My Culun CEO

My Culun CEO
#177 - Penjahat dan Malaikat



Merlin terbangun di pagi hari dan merasakan tubuhnya terasa kaku. Malam ini ia dan ayahnya tidur di sofa ruang tamu yang bisa dikatakan jauh dari kata nyaman.


Ayahnya berkata jika anak culun orang kaya itu harus tidur di kamar mereka untuk memberinya rasa nyaman. Merlin hanya menghela napas. Sungguh ia tak ingin terlibat dengan kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya dan kawannya.


Merlin menyiapkan sarapan pagi. Hanya ada roti tawar tanpa selai dan mentega. Ia bersyukur masih bisa makan dengan baik. Merlin tak mendapati kehadiran ayahnya di rumah. Merlin berpikir ayahnya itu pasti sudah pergi entah kemana.


Usai sarapan ala kadarnya Merlin bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia masih tak mendengar ada suara dari dalam kamar tidurnya. Rumah petak kecil itu memang jauh dari kata layak. Tapi Merlin harus bisa bertahan demi dirinya sendiri.


Terkadang Merlin ingin kembali tinggal di kampung ibunya saja. Tapi sejak ibunya meninggal, ayahnya itu bersikeras untuk membawa Merlin ke kota. Ayahnya pikir mereka akan mengubah nasib ketika tinggal di kota, tapi nyatanya hidup mereka masih saja susah. Beruntung Merlin bisa bersekolah secara gratis karena ada beasiswa untuk siswa miskin.


Merlin yang sudah siap dengan serqgam sekolahnya, masuk ke dalam kamar dan melihat Giga masih meringkuk di atas tempat tidur. Merlin pun membangunkan bocah lelaki itu.


"Hei, bangun! Apa senyaman itu tidur di tempat orang lain?" Merlin menyenggol bahu Giga.


Bocah lelaki itu membuka matanya. Ia melepas kacamata dan mengucek matanya.


"Justru aku tidak bisa tidur semalam. Dan aku baru tidur beberapa jam saja," ucap Giga dengan menunduk.


"Ini sarapanmu! Makanlah! Setidaknya kau harus tetap hidup jika ingin selamat," ketus Merlin.


Giga memberanikan diri menatap Merlin. "Kau ini siapa? Apa kau juga komplotan penculik itu?"


Merlin Menatap Giga. "Aku bukan penculik. Tapi ayahku yang menculikmu."


"Hah?!"


"Tapi kau tenang saja. Aku tidak sejahat ayahku. Aku bahkan tidak suka dengan tindakannya ini."


"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Giga.


"Aku ingin menolongmu. Tapi aku tidk tahu bagaimana caranya."


Giga tertegun menatap Merlin. "Kau ingin menolongku? Kau akan melawan ayahmu?"


Merlin mengangguk.


"Jadi, ayahmu adalah penjahat, dan kau adalah malaikat. Begitu?"


"Terserah saja kau mau menyebutku apa. Sekarang kau makanlah! Aku harus pergi ke sekolah."


"Tunggu! Tolong temani aku makan disini," pinta Giga.


Merlin menatap Giga. Ia berpikir sejenak. "Baiklah."


Mereka berdua duduk di lantai. Giga dengan ragu mengambil roti tawar yang di bawa Merlin.


"Jangan khawatir. Rotinya tidak kuberi racun kok."


Akhirnya Giga memakannya dengan lahap. Merlin memperhatikan penampilan Giga yang memang terlihat berbeda dengannya.


"Berapa usiamu?" celetuk Merlin.


"Dua belas tahun."


"Benarkah? Dua belas tahun dan kau sudah memakai kacamata setebal itu?" tanya Merlin tak percaya.


"Ini karena aku banyak belajar," jawab Giga dengan mulut penuh roti.


"Belajar?" Merlin menahan tawanya. "Apa yang dipelajari anak dua belas tahun, hah?"


"Banyak! Aku belajar tentang bisnis dan yang lainnya. Kau sendiri? berapa usiamu? Kau masih memakai seragam merah putih, itu artinya kau juga seumuran denganku kan?"


"Yeah. Aku hampir seumuran denganmu. Kau sudah selesai makan kan? Kalau begitu aku harus pergi. Kau tinggalah disini. Aku akan cari cara untuk menyelamatkanmu dari sini."


Giga menatap kepergian Merlin dengan nanar. Kini ia harus kembali sendirian di rumah yang tak dikenalinya ini.


"Ayah... Bunda... Tolong aku!" lirih Giga.


#


#


#


Sheila terbaring lemah di tempat tidur karena memikirkan Giga yang masih diluaran sana. Sheila sangat takut terjadi sesuatu dengan putranya.


Di kala kecemasan semua orang, Nathan datang dengan membawa berita yang cukup bagus. Ia berhasil menemukan sepeda motor yang digunakan untuk menculik Giga.


Nathan juga berhasil menemukan rekaman kamera pengawas di sekitar tempat kejadian. Sheila mulai bernapas lega. Namun ternyata jejak yang di telusuri Nathan masih belum jelas.


Sepeda motor di temukan tergeletak di sebuah gudang dan tak ada siapapun yang bisa di tanyai. Sheila meminta Nathan untuk membawa putranya kembali.


