My Culun CEO

My Culun CEO
#196 - Masalah Baru



Giga dan Carissa tiba di sebuah kafe yang tak jauh dari kantor. Dari luar mereka melihat bayangan Merlin dan Karel sedang duduk berdua dan saling berhadapan.


Giga mengepalkan tangannya melihat kedekatan Karel dan Merlin. Rasanya ia ingin masuk kedalam dan membawa Merlin pergi dari sana. Tapi harga dirinya cukup tinggi dengan tidak membuat masalah di muka umum.


"Jadi, kalian benar-benar menyukai wanita yang sama?" Carissa masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Sementara itu, Karel menyadari jika sejak tadi Giga dan Carissa ada di luar kafe dan menatap mereka. Ia sengaja memanasi kedua orang yang ada di luar.


"Kita kedatangan penguntit, Mer," ucap Karel santai sedikit berbisik dan melirik kearah luar kafe.


Merlin mengikuti arah pandang Karel. Matanya membola melihat Giga dan Carissa ada di luar.


"Tuan, sepertinya mereka akan salah paham. Apa sebaiknya kita..."


"Tidak! Kau ingin menjelaskan apa pada mereka? Aku dan Carissa tidak memiliki hubungan apapun. Begitu juga dengan dirimu dan Giga. Kita sama-sama single. Kenapa juga harus memikirkan mereka? Benar kan?"


Merlin hanya tersenyum kikuk mendengar penjelasan Karel. Apa yang dikatakannya memang ada benarnya. Tapi bagaimanapun juga, Giga adalah atasannya. Dan ia tak ingin terjadi situasi canggung diantara mereka nantinya.


Karel yang melihat Merlin melamun tiba-tiba membungkuk dan meraih kaki Merlin.


"Tuan, apa yang kau lakukan?" tanya Merlin terkejut.


"Aku lihat jalanmu kurang nyaman saat kita menuju kemari tadi. Aku yakin pasti kakimu terluka."


Karel mengoles salep di kaki Merlin yang lecet dan membalutnya dengan plester.


"Jangan memaksakan diri memakai sepatu hak tinggi. Pakai yang flat aja. Aku rasa itu akan lebih cocok untukmu." Karel selalu mengulas senyumnya di depan Merlin.


"Terima kasih, Tuan."


Perlakuan hangat Karel terhadap Merlin membuat Giga meradang. Tanpa bisa menahan amarahnya lagi, Giga mendatangi mereka berdua.


"Merlinda! Jam makan siangmu sudah habis! Ayo kembali ke kantor!" ucap Giga dengan menatap tajam Karel.


Tanpa menunggu jawaban Merlin, Giga menarik tangan Merlin dan membawanya dari sana. Tatapan tak menyenangkan juga Merlin dapatkan dari Carissa.


Kini tinggal Carissa dan Karel yang akhirnya duduk berdua.


"Apa ini, Kak? Apa kau menyukai gadis itu?" Tanya Carissa to the point.


"Kalau iya, kenapa? Lagipula ini bukan urusanmu!" jawab Karel santai sambil menyesap jusnya.


Carissa melongo tak percaya dengan jawaban Karel. "Jadi semua ini benar?"


Carissa menunjukkan foto-foto kebersamaan Karel dengan Merlin beberapa waktu lalu. Saat dimana Karel menikmati waktunya sebagai orang biasa.


Karel hanya tersenyum melihat foto-foto itu.


"Jadi kau memata-mataiku? Apa sekarang kau mulai menyukaiku?" Goda Karel.


"Hei! Jangan terlalu percaya diri! Apa jadinya jika ibumu tahu soal ini? Dia pasti tidak akan membiarkanmu. Aku hanya mengingatkan saja!"


Karel tersenyum sinis. "Aku tidak peduli dengan tanggapan orang lain tentangku. Kau harus ingat, perjodohan kita sudah berakhir, jadi kau jangan mencampuri urusanku lagi. Aku nyaman saat bersama dengan Merlinda. Dan apapun itu, aku akan memperjuangkannya."


Karel memilih untuk pergi dari tempat itu dan meninggalkan Carissa sendiri. Gadia itu mendengus kesal karena kini ia sudah kehilangan cinta dari kedua pria Avicenna.


...***...


Di sebuah resto mewah, dua orang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang mengobrol berdua.


