit.


Sheila pasrah dan membalas setiap sentuhan Nathan. Sentuhannya kini terasa berbeda. Nathan mulai menuntut dan menginginkan lebih.


"Nate, ini..." Sheila menghentikannya.


"Ini di rumah sakit. Tidak mungkin kita..."


Nathan tidak peduli dengan ocehan Sheila. Ia menarik tubuh Sheila terus mendekat. Sheila tidak akan bisa pergi sebelum Nathan mendapat apa yang ia inginkan.


"Nate, jangan dulu..." Sheila mencegah Nathan.


Entah kapan dimulainya namun kini tubuh Sheila sudah berada di bawah tubuh Nathan. Nathan terus bergerilya.


"Nate... Aku..."


Nathan membungkam bibir Sheila. Napasnya sudah memburu dan tidak akan bisa dihentikan.


Sheila mengerjapkan mata ketika satu persatu kain yang melekat ditubuhnya dilepas oleh Nathan.


"Nate! Aku sedang datang bulan!" seru Sheila yang langsung menghentikan aktifitas Nathan yang sedang melepas celana piyama Sheila.


Nathan mendesah kasar. "Baiklah!" ucapnya pasrah.


Sheila memakai kembali piyamanya. Ia pun meminta maaf karena sudah membuat Nathan kecewa.


"Maaf..." Sheila memeluk tubuh suaminya yang sudah bertelanjang dada.


"Tidak apa. Aku akan menunggumu..." ucap Nathan yang membuat hati Sheila teriris.


Sungguh Sheila tak pernah mengira pria yang dicintainya menyimpan trauma yang begitu dalam.


"Aku masih mengantuk. Aku ingin tidur lagi," ucap Nathan.


Sheila mengangguk. Ia memakaikan kembali piyama Nathan lalu membaringkan tubuhnya. Nathan menarik tubuh Sheila agar berbaring bersamanya.


Sheila tidak bisa menolak. Ia hanya diam ketika Nathan mendekapnya. Mereka saling berpelukan diatas brankar rumah sakit. Berkali-kali Nathan mengecup puncak kepala Sheila.


Tak lama terdengar bunyi dengkuran halus dari Nathan. Sheila melirik wajah suaminya yang terpejam. Mau tak mau hari ini Sheila harus mengesampingkan pekerjaan dan mengurus Nathan lebih dulu.


Diluar ruangan, ternyata Liam dan Boy mendengarkan semua percakapan Nathan dan Sheila. Kamar itu memang sengaja di sadap untuk mengetahui perkembangan Nathan setelah bangun dari tidur panjangnya.


"Bagaimana bisa dia masih ingat dengan apa yang dilakukannya semalam, Liam?" tanya Boy bingung. Kondisi ini belum pernah terjadi pada Nathan.


"Entahlah, Kak. Sepertinya Nathan sudah menemukan penawarnya."


"Maksudmu?"


"Sheila adalah penyembuh dari apa yang Nathan alami selama ini."


"Hah?!" Boy masih tidak percaya dengan spekulasi Liam.


"Semoga saja Sheila kuat untuk menjadi penyembuh bagi Nathan," tutup Liam sambil menekan tombol mematikan alat penyadap di kamar rawat Nathan.


#bersambung...