
Sudah sepuluh jam Sheila dan Nathan mengudara. Sheila merasakan perutnya mulai meronta karena kelaparan. Ia membuka mata dan mengerjap sejenak.
Sheila terkejut karena ternyata dirinya begitu dekat dengan Nathan. Bahkan aroma tubuh pemuda itu menyusup masuk ke hidungnya.
Sheila segera bangkit. Ia membenahi duduknya. Sungguh ia sangat malu. Apa yang akan dikatakan pria disampingnya jika tahu sedari tadi dirinya tidur sambil memeluk Nathan?
"Sudah bangun, Shei? Apa tidurmu nyenyak?" tanya Nathan.
Sudah Sheila duga jika pria ini pasti akan mengejeknya. "Aku tidak sengaja! Jadi jangan kepedean ya!"
Nathan tertawa. "Aku ini tampan dan kaya, tentu saja aku percaya diri. Ini makanlah dulu! Kau lapar kan?"
Nathan menyodorkan satu kotak makanan untuk Sheila. Dengan wajah cemberut Sheila menerima kotak makanan itu. Tak ada pilihan lain selain menurunkan ego. Perutnya tak berhenti berbunyi.
"Masih ada enam jam lagi berada diatas sini. Kamu bisa lanjut tidur setelah makan."
"Kamu pikir aku ini kuda nil?!" sungut Sheila.
"Sudahlah! Habiskan makanannya!"
Tanpa menunggu lama, Sheila langsung melahap makanan didepannya hingga tandas.
...💟💟💟...
Setelah mengudara kurang lebih 16 jam, Sheila dan Nathan telah tiba di bandara Charles de Gaulle tengah malam. Mereka turun dari pesawat dan disambut oleh orang suruhan Boy yang diminta untuk menjemput Nathan dan Sheila.
"Selamat datang Tuan Nathan, Nona Sheila," sapa Jeff.
"Terima kasih, Jeff," balas Nathan.
Pria bernama Jeff segera membukakan pintu mobil untuk Nathan dan Sheila. Sejenak gadis itu menikmati pemandangan tengah malam kota yang dijuluki kota romantis itu. Matanya berbinar melihat semua itu. Tidak bisa dipungkiri jika ini adalah kali pertama Sheila datang ke kota ini.
Matanya kembali mengantuk karena memang masih memasuki waktu tidur Sheila. Gadis itu kembali terlelap di dalam mobil.
"Jadi, mereka tinggal di rumah besar itu, Jeff?" tanya Nathan.
"Iya, Tuan."
"Baiklah, cepat menuju kesana. Rasanya aku sangat lelah." Nathan meregangkan otot-ototnya. Sekali lagi ia harus menjadi sandaran untuk Sheila.
Satu jam perjalanan telah membawa mereka ke sebuah rumah besar milik keluarga Avicenna. Nathan turun dengan menggendong tubuh Sheila. Ia membawanya ke sebuah kamar yang sudah disiapkan untuk Sheila.
"Hah!" Nathan mengatur napas usai membawa tubuh Sheila menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Tidurlah dengan nyenyak, calon istriku." Nathan memberi sebuah kecupan di kening Sheila.
Kemudian ia pergi ke kamarnya yang ada di depan kamar Sheila. Tubuhnya juga lelah setelah menempuh perjalanan panjang.
Keesokan harinya, tidur Sheila terganggu karena merasakan goncangan di tempat tidurnya.
"Tante Sheila, ayo bangun! Sudah siang!" teriak bocah perempuan kecil diatas tempat tidur Sheila sambil melompat-lompat.
"Eungh! Siapa sih? Ganggu aja deh!" gumam Sheila yang masih merasakan kantuk.
"Tante Sheila! Bangun! Ayo bangun!" Bocah kecil itu terus melompat-lompat.
"Elifia! Sudah, Nak. Ayo turun!" lerai Cecilia pada putri kecilnya.
"Huaaahh!" Sheila membuka mata dan melihat kakak ipar dan keponakannya ada di depannya.
"Kak Cecil?" Sheila mengedarkan pandangan melihat sekelilingnya.
"Ini dimana, Kak?" tanya Sheila.
"Ck, kamu ini. Ini rumah keluarga Nathan. Memangnya semalam kamu sampai jam berapa disini?"
Sheila berpikir sejenak. "Gak ingat, Kak." Sheila menggaruk kepalanya. Ia kembali mengedarkan pandangan. Kamarnya sangat cantik dengan nuanasa warna cream yang lembut.
"Cepat mandi! Sudah ditunggu sama mama dan papa di bawah."
Sheila mengangguk. "Iya, Kak." Sheila meregangkan otot-ototnya dulu sebelum menuju ke kamar mandi.
