My Culun CEO

My Culun CEO
#1 0 5



Pagi itu di kediaman keluarga Hanggawan,


Akhirnya Rizka setuju untuk tinggal bersama ayahnya di rumah peninggalan mendiang ibunya itu. Entah kenapa nasib Rio dan kakaknya adalah sama. Sama-sama ditinggal pergi sang istri untuk selama-lamanya.


Namun selama ini Rio selalu berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untuk Rizka. Meski kadang gadis ini suka membangkang, tapi sifat aslinya yang kalem menurun dari ibunya.


Saat ini Rizka dan Rio sedang sarapan bersama. Gadis itu diam dan hanya menikmati sarapan paginya.


"Bagaimana jika kamu pindahkan saja eRHa Cosmetics ke gedung yang baru?" buka Rio untuk mencairkan suasana. Ia mengelap sisa makanan di mulutnya lalu meminum segelas jus jeruk yang sudah disiapkan pelayan di rumahnya.


Rizka diam sejenak. Ia berpikir apakah ide dari ayahnya adalah hal yang bagus atau tidak.


"Kamu pikirkan saja dulu. Atau kamu ingin berdiskusi dengan Radit? Setahu Papa istri Radit adalah putri dari Grup HD. Mereka sudah ahli dalam bidang seperti ini," ucap Rio lagi.


Rizka menghela napasnya. "Ide Papa boleh juga. Aku akan bicara dengan kak Nadine."


Rio terhenyak. Ia cukup terkejut mengetahui jika putrinya dekat dengan Nadine.


"Kamu dekat dengan istri Radit?"


Rizka mengangguk. "Ya, kami mulai membuka diri."


"Baguslah, Nak. Bersikaplah dewasa dan jangan egois! Papa yakin semua hal pasti bisa kamu raih."


Rizka tersenyum. "Iya, Pah."


"Jika kamu butuh perusahaan periklanan, kamu hubungi saja Damian."


Rizka kembali diam.


"Kamu tenang saja! Papa dan Jonathan tidak akan memaksa kalian. Kini hubungan kalian adalah rekan bisnis. Pikirkan saja begitu dan jangan pikirkan yang lain."


Rizka mengangguk paham. Rio berpamitan pada Rizka jika harus pergi ke perusahaan. Ia meninggalkan Rizka yang masih menyantap sarapannya.


"Aku akan hubungi kak Nadine dulu saja!" gumam Rizka kemudian beranjak dari meja makan.


...***...


Josh yang sudah selesai bersiap kini kembali menuju ke kamar Damian. Namun belum sempat ia mengetuk pintu kamar Damian, pria itu sudah lebih dulu keluar dan yang membuat Josh tertegun adalah sosok Sitta yang juga keluar dari dalam kamar Damian.


"Tu-tuan Damian? Nona Sitta?" sapa Josh dengan suara gugup.


"Hai, Josh. Selamat pagi. Jangan kaget begitu dong! Aku adalah kekasih Damian, jadi wajar jika aku keluar dari kamar kekasihku!" balas Sitta.


"Hah?!" Josh melongo seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Sitta. Ia menunggu Damian mengkonfirmasi namun ternyata bosnya itu hanya diam seakan mengiyakan ucapan Sitta.


Damian malah melenggang pergi tak menghiraukan Josh. Sitta mengekori Damian menuju meja makan.


Josh menatap tak percaya melihat Sitta yang memang benar layaknya kekasih bagi Damian.


"Apa karena kupukul semalam, makanya Tuan Damian berubah?" Josh menggaruk kepalanya.


"Atau aku pukul lagi saja kepalanya agar dia sadar siapa Sitta!" Josh bermonolog. Idenya ada benarnya juga. Tapi jika semalam Damian lupa, maka bisa saja kali ini dia tidak lupa. Dan itu bisa jadi masalah untuk Josh nantinya, haha.


Usai sarapan pagi, Damian dan Sitta berangkat bersama menggunakan mobil Damian. Kali ini Damian mengganti mobilnya. Ia tak ingin bayang-bayang kejadian semalam kembali menghantuinya.


Entah kenapa Damian seakan jadi boneka penurut untuk Sitta. Ia bahkan tidak bisa melawan Sitta. Apa Damian sudah kehilangan jati dirinya yang sebenarnya?


