My Culun CEO

My Culun CEO
#143 – Haruskah Ku Jujur?



Damian tertegun melihat ekspresi Freya yang terkesan berlebihan ketika dirinya bicara lantang. Apa yang ia katakan hanyalah secuil kata hatinya untuk menyemangati Freya. Namun tak disangka Freya malah menatapnya tajam.


Freya mendekati Damian. Mata bulatnya penuh dengan genangan air mata menatap Damian lekat. Tangannya terulur dan menyentuh pipi Damian.


“Kamu…” lirihnya dengan wajah sendu yang membuat hati Damian terenyuh.


Bahkan Damian merasa bersalah. Apakah ada yang salah dengan apa yang dikatakannya barusan?


“Jadi… dia adalah kamu…?”


“Freya…” panggil Damian lirih.


“Akh!” Tiba-tiba Freya memegangi


kepalanya.


“Freya? Kamu kenapa?” Tanya Damian panic.


Mata Freya mulai menggelap. Pandangannya kabur. Tubuhnya ambruk. Dan Damian segera menangkapnya.


“Freya! Bangun, Freya!” seru Damian.


Edo segera membawa tubuh Freya untuk di periksa. Situasi panic kembali memenuhi ruangan itu. dokter tergopoh-gopoh datang dan memeriksa kondisi Freya.


Edo dan Damian menunggu di luar ruang periksa. Edo menatap Damian yang duduk sambil memegangi kepalanya.


“Kau!” tunjuk Edo.


Damian tersentak.


“Apa yang kau lakukan pada Freya?” Edo menarik tubuh Damian hingga mereka saling berhadapan.


“Apa yang aku lakukan? Aku tidak


melakukan apapun, Edo!” jawab Damian.


“Lalu kenapa Freya bisa pingsan, huh?!” Edo menarik kerah kemeja Damian.


“Aku tidak tahu! Kau sendiri ada disana dan aku tidak melakukan apapun!”


Edo melepaskan tangannya dan


menghempaskan tubuh Damian. Sungguh Damian sendiri bingung dengan apa yang sedang terjadi.


“Tuan Edo!” panggil seorang perawat.


“Iya, Suster. Bagaimana kondisi Freya?” Tanya Edo.


“Nona Freya sudah sadar. Ia ingin bertemu dengan Tuan.”


Edo mengangguk dan mengikuti langkah si perawat. Sementara Damian hanya diam dan menunggu. Ia tidak ingin disalahkan lagi oleh Edo.


Edo melihat Freya sudah membuka matanya. Wajahnya pucat. Edo duduk di samping brankar.


“Hei, bagaimana?” tanya Edo.


“Aku gak apa-apa, bang,” jawab Freya lirih.


“Apa yang kamu rasakan?”


“Bang… ada yang ingin kuberitahu.”


“Soal apa?”


“Anak lelaki yang kulihat dalam ingatanku … dia adalah … Damian.”


“Eh?” Mata Edo membulat sempurna.


“Dia ada disana, Bang. Di rumah sakit saat abang cedera.”


Edo terdiam sejenak. “Bagaimana kamu yakin jika itu adalah dia? Bisa saja orang lain kan?”


“Tidak. Itu memang dia. Semua kata-kata yang dia ucapkan sama persis dengan apa yang dia katakan 12 tahun lalu.”


Freya menitikkan air matanya. Edo tak tega melihat adiknya begitu sedih.


“Kamu ingin bertemu dengannya?” tanya Edo.


Freya menggeleng. “Tidak. Aku tidak siap untuk bertemu dengannya.”


“Baiklah. Kamu harus dirawat selama beberapa hari dulu disini.”


“Eh? Kenapa?”


“Tekanan darahmu sangat rendah. Istirahat dulu!”


“Lalu bagaimana dengan perusahaan?”


“Jangan memikirkan soal itu dulu. Pikirkan saja kesehatanmu. Mengerti?”


Freya mengangguk patuh. Edo mengecup puncak kepala Freya kemudian berlalu.


Edo menemui Damian yang menunggu di depan kamar. Damian langsung berdiri dan mendekati Edo.


“Bagaimana? Dia sudah sadar?” tanya Damian.


Edo menatap Damian dengan tatapan aneh. “Kenapa harus kau? Kenapa Freya malah mengingatmu?” gumam Edo yang membuat Damian bingung.


“Pergilah! Freya tidak ingin bertemu denganmu,” ketus Edo.


“Eh?”


“Pergi saja! Tidak ada gunanya kau


Damian mengangguk kemudian berjalan memutar dan pergi dari sana. Edo terduduk lesu di kursi panjang depan ruangan. Ia mengusap wajahnya.


Rizka menghampiri Edo dan mengusap punggung pria itu.


“Sayang…” panggil Rizka.


“Kenapa Freya harus mengingatnya lebih dulu? Kenapa dia tidak mengingat keluarganya tapi bahkan mengingat orang lain?” gumam Edo frustrasi.


“Sudahlah! Tenangkan dirimu! Ini lebih baik dari pada Freya tidak mengingat apapun kan? Aku yakin sedikit demi sedikit Freya akan mendapatkan ingatannya kembali.”