Ia tersenyum melihat nuansa kamar yang sangat membuatnya jatuh cinta.
Tak ingin terlalu membuat semua orang menunggu, Sheila turun dengan wajah yang sudah segar dan balutan dress selutut yang cantik. Rambutnya selalu ia gerai agar menambah kesan feminim dalam dirinya.
Sheila menuruni anak tangga dan terkejut karena melihat Nathan sudah menunggunya di bawah tangga. Sheila menetralkan degup jantungnya. Nathan sangat tampan dengan sweater lengan panjangnya.
Tangannya terulur menyambut Sheila ketika gadis itu telah sampai di anak tangga terakhir.
"Apa ini perlu?" tanya Sheila dengan menatap tangan Nathan.
Mereka berjalan menuju meja makan dengan bergandengan tangan.
"Selamat pagi semuanya," sapa Nathan yang membuat semua anggota keluarga menoleh pada kedua sejoli ini.
Sungguh Sheila amat malu dengan perlakuan Nathan yang hangat. Apalagi tatapan semua orang kini tengah tertuju padanya.
...💟💟💟...
Usai sarapan, Sheila kembali ke kamarnya. Ia masih merasa kantuk. Ia duduk bersandar di kepala ranjang dan membuka ponselnya. Hal yang sangat ingin dia lakukan adalah menghubungi Tarjo.
Sheila mengirim pesan untuk kekasihnya itu. Namun ia kecewa karena pesannya tidak terkirim.
Sheila mendesah kasar. "Apa dia marah karena aku meninggalkannya?" gumam Sheila.
Ia menatap ponselnya dan juga mengirim pesan untuk Naina. Ia mengabari sahabatnya itu untuk memberitahu jika dirinya telah sampai di Paris.
Naina juga belum membalas pesannya. Ia kembali menekan nomor Tarjo.
"Tidak aktif! Dia pasti marah." Wajah Sheila berubah sedih.
Sebuah ketukan di pintu membuatnya tersadar.
"Masuk!" sahut Sheila.
Sheila terkejut karena Nathanlah yang masuk ke kamarnya. Ia segera turun dari ranjang dan menuju sofa di kamar itu.
"Silakan duduk!" ucap Sheila gugup.
"Terima kasih," balas Nathan.
"Jadi, ini adalah rumah keluargamu?" tanya Sheila sambil memperhatikan bangunan kamarnya.
"Bukan. Kami menyewanya setiap datang kemari."
Sheila manggut-manggut. "Rumahnya bagus. Kamarnya juga bagus." Sheila meringis.
"Kamu ingin pergi kemana hari ini?" tanya Nathan.
Sheila menggeleng. "Aku masih capek. Aku cuma ingin tidur-tiduran dulu di rumah, hehe. Boleh kan?"
Nathan mendesah pelan. "Ya, boleh."
Nathan melirik Sheila yang sedari tadi memperhatikan ponselnya.
"Pasti dia sedang menunggu kabar dari Tarjo," batin Nathan.
"Sebegitu besarkah cinta Sheila pada Tarjo? Aku sendiri tidak bisa mengukurnya, Shei. Tapi aku ingin kamu juga bisa melihatku."
"Seperti apa kekasihmu itu?" celetuk Nathan mencairkan suasana.
"Hah?! Maksudnya?" Sheila tidak mengerti.
"Apa dia lebih tampan dariku? Atau dia tidak lebih tampan dariku?" Nathan mendekatkan wajahnya ke depan wajah Sheila.
Sheila mengerjapkan mata. "Dia ... dia sama sekali hanya orang biasa, Nate," jawab Sheila memalingkan wajahnya.
"Oh ya? Biasa seperti apa? Aku juga manusia biasa, aku bukan superhero atau robot. Kami sama kan?"
Nathan ingin membuat Sheila menyadari perasaannya. Mereka kembali saling menatap.
"Entahlah. Dia adalah pria pertama yang membuatku merasakan debaran aneh dalam hatiku. Aku menyukai dia yang apa adanya. Aku menyukai kepolosan dan keluguannya. Aku menyukainya karena dia bisa membuatku tersenyum dan tertawa."
Sakit.
Hati Nathan sakit mendengar semua itu dari bibir Sheila sendiri. Mata mereka masih saling menatap. Saling menyelami satu sama lain.
"Jika dia ternyata bukan seperti yang kamu pikirkan selama ini, bagaimana?" tanya Nathan.
"Maksudnya?" Sheila mengernyit.
"Dia bukanlah dia yang sebenarnya. Jika banyak sekali rahasia yang dia simpan, apa kamu masih bisa menerimanya?"
Sheila menelisik kedalam tatapan Nathan. Ia mencoba mencari jawaban atas apa yang ditanyakan Nathan.
#bersambung. . .