"Katakan apa maumu?!" Tanya salah seorang wanita paruh baya yang adalah Mira.


"Apa kakak akan membiarkan ini semua terjadi?" Wanita paruh baya lainnya malah balik bertanya.


"Apa maksudmu, Freya? Aku tidak mengerti maksudmu. Bicara langsung saja tidak perlu berputar-putar!" Mira mulai jengah dengan sikap Freya.


Freya mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu meletakkannya diatas meja.


"Apa ini?" tanya Mira.


"Kakak buka saja sendiri! Aku tidak menyangka setelah perjodohannya kandas, putramu menjadi pria murahan."


"Jangan berteriak padaku! Lihat saja sendiri kelakuan putramu di belakangmu!"


Mira segera mengambil foto diatas meja dan terkejut melihat foto putranya ada disana.


"Ini...."


"Gadis itu adalah asisten Giga, bukan? Bagaimana bisa dia pergi berduaan dengan Karel? Apa setelah patah hati dengan Carissa, Karel mengencani sembarang gadis?"


"Kau! Jaga bicaramu! Putraku tidak akan melakukan hal seperti ini!" Elak Mira.


"Terserah kakak saja mau percaya atau tidak. Dan yang membuatku bertambah heram adalah asal usul gadis yang bernama Merlinda ini." Freya meminta Mira untuk mendekatkan telinganya.


Freya membisikkan sesuatu ke telinga Mira.


"Hah?! Kau serius?!" Mira menutup mulutnya.


"Benar. Merlinda adalah putri dari penjahat yang menculik Giga saat kecil dulu."


Mira menelan salivanya. Ia tidak menyangka jika semua hal terhubung menjadi satu.


"Kenapa kak Mira kaget begitu? Apa kakak tahu sesuatu tentang ini?"


"Kau! Jangan bicara sembarangan! Kau melakukan hal serendah ini karena putrimu tidak berhasil dengan putra kami di keluarga Avicenna, benar kan?"


Freya memicing tak percaya. "Apa tidak salah? Bukankah kakak yang sengaja mendekati keluarga Avicenna karena ingin membalas dendam? Kakak pikir aku tidak tahu jika kakak memiliki niat buruk terhadap keluarga suami kakak! Kakak juga mendekati suamiku untuk meminta dukungan. Jadi, siapa disini yang sebenarnya jahat?" Freya menyilangkan tangannya.


"Kau!" Mira tak bisa berkata apa-apa lagi. Jika ia terus bersama Freya, maka bisa ketahuan jika dulu dirinyalah yang meminta orang-orang itu untuk menculik Giga.


Mira memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu setelah berpamitan pada Freya. Ia beralasan jika dirinya ada urusan pekerjaan.


...***...


Malam harinya, Mira menunggu putra semata wayangnya pulang ke rumah. Ia mondar mandir tak tenang menunggu kedatangan Karel.


Ketika pintu rumah terbuka, Mira segera berlari menghampiri Karel.


"Karel! Dari mana saja kau?"


"Mama? Mama belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam."


Karel merasa heran karena ekspresi wajah Mira yang terlihat berbeda.


"Ada apa, Ma?"


"Mama bertanya, dari mana saja kau? Apa kau pergi dengan gadis itu? Asistennya Giga?" Selidik Mira.


Karel tersenyum seringai. "Sejak kapan Mama peduli dengan hidupku? Aku lelah, aku ingin istirahat!"


Karel melewati tubuh Mira. Namun Mira kembali mencekal lengan putranya.


"Nak, jangan dekati gadis itu! Dia ... bukan gadis yang baik. Mama yakin dia punya niat yang buruk denganmu."


Karel menatap ibunya tak percaya.


"Bagaimana bisa Mama bicara begitu? Bahkan Mama tidak mengenal Merlinda." Karel melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Dia adalah anak dari seorang penjahat!" Seru Mira.


Karel berbalik badan. "Apa maksud Mama?"


"Dia adalah putri dari orang yang menculik Giga 15 tahun lalu." Wajah Mira menyiratkan sebuah kejujuran.


Karel menghela napas. "Apa Mama bilang?"


"Benar, Nak! Gadis itu adalah anak orang yang menculik Giga!"


"Apa?! Kenyataan apa lagi ini?" Gumam Karel.