Edo mengangguk kemudian merangkul tubuh Rizka. “Terima kasih. Terima kasih karena aku memilikimu disisiku.”


Damian berjalan keluar rumah sakit. Saat tiba di lobi, Damian bertemu dengan Josh.


“Tuan!”


Damian hanya diam dan tidak menyahuti Josh.


“Tuan mau kemana?” tanya Josh.


“Aku mau pulang!” jawab Damian datar.


Damian terus berjalan tanpa menengok lagi hingga tiba di parkiran. Josh menatap Damian dengan penuh rasa iba. Butuh sebuah perjuangan untuk bisa datang ke rumah sakit karena sejak dulu Damian tidak suka dengan rumah sakit.


Rumah sakit hanya akan mengingatkan dirinya pada kematian sang ibu. Dan Damian tidak suka mengingat hal itu.


“Aku salut padamu, Tuan. Demi nona Freya kau bahkan melupakan kepedihanmu di masa lalu. Semoga kalian bisa bersama dan hidup bahagia,” gumam Josh.


Keesokan harinya, Freya terbangun dan masih berada diatas brankar rumah sakit. Laurent menghampiri putrinya dan duduk disana.


“Papa…?”


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Laurent dengan membelai kepala Freya.


“Sudah lebih baik, Pa. Mama gimana?” Freya berusaha bangun dari tidurnya.


“Mamamu juga sudah baikan. Dia sedang bersama Edo.”


“Pa, jangan beritahu mama soal ini ya!” pinta Freya


Laurent mengangguk. “Kamu istirahat lagi saja. Papa mau ke kamar mama dulu. Papa akan suruh Edo datang kesini.”


Freya mengiyakan. Ia melihat Laurent keluar dari kamar rawatnya. Ia turun dari brankar dan menuju ke kamar mandi.


Freya membasuh wajahnya dan menatap pantulannya di cermin. Hatinya kembali dilemma mengingat soal Damian.


“Mungkinkah kami memang terhubung?” gumam Freya.


“Tapi rasanya masih terasa sulit untuk percaya. Anak kecil itu…kehilangan ibunya. Pasti rasanya sangat menyakitkan. Tapi dia sendiri malah memberiku kekuatan untuk jangan bersedih.”


Freya tersenyum kemudian mengelap wajahnya dengan handuk. Ia keluar dari kamar mandi dan melihat Edo disana.


“Abang?”


“Hei, ini abang bawakan makanan untukmu. Siapa tahu kamu tidak cocok dengan makanan rumah sakit.” Edo meletakkan bungkusan di


atas meja.


“Terima kasih, Bang. Abang mau berangkat ke kantor?”


“Huum. Kalau begitu abang pergi dulu ya!”


Edo mengecup puncak kepala Freya. “Jangan memikirkan apapun. Dan pikirkan saja kesehatan kamu.”


“Iya, Bang.”


Freya menatap punggung Edo yang sudah menghilang di balik pintu. Ia duduk di sofa dan membuka bungkusan yang dibawakan oleh abangnya. Senyum manis terbit di bibirnya.


Di tempat berbeda, Damian yang masih menjelma menjadi Udin kini hanya bisa menatap nanar ruangan Freya yang kosong. Ponselnya


bergetar. Sebuah panggilan dari Josh.


“Halo, Josh? Bagaimana kondisi Freya?”


“Nona Freya dirawat di rumah sakit, Tuan.”


“Haaah! Sudah kuduga. Apa dia baik-baik saja?”


“Iya, sudah lebih baik. Kenapa Tuan tidak menjenguknya saja langsung?”


“Tidak bisa, Josh. Kau tahu kan dia tidak mau bertemu denganku. Aku juga sangat ingin bertemu dengannya. Tapi apa dayaku?”


“Ya sudah. Saya akan tetap memberi kabar pada Tuan mengenai kondisi nona Freya.”


“Terima kasih, Josh. Kau memang paling bisa diandalkan.”


“Hmm, sama-sama Tuan. Lalu, mau sampai kapan Tuan melakukan ini? perusahaan juga membutuhkan Tuan disini.” Josh mulai mengeluh karena pekerjaannya sangatlah banyak akhir-akhir ini.


“Hei, apa kau mengeluh? Sejak kapan kau mengeluh, hah?”


“Sejak Tuan meminta saya untuk mencari wanita yang baik dan menikah.”


Damian terkekeh. “Hei! Berani sekali kau bicara begitu padaku! Sudahlah, aku akan tutup teleponnya. Lagipula ayah mendukungku untuk melakukan ini. kau tidak perlu mengeluh. Aku akan naikkan gajimu tiga kali lipat. Mengerti?”


Damian memutus panggilan secara sepihak. “Berani sekali dia mengeluh secara terang-terangan!”


Damian berbalik badan dan akan


melanjutkan pekerjaannya. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok yang sangat dikenalinya sedang menatap sambil bersedekap tangan di dada.


Damian menelan ludahnya dengan susah payah. “Tu-tuan Edo…?”