"Kau tenang saja ya! Doakan kami agar cepat menemukan Giga."


Sheila mengangguk. "Iya, Tuan Su. Tolong temukan putra kita. Bila perlu, kita berikan uang yang banyak pada mereka agar segera mengembalikan Giga."


"Sayang, bahkan mereka sama sekali tidak menghubungiku. Ini sudah hampir lewat 24 jam dan mereka belum juga menghubungi."


"Sepertinya tidak, sayang. Kau jangan cemas. Aku pasti akan menemukan putra kita."


Sheila berpelukan dengan Nathan. Dalam harap mereka selalu berdoa agar Giga baik-baik saja di luar sana.


#


#


#


Merlin kembali ke rumah dan melihat jika bocah culun yang diculik ayahnya sedang di bawa keluar rumah. Tampak bocah lelaki itu meronta dan meminta dilepaskan.


Tangannya terikat dan matanya di tutup dengan kain. Merlin ikut cemas memikirkan kemana orang-orang itu akan membawa bocah itu.


"Mereka mau membawanya kemana?" gumam Merlin.


Sebuah mobil membawa bocah itu pergi. Sementara ayahnya baru saja menerima pembayaran atas jasa yang sudah dia lakukan.


"Bapak!" teriak Merlin.


"Merlin? Kau sudah pulang sekolah?"


"Kemana orang-orang itu membawa bocah itu, Pak?" tanya Merlin.


"Bapak tidak tahu!"


Merlin mengepalkan tangan dan masuk ke dalam rumah. Ia mencari petunjuk di kamar yang ditempati Giga semalam.


Merlin melihat kacamata bocah lelaki itu tergeletak di lantai. Ia segera memungutnya.


Air mata Merlin tiba-tiba menetes ketika mengingat tentang Giga. "Apa yang akan terjadi dengannya?"


Ia ingat percakapannya dengan Giga pagi tadi tentang penjahat dan malaikat. Merlin menghapus air matanya dan segera keluar dari kamar. Merlin melewati ayahnya yang masih tertegun memandangi lembaran rupiah yang ada ditangannya.


"Merlin! Kita kaya, Nak! Kita bisa pergi ke kampung setelah ini dan membangun bisnis disana," ucap Drajat.


Merlin tetap berjalan dan tak mempedulikan ayahnya.


"Merlin! Mau kemana, Nak?" teriak Drajat.


Merlin terhenti dan menatap ayahnya.


"Jika bapak ingin tetap menjadi penjahat, maka silakan saja. Tapi aku tidak mau menjadi penjahat seperti bapak. Aku akan menyelamatkan bocah itu!" ucap Merlin berapi-api dan mengambil sepeda butut miliknya.


"Merlin! Kembali, Nak! Kau jangan bertindak bodoh! Merlin!" teriak Drajat namun Merlin terus mengayuh sepedanya.


Merlin melewati jalan pintas untuk bisa menyusul mobil yang membawa Giga tadi.


"Tidak! Aku tidak mau jadi penjahat! Aku ingin menjadi malaikat! Aku ingin menjadi malaikat!"


Merlin mengerahkan seluruh kekuatannya dan terus mengayuh sepedanya. Hingga akhirnya ia melihat mobil hitam yang membawa Giga memasuki sebuah area pergudangan.


Merlin memarkirkan sepedanya tak jauh dari sana dan mengendap-endap. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk bisa menyelamatkan Giga dari para penjahat itu.


Merlin akan bergerak ketika orang-orang itu lengah. Merlin memutar otaknya untuk mencari jalan keluar.


Merlin mungkin bukan bocah pintar dan genius, tapi dia memiliki otak licik yang mungkin saja di turunkan dari ayahnya. Merlin melakukan beberapa trik untuk mengelabui penculik Giga yang berjumlah dua orang.


Dengan hati-hati, Merlin berhasil masuk ke dalam gudang dan menemui Giga. Merlin berjalan pelan agar tidak diketahui dua orang yang berjaga di depan.


"Hei, bocah culun!" bisik Merlin.


Giga yang matanya tertutup tak bisa melihat kehadiran Merlin dan hanya bisa mendengar suaranya saja.


"Sstt! Jangan berisik! Aku akan membawamu keluar dari sini!"


Giga sempat meronta ketakutan. Tangan dan kakinya terikat, matanya tertutup kain dan mulutnya di lakban.


"Sssttt! Jangan ribut! Kau akan membuat kita ketahuan!"


Merlin segera melepas ikatan di tangan dan kaki Giga. Lalu melepas kain yang menutupi matanya. Perlahan melepas lakban di mulut Giga.


"Hei! Siapa kau?" teriak seorang penjaga yang memergoki Merlin dan Giga.


"Cepat lari!" seru Merlin.


"Tu-tunggu! Aku tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamataku," keluh Giga.


Secepat kilat Merlin meraih tangan Giga dan menggenggamnya.


"Kita harus berlari secepat mungkin!" ucap Merlin.


"Hei, kalian! Berhenti!" Kedua pria dewasa yang berjaga segera berlari mengejar Merlin dan Giga.


#bersambung