Tiba di gedung Ford Company, Damian dan Sitta berjalan bersama hingga membuat kehebohan di seluruh gedung. CEO mereka kini secara terang-terangan mengumumkan hubungannya dengan Sitta ke publik.


Dan diantara ratusan orang yang menggosipkan hubungan Damian dan Sitta, ada satu orang gadis yang seakan tidak peduli dengan semua itu. Sebenarnya bukan tidak peduli. Dia hanya menguatkan hati agar bisa menerima semuanya.


"Huft! Fokus, Vania! Kau disini untuk bekerja! Bukan untuk mencari pangeran tampan ataupun kekasih! Lagipula, siapa yang mau denganmu yang berpenampilan culun seperti ini?"


Dan ternyata semua gumaman Vania di dengar oleh seseorang yang tak sengaja melintas.


Suara itu membuat Vania membulatkan mata. "Tu-tuan Josh?"


Vania segera menundukkan wajahnya. Ia sangat malu karena ketahuan mengeluh.


"Apa akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Josh.


"Eh? Ah tidak, Tuan! Tidak ada. Maafkan saya, Tuan. Saya hanya akan memikirkan soal pekerjaan saya saja. Saya janji tidak akan mengecewakan Tuan yang sudah percaya kepada saya!" Dengan tegas Vania meyakinkan Josh.


Pria itu malah terkekeh dengan semua kata-kata Vania. "Sudahlah! Jangan berpikiran macam-macam! Saya percaya dengan kemampuanmu! Oke?!"


Vania mengangguk mantap. Mulai saat ini ia tidak akan memikirkan soal Damian lagi. Terlebih soal...insiden ciuman beberapa waktu lalu.


...***...


Jam makan siang pun tiba, Vania memilih untuk memakan bekal makan siang yang ia masak sendiri saja. Bulan ini sudah memasuki akhir bulan dan tentunya ia harus berhemat.


Vania sudah bertekad jika bulan depan ia sudah harus menemukan rumah untuk dirinya tinggal. Ia tidak enak hati dengan Naina karena terus menumpang. Tentunya ia tahu jika Naina juga harus memiliki privasi sendiri.


Vania menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan saldo m-banking miliknya.


"Sepertinya aku harus mulai mencari-cari rumah kontrakan. Mungkin aku harus memulainya setelah pulang kerja nanti," gumam Vania dengan tersenyum senang.


Vania menatap kotak makannya dan berpikir dimana kira-kira ia akan makan siang. Jika ke tempat dekat gudang waktu itu, Vania takut jika dirinya akan kembali bertemu dengan Damian yang sedang bermesraan dengan Sitta.


"Huft! Bagaimana ini? Apa aku makan disini saja? Tapi peraturan disini kan tidak memperbolehkan karyawan makan di ruang kerja, karena bisa membuat aroma masakan jadi menguar ke seluruh ruangan."


Vania kembali berpikir. "Apa aku ke atap gedung saja? Disana pasti tidak akan ada orang!"


Vania bersiap membawa kotak makan dan botol minum miliknya. Hari ini ia memasak tahu telor kecap yang jadi favoritnya ketika sang ibu masih ada.


Belum sempat Vania keluar ruang kerjanya, dirinya dikejutkan dengan kedatangan Damian yang tiba-tiba.


"Tu-tuan Damian?!" ucap Vania gugup lalu menunduk.


"Mau kemana? Ke kantin?" tanya Damian. Baru kali ini Sitta tidak mengekorinya karena gadis itu sedang ke kamar mandi.


"Emh, tidak, Tuan. Saya..."


"Apa itu yang ada ditanganmu?" Damian melirik kearah paper bag yang di bawa Vania.


"Ah ini..."


Belum sempat menjawab, Damian sudah lebih dulu merebutnya. Entah ada apa dengan sikap Damian kali ini. Ia seakan menjadi pribadi yang berbeda lagi di mata Vania.


"Hmm, baunya lezat sekali. Kau sendiri kah yang memasaknya?"


Vania mengangguk pelan.


"Apa aku boleh memakannya?" tanya Damian.


"Hah?!" Vania melongo.


"Aku juga lapar. Apa kau bersedia membaginya denganku?"


"I-iya, Tuan." Vania menjawab dengan ragu.


"Baiklah, ayo makan di ruanganku saja!"


"Hah?! A-apa?!" Vania tak bisa menolak karena Damian sudah menarik tangannya lebih dulu.


#